Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Perlahan dan hati-hati


__ADS_3

Menyadari sang istri terduduk di lantai dengan tetes air mata karena ulahnya, hati Brian benar-benar merasa terluka. Bagai disayat tajamnya pisau yang berkarat. Namun luka di hati tak mungkin dapat terlihat.


Tersadar, Brian menghela napas kasar. Sang istri tak akan lara jika saja dirinya tidak berucap kasar padanya. Seujung kuku ia benar-benar tak ingin membuat sang istri terluka hatinya, bahkan hingga menitikkan air mata. Namun sikap membangkangnya membuat Brian seketika gelap mata hingga tak mampu mengendalikan amarahnya.


Menyesal memang tak pernah datang di awal. Perasaan yang begitu sangat menyiksa. Andai kata-kata itu bisa ditarik, Brian tak ingin lagi mengucapkannya.


Mencengkeram pagar balkon begitu kuat, rahang Brian pun mengetat sementara giginya menggemertak jengkel. Pergolakan antara sesal dan amarah, kian membuatnya tersudut dalam perasaan bersalah. Andai sang istri mengerti kemana arah jalan pikirannya, mungkin kesedihan ini tak akan mengusik kebahagiaan mereka.


Memutar tubuhnya ke arah belakang, perlahan Brian melangkah mendekati Mayang dengan tatapan iba. Menekuk kedua lutut hingga terduduk tepat dihadapan istrinya, tangan kokoh itu bergerak mencengkeram bahu Mayang dan memaksa gadis itu menatap padanya. "Sayang lihat aku!" tegasnya setengah membentak, mendesak Mayang yang masih tertunduk kaku agar mendongak menatapnya.


Dengan terisak, Mayang perlahan mengangkat pandangannya. Gadis bersurai hitam itu semakin tersedu saat pandangan bertemu dengan sepasang netra berkaca-kaca milik suaminya. Seketika napasnya terasa sesak. Seolah sesuatu tak kasat mata menekan rongga dadanya. Menghimpit paru-paru yang menyulitkannya untuk bernapas.


Tak kuasa membalas tatapan suaminya, Mayang kembali tertunduk pilu. Jemarinya bergerak membungkam mulut yang tanpa bisa dicegah kian tersedu. Hanya bisa menangis saat bibir tak mampu berucap memberikan penjelasan. Ketika tak mampu berkata-kata, hanya air mata yang bisa mewakili untuk bicara.


"Nyonya Brian!" Brian memanggil nama istrinya dengan intonasi suara lebih keras. Jemarinya meremas lembut bahu sang istri dan memaksanya untuk menatap matanya. "Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau bekerja sama dengan mereka? Apa kau tahu peranmu nanti dalam misi rahasia ini?" Brian tampak sangat marah, gerahamnya mengetat dan ekspresinya benar-benar gelap. Tatapannya tajam menusuk relung hati Mayang. "Mereka akan menyerahkan dirimu! Kau akan dijadikan umpan, istriku ... kau akan dijadikan umpan!!" Sambil menggemertakkan gigi Brian menekan kata-kata terakhirnya. Air mata bahkan tak sanggup lagi ia tahan.


Sementara Mayang yang kian dihinggapi rasa bersalah pun semakin terisak pilu. Namun bukanlah tanpa pemikiran matang ia memutuskan hal itu. Impian kebahagian hakiki yang mendorongnya kuat untuk mengakhiri rasa takut yang membelenggunya selama ini. Impian kebebasan nyata tanpa harus bersembunyi lagi dalam sangkar emas. Menjalani kehidupan normal seperti wanita-wanita lainnya.


"Kau tahu, dengan jalan pilihanmu itu, mereka bisa saja mencelakaimu kapan saja. Kau memilih masuk ke sebuah kandang yang isinya adalah singa-singa lapar. Kau menyerahkan dirimu, mempertaruhkan nyawamu yang begitu berharga itu hanya karena egomu!" Brian mulai membentak saat mengucapkannya. Lelaki itu bahkan mengguncang sedikit bahu Mayang seolah ingin menyadarkannya. "Tapi apakah kau pernah memikirkan aku? Memikirkan bayimu? Jangan pernah lupa jika kau sedang mengandung, Sayang! Jangan lupakan janin di perutmu! Aku tahu mereka berjanji untuk melindungimu. Tapi bagaimana jika perhitungan mereka meleset dan kau tak tertolong lagi? Pernahkan terpikir olehmu betapa gilanya aku!!" Sentakan Brian bersamaan dengan dirinya melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu Mayang. Menghindari diri kemungkinan hilang kendali dan tanpa sadar melukai sang istri.


