
Sibuk mengobrak-abrik benda-benda dan mengembalikannya ke tempat semula, Kim, Joy dan Bianca dikejutkan dengan pintu yang diketuk dari luar. Tiga dara itu spontan menghentikan kegiatan dan saling memandang.
"Siapa yang datang?" tanya Bianca setengah menggumam, dengan wajah menunjukkan ekspresi kecemasan.
"Entahlah." Joy menjawab pelan. Gadis tomboi itu melirik ke arah jam tangan di pergelangannya lantas membelalakkan mata. "Astaga, Bi. Kita sudah membuang-buang waktu hanya untuk hal tidak penting ini!" geramnya kesal sambil menatap Bianca penuh kemarahan.
"Kenapa menatapku seperti itu? Bukankah maumu juga memeriksa kamar ini!" serunya tak mau disalahkan.
"Arrrhhg," Joy menggeram frustasi sambil membekukan lima jemari tangan seolah ingin mencakar-cakar gadis di depannya. Namun ketukan pintu yang terdengar lagi, bahkan lebih keras dari sebelumnya menarik perhatiannya untuk menoleh ke arah pintu. "Sial. Terserah lah!" erangnya seraya menatap Bianca dan Kim dengan tatapan sebal, lantas berlari kecil menuju ke pintu untuk membukanya.
"Kenapa lama sekali membukanya!" ucap seorang lelaki bertubuh dempal sambil mendorong pintu yang baru Joy buka, hingga mau tak mau membuat tubuh gadis itu terdorong mundur. "Cepat bawa wanita itu kepada bos." lanjutnya dengan nada perintah.
"Oke, baik." Joy menjawab mantap, lantas berbalik badan dan hendak melangkah menuju sofa yang sedang diduduki Mayang. Namun alangkah terkejutnya ia kala melihat penampilan Mayang yang semula sudah rapi kini tampak acakadul dan tak cantik lagi.
Rambut panjang Mayang yang semula sudah tertata indah kini di cepol ala kadarnya. Sementara bibir yang sudah merah merekah tampak belepotan oleh buah naga yang baru dimakannya.
"Apa-apaan kau ini!" Membelalakkan mata penuh keterkejutan, Joy pun menggeram penuh kemarahan.
"Hehe." Mayang tertawa sambil nyengir. "Aku lapar, jadi aku makan, lah," imbuhnya dengan memasang wajah lugu. Lantas menyebik dan memasang wajah jijik sebelum kemudian mengusapkan tangannya yang kotor oleh buah naga pada gaunnya di bagian dada. Sontak saja gaun cantik itu ternoda oleh warna alami buah itu.
Membelalakkan matanya seraya bersikap seolah dirinya terkejut, Mayang lantas meringis selagi mengangkat pandangannya menatap ke arah Joy yang tengah membelalak. "Eh, maaf"--Mayang menggigit bibir bawahnya--"nggak sengaja," ucapnya dengan mimik wajah menyesal.
Geregetan, Bianca melangkah dengan kaki yang sengaja ia hentak-hentakkan penuh rasa jengkel, sementara tangannya terkepal kuat seolah siap menghadiahi pukulan. Entah bagaimana bisa wanita dewasa, cantik dan elegan seperti Mayang bisa bersikap kekanak-kanakan jika bukan karena disengaja.
"Hey, apa maksudmu, hah!" bentak gadis dengan dandanan menor itu sambil mengarahkan tangannya ke atas kepala Mayang. Memegang rambut yang diceol itu lantas menariknya dengan geram. "Kau sengaja memperburuk penampilanmu supaya kami dihukum, bukan!" hardiknya dengan tatapan nyalang dan alis yang menukik tajam. Jari telunjuknya pun menuding sangat dekat di depan wajah Mayang.
__ADS_1
"Lepaskan dia!" sebuah suara terdengar di susul dengan pukulan keras mendarat tepat di wajah Bianca. Spontan cengkeraman tangannya pada rambut Mayang pun terlepas selagi tubuh gadis itu terhuyung ke belakang dan mendarat tepat di sofa tunggal.
Terlihat kesakitan, tangan Bianca bergerak mengusap sudut bibirnya yang kini ternoda oleh cairan pekat berwarna merah. Pukulan itu begitu kencang dan bertenaga, hingga meninggalkan semburat merah yang perlahan membiru di pipi mulus itu, meninggalkan sensasi nyeri yang menjalar di sekitarnya.
