
"Apa Bapak sadar dengan ucapan anda?!" Billy yang sudah tak tahan pun akhirnya buka suara. "Kenapa Bapak merendahkan putri Bapak sendiri?!" Billy menggeleng heran. Baru kali ini ia temui seorang Ayah yang dengan sadar telah merendahkan harga diri putrinya sendiri dihadapan orang lain, bukan malah melindungi dan merangkulnya.
Menatap sengit kepada Billy, Pria paruh baya dengan sebagian rambut yang mulai memutih itu berucap sinis. "Diam kau! Masih belum merasa kalau semua ini terjadi gara-gara perbuatanmu."
Billy meremas rambutnya frustasi. Lelaki bersurai hitam itu merasa dirinya benar-benar sial hari ini. Tak pernah menyangka jika niatnya menolong justru membuat dirinya ditodong. Meski sudah menjelaskan berkali-kali mamun pria paruh baya keras kepala ini masih juga tak mau mengerti.
"Sudah saya jelaskan berkali-kali Pak, saya hanya berniat menolong putri anda ...!" geram Billy penuh penekanan. "Atau,--" Lelaki dengan pakaian formal itu menahan ucapannya. Menatap curiga pada Ayah dan anak itu secara bergantian. Entah mengapa nalurinya mengatakan ada kejanggalan yang terjadi di sini. Mengapa Ayah Milly datang di saat tepat mereka berdua di dalam kamar? "Atau kalian berdua dengan sengaja menjebak saya?!" tuduhnya kemudian penuh kebencian.
"Cih!" Ayah Milly berdecih seraya bangun dari jongkoknya. Menghadap tepat kearah Billy, ia tak peduli dengan kekuasaan yang dua pria muda ini miliki. "Bukannya menyadari kesalahan, justru menuduh orang lain yang bersalah. Luarrr biasa." Pria paruh baya itu menggeleng tak habis pikir dengan seringai mencemooh di bibirnya.
"Kurang ajar,--" Billy mengeraskan rahangnya.
"Bill! Tahan emosi mu." Brian menahan tubuh Billy, berusaha menenangkan lelaki yang sudah mengepalkan tangan itu.
"Aku tidak terima dia menuduhku begitu saja Brian! Apa kau tidak lihat mereka itu memanfaatkan ku!" ucap Billy sembari menatap tajam pria yang tengah berjongkok di hadapan putrinya itu. Namun tanpa Billy sadari jika ucapannya itu semakin membuat perasaan Milly terluka.
"Kau sudah membuat kekacauan di sini, jadi jangan kau tambah lagi dengan keributan!" Bengak Brian penuh peringatan.
Billy terperangah, menatap Brian tak percaya. Lelaki yang ia pikir akan membela justru malah menyudutkannya. "Sudah ku katakan aku di sini adalah korban, Brian! Kenapa kau malah mengatakan aku pembuat kekacauan?!"
Tak berniat menjawab, Brian memilih diam dan menghindari pertengkaran yang mungkin akan terjadi di antara mereka. Dua pria dewasa dengan postur tubuh yang hampir sama itu saling menatap sengit. Jika mereka selalu kompak dalam urusan pekerjaan serta taktik mengalahkan lawan, pemandangan berbeda justru jelas terlihat sekarang.
Membuang muka dari Billy, Brian menoleh ke arah Milly. Menatap gadis yang tengah terisak tanpa ada yang membela itu membuat hatinya bergetar iba. Gadis berambut panjang dengan linangan air mata di pipinya itu membuatnya teringat akan sosok istrinya.
Melangkah perlahan mendekatinya, Brian lantas mengusap air mata gadis itu lembut dengan jemarinya. Ditatapnya gadis yang tiba-tiba bergetar itu dengan teduh dan senyum samar.
Milly sempat terperanjat takut, dan berpikir Brian akan menyakitinya seperti yang Ayahnya lakukan. Namun ternyata pemikirannya salah. Lelaki tampan dan berwibawa itu justru menatapnya iba. Brian menangkup dua sisi bahu Milly, dan mengangkat gadis lunglai itu untuk berdiri.
Menatap bingung pada Brian, Milly menyunggingkan senyum di sela tangisnya. Mewakilkan rasa terima kasih yang tak dapat terucap dari bibir kakunya.
Menghela gadis itu melangkah perlahan kehadapan Billy, Brian lantas berucap dengan tenang. "Nikahi gadis ini Bill."
"Hah!!!" Billy dan Milly terbelalak bersamaan menatap Brian.
"Kau gila Brian." Billy menggeleng tak percaya. "Mana mungkin aku menikah dengan gadis yang tidak aku cintai!" Protes Billy tak terima.
"Nikahi dia, atau ku pecat kau jadi saudara."
Billy mengusap wajahnya kasar. Lelaki berwibawa itu terlihat frustasi dan tak memiliki nyali untuk membantah. Meski itu menyangkut kehidupan pribadinya, namun segala perkataan Brian sudah ia anggap sebagai perintah mutlak.
Apalah dayanya yang hanya manusia sebatang kara. Hidup di dunia tanpa memiliki saudara. Bahkan orang tua. Hanya Brian dan keluarganya lah yang menganggap Billy sebagai keluarga. Mana mungkin ia menjadi manusia tak tahu diri dengan menolak perintah seseorang yang sangat berarti di hidupnya.
Brian menjentikkan jari, seketika dua bodyguard yang berdiri di sisi kiri dan kanan pintu mendekat pada Brian lalu menunduk sopan.
"Cari penghulu sekarang juga." Perintah Brian pada para bodyguard itu.
