
Selagi menunggu Brian yang sedang membersihkan diri di kamar mandi, Mayang menggunakan waktunya yang sedang sendiri itu untuk mempersiapkan diri. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk suami yang begitu dicintainya malam ini.
Dikenakannya lingerie berbahan satin yang memang telah ia persiapkan sebelumnya. Baju tidur dengan model terbuka itu kian memperjelas lekuk tubuh dan menonjolkan belahan dadanya.
Melihat tampilan diri sendiri dari pantulan kaca, ada rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba muncul dan merusak semangat dirinya.
Gadis cantik dengan tinggi badan dan berat tubuh yang ideal itu memang jarang sekali mengenakan pakaian seksi, meskipun untuk tampil di hadapan sang suami. Sikapnya yang cenderung pemalu membuatnya lebih menyukai jenis dan model pakaian yang terlihat sopan dan menyembunyikan lekuk tubuhnya.
Berdiri dengan menatap bayangan dirinya dari samping depan dan belakang, wanita yang membiarkan rambut panjangnya tergerai itu menggigit bibir bagian bawahnya saat mendadak dilanda rasa cemas yang tak terkira. Entah mengapa bayangan ngeri tiba-tiba singgah dan terlintas di kepalanya.
Jika hanya dengan penampilannya yang bisa saja sudah membuat Brian seolah tak ingin melepaskannya, lalu bagaimana jika penampilannya terkesan lebih menggoda dan mengundang seperti yang ia kenakan sekarang?
Sebab dari yang selama ini ia tahu, sang suami adalah sosok tangguh yang gemar sekali berolah raga. Tentu saja dia memiliki stamina yang sangat kuat dan terjaga. Kondisi fisiknya juga selalu dalam keadaan prima dan jarang sekali merasa lelah.
Dalam kondisi dirinya yang dulu merasa baik dan tidak berbadan dua saja Brian selalu membuatnya kepayahan di atas ranjang, lalu bagaimana dengan kondisinya yang lemah seperti sekarang? Hal ini membuatnya ragu tak bisa mengimbangi serangan suaminya di saat mereka berhubungan badan.
Menepuk-tepuk dadanya sendiri secara pelan supaya lebih tenang, sambil menengadah ia pun menggumam. "Astaga, kenapa tiba-tiba perasaanku campur aduk begini ya, takutnya melebihi saat melewati malam pertama kami waktu itu." Lirihnya dengan nada ngenas.
Saat tanpa sengaja pandangannya terarah tepat pada perutnya, ekspresi Mayang pun tiba-tiba melembut sementara bibirnya pun menipis kala dirinya tersenyum. Entah mengapa setiap kali pikirannya kembali teringat akan calon bayi di dalam perutnya, Mayang seolah medapatkan kembali kekuatan hati serta semangat diri.
Menunduk perlahan menatap tempat dimana bayinya berada, tangannya pun bergerak mengusapnya dengan sayang dan penuh kelembutan.
"Sayang," bisiknya pelan seolah sedang berbicara dengan seseorang. "Saat Ayah sedang ciluk ba dan datang untuk menjumpaimu nanti, berlindunglah di tempat yang aman untuk sementara waktu, ya. Ibu tidak ingin kepalamu yang masih lunak itu terbentur oleh senjata yang Ayah miliki." ucapnya penuh kekhawatiran. "Tidak apa kan, Ayah dan Ibu main bersamamu sebentar saja? Pasti seru, iya kan?" Tutur wanita yang kini mulai terlihat ceria itu sembari tersenyum.
"Sekarang, biarkan Ibu mempersiapkan diri untuk Ayah, ya. Kamu baik-baik di dalam sana. Maaf karena Ibu tidak bisa memakaikanmu helm sebagai perlindunganmu, Sayang. Ibu sangat menyesal. Tapi Ibu yakin, kau akan baik-baik saja selama Ayahmu bermain cantik nanti." Mayang kembali berucap dengan nada riang.
Menarik napas dalam dan menghelanya perlahan, Mayang berusaha menetralkan perasaan. Berusaha menenangkan pikiran, ia pun menarik sudut lengkung merahnya hingga membentuk sebuah senyuman.
Menyamarkan pemampilan agar tidak terlalu mencolok pandangan suaminya, tangannya pun bergerak meraih lantas mengenakan kimuno lapisan luar yang memang satu set dengan yang sudah ia kenakan, Hal itu ia lakukan untuk menutupi pakaian yang dinilainya kekurangan bahan itu.