Brian menghempaskan tubuhnya kebelakang, terduduk dengan posisi membelakangi Mayang. Jemarinya mengusap kasar air mata yang luruh begitu saja tanpa bisa ditahan, sebelum kemudian terjalin dan bertumpu di atas kedua lututnya yang di tekuk.


Untuk beberapa saat keduanya terbelenggu dalam kebisuan. Tenggelam dalam asa hampa, bergulat dalam pemikiran liar masing-masing karena keduanya merasa sama-sama benar. Sama-sama memiliki alasan kuat berada di jalannya.


Hanya suara isak yang melingkupi sunyi, dan menyelimuti malam dengan embusan angin malam yang menyapa lembut permukaan kulit. Menyisakan gigil sampai ke tulang-tulang. Namun tak jua mampu mendinginkan panasnya hati yang diselimuti luapan amarah.


Menghela napas dalam, Mayang yang masih tertunduk kaku berusaha meredakan isakannya. Jemarinya bergerak mengusap dan mengeringkan wajahnya yang basah oleh air mata sebelum kemudian bergerak mendekati suaminya.


Memeluk dari belakang, Mayang menyandarkan pipi kirinya pada punggung sang suami sebelum kemudian melayangkan pertanyaan. "Lalu sampai kapan kau akan mengurungku di sangkar emas ini?"


Tak bergeming, Brian tak bergerak dari posisinya. Ia bahkan tidak tertarik menjawab pertanyaan sang istri.


"Apa pernah terpikirkan olehmu bagaimana kehidupan putra-putri kita di masa mendatang? Apa kau akan selamanya menyembunyikan aku dan putra-putrimu dari khalayak ramai sebagai caramu melindungi kami? Apa kau tak terpikir jika suatu hari nanti mereka akan memberontak dan menuntut kebebasan? Sebagai manusia pasti mereka menginginkan kehidupan normal seperti teman-temannya, Sayang? Mereka bukanlah tawanan ...!" Dengan suara tenang Mayang mencoba menjelaskan.


"Aku ingin mengakhiri semua, Sayang," tambah Mayang lagi. "Aku ingin kita menghadapi masalah bersama-sama. Bukannya berlari menghindar dan membuat diri kita semakin tertekan. Aku yakin aku dan bayi kita akan baik-baik saja selama kau merestui kami. Percayalah, segala sesuatu yang terjadi itu berjalan atas seizin-Nya. Dan jika sesuatu buruk terjadi pada kita, itu karena suratan takdir yang memang seharusnya terjadi. Kumohon, mengertilah Sayang ...." Sembari mengangkat kepala, Mayang menatap Brian yang masih membelakanginya dengan penuh permohonan.


Diam bukan berarti tidak mendengarkan. Dalam diamnya rupanya Brian tengah memikirkan ucapan istrinya. Lelaki itu mendesah pelan saat menyadari bahwa ucapan sang istri memang ada benarnya. Masalah yang datang memang seharusnya dihadapi, bukannya berlari pergi dan kemudian bersembunyi.


Menggerakkan leher dan menoleh menatap sang istri, ekspresi Brian melembut ketika pandangan mata keduanya bertemu. Dengan jarak wajah yang begitu dekat mereka saling menatap lekat dan semakin dalam, saling menguatkan melalui pandangan.


"Lalu bagaimana jika kejadian buruk menimpa keluarga kita." desah Brian dengan sorot mata penuh keraguan setelah beberapa saat terdiam saat berpandangan.

__ADS_1


Tersenyum, Mayang berusaha meyakinkan. "Yakinlah kita akan baik-baik saja Sayang. Namun jika hal buruk yang terjadi, maka itu semua adalah takdir. Kita harus berani mengambil langkah demi kebahagiaan kita untuk selamanya."


Mendesah pelan, Brian lantas mengalihkan pandangan. Menatap lurus ke depan dengan wajah lelah. Entah mengapa dirinya selalu dihadapkan dengan situasi pelik di tengah-tengah kebahagiaan.


"Sayang ..." panggil Mayang seraya menarik dagu Brian, memaksanya untuk menghadap padanya yang tengah memeluk dari belakang.


Brian akhirnya menoleh menatap istrinya meskipun terpaksa. Tersenyum masam beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuang muka.


"Sayang ... maafkan aku. Kau masih marah? Bukankah kau sudah mengerti maksud dan tujuanku? Lalu kenapa masih belum yakin?" tanya Mayang yang dalam posisi menekuk lutut bertumpu pada lantai sambil mengeratkan pelukan di dada suaminya.


"Aku masih belum yakin." Brian berucap terus terang. "Kau saja masih belum diperbolehkan melayaniku, sudah mau sok-sok-an menghadapi mafia besar," celoteh Brian dengan nada meremehkan.


