Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Persembunyian


__ADS_3

Alex yang masih berkutat dengan pertarungan itu tampak mendominasi serangan pada Wang. Tubuhnya masih bugar dan utuh tanpa terlihat sedikitpun goresan luka, berbanding terbalik dengan Wang yang nampak melemah dengan beberapa luka serta lebam di wajahnya. Namun pria keras kepala itu masih enggan mengakui kekalahan dan menyerah. Ia bahkan tetap memaksakan diri untuk menyerang, hingga membuat Alex kesal dan menghajarnya habis-habisan.


Mata Alex yang jeli itu rupanya menangkap pergerakan aneh Mayang yang terlihat berlari bersama salah satu anak buahnya. Sontak saja hal itu membuatnya geram bukan kepalang, terlebih ketika dilihatnya pintu brankas itu dalam keadaan kembali tertutup rapat.


Alex berpikir harus menyudahi pertarungan tidak penting itu agar tidak kehilangan Mayang untuk yang kesekian kalinya. Ia segera melayangkan tendangan telak yang mengenai ulu hati hingga Mister Wang tersungkur tak berdaya di lantai.


Dengan cekatan Alex meraih sebuah pistol yang tergeletak dan menggunakan itu untuk mengancam Mister Wang. "Perintahkan pada seluruh anak buahmu untuk menyerah dan menghentikan serangan atau kau akan kubunuh sekarang juga!" teriakan Alex yang menggelegar itu berhasil menghentikan seluruh kegiatan semua yang ada di sana hingga membuat keadaan hening seketika.


"Lihatlah!" sambung Alex lagi sambil mengarahkan telunjuknya pada brankas, tapi pandangannya tetap tajam menatap Mister Wang yang tengah ditindihnya. "Karena ketamakanmu itu, kau membuat kita kehilangan segalanya! Lihat hasil dari kerakusanmu!" teriaknya sambil menguatkan lengan kirinya yang terangkat dan menuding, seolah-olah mendesak Wang agar lelaki itu menatap ke sana.


Wang yang hampir tak berdaya langsung memutar kepalanya dengan lemah untuk mengikuti arah yang ditunjuk Alex. Pria yang sudah terluka itu langsung membulatkan matanya seketika saat dihantam keterkejutan. Ia sontak mengalihkan pandangannya ke arah Alex yang masih mengintimidasinya.


"Bb-bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Wang sembari berusaha bangkit dari baringnya meskipun hal itu sia-sia. Sebab Alex masih menekan dan seolah-olah tak mengizinkannya beranjak dari sana.


"Tentu saja karena keserakahanmu!" bentak Alex--tepat di depan wajah--yang saat itu langsung bergerak membungkukkan badannya.

__ADS_1


Sadar akan kebenaran yang Alex ucapkan, membuat Wang yang hampir saja melawan pun seketika mengurungkan niatnya. Ia memalingkan wajah sambil menghela napas berat akibat tekanan lutut Alex di dadanya. "Maaf," desahnya kemudian dengan nada lemah penuh sesal.


Wang lantas menoleh dan menatapi anak buahnya yang masih dalam posisi waspada dan antisipasi. Ada sebagian yang mendominasi anak buah Alex dan sebagian lagi tampak didominasi oleh anak buah Alex. "Hentikan penyerangan," titahnya kemudian pada seluruh anak buahnya.


Saling memandang, seluruh anak buah Wang kemudian secara bersamaan seraya memposisikan diri mereka dengan sikap siaga. Lantas mengangguk patuh dan berucap, "Baik, Tuan."


Alex masih diam selagi memperhatikan anak buahnya. Mereka yang semula bergeletakan di lantai kini tampak bangkit satu persatu. Saat semuanya sudah berada dalam kondisi siaga, barulah Alex melepaskan Wang dan membantu pria itu untuk berdiri.


Wang tampak meringis sambil membersihkan pakaiannya yang kotor oleh debu dengan mengibas-kibaskan tangannya. Merasa dirinya sedang diperhatikan, ia pun menyudahi hal itu dan kemudian membalas Alex yang masih menatapnya penuh peringatan.


"Kenapa kau masih diam di sini?" tanya Wang pada Alex dengan ekspresi bingung. "Bukankah wanitamu tengah berlari pergi! Seharusnya kau segera menyusul sebelum wanitamu itu benar-benar kabur!"


***


Mayang hanya bisa pasrah saat prajurit yang menyamar itu membawanya menjauhi tempat Alex itu dengan berlari. Tangan mereka sengaja berpegangan supaya Mayang tidak tertinggal di belakang.

__ADS_1


Entah ke arah mana lelaki itu membawanya, yang jelas, setelah beberapa lama memaksa kakinya untuk mengayun cepat, kini Mayang merasa sangat kelelahan hingga membuatnya terpaksa berhenti.


Gerakan berhenti Mayang yang tiba-tiba itu mau tak mau membuat si pria itu pun seketika berhenti. "Nyonya, apa anda baik-baik saja? Apa anda merasa kesakitan?" tanyanya penuh kekhawatiran. Ia menatap Mayang yang terengah-engah dengan tubuh setengah membungkuk. Dengan sikap hormat, dilepaskannya genggaman tangan mereka.


"Tidak, tidak. Aku hanya kelelahan." Mayang menjawab cepat sambil mengibaskan tangan untuk menghentikan kekhawatiran. Lalu menyeka keringat yang mulai membasah di pelipisnya.


Mayang menegakkan punggungnya untuk berdiri normal. Pandangannya mengedar ke sekitar yang lebih mirip sebuah lorong rahasia. Keadaan di sana begitu senyap dan agak gelap karena minim pencahayaan. Dikelilingi dinding dengan warna suram hingga ujung, tapi Mayang tak melihat adanya pintu di sana.


"Kita ada di mana?" tanya Mayang saat pandangannya telah tertuju pada pria itu.


"Tempat persembunyian, Nyonya." Pria itu menjawab yakin.


"Untukku?" tanya Mayang lagi yang langsung dibalas anggukan dari pria itu. "Kau yakin di sini aku akan aman?" pria itu mengangguk lagi. Mayang tak melanjutkannya tanyanya dan memilih kembali mengamati tempat itu dengan pandangan ragu.


Namun pria itu rupanya mengerti kegelisahan yang di alami Mayang. Maka ia buru-buru melanjutkan penjelasan untuk menenangkan wanita yang menjadi tanggung jawabnya itu. "Iya, Nyonya. Anda terpaksa harus bersembunyi di sini sementara saya membereskan mereka dulu. Saya perlu memastikan keadaan anda aman sebelum saya bertindak." Pria yang bernama Rezi itu lantas menjulurkan tangannya seolah mengisyaratkan agar Mayang langkah menuju tempat yang ditunjuknya. "Silahkan, Nyonya. Akan saya tunjukkan tempat persembunyiannya."

__ADS_1


Belum sempat Mayang menjawab, sebuah suara tepukan tangan yang menggelegar tiba-tiba terdengar memecah keheningan, disusul dengan sesosok tubuh menjulang tinggi yang muncul dari ujung lorong.


bersambung


__ADS_2