Tak lupa ia sapukan juga make-up natural minimalis pada wajah, hingga membuat penampilannya malam ini semakin cantik dan terlihat lebih sensual.
Sedikit terburu-buru Mayang melakukan semua itu, bagaimanapun juga ia tak ingin Brian tahu jika ia sedang mempersiapkan diri untuk malam ini. Mengingat hal ini begitu mereka nanti, Mayang berencana menjadikan ini sebuah kejutan dan berharap malam ini akan menjadi malam yang sangat spesial.
Suara samar gemercik air yang sudah berhenti membuat Mayang meyakini jika sang suami telah selesai membersihkan diri. Hal itu tak ayal membuatnya segera bergegas pergi meninggalkn meja rias, dan berhambur melompat ke atas ranjang. Tanpa sengaja, benturan kecil yang mengenai kaki ternyata terasa sakit hingga membuatnya meringis saat terasa nyeri. Namun demi kelancaran rencana kejutannya malam ini, Mayang berusaha mengabaikan begitu saja.
Sikap sembunyi-sembunyi ini membuat jantungnya berdebar tak menentu. Tangannya yang gemetar lantas meraih novel yang tergeletak begitu saja di atas nakas. Membuka novel itu pada sembarang halaman, ia berniat pura-pura sedang membacanya. Namun terlebih dulu ia memastikan jika buku yang sedang ia baca itu tidak dalam posisi terbalik.
__ADS_1
Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, Mayang berusaha bersikap tenang. Mamun derap langkah Brian yang terdengar semakin mendekat justru membuatnya semakin tidak tenang. Gadis yang mengenakan lingerie berwarna gold itu justru terlihat sangat gugup dan bingung tak tahu harus bersikap bagaimana.
Di tariknya selimut tebal yang berada di ujung kaki hingga menutupi setengah bagian tubuhnya yang sedang duduk menyandar pada kepala ranjang. Menunduk seolah sedang membaca, Mayang bersikap seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.
Meskipun kepalanya dalam posisi menunduk, namun pandangan Mayang tampak mengawasi suaminya yang muncul dari ruang ganti sembari menyapukan handuk kecil di kepalanya.
Lelaki bertubuh tegap itu tampak mengenakan celana panjang santai dan atasan piyama berwarna putih model transparan yang seperti biasanya ia kenakan. Hingga memperlihatkan dengan jelas perut sixpack nya.
Berjalan menuju sofa yang berada di sudut ruangan kamar, Brian tersenyum saat sekilas menatap sang istri yang tengah asik membolak-balik lembar demi lembar novel yang ia baca. Usai meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia lantas melangkah mengitari ranjang menuju sisi tempat tidurnya.
Melihat sang istri yang tak bergeming seolah mengabaikan kedatangannya, Brian yang masih berdiri sembari mengamati, hanya diam sembari berdecak heran. "Baca apaan si? Serius amat?" Tanyanya dengan pandangan mengamati buku di tangan istrinya. "Sayang ,,,?" Panggilnya dengan intonasi kesal saat sang istri tak juga memberikan jawaban.
Tubuh Brian yang dengan sengaja ia hempaskan ke atas ranjang pun menimbulkan gerakan memantul yang seketika membuat Mayang terkejut dan terperanjat. Buku yang ia pegang pun seketika terjatuh di pangkuan.
Mayang yang gelagapan pun seketika menatap ke arah suaminya dengan ekspresi kebingunan. "Sayang ada apa? Kau terjatuh?" tanyanya penuh kecemasan sembari merubah posisi duduknya hingga membungkuk condong ke arah Brian. Sementara tangannya bergerak membelai wajah sang suami yang sedang tengkurap bertopang dagu sembari menatapnya tajam.
Brian yang tampak kesal lantas meraih lalu menggenggam tangan Mayang dengan erat, sementara pandangannya masih mengawasi sang istri dengan sorot tajam. "Aku sedang berbicara padamu, Sayang. Tapi kau mengacuhkanku." protesnya kemudian dengan nada kesal.
"Ah maaf Sayang, sepertinya karena aku terlalu serius saat membaca. Maafkan aku ya," bujuk Mayang kemudian dengan nada lembut hingga membuat sang suami melunak dan menyunggingkan senyumannya.
"Apa judul novel yang kau baca? Pasti horor ya?" Tebak Brian dengan nada bergurau.