Mayang yang mendengar ungkapan remeh sang suami pun membelalak kesal. "Eit, siapa bilang?" protesnya dengan nada keras tepat di telinga suaminya, hingga membuat Brian terperanjat dan seketika mengangkat tangan untuk mengusap telinganya yang terasa pengang.


"Sayang, apa kau tidak bisa bicara lebih pelan? Setelah berhasil memporak-porandakan hatiku kau ingin juga mengobrak-abrik telingaku? Pikirkan juga keadaan gendang telingaku, Sayang. Jangan coba-coba menjebolkannya seperti aku menjebolkan keperawananmu dulu." Meski berucap dengan nada penuh kesungguhan, namun ungkapannya berhasil membuat wajah Mayang memerah malu karenanya.


"Apa kau bilang!" protes Mayang dengan mata membulat tak terima, sementara jemarinya bergerak mencubit perut sang suami dengan kesal hingga berulang kali.


Berjingkat, Brian bereaksi saat terkejut. Tangan kirinya pun bergerak cepat menangkap jemari sang istri. "Kenapa mencubitku lagi? Kau telah melakukan tindak kekarasan padaku dua kali dalam sehari ini?! Tolonglah hambamu ini tuhan! Aku adalah. lelaki yang teraniaya oleh istri dan ibu kandungnya sendiri." ucap Brian dengan mimik wajah miris.


"Lalu, apakah kau akan menyerahkanku kepada polisi atas tindak kekerasanku tadi?" tanya Mayang dengan nada menggoda sembari menempelkan pipi kiri pada pipi kanan suaminya.


"Tidak. Lebih baik aku mengurungmu di rumah saja." jawab Brian dengan nada ketus.


Sama-sama terdiam, pandangan mereka tertuju pada rembulan yang bersinar begitu indah dan bentuknya pun bulat sempurna.


"Sayang," panggil Mayang saat melirik suaminya.


"Hemmm," Brian hanya menggumam sebagai jawaban.


"Bulannya cantik, ya."


"Cantikan kamu," jawab Brian singkat, namun berhasil membuat jiwa romantis Mayang kian bergejolak.


"Oh ya?" Mayang bertanya lagi untuk memastikan, namun Brian justru tak bergeming. Merasa sedikit kesal, Mayang melirik Brian penuh ancaman.


Dengan penuh kelembutan, tangannya pun bergerak menyusuri dada dan perut suaminya. Sementara bibirnya dengan liar menyusuri pipi dan lekuk leher suaminya.


Berjingkat, dengan cepat tangan Brian menangkap dan menahan dua tangan nakal milik istrinya, membuat Mayang seketika menghentikan aksinya. Merasa hal ini tidak benar, terlebih saat sesuatu miliknya di bawah sana terasa menegang dan semakin mengeras saja. "Sayang plis. Kumohon jangan menggodaku seperti ini. Aku tak ingin lepas kendali dan mengoyakkan tubuhmu, nanti." tutur Brian dengan penuh penekanan, sementaranya giginya menggemertak susah payah berusaha menahan gejolak yang semakin menjalar.


Tak mempedulikan larangan keras sang suami, Mayang justru semakin liar melancarkan aksinya. Bibir dan tangannya bergerak seirama. Bergerilya di area sensetif milik suaminya. Brian yang semakin tak kuasa menahan gejolak hasrat hanya bisa pasrah saat sang istri memanjakannya dengan kenikmatan.

__ADS_1


Dengan kuat, Mayang merebahkan tubuh kaku Brian hingga terlentang di lantai balkon. Lantas dengan sigap Mayang naik dan mengurung tubuh Brian di bawah kuasanya. Ditanggalkannya kimuno yang menutupi lingerienya lantas melemparnya ke segala arah, hingga memperlihatkan keindahan tubuhnya yang selalu tersembunyi di balik pakaiannya. Seolah mengabaikan tatapan Brian yang begitu memujanya, tangan kanannyapun bergerak menarik rambut dan membawanya ke sisi bahu, hingga memperlihatkan dengan jelas leher jenjangnya nan mulus.


Brian tergelak tak menyangka melihat kebrutalan sang istri yang kian membangkitkan gairahnya untuk bercinta. Erangan kenikmatan lolos dari bibir Brian saat Mayang merajai tubuhnya begitu liar, bahkan menikmati es krim yummi yang baru saja dikeluarkan dari penyimpanannya.


Semakin bergelora, sampai-sampai Brian menghentakkan tangannya yang terkepal kuat itu pada lantai. Gerahamnya mengeras disertai desahan sensual. Matanya terpejam semakin meresapi rasa nikmat yang luar biasa.


