
Masuk dengan wajah tak bersahabat, Billy yang terlihat sedang kesal menutup pintu di belakangnya setengah membanting. Ia bahkan tak mengetuk pintu itu terlebih dulu, tak seperti biasanya. Melangkah lebar, ia letakkan kantong plastik di tangan itu di atas meja dengan kasar tepat di hadapan sang bos yang tengah menatapnya bingung.
Entah hilang kemana keramahan yang selama ini ia junjung tinggi. Bahkan di hadapan sang bos, yang sudah seperti teman, sahabat, bahkan saudara. Hanya lelaki itu dan keluaganya-lah satu-satunya yang ia anggap sebagai keluarganya sekaligus rumah untuk pulang.
Alih-alih bersikap hormat, Billy justru menyalahkan Brian atas semua yang terjadi. Karena keinginan sang bos lah yang pada akhirnya mengantarkannya bertemu dengan gadis aneh itu untuk yang ke dua kali. Bukannya berterima kasih karena pernah di tolong, gadis itu justru sudah berani mempermalukan dan menjatuhkan harga dirinya berulang kali di pertemuan kedua ini.
Sama sekali tak menyapa, Billy mengayunkan langkah menuju meja kerjanya dan mendaratkan bokong pada kursi kerja yang empuk. Melirik sebal pada Brian, tangannya pun bergerak meraih tumpukan map yang sudah menanti untuk ia eksekusi hari ini.
"Kau ini kenapa, datang-datang muka di tekuk seperti itu." Brian pada akhirnya buka suara sebab tak biasanya Billy bersikap seperti itu terhadapnya. "Dan apa itu, nggak ada ramah-ramahnya sama sekali terhadap bos. Nggak ada ahlak memang ya. Kau gadaikan di mana ahlak mu itu hah!"
Tak merespon sama sekali, Billy tetap bungkam dan fokus pada lembar demi lembar kertas di hadapannya. Terang saja hal itu membuat Brian geram hingga spontan melempar pulpen di tangannya hingga mengenai tepat di pipi Billy hingga meninggalkan coretan di sana.
Bergeming, Billy melempar pandangan sinis terhadap bos nya. "Hey, kenapa melempar pulpen itu ke pipi ku? Kau pikir ini kertas, hah!!" Billy mendelik sebal ke arah Brian seraya mengusap pipi kemarahannya.
"Iya! Pipi mu seperti kertas yang di remas-remas terus di injak. Kusut masai, kucel pula!" Ledek Brian sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi diiringi gelak tawa. "Ada apa si, baru keluar sebentar untuk cari mangga muda pulang-pulang seperti itu."
"Terserah kau mau bilang apa. Aku sedang malas berdebat sekarang." Ucap Billy datar. Ia berusaha mengendalikan diri agar tak terprovokasi oleh ucapan Brian. Ia justru lebih tertarik pada pekerjaannya dari pada mengingat kembali kejadian yang membuatnya kesal.
"Kau tidak sedang kesurupan setan malas penghuni pohon mangga kan??" Brian bertanya dengan wajah begitu penasaran. Namun di telinga Billy, pertanyaan sang bos justru terdengar seperti sedang mengoloknya.
Billy berdecih setelah melempar pandangannya ke arah Brian. "Masih tak merasa juga jika kau lah penyebab semua ini?!"
"Aku?!" Brian menunjuk dirinya tak percaya. "Apa yang salah dengan ku?!" Tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Tentu saja karena kau menyuruhku mencari mangga muda! Karena itu aku jadi bertemu lagi dengan gadis sialan itu." Billy mendengkus kesal. Ditatapnya sang bos yang tidak tahu apa-apa dengan penuh kemarahan.
"Kenapa menyalahkan ku begitu? Aku hanya meminta mu mencarikan mangga muda, apa susahnya?!"
"Kau pikir mudah mencari mangga muda saat tidak musim mangga begini? Aku lebih baik kau suruh bekerja tanpa istirahat seharian daripada mencari buah langka itu."
"Tapi kau mendapatkannya bukan?" Brian bergeming dan mencondongkan tubuhnya bertumpu pada meja kerja. "Mana mangganya? Berikan pada ku." Pintanya dengan tangan yang menadah.
"Kau tidak lihat yang tergeletak di depan mu itu apa?!" Sungut Billy sambil melirik pada lelaki yang akhir-akhir ini berubah menjengkelkan itu.
Seketika Brian pun mengarahkan pandangannya ke bawah, dan tersenyum setelah menatap Kantong itu. "Iya-iya, maaf. Tadinya ku pikir kau membawakan ku mangga muda utuh." Brian mengambil satu mika berisi rujakan dan mencampurkan sambal yang tadinya dikemas terpisah.
