
Mayang hanya bisa diam terpaku saat tiba-tiba Brian memeluk tubuhnya erat dalam diam dan agak lama.Mayang hanya diam membiarkan suaminya meski penasaran masih menguasai pikiran nya.
"Sayang, ternyata tak mudah menjadi seorang wanita.Apalagi ketika dia sedang mengandung."Suara lirih Brian pun terdengar.
Apa yang dia pikirkan?Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?
Kemudian Brian melepaskan pelukan nya dan meraih kedua lengan Mayang lalu menggenggam jemarinya lembut."Apa kau mau menjadi ibu dari anak-anak ku?"Deg.Brian melontarkan pertanyaan itu dengan nada memohon."Apa kau bersedia mengandung anak-anak ku dalam rahim mu?"Tanya Brian lagi sembari menatap mata mayang lekat,menunggu istrinya menjawab.
"Sayang kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"Mayang bertanya bingung.Tak menyangka suaminya akan bertanya tentang hal ini dan bukan membicarakan tentang ponselnya."Bukan kah mengandung,melahirkan dan melayani suami itu memang tugas istri?,"
"Jadi kau tidak keberatan jika nanti perutmu besar karena ada bayi kita di dalam sini?"Brian tampak berbinar sembari menyentuh perut buncit Mayang.
"Iya sayang,"Mayang meyakinkan sembari tersenyum.
"Tapi kulihat kau tampak tersiksa dengan ini."Ucap Brian lesu sembari kembali mengusap perut Mayang.
"Sayang aku merasa tersiksa karena Bella mengikatnya terlalu kencang.Itu membuatku tidak nyaman dan merasa sesak,"Mayang tertunduk malu.
"Sayang maaf,aku sempat berpikir kalau kau tak suka hamil."Brian tersenyum lega.
"Sayang kenapa bicara begitu?Semua wanita akan merasa dirinya sebagai wanita sempurna setelah dia hamil dan melahirkan keturunan nya,itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi semua wanita sayang,"
"Benarkah?"Brian kembali meyakinkan.Wajahnya benar-benar memperlihatkan rasa bahagia nya.Di kecup nya punggung tangan Mayang berulang kali.
Tuan,kenapa anda se bahagia ini seolah aku benar-benar hamil.Anda bahkan belum mendapatkan malam pertama anda,apa sebegitu nya anda menginginkan saya menjadi ibu untuk anak-anak anda?
Mayang menatap terharu pada Brian karena perlakuan lelaki itu padanya.Hal ini sungguh membuat nya yakin bahwa Brian tak main-main dengan keputusan nya menikahi dirinya walaupun tak dilandasi hubungan yang resmi sebagai kekasih sebelum nya.
"Sayang,apa ini rusak?"Mayang menyodorkan ponsel yang ia genggam sejak tadi pada Brian.
Brian menerimanya lalu menekan tombol dan tersenyum saat ponsel itu menyala."Tidak sayang.Kenapa,,,?"Menatap istrinya lagi.
"Tidak,aku pikir tadi rusak."
"Apa kau takut?"Tanya Brian dan hanya di jawab anggukan oleh Mayang."Kenapa takut,aku bahkan sudah menghabiskan puluhan ponsel karena aku lempar."
Mayang membelalak kan mata terkejut mendengar nya."Sayang, walaupun kau kaya tapi kau tidak boleh boros.Kau harus bisa menghargai barang yang kau punya."
"Iya,aku janji tak akan mengulangi."Ucapnya sembari tersenyum.Ia lantas menarik tangan Mayang untuk membantu istrinya bangun."Mau ku bantu melepas ikatan di perut mu?"Goda Brian saat istrinya sudah berdiri.
"Tidak!"Jawab Mayang cepat dengan wajah tersipu malu."Aku bisa melakukan nya sendiri."
"Baik lah,aku akan keluar,"Seringai Brian nakal sembari mundur beberapa langkah lalu berbalik meninggalkan Mayang yang masih berdiri di tempatnya.
Mayang segera menutup dan mengunci pintu kamar walau sebenarnya hal itu tak perlu ia lakukan.
"Huh lega..."Ucap nya setelah melepas ikatan bantal dari pinggang nya.