Tak tahan, iapun bangkit. Lengan kokohnya meraih tubuh sang istri dan dengan garang melahap lengkung merah nan manis milik istrinya dengan begitu brutal. Membalik tubuh dan berganti posisi, ia rebahkan tubuh sang istri di atas lantai yang terbuat dari marmer itu.


Namun karena ia lalai dan terkesan lepas kendali, tanpa sadar Brianpun membuat kepala Mayang terbentur pada lantai saat berusaha membaringkan dengan bibir yang masih bertautan, hingga wanita dengan penampilan seksi itu memekik tertahan.


Seketika Brian melepaskan pertautan bibir mereka, dan mengusap kepala sang istri penuh rasa bersalah.


"Maaf." Ucap Brian diiringi tawa geli keduanya.


Merasa ini bukanlah tempat yang nyaman bagi istrinya, Brian pun segera merengkuh tubuh ramping sang istri dan membawanya menuju ke ranjang lantas merebahkannya dengan perlahan. Seolah tak ingin membuang waktu, ia pun segera membuang pakaian yang menempel di tubuhnya, sebelum kemudian melakukan hal yang sama pada istrinya.


"S-Sayang--" cegah Mayang saat Brian akan melakukan penyatuan. Gadis yang semula sudah teelentang itu memdadak bangun dan duduk teoat menghadap suaminya.


"Kenapa?" Tanya Brian bingung dengan ekspresi kesal saat hasratnya tiba-tiba tertahan.


"Bisakah kau melakukannya dengan cara perlahan?" tanya Mayang dengan kesungguhan.


"Hah?" Terkejut, sampai-sampai Brian menautkan alisnya.


"Dokter mengatakan begitu." Balas Mayang memberikan penjelasan. "Kau tak ingin kepala bayi kita kepentok senjata yang kau miliki, bukan?" tanya Mayang penuh pengharapan. Ada rasa takut dan tak enak hati menyelimuti hatinya, sampai-sampai gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya.


Mendesah pelan, Brian pun kemudian mengangguk paham. Menatap sang istri dengan senyum penuh kelembut, ia pun lantas berucap. "Peringatkan aku jika tanpa sadar tiba-tiba aku bergerak diluar kendali ya." pintanya dengan kesungguhan.


Mengulum senyumnya malu-malu, Mayang pun lantas menganggukkan kepala sebagai jawaban dirinya mengerti maksud suaminya. Sudah tak ada lagi keraguan, wanita dengan penampilannya yang polos itu kembali berbaring dengan di bantu suaminya.


Seolah mengerti kegelisahan yang dirasakan sang istri, Brian pun lantas bergerak maju dan mendekatkan bibirnya di telinga sang istri dengan suara paraunya. "Tenang, ya. Aku akan melakukannya dengan selembut mungkin. Kau tak perlu cemas, Sayang." Bisiknya sebelum kemudian mulai melakukan penyatuan dengan sangat hati-hati sembari memperhatikan ekspresi wajah istrinya.


Pekikan Mayang yang terdengar saat Brian berjasil melakukan penyatuan membuat lelaki itu membelalak penuh kecemasan. Tangannya bergerak dengan cepat menangkup wajah Mayang dan bertanya penuh kekhawatiran. "Kenapa Sayang? Apa ini terlalu sakit?" Wajah Brian tampak menegang karenanya.


Sambil menggigit bibir bawahnya, Mayang pum menggeleng samar. "Tidak, Sayang. Aku hanya terkejut saat pertama kali merasakan lagi setelah sekian lama." desahnya diiringi tawa. Yang kemudian disusul tawa geli sang suami yang tengah menempelkan dahi mereka.


"Katakan aki harus bahaimana, Sayang." Bisik Brian selagi bibir mereka bersentuhan.


"Lakukan saja yang ingin kau lakukan Sayang. Aku hanya memintamu untuk sedikit pelan dan lebih berhati-hati." sembari membelai tubuh sang suami dengan gerakan ringan begitu menggoda, Mayang pun menjawab setengah berbisik.


Menarik kedua sudut lengkung merahnya, Brian pun berucap pelan. "Aku mengerti Sayang." tuturnya penuh kelembutan. Dengan bibir masih bertautan, Brian pun mulai bergerak pelan. Menarik dan mendorong keris dari sarungnya dengan gerakan ringan dan perlahan. Keduanya sama-sama melempar senyuman saat merasakan ternyata bermain pelan rasanya begitu menyenangkan.

__ADS_1


Mayang memekik saat Brian menggigit kecil bibir merahnya lalu berbisik, "Malam panjang kita baru di mulai, Sayang ,,,." Bisiknya parau, dengan seringai nakal menghias di bibirnya.


Bersambung


__ADS_2