"Yang ku baca novel jenre romantis, Sayang. Judulnya--"
"Baca novel romantis kok ekspresinya tegang gitu?" Potong Brian sebelum sang istri menyelesaikan ucapannya. "Ku kira yang kau baca tadi novel horor?" tanyanya kemudian setengah menelisik. "Kenapa aku jadi curiga kalau kau tidak benar-benar sedang membacanya ya? Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang? Heummm?" Tanyanya lembut sembari memainkan alisnya naik turun.
Mayang yang merasa malu sebab rupanya Brian bisa membaca sikap pura-puranya itu seketika tersenyum dengan wajah yang merona malu. Tak menjawab, ia justru menarik tangannya dan kembali duduk bersandar pada kepala ranjang.
Menarik kembali selimut itu hingga menutupi setengah agian tubuhnya, Mayang lantas memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan wajahnya yang tampak berbeda dari biasanya.
Tak ingin melepaskan sang istri begitu saja, Brian pun bergerak mendekati Mayang dengan sikap penasaran. Lelaki dengan rambut setengah basah itu menyipitkan mata selagi memindai penampilan sang istri yang terlihat tak seperti biasanya. Menemukan sesuatu yang berbeda, ia pun menipiskan bibir dan tersenyum penuh arti.
Mayang yang masih tertunduk pun seketika membelalak, saat dengan tiba-tiba Brian menggerakkan tangan mengangkat dagunya. Memaksa dirinya agar menghadap kepadanya. Sementara jemari kiri Brian menyentuh dan membelai wajahnya dengan penuh kelembutan. Dan matanya yang sayu mengamati tiap inci wajah sang istri dengan penuh cinta dan kilatan penuh hasrat.
"Kau berdandan, Sayang?" lirih Brian dengan suara lembut dan parau. "Kau cantik, sekali." Lelaki yang kini duduk tepat di hadapan Mayang itu melontarkan pujian dengan nada sensual seraya bergerak mendekat dan menyusuri wajah sang istri dengan bibirnya dengan penuh kelembutan.
Mayang yang merasa merinding oleh cumbuan sang suami hanya bisa memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya. Sementara jemarinya pun refleks meremas kain selimut yang lembut, saat merasakan senyar berbeda yang di timbulkan oleh sentuan lembut suaminya. Berusaha menahan hasrat untuk bercinta yang tiba-tiba saja seperti meronta, dan tubuhnya pun bereaksi menginginkan lebih dari hanya sekedar ciuman dan belaian semata.
__ADS_1
"Kau sengaja menggodaku, heumm?" Brian kembali berbisik, sementara tangannya begitu agresip menarik tubuh sang istri hingga merapat padanya. Bahkan sebelum Mayang sempat membuka mulut untuk bicara, kedua tangan Brian dengan cepat menangkup kedua sisi pipi istrinya. Dan tak butuh waktu lama, segera ia benamkan bibirnya pada bibir sang istri, menyesap manisnya dengan penuh hasrat.
Lidah Brian begitu liar menjelajahi rongga mulut sang istri. Bermain di dalam sana sesuka hatinya. Semakin sang istri mendesah ia justru semakin bersemangat, mengabailan ponsel yang sejak tadi berderit tak henti. Kenikmatan yang seketika mendera membuat Brian tanpa sadar mengerang, dan kemudian perlahan merebahkan tubuh Mayang hingga terlentang. Hingga saat sang istri tersengal, Brian pun akhirnya terpaksa melepaskan.
Sambil tersenyum, Brian yang dengan posisi membungkuk dan mengurung tubuh Mayang pun mengusap lembut bibir basah sang istri dengan jemarinya. Ditatapnya sang istri dengan nafsu yang begitu bergejolak.
Namun pada saat Brian mulai melancarkan aksinya lagi dengan membenamkan bibirnya di ceruk leher sang istri, kini giliran ponsel sang istri yang tergeletak di nakas itu kembali berderit dan mengusik kenikmatannya.
Dengan begitu kesalnya Brian bangkit dan meraih ponsel itu, sudah memgangkat tangan hendak membantingnya namun ketika melihat nama yang tertera di layar membuatnya urung melakukan.
Lelaki berwajah tegas itu lantas mengarahkan tatapan tajamnya ke arah sang istri. Seolah sedang menunjukkan ketidak sukaannya pada si penelpon di ponsel istrinya.