****
Billy mengendarai Mobil nya dengan kecepatan penuh menuju ke kantor.Sejak pernikahan tuan muda nya,ia kini sangat sibuk karena harus membagi waktunya antara mengurus kantor dan menyelidiki kasus penyerangan terhadap istri tuan nya.
Namun yang membuat nya kesal adalah sikap tuan nya yang tak terima dengan hasil yang ia dapat dari penyelidikan itu.Billy mengerti,memang tuan nya sangat sensitif jika menyangkut dengan orang yang di yakini Billy adalah dalang yang sesungguhnya,sehingga ia harus mencari cara lain untuk meyakinkan tuan mudanya.
Saat Billy tengah fokus pada menyetirnya,tiba-tiba seorang wanita menyeberang jalan tanpa melihat keadaan sekitar dan membuat Billy mengerem mobilnya secara mendadak hingga menimbulkan suara decitan keras dan membuat wanita itu terkejut seketika.Masih beruntung Billy menginjak rem nya di waktu yang tepat sehingga tak menabrak gadis yang kini tampak shock itu.
Karena keadaan Billy yang tengah lelah dan sensitif membuatnya mudah terpancing emosi.Billy yang mulai kesal lantas keluar dari mobil dan menutup pintu mobilnya dengan cara membanting.Berjalan cepat menghampiri gadis itu dan mulai memakinya.
"Hey apa kau sudah bosan hidup!"Teriak nya sembari menuding kan telunjuknya ke wajah gadis yang tengah berdiri terpaku itu dengan tatapan tajam."Kalau mau mati mati sendiri!Jangan bawa-bawa orang lain!Merepotkan saja!"
"Huuuuu aku benar-benar ingin mati sekarang huuuu!"Gadis itu malah menangis sesenggukan bukan nya meminta maaf.
Billy menatap bingung pada gadis yang tengah berurai air mata itu."Kenapa kau malah menangis!Kau tidak terluka sedikit pun!Mobil ku bahkan tidak menyentuh mu se ujung rambut pun!"Billy mulai geram."Kau ingin menggunakan modus baru untuk menipuku ya?!"
"Justru aku yang baru saja tertipu!Aku benar-benar ingin mati sekarang!Cepat bunuh aku!"Gadis itu makin tersedu sembari meremas dan menarik lengan jas yang di pakai Billy serta mengguncang nya.
"Hey apa kau sudah gila!Kalau kau ingin mati minum saja racun serangga atau kalau perlu lompat dari gedung tinggi.Kenapa harus menyeret ku dalam kematian mu!"
__ADS_1
"Baik lah.Kalau begitu aku hanya perlu naik keatas gedung tertinggi di kini."Ucap gadis itu spontan.
Dan seketika Billy teringat kalau gedung tertinggi di kota ini adalah kantor pusat Wahana Group tempat nya bekerja.Kalau sampai gadis nekad ini benar-benar lompat dari sana bukan kah itu akan merepotkan nya juga.
"Hey!"Billy meraih pergelangan tangan gadis yang sudah akan beranjak pergi itu."Kau mau ke mana?"
Gadis itu hanya diam sembari mengarahkan telunjuk nya kearah kantor pusat Wahana Group.
Benar kan!!
Billy menyodorkan sebotol air mineral pada gadis yang tampak frustasi itu.Gadis itu dengan cepat menerimanya dan langsung meneguk nya hingga tinggal menyisakan setengah dari botolnya.Lantas menutup nya kembali.
"Terimakasih tuan,"Lirih gadis itu kemudian tertunduk."Nama saya Milly."Gadis itu memperkenalkan dirinya.
Billy kemudian duduk di samping gadis itu.Di sebuah kursi panjang di sebuah kedai minum di pinggir jalan.Di bawah pohon yang rindang dengan semilir angin yang berhembus.Sungguh sangat menyejukkan di siang hari yang se panas ini.
"Apa yang telah terjadi padamu?"Tanya Billy singkat menjurus pada hal gila yang ingin gadis itu lakukan.Entah seberat apa masalah yang telah ia alami sehingga begitu mendorong gadis ini ingin mati.
"Saya baru saja tertipu tuan,"Ucap gadis itu lirih memulai cerita nya.