"Apa lah daya ku Tuhan ,,, aku hanya bisa berharap sekretaris ku segera sadar dan berhenti bersikap seperti layaknya wanita yang sedang datang bulan." Keluh Brian sambil memasang wajah penuh lara.
"Hey apa kau bilang?!" Lemparan pulpen yang menyusul lengkingan suara Billy berhasil mengejutkan Brian.
Terlebih ketika pulpen itu masuk ke dalam mika berisi rujak setelah sebelumnya mendarat sempurna di kepalanya membuat Brian pada akhirnya benar-benar terlihat kesal. Brian hampir saja membuka mulutnya dan ingin memaki sang sekretaris kurang ajar yang berani melenyapkan selera makannya.
__ADS_1
Namun perut yang tiba-tiba meronta dan meminta sang empunya mengeluarkan semua isi di dalamnya membuat wajah Brian seketika mendadak pucat. Entah mengapa Brian merasa mual saat pulpen itu masuk ke dalam makanannya.
Melihat hal itu sontak saja membuat Billy merasa khawatir. Lelaki yang amarahnya tiba-tiba mereda itu segera beranjak dan melangkah lebar menghampiri Brian. Dengan wajah cemas ia memperhatikan sang bos yang tengah melotot dengan wajah yang memerah menahan muntah.
"Ada apa dengan mu?! Apa kau baik-baik saja?" Billy menepuk pelan punggung Brian berulang kali. "Kau ingin muntah?"
"Cepat singkirkan ini dari hadapan ku!" Teriak Brian kesal dengan mata berkaca-kaca. Dengan lengannya ia mendorong rujakan pulpen itu agar menjauh darinya. Beruntung Billy menangkapnya di waktu yang tepat, hingga isinya tidak terjatuh dan tumpah berserakan di lantai.
"Kenapa kau jorok sekali ,,," lenguh Brian sambil meringis jijik. Di urutnya pula pelipisnya yang mendadak terasa pusing.
"Astaga, kau ini kenapa lagi?" Billy bertanya bingung, lelaki yang kini yang kini memijat leher bagian belakang Brian benar-benar terlihat keheranan melihat tingkah aneh bos nya yang terlalu tiba-tiba.
"Entah lah. Kepala ku mendadak pusing." Brian menggeleng pelan.
"Kau tidak melupakan sarapan mu kan?" Billy bertanya dengan tangan masih terus memijat.
"Aku hanya minum secangkir kopi buatan istriku tadi pagi. Ku bilang pada istri ku aku sedang buru-buru, jadi aku tidak menyentuh makanan apapun. Ha-ha ... aku telah membohongi istri ku Bill, nyatanya sampai sekarang aku belum sarapan juga. Entah mengapa aku sama sekali tidak berselera untuk makan. Hanya mangga muda yang selalu terngiang-ngiang di kepalaku." Jelas Brian panjang lebar.
Billy tertegun dan menghentikan gerakannya. Sejanak ia nampak berpikir sebelum akhirnya buka suara. "Kau ini seperti wanita sedang ngidam saja." Celetuknya sambil menekan punggung Brian membuat lelaki itu seketika menoleh kepadanya. Billy bahkan menunjukkan seringai meremehkan saat melihat Brian membulatkan bola matanya marah.
"Hey kau gila ya! Yang hamil itu istriku, bukannya aku!" Geram Brian, kemudian memalingkan wajahnya sebal.
"Selain itu perasaanmu juga jadi sensitif sekali." Billy terkekeh pelan sambil membuka mika berisi rujakan yang lain, lalu menyuguhkannya pada Brian. "Makan lah. Aku tidak ingin bayi mu nanti ileran. Ha-ha-ha!"
Menggeleng heran, Billy pun menuruti perintah aneh Brian. "Kau bahkan jadi sangat manja sekarang. Apa kau juga se-manja ini terhadap istrimu hah?!"
"Tentu saja tidak!"
Namun meskipun terlihat kesal, pada akhirnya Brian pun memakan rujakan itu dengan lahap. Sembari dirinya menikmati rujakan itu, entah mengapa rasa penasarannya begitu menggelitik pada si gadis pembuatnya.
Se-sepesial apa gadis itu hingga mampu membuat Billy lepas kendali dan membuat pria ini tampak kelimpungan saat menghadapinya.
Sekilas melihat wajah gadis itu melalui panggilan video tadi Brian bisa menilai gadis itu memiliki paras cantik. Ya-meskipun hanya sebentar, sebelum akhirnya si gadis menghadiahi Billy dengan tampolan sandal jepitnya. Ha-ha-ha benar-benar luar biasa. Seperti pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan biasa.
Sambil tersenyum sendiri, entah mengapa tiba-tiba muncul ide gila terlintas di kepala Brian. Melihat dirinya yang sudah merasakan kebahagiaan saat ini, ia pun begitu menginginkan rasa bahagia yang sama pada sekretaris sekaligus teman, sahabat dan saudaranya ini.
