
Keluar dari lift, Billy membawa Mayang menuju sebuah tempat. Mayang yang tampak pucat ikut menghentikan langkah ketika langkah Billy berhenti tepat di depan pintu yang tertutup rapat. Pria itu dengan cekatan membukanya, lantas menatap Mayang yang berdiri di belakangnya
“Masuk,” titahnya dengan suara datar.
Alih-alih patuh, tubuh Mayang justru membeku di tempatnya. Pikiran buruk langsung menyapa kepala jika ia benar-benar masuk ke dalam sana. Ini rumah orang kaya. Bisa saja ia di sini akan dijadikan wadal pesugihan. Dimasukkan ke dalam kamar rahasia lantas diumpankan pada iblis mengerikan.
Huaaa, takut! Batin Mayang menjerit.
“Hey! Malah bengong,” tegur Billy sambil menautkan kedua alisnya.
Melongok pada celah pintu yang sedikit terbuka hingga menampilkan penampakan gelap dari luar, Mayang pun bergidik ngeri. Ia menatap Billy dengan ekspresi memohon sambil menggelengkan kepalanya takut-takut.
“Nggak mau,” tolaknya mengiba dan hampir-hampir menangis.
Billy tertawa dalam hati. Entah mengapa reaksi berlebihan gadis itu memunculkan niat nakal untuk menggodanya lebih jauh lagi. Sebagai orang berpendidikan, tentunya ia bisa menangkap hawa takut yang ditunjukkan bahasa tubuh gadis itu.
“Buruan masuk! Jangan buat singa lapar di dalam menunggumu terlalu lama!”
Mayang kian bergidik ngeri. Saking takutnya ia bahkan tak mampu mengelak saat Billy menariknya memasuki kamar dan mendorong ke tengah ruangan.
Suasana yang ia pikir seram itu mendadak berubah indah begitu lampu dinyalakan. Sebuah kamar mewah dengan fasilitas kelas wahid terpampang nyata di depannya.
Seringai Billy terbit sempurna melihat gadis itu terbengong-bengong untuk ke sekian kalinya. Tanpa kata, ia pun kembali menutup pintu itu rapat-rapat dari luar sebelum kemudian meninggalkan Mayang sendirian.
__ADS_1
Meninggalkan tempat itu, Billy berjalan menuju sebuah tempat. Berhenti di depan sebuah pintu yang tertutup rapat, ia mengetuk pelan sebelum kemudian membukanya. Pria berperawakan tinggi itu masuk dan kembali menutup pintu itu dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara.
Seolah-olah bisa menebak siapa yang datang, seseorang yang sudah menunggu Billy di dalam itu bertanya tanpa memutar kursi kebesaran yang membelakangi pintu masuk.
“Bagaimana?” tanyanya sambil menatap ke luar jendela, menembus kaca bening yang memperlihatkan keindahan kota dari ketinggian.
“Aku sudah menerima gambar yang diambil dari rekaman CCTV, dan hasilnya memang pria itu memungut buku kita dari tempat sampah.”
“Sialan!” Geram, pria di balik kursi itu mengepalkan tangan, lantas memutar kursinya hingga tepat menghadap pada Billy. “Siapa yang sudah berani mengusik ketenanganku,” desisnya penuh kemarahan.
“Tenangkan dirimu. Aku akan melacak secepatnya,” ucap Billy meyakinkan.
Mendesah kasar, pria berambut gondrong dengan stelan jas warna silver itu lantas mengendurkan dasinya. Menyandarkan kepala pada sandaran kursi, dipijatnya pangkal hidung yang mendadak pening.
“Sudahlah Brian, jangan siksa dirimu dengan pikiran-pikiran buruk. Toh Bukunya sudah ditemukan,” ucap Billy menenangkan. “Oh ya, aku sudah mengamankan putri dari si penemu buku itu. Kenapa kubawa, karena dia telah membacanya. Apa kau ingin menemui dia?” tanyanya lagi untuk memastikan.
“Yakin?” tanya Billy memastikan.
Mendengar itu jiwa sentimental Brian mendadak meronta-ronta. Ia menatap sang sekretaris dengan mata menyipit sebelum kemudian melayangkan tanya.
“Kenapa bertanya seperti itu? Apa kau pikir dia orang yang sangat penting hingga aku perlu melakukan penyambutan!” tuturnya dengan marah.
“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Nanti kau akan tahu juga,” balas Billy santai.
__ADS_1
Tak ingin membahas hal itu lebih jauh lagi, Brian pun memilih untuk menanyakan hal lainnya.
“Kau yakin gadis itu benar-benar membacanya?”
Billy menganggukkan kepala.
“Apa dia cukup pintar hingga perlu menjadi tawanan?” tanya Brian lagi.
“Aku sudah menerima laporan di mana saja gadis itu pernah mengenyam pendidikan, serta segudang prestasi yang sudah didapatkan,” terang Billy.
Brian mendesah pelan. “Kalau begitu, jangan biarkan dia keluar hidup-hidup jika tidak ingin rahasia perusahaan akan terbongkar. Dan, pastikan juga Ayah dan Ibu tidak mengetahui masalah ini.”
Billy mengangguk mengerti.
Sementara di tempat lain, Mayang yang sebelumnya takut-takut untuk masuk, kini dibuat terperangah oleh kamar tidur layaknya hotel bintang lima yang disediakan untuknya.
Gadis itu memindai setiap jengkal ruangan, lantas mendudukkan diri pada tepi ranjang dengan hati-hati.
"Sebenarnya drama apa yang sedang mereka mainkan? Mungkinkah aku dibuat senang terlebih dahulu sebelum akhirnya ditenggelamkan?" gumam Mayang dengan wajah ngenas.
__ADS_1