Milly tengah berdiri di depan ATM untuk melakukan penarikan tunai.Ia membutuhkan sejumlah uang untuk mencukupi kebutuhan nya selama belum mendapatkan pekerjaan di ibu kota.Ia harus bisa berhemat pengeluaran agar ia nanti tak kelaparan dalam pelarian nya dari orang tuanya.
Dia kabur dari rumah karena tak ingin orang tua nya menjodohkan nya dengan orang yang tidak ia cinta.Ketika pikiran nya sedang disibukkan dengan kepingan peristiwa yang membuatnya kabur membuat nya tidak fokus.Dan pemuda di belakang nya pun menepuk bahu Milly menyadarkan nya dari lamunan.
"Nona kartu mu terjatuh."Ucap pemuda itu sembari menunjuk kartu di bawah kaki Milly.
"Oh benarkah?"Milly terkejut dan spontan menekuk lutut mengambil kartu itu."Ku fikir tadi masih di dalam tas,bagaimana bisa jatuh?"Gumam Milly pelan.Lalu dia pun berdiri."Terimakasih ya mas,untung mas kasih tau saya,,"Ucap Milly ramah.
"Tak perlu sungkan."Lelaki itu tersenyum."Silahkan mengambil uang."Ucapnya sembari menunjuk ATM yang sudah sepi.
Milly pun mengambil sejumlah uang yang ia butuhkan dari sana.Saat keluar,ia masih menemui pemuda tadi masih tampak berada di sana.Ia sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Masih disini mas?Mau tarik tunai ya?"Tanya Milly ramah saat pemuda itu selesai dengan urusan nya.
"Saya sudah mbak,ini mau balik kerja lagi."
"Panggil saja saya Andre."Pemuda itu menyebut namanya sembari mengulurkan tangan nya.
"Saya Milly mas."Milly membalas uluran tangan Andre.
"Saya kerja di sana."Andre menunjuk sebuah gedung tertinggi.
"Wah hebat ya mas bisa kerja di sana."Puji Milly dengan kekaguman.
"Ah biasa saja kok."Andre merendah.
"Mas,kira-kira di sana masih membutuhkan karyawan wanita tidak?Saya datang kemari berencana mencari kerja mas."
"Oh kamu lagi nyari kerja?"
"Iya mas, ada?"Milly tampak antusias.
"Gimana kalau kita omongin sambil makan?"Usul Andre kemudian."Saya punya rekomendasi restoran yang menyajikan menu makanan kekinian yang enak banget.Buat nongkrong juga seru."
"Eemm boleh."Milly mengangguk senang.Akhirnya mereka sepakat.Keduanya lantas berangkat dengan mobil milik Andre menuju restoran yang di maksud lelaki itu.
Milly merasa senang karena di hari pertamanya merantau di kota dia bertemu dengan lelaki yang tampan dan baik hati seperti Andre.Dia juga terlihat supel.Sehingga mudah bergaul.
Milly hadi berfikir andai saja dia memiliki kekasih seperti Andre pasti orang tuanya tak akan repot-rwepot untuk menjodohkannya.
Andre lantasmembuka kaca mobil."Di buka saja ya,biar gak gerah.AC mobilnya mati jadi kita pakai AC cuma-cuma dari Tuhan yang maha esa."Andre menyunggingkan senyumnya.
"Iya mas,tak apa.Begini malah lebih sejuk."
Mobil sampai di sebuah restoran yang Andre maksud.Tanpa sungkan kedua nya lantas masuk ke dalam.
Sembari menunggu pesanan makanan mereka datang,mereka pun mengobrol.Mereka cepat sekali akrab.Karena merasa nyaman dan cocok obrolan pun melebar kemana-mana.
__ADS_1
Hidangan tampak memenuhi meja dan mereka menyantap nya dengan senang hati.
"Milly aku ke toilet dulu ya,"Andre meminta izin setelah meneguk minuman nya."Biasa,panggilan alam.Enggak lama kok."
"Iya mas."Milly mengangguk dan tersenyum.
Milly menunggu sembari menghabiskan sisa makanan nya.Ia tetap menunggu dan masih menunggu.Berkali-kali melirik arloji di pergelangan tangan nya.Kini tepat satu jam lelaki itu pergi ke toilet dan belum kembali.
"Mbak mbak!"Seru Milly sembari melambai pada salah seorang pelayan yang tampak sedang lewat.
