
Obrolan malam itu pun berlanjut dengan membicarakan pembahasan ringan. Billy dan Milly saling berbicara dengan suasana hati yang tenang. Membahas pekerjaan baru Milly yang ternyata bertempat di cabang Wahana Group di bawah pengawasan Billy sendiri.
Terkadang mereka memasang wajah serius saat pembahasan mereka mengenai hal yang serius. Namun tak jarang mereka tertawa saat pembicaraan mereka lucu dan jenaka.
Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam saat obrolan berhenti di tengah jalan. Entah kehabisan kata-kata atau topik pembicaraan, atau mungkin keduanya tengah sibuk dengan pergulatan batinnya masing-masing.
"Milly," suara Billy terdengar memecah keheningan malam itu.
"Ya," Milly yang menunduk seketika langsung menoleh, membalas tatapan Billy yang tampak tertuju serius kepadanya.
"Saya ingin bicara."
"Hah? Bukankah sejak tadi kita sudah bicara?" gadis mungil itu tersenyum samar, sementara matanya mengerling dengan sorot bahagia.
"Tapi kali ini serius." tegas Billy dengan tatapan mata yang tetap bertahan tanpa berkedip.
Senyum di wajah Milly pun memudar seiring dengan timbulnya firasat tidak enak yang tiba-tiba berputar di kepala. Namun sebisa mungkin ia tetap bersikap tenang.
Menyunggingkan senyum, Milly memutar posisi duduk hingga lebih mengarah kepada Billy. Ia terlihat mantap penuh keyakinan, seolah siap mendengarkan apapun yang akan Billy katakan. Kontak mata pun terjadi antara mereka, hingga Milly kemudian berkata, "Bicaralah, Pak. Saya siap mendengarnya."
"Bagaimana perasaanmu terhadap saya?" tanya Billy cepat dan tanpa basa-basi.
Pertanyaan itu sontak membuat Milly terkejut. Milly yang sebelumnya terlihat tenang mendadak didera kebingungan. Tak tau harus menjawab apa. Terlebih pandangan Billy yang sama sekali tak bergeser kala mengamatinya, hingga membuatnya kikuk dan salah tingkah.
"Ke-kenapa Bapak bertanya seperti itu?" tanya Milly kemudian dengan suara yang terbata.
"Karena penting bagi saya mengetahuinya."
"Untuk apa?"
"Agar tak terjadi salah faham di antara kita."
"Salah faham?" Milly mengerutkan keningnya. "Maksud Bapak apa? Maaf, saya masih bingung mengenai ini," sambil tersenyum kecut Milly berbicara terus terang.
"Kau tidak pernah berpikir aku jatuh cinta kepadamu, bukan?" Billy menyahuti dengan pertanyaan, namun dengan nada pelan. Matanya tampak menyipit selagi mengawasi Milly seolah sedang meneliti.
"Jatuh cinta kepada saya? "Milly bersikap seolah dirinya benar-benar tak menyangka. "Ya ampun Pak, mana mungkin saya berani berpikir seperti itu ...!" ucapnya sambil tertawa terpingkal dan mengibaskan tangannya.
Sementara Billy justru mengernyit bingung dengan reaksi aneh yang Milly tunjukkan itu. Sebab jelas sekali tawa itu terdengar dibuat-buat tanpa adanya jejak kebahagiaan ataupun unsur jenaka di sana yang membuat seseorang geli dan terpancing untuk tertawa.
__ADS_1
"Kenapa kau malah tertawa?" tanya Billy kemudian sebab merasa aneh.
"Karena Bapak lucu." Milly menjawab singkat usai menghentikan tawanya.
"Lucunya?"
"Pikiran Bapak yang lucu. Masa iya saya berpikir Bapak cinta sama saya, itu kan mustahil namanya?"
Billy menatap Milly dengan ekspresi terperangah. Semakin merasa heran ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum kemudian melayangkan pertanyaan. "Mustahil kau bilang? Mustahilnya bagaimana"
"Karena kita berbeda, Pak, kita bagaikan bumi dan langit. Boro-boro mikir Bapak jatuh cinta sama saya. Bapak baik sama saya aja itu sudah syukur Alhamdulillah." jawab Milly dengan nada merendah. Gadis mungil itu tersenyum getir dan menunduk, menggosok-gosok pelan lututnya yang berbalut piyama tidur.
"Lalu bagaimana dengan dirimu? Kau juga tidak pernah berpikir jatuh cinta kepadaku, bukan?"