"Beraninya kau menyakiti wanita Tuan Alex!" hardik pria bertubuh dempal itu seolah memperingatkan kala Bianca mengarahkan tatapan penuh peringatan kepadanya karena telah menghadiahi bogem mentah.
Bianca mengalihkan pandangannya ke arah Mayang dan ia merasa geram bukan kepalang mendapati Mayang yang tengah memasang mimik sedih. Bahkan meneteskan air mata seolah dirinya teraniaya.
Sialan! Pintar sekali dia bersandiwara. Rupanya dia sengaja membuatku dipersalahkan! Awas saja kau ya! batin Bianca seraya menatap Mayang penuh ancaman.
***
Seorang wanita--berbalut dress cantik warna gold dengan model tertutup--tampak sedang duduk di sebuah kursi di depan meja rias dikerumuni tiga dara cantik di sekitarnya.
"Jangan goyang-goyang!" bentak Bianca sambil menahan kala berkali-kali Mayang menggerakkan tangannya, berupaya menggaruk pipinya yang Mayang bilang terasa gatal. Dan ini untuk yang kesekian kalinya istri Brian itu menodai wajah cantiknya dengan bercak merah dari cat kuku yang masih basah.
"Mau bagaimana lagi, pipiku benar-benar gatal, Bianca ...." rengek Mayang sambil berusaha menarik tangannya.
Plak!
"Bi ,,, sakit ...!" Mayang menjerit manja kala Bianca menepuk punggung tangannya.
"Diam dan patuh kalau kau tidak ingin kehilangan jari-jarimu!" mata Bianca mendelik tajam saat melontarkan ancaman.
"Kau jahat, Bi ...." Mayang memberengut dengan riak-riak air di netra beningnya.
__ADS_1
"Makanya di--”
"Ehhemmm!" Pria bertubuh dempal dengan pakaian serba hitam itu berdehem keras saat Bianca hendak meraih rambut Mayang. Sontak saja empat wanita itu langsung menoleh ke arah pria yang memang sejak tadi masih berjaga. Menghindari kemungkinan terburuk Bianca akan berbuat lebih jauh lagi.
"Sialan." Bianca mengumpat dengan nada pelan.
"Apa, Bi? Kau mengataiku sialan?" lagi-lagi Mayang memasang wajah melankolis, berusaha menciptakan drama yang semakin memojokkan Bianca dengan berpura-pura seolah dirinya tertindas. Hahaha rasakan Bianca! Kapan lagi aku bisa mengerjaimu seperti ini.
Untuk ke sekian kali pria berwajah sangar itu mengarahkan pandangan penuh peringatan kepada Bianca.
"Apa! Kenapa melihatku seperti itu? Apa kau pikir aku akan bunuh dia, begitu!" sambil berkacak pinggang, Bianca mengomel kesal. "Menyebabkan."
Tak terpengaruh, pria itu hanya bergeming dan tetap memasang ekspresi wajah datar. Tak berniat untuk berdebat dengan wanita itu.
"Kuku kaki kan belum," Mayang menyodorkan kaki dan memanyunkan bibir kala Bianca beranjak dari tempatnya. Gadis yang sudah selangkah meninggalkannya itu berhenti seketika, lantas menoleh dan menatap Mayang dengan pandangan tak percaya.
"Apa-apaan kau ini. Sudah di tangan masih ingin di kaki juga! Sudah kuberi hati masih menginginkan jantungku juga?" senyum penuh ironi terulas di bibir ranum Bianca. Apa daya, di sini Mayang lah ratunya, sedang dia hanya dianggap babu oleh Alex.
Terpaksa ia mengambil kembali botol cat kuku yang sudah di letakkan, lantas mendudukkan dirinya di lantai dengan ekspresi kesal. Baru kali ini ia merasa diperbudak oleh seseorang.
Seringai penuh ancaman pun tersungging di bibirnya kala beradu tatap dengan Mayang yang tampak memasang wajah lugunya.
Kau boleh senang seolah sedang di atas awan sekarang, tapi nanti saat tuan Alex bosan, giliranku yang akan melampiaskan kekesalan dengan puas kepadamu. Batin Bianca dalam hati.
Bersambung
__ADS_1