"Iya mbak?"Pelayan itu menghampiri Milly.
"Mbak lihat laki-laki yang duduk di sini bersama saya?"Tanya Milly sembari menunjuk kursi di seberangnya.
"Bukan nya sudah keluar sekitar satu jam yang lalu ya mbak?"
"Masa si mbak?!Tadi dia cuma izin mau ke toilet kok."
"Beneran kok mbak.Saya panggil teman saya yang lihat teman mbak keluar ya?"Pelayan itu kemudian melambai memanggil teman nya dengan bahasa tubuh nya.
"Ada apa?"Tanya satu pelayan lagi pada teman yang memanggilnya.
"Teman mbak ini tadi sudah keluar satu jam yang lalu kan?"
"iya,memang mbak nya nggak tau?"
"Tadi dia bilang cuma mau ke toilet sebentar."Ucap Milly dengan nada cemas.
"Apa dia pacar mbak?"Tanya pelayan ke dua.
"Bukan,kami baru kenal beberapa jam yang lalu."
"Benarkah?!"Pelayan kedua tampak terkejut."Lalu kenapa mbak memberi nya uang banyak dan seluruh perhiasan yang anda pakai padanya?"
Milly tersentak kaget.Di raba nya anting kalung serta gelang yang telah lenyap dari tempat nya berada.Dan tangan nya yang gemetar itu mulai merogoh ke dalam tas nya dan benar saja.Uang nya telah raib.Entah dalam jumlah berapa ia tadi menarik nya.
"Mbak juga tadi memberikan ponsel anda padanya.Ini sim card anda mbak."Pelayan itu menunjukkan benda mungil yang berada di atas meja.
"Apa mbak tidak sadar telah melakukan semua itu."
"Saya,,, saya tidak ingat apapun,"Lirih Milly dengan bibir gemetar.
"Berarti mbak adalah korban hipnotis mbak,,,"
"Ya tuhan apa yang terjadi."Milly menyeka bulir-bulir keringat sebesar biji jagung yang mulai membasahi wajahnya.Tubuhnya gemetar dan lunglai seketika."Uang ku,perhiasan ku serta ponsel ku.Habis semua."Air mata pun membasahi pipi nya tanpa bersuara.
Terlintas di benaknya kengerian bagaimana bisa bertahan hidup tanpa uang sepeser pun di kota besar seperti ini sendirian dalam upayanya kabur dari orang tuanya.Ia tak mau jadi gelandangan di sini.
"Mbak yang sabar ya,"Pelayan itu mengguncang tubuh Milly untuk menyadarkan gadis itu.
"Tapi dia sudah membayar hidangan ini sebelum dia keluar kok mbak,"
🌷🌷🌷
Brian menyuruh istrinya segera berkemas karena hari ini Brian akan membawa Mayang pulang kembali ke rumah mereka.Setelah meminta izin dari Malik dan Ratih,Mereka keluar dari kediaman orang tuanya di saat hari mulai gelap.
Brian menyuruh Mayang untuk pergi dulu ke kamar karena ada sesuatu hal yang ingin ia selesaikan dulu di ruang kerja nya.
Mayang masuk kedalam kamar yang ia pakai sebelum menikah dengan Brian dan merebahkan tubuh nya di sana.
Awalnya ia tak berniat tidur dan menunggu Brian dengan memainkan ponselnya.Namun karena rasa bosan dan tubuh yang lelah di tambah mata yang mulai mengantuk mendorong matanya untuk terpejam.Ia pun tertidur dengan pulas di bawah balutan selimut yang hangat.
Brian yang kebingungan karena tak menemukan Mayang di kamar nya pun keluar untuk mencarinya.Ia tersenyum saat menemukan istrinya tengah tertidur dengan pulas nya di kamar yang ia tempati sebelum mereka menikah.
Brian melangkah mendekat dan berdiri di dekat istrinya yang tidur miring di bawah balutan selimut.Ia berdecak heran sembari menatap wajah istrinya yang semakin terlihat cantik saat dia tidur.Tanpa pikir panjang Brian pun naik ke ranjang menelusup ke bawah selimut dan mendekap erat tubuh istrinya yang membelakangi nya itu.
Bersambung
__ADS_1