Berdehem kecil, Brian lantas menggerakkan lehernya menoleh ke belakang. "Rujak nya enak. Aku suka. Dan aku ingin rujakan ini tersaji setiap hari di meja kerja ku."
"Baik, akan ku perintahkan pada OB untuk menyiapkannya setiap hari untukmu."
"Aku tidak mau orang lain yang menyiapkannya untukku."
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku hanya ingin kau yang membelinya untukku! Dan harus yang seperti ini. Titik!" Ucap Brian penuh penekan dengan telunjuk yang menunjuk tegas pada rujak itu.
"Kau gila." Geram Billy sambil menggelenglan kepala, tak habis pikir. Entah mengapa hari ini benar-benar menguras habis stok kesabarannya. Tidak gadis aneh itu, tidak bos nya, mereka benar-benar membuat dadanya --yang sungguh sudah sangat lapang-- tiba-tiba terasa sesak begitu saja.
"Tentu saja aku waras!" Sambar Brian tegas.
Tanpa menjawab, Billy berlalu begitu saja menuju meja kerjanya. Duduk dengan tenang lalu tangannya pun bergerak meraih map di hadapannya. "Suruh orang lain saja. Aku terlalu sibuk hingga tak ada waktu untuk membelikan mu rujak yang seperti itu." Jawabnya datar tanpa menatap lawan bicaranya.
"Hey, disini aku bos nya. Seenaknya saja kau mau mengatur ku." Protes Brian santai sambil memutar-mutar kursi yang ia duduki, namun nada bicaranya terdengar seolah ia sedang mengingatkan siapa yang sebenarnya berkuasa di sana.
Mendesah kasar, Billy menatap Brian dengan tatapan kepasrahan. "Iya. Aku tau. Tidak perlu diperjelas seperti itu."
Tersenyum penuh kemenangan, Brian pun berucap singkat. "Bagus."
Suasana ruangan pun hening saat kedua lelaki dewasa itu tengah berkutat pada pekerjaannya mereka masibg-masing. Hingga getaran ponsel Billy yang tergeletak di meja berhasil mengusik fokus mereka. Tanpa pikir panjang lagi, Billy segera mengangkatnya setelah mengetahui siapa si penelepon.
Tak banyak kata yang Billy ucapkan saat dirinya menerima panggilan itu. Namun ekspresi wajahnya yang tampak menegang membuat Brian begitu dihinggapi rasa penasaran.
"Ada apa Bill? Apa sesuatu buruk telah terjadi?!"
* * *
Brian melangkah lebar begitu turun dari mobil saat Billy mengantarnya di sore hari itu. Ia nampak begitu tergesa-gesa memasuki rumah besarnya. Menjawab sapaan Kuswara asal, ia pun segera melayangkan pertanyaan pada kepala pelayan itu.
"Nyonya di mana?"
"Ada di atas Tuan, beliau sedang,--" Kuswara menghentikan ucapannya saat Brian tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu.
"Sayang, kau di mana?" Panggi Brian saat dirinya tak menemukan sosok sang istri di sofa yang biasa Mayang gunakan untuk bersantai. "Sayang ...!" Panggil lelaki dengan jas nya yang menggantung di lengannya itu lagi dengan suara lebih keras.
Masih tak ada jawaban, Brian pun melangkah menuju pintu kamar dan segera membukanya. Namun alangkah terkejutnya lelaki itu saat melihat bercak noda berwarna merah yang persis seperti darah tercecer di lantai kamar.
Tubuh yang seketika lemas bersamaan dengan jas di lengannya yang terjatuh di lantai mendadak bergetar dengan keringat dingin menganak dari pori-pori kulitnya.
Seketika sekelebat bayangan buruk tentang sang istri pun menggelayut manja memenuhi otak kotornya. Mengabaikan perutnya yang tiba-tiba mual, Brian melangkah perlahan mengikuti tetesan darah dengan pikiran buruk yang berkecamuk liar di kepalanya. Air mata bahkan meluncur bebas dari pelupuk matanya yang berkaca-kaca.
Astaghfirullah ada apa ini? Ku mohon jangan terjadi apa yang selama ini kutakutkan .... Lirihnya berdoa dalam hati, berusaha menata perasaannya yang telah kacau balau.
Tetesan darah itu mengarah menuju toilet kamar dengan pintu yang tertutup rapat. Menggelengkan kepala samar, Brian seolah tak siap mengetahui hal buruk yang mungkin terjadi di dalam sana. Namun ia harus tahu apa yang terjadi dengan sang istri tercintanya.
__ADS_1
Menelan slavinanya susah payah, Brian berusaha mengumpulkan keberaniannya. Ia menggerakkan tangannya yang gemetar untuk memegangi handle pintu dan bersiap membukanya.
Bersambung