Mendengar pertanyaan itu, Milly yang semula menunduk pun seketika mendongakkan kepalanya. Ekspresinya pun tampak menegang kala membalas tatapan Billy yang seolah menunggu jawaban.
Entah mengapa Milly merasa pertanyaan Billy itu mengandung sejejak larangan, seolah ia tak ingin Milly benar-benar jatuh hati kepadanya. Tentu saja hal itu memunculkan prasangka di benak Milly, sehina itukah dirinya hingga Billy melarangnya untuk mencintai.
"Bapak ...!" seru Milly gemas seraya menepuk bahu Billy. Benar-benar reaksi di luar dugaan Billy, bahkan tepukan tiba-tiba itu berhasil mengejutkan pria berrahang tegas itu. "Aya-aya wae si Bapak, ah!" (Ada-ada saja sih Bapak, ah). "Mana mungkin saya jatuh cinta kepada Bapak ...!" tegas Milly disusul tawanya yang menggelegar.
"Jadi kau tidak mencintaiku?" Billy menatap lekat sepasang netra Milly seolah tengah menelisik lebih dalam bagaimana perasaan gadis itu yang sebenarnya.
Hufthh ,,, baguslah." Billy terlihat menghela napas lega. Setelahnya lelaki itu menyunggingkan senyum senang di bibirnya. "Cukup status kita saja yang terikat pernikahan, kalau bisa hati kita jangan. Jangan terburu-buru lebih tepatnya. Biarkan semuanya mengalir seperti air. Aku sungguh tidak ingin memberi harapan palsu kepadamu, Milly. Maafkan aku," lirihnya dengan sorot mata penuh sesal.
"Tak apa, Pak. Saya ngerti kok. Walaupun kita hidup satu atap, kita tetap bisa jalani hidup masing-masing. Bapak tak perlu merasa terganggu atas kehadiran saya. Anggap saja saya nggak ada. Dan saya akan berusaha untuk tidak mengusik ketenangan hidup Bapak." Tanpa sadar jemari Milly terkepal. Walau bibirnya tak henti menyunggingkan senyum, namun tak dapat ia pungkiri kini batinnya hancur bagai direjam ribuan batu.
Sementara Billy tampak mengangguk samar, seolah ia sepakat dengan apa yang baru saja Milly katakan. "Milly, apa kau tahu?" tanyanya seraya menatap Milly lekat.
"Ya," suara Milly terdengar bergetar saat berkata.
"Selama ini aku terbiasa dengan hidupku yang tenang dan sunyi. Aku terlalu sibuk memikirkan pekerjaan dan aku menyukainya. Untuk sementara ini aku tidak ingin terganggu dengan urusan lain, apalagi itu menyangkut hati ataupun wanita. Aku membawamu kemari semata karena rasa tanggung jawabku telah menikahimu. Tapi kuharap kau mengerti bagaimana bisa pernikahan kita sampai terjadi. Aku tidak bisa dengan mudah menjatuhkan hati pada seseorang yang sebelumnya telah menggoreskan luka. Jujur, aku pernah membencimu karena berpikir kau telah menjebakku." Billy menjeda ucapannya sambil meneliti reaksi Milly.
"Saya mengerti Pak. Saya turut menyesal karena ikatan ini benar-benar membuat Bapak tertekan." Milly menyahut dengan nada menyesal. Salut, karena sejauh ini dia begitu pintar menyembunyikan perasaannya. Masih bersikap tenang seolah dirinya baik-baik saja.
"Aku tidak menyalahkanmu ataupun Ayahmu, Milly. Mungkin ini semua sudah takdir yang harus dijalani." Billy terdiam, lantas mendesah pelan. "Dalam urusan cinta, aku merasa tak seberuntung lelaki pada umumnya."
Milly membelalak terkejut mendengar Billy mengatakan itu. Ia langsung mengarahkan tatapan penasarannya ke arah Billy.
Billy tergelak kala mengingat riwayat kisah cintanya yang tak pernah merasakan manisnya madu asmara. Namun tawa itu terdengar getir tanpa sejejak rasa bahagia.
__ADS_1
"Dari beberapa kali menjalin hubungan, aku selalu berakhir ditinggalkan karena kesibukanku terlampau padat. Semua mantanku menginginkan aku menjadi seperti yang mereka mau. Selalu ada saat mereka membutuhkan. Mengantar mereka perawatan di salon. Kencan setiap malam Minggu. Tapi aku tidak bisa seperti itu!" Billy berucap dengan nada meninggi di akhir kalimat. "Aku selalu membuat janji tapi tak bisa menepati. Aku benar-benar payah, bukan?"