Ekspresi Brian yang berubah total itu membuat Mayang mengernyit bingung. Wanita yang sedang terlentang. itu lantas mengangkat tubuhnya berusaha bangun dan kemudian duduk di hadapan suaminya. Sepasang netranya menatap sang suami penuh rasa ingin tahu.
"Apa kau belum membatalkan kerja sama itu?" tanya Brian dingin dengan ekspresi wajah yang tak bersahabat. Menatap Mayang dengan sorot tajam yang menusuk.
Mata Mayang langsung membelalak ketakutan saat mendengar pertanyaan Brian yang begitu tegas penuh kemarahan. Tak sanggup membalas tatapan suaminya, perlahan ia pun tertunduk sembari menelan slavinanya berat.
"Ku tanyakan sekali lagi, Apa kau belum membatalkan kerja sama itu?!" ulang Brian meninggikan intonasi suaranya. "Jawab!" Bentakan terakhir Brian berhasil membuat Mayang terperanjat. Bola mata yang tersembunyi di balik bulu mata lentik itu mulai berkaca-kaca. Mengumpulkan segenap keberaniannya, Mayang berusaha mengangguk samar, mengiyakan pertanyaan setengah tuduhan yang dilontarkan suaminya.
Tersenyum penuh ironi, Brian menggeleng tak percaya mengetahui sikap membangkang sang istri, sebelum akhirnya bangkit dan beranjak pergi meninggalkan Mayang penuh kemarahan.
"Sayang, kau mau kemana?" Dengan suara serak menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyergap rongga dada, Mayang memberanikan diri untuk bertanya. Air matanya pun seketika luruh saat sang suami sama sekali tak menggubrisnya.
Penuh rasa bersalah, ia pun melompat turun dari ranjang dan berhambur menyusul suaminya yang ternyata melangkah menuju ke balkon.
Berhenti di ambang pintu, Mayang menyeka air matanya dan menarik napas dalam. Berusaha meredakan tangisnya. "Sayang, dengarkan penjelasanku dulu." desak sembari melangkah perlahan dan mendekat. Mamun Brian yang tengah nerdiri membelakanginya tak bergeming sedikitpun. Sementara kedua telapak tangannya mencengkeram kuat pegangan pagar balkon.
"Sayang, ku mohon dengarkan aku dulu." pintanya dengan nada serak dan memohon, sementara tangannya bergerak mencengkeram lengan kemeja transparan Brian dengan sikap memaksa, agar suamunya itu mau menatapnya. "Tadinya aku berencana memohon baik-baik kepadamu malam ini."
Menoleh cepat ke arah istrinya, mata Brian menggelap penuh kemarahan mendengar alasan Mayang. Brian bahkan terperangah tak percaya mendengarnya. "Jadi kau berdandan malam ini hanya untuk membujukku?!" desak Brian sembari membungkuk mencondongkan wajah hingga begitu dekat dengan wajah Mayang dengan aura kemarahan yang menguar. "Hah," desahnya penuh ironi sembari menarik wajahnya, menggelang tak percaya.
Brian lantas memutar tubuhnya membelakangi sang istri, menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca. Lelaki bertubuh kekar itu menghentakkan tangannya pada pagar balkon lalu mencengkeramnya kuat-kuat. Rahangnya mengeras tatkala berusaha menahan segala amarahnya.
"Sayang, bukan begitu maksudku," tak menyerah begitu saja, dengan bibir bergetar Mayang masih berusaha menjelaskan. "Aku hanya--"
"Aku tak percaya jika kau begitu egois," potong Brian sebelum Mayang menyelesaikan ucapannya, "Ternyata rasa cintamu padaku hanya isapan jempol belaka. Untuk apa kau bersamaku jika tak mau mendengar ucapanku!" Sentaknya dengan tajam bagai belati yang menusuk tepat di hati Mayang.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku!" Mayang menjerit histeris. Gadis berambut panjang itu tergugu saat tubuhnya ambruk dan terduduk di lantai dengan tangisan pilu. Ingin rasanya menjelaskan kesalah pahaman yang disebabkan oleh perbedaan sudut pandang ini. Namun tak semudah yang ia duga, sebab berbeda kepala berbeda pula isi otaknya. Dan yang begitu membuatnya sakit hati adalah suami yang tak mau mendengar alasannya. Namun si sisi lain, Brian pun merasa sakit saat mengetahui sang istri yang tak patuh dan dengan sengaja membangkang tak mendengarkan ucapannya.
Bersambung