Milly menggeleng saat Billy menatapnya dengan sorot mata mengandung sejejak luka. "Tidak, Bapak tidak payah. Tapi Bapak terlalu fokus pada pekerjaan hingga melupakan kehidupan pribadi." Milly berucap pelan, seolah tengah memberi kekuatan dan menyanggah kalimat bernada putus asa yang Billy lontarkan.
"Aku selalu serius saat memutuskan untuk berkomitmen. Aku benar-benar mencintai wanita yang pernah menjadi kekasihku. Mungkin memang karena bukan jodoh, hingga harus kehilangan yang aku sayang."
"Dan berakhir menderita dengan menikahi gadis gila seperti aku, bukan?" Milly menyahut cepat dengan nada merendahkan dirinya sendiri.
Sontak hal itu membuat Billy menatap Milly dengan raut wajah penuh sesal. "Bukan, bukan begitu maksudku," ucapnya merasa bersalah. Dengan cepat diraihnya dagu Milly yang sengaja memalingkan wajah, dan memaksa gadis itu menatapnya. "Apa kau tersinggung dengan kata-kataku? Apa kau sakit hati mendengar keluh kesahku?"
"Tidak, Pak, aku hanya berkata yang sebenarnya." Milly menjawab dengan suara yang tercekat, bahkan nyaris berhenti di tenggorokan. Ditepisnya tangan Billy yang masih menyentuh dagunya, dan kembali memalingkan wajah berusaha menghindari adu tatap dengan suaminya.
"Mill, kau menangis?" Billy terkejut kala mendapati sepasang netra bening itu berkaca-kaca. Ekspresinya sontak melembut dan resah kala hati dilingkupi rasa bersalah. Tangannya bergerak hendak mengusap wajah Milly, namun gadis itu buru-buru menepisnya dengan halus.
"Tidak, Pak. Saya hanya mengantuk." Milly tetap membantah dan berusaha memberi alasan yang masuk akal. Ia bahkan tersenyum sangat manis demi menutupi wajah sedihnya.
"Benarkah?"
"Iya ,,,!" jawabnya penuh penekanan berusaha meyakinkan. Milly lantas tertawa seolah dia sedang riang gembira. "Tuh, kan. Saya bahkan tertawa." Ucapnya seraya mengusap cairan yang meleleh dari sudut matanya. Ia lantas bangkit tanpa melupakan nampannya. "Kalau gitu saya tidur dulu ya, Pak. Udah ngantuk berat." Tanpa menunggu jawaban Billy, Milly segera beranjak dari sana.
Sampai di kamar, Milly tak bisa lagi membendung air matanya. Tubuh gadis itu merosot kala bersandar di pintu yang baru saja ditutupnya. Tangan ramping itu bergerak memeluk lutut dan membenamkan wajahnya yang penuh air mata di sela lutut dan dada.
Haruskah ia menyerahkan? Tetap memperjuangkan perasaan pun percuma. Ia layaknya burung yang tidak berdaya. Sayapnya telah patah, bahkan sebelum ia mengepakkan untuk mencoba terbang.
Harapannya untuk memiliki Billy seutuhnya sudah lenyap dari hatinya. Kini ia bertekad untuk melanjutkan hidup meski tanpa orang yang dicintainya. Asal bersama orang tuanya ia sudah merasa bahagia.
Milly bangkit dari baringnya. Tangannya bergerak mengusap lelehan air mata yang sempat membasahi sprei motif bunga-bunga di kamarnya. Lagi-lagi bayangan getir itu datang dan menghantui pikiran. Sudah cukup membayangkan hal yang kembali mengiris hatinya.
Tapi, sebegitu bergantungnya kah ia pada suaminya? Bahkan lelaki itu selalu muncul mewarnai mimpi indahnya. Sebegitu besar harapannya untuk Billy datang menjemput, hingga lelaki itu terbawa-bawa hingga ke alam mimpi. Tapi nyatanya apa, boro-boro datang. Menghubungi ponselnya saja enggan.
Mungkin sudah begini saja takdir cintanya. Hanya cukup menjadi pengagum rahasia. "Terima kasih atas pengalaman yang kau berikan kepadaku, Pak. Menjadi istrimu meski hanya dua minggu." gumamnya lirih.
Bersambung
__________________________
Guys ,,, maaf klo ceritanya jadi nggak jelas ya. Tapi ini benar-benar aku usahain up ditengah kondisi badanku yang lagi nggak sehat. Jangan dibully ya, plisss
Makasih
__ADS_1