***
Duduk dalam satu kursi panjang di ruang tamu sempit di kontrakan Milly, Brian tengah mengusapkan salep pereda nyeri di pipi gadis beriris coklat itu dengan hati-hati.
Meringis, Milly mengepalkan tangan menahan nyeri di pipi yang berwarna merah bekas tamparan sang Ayah. Gadis itu menunduk dengan tatapan kosong. Perasaannya pun bercampur aduk tak bisa digambarkan.
__ADS_1
Entah mimpi apa dia semalam. Ia bahkan tak merasakan nyenyak dalam tidurnya saat memikirkan keluarganya, bagaimana mungkin dia bermimpi.
"Ini salep memar terbaik yang pernah ku pakai, jadi aku yakin memar di wajahmu ini akan segera mereda beberapa saat nanti." Ucap Brian usai menutup salep berukuran sejari itu, seraya mengamati pipi memar sang gadis. "Aku selalu memakainya saat wajahku memar akibat terkena pukulan."
Mendongak perlahan, Milly tersenyum getir saat menatap Brian. "Terima kasih Tuan, anda sangat baik pada saya. Sedangkan Ayah saya sendiri,--" Milly menatap sedih sang Ayah yang tengah duduk di teras rumah dengan ekor matanya. Setitik bulir bening terjun bebas dari pelupuk matanya. Gadis itu kembali terisak lirih.
"Dia begitu karena sayang padamu." Sahut Brian mencoba menenangkan. Dengan melihat air mata yang seolah tak berhenti tumpah dari pelupuk si gadis, Brian bisa meraba seberkas luka yang kini meliputi hati Milly.
"Sayang anda bilang?!" Gadis bersurai hitam itu tersenyum getir mengingat perlakuan sang Ayah padanya tadi. "Apakah tanda sayang orang tua pada putrinya harus ditunjukan dengan kekerasan?" Milly melayangkan
pandangan ke arah Brian seraya bertanya dengan nada meragukan.
"Setiap orang tua memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan kasih sayang mereka terhadap putra-putrinya. Mungkin kau saja yang belum memahaminya."
Mendesah pelan, Milly mengalihkan pandangan. "Yang saya tahu dulu dia tak seperti ini. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini beliau berubah."
"Pasti ada sebab." Sahut Brian tenang, seolah tak membiarkan Milly berpikir buruk tentang sang Ayah.
Milly kembali mengarahkan pandangannya pada Brian penuh selidik. "Tuan, saudara anda tidak bersalah. Kenapa anda memaksanya untuk menikahi saya? Tolong segera batalkan rencana ini sebelum terjadi, Tuan. Saudara anda tidak akan bahagia menikah dengan saya."
"Keputusan ku sudah bulat, dan tidak bisa diganggu gugat."
Ucapan Brian yang tak ingin mendengar penolakan membuat lidah Milly terceka. Jika saudaranya saja tak bisa menolak apalagi dirinya yang bukan apa-apa. Tapi menikah tanpa rasa cinta benar-benar bukanlah pernikahan yang diimpikan semua orang. Milly tak dapat membayangkan kehidupannya di masa depan dengan lelaki datar itu.
Suara decitan rem mobil membuyarkan lamunan Milly. Ternyata bodyguard yang medapat perintah untuk mencari penghulu telah tiba. Bergetar hebat, tubuh Milly berusaha menahan gejolak tak menentu di hatinya. Jantungnya pun berdebar tak karuan memompa dua kali lebih cepat.
Memperhatikan hadis di sampingnya yang tiba-tiba pasi, Brian hanya melempar senyum lucu. "Sebentar lagi acara ijab kabul kalian, jadi persiapkan diri dan hatimu."
***
Penghulu yang memang terpaksa hadir di sela-sela pernikahan yang sudah terjadwal tak memiliki banyak waktu untuk menikahkan mereka. Hingga mereka harus melakukan pernikahan secepatnya.
"Apa kalian sudah siap?" Bibir Billy dan Milly masih terkatup rapat tatkala penghulu menanyakan kesiapan mereka.
Brian dan Ayah Milly selaku wali dari mereka pada akhirnya mengambil alih keduanya, dan menjawab bersamaan dengan tegas, "Siap."
"Siapa namamu?" Tanya penghulu dengan pulpen di tangannya, siap untuk mencatat.
"S-saya Pak?" Billy tergagap tak percaya sambil menuding dirinya sendiri.
"Ya iya, masa nama Ibu kamu. Kan kamu yang mau nikah." Penghulu itu menjawab heran.
"Billy, Pak."
Milly membelalakkan mata. "Itu kan nama sepeda saya." Protesnya tak percaya. Mendapat lirikan sinis dari Billy, gadis itu tertunduk takut.
"Jadi bagaimana ini, nikah sama orang apa sepedanya?!" Penghulu kembali memastikan.
"Tentu saja sama orangnya, Pak." Ayah Milly menyahuti.
"Namanya Billy Adyaksa Daud, Pak." Brian menyebutkan nama lengkap Billy yang lansung dicatat oleh penghulu.
__ADS_1
"Lalu siapa namanya?" Tanya penghulu lagi tanpa menatap Billy, sebab masih sibuk dengan mencatatnya.
"Siapa Pak?" Billy bertanya tak mengerti.
"Siapa lagi ,,, tentu saja mempelai wanitamu." Jawab Penghulu itu sedikit kesal.
"Tidak tau." Billy menjawab singkat, namun membuat semua orang yang ada di kontrakan kecil itu berdecak heran.
"Kau ini bagaimana, nama mempelai wanitamu sendiri tidak tahu," Penghulu paruh baya itu menggeleng heran.
"Namanya Biantika Millyani, pak." Ayah Milly menyahut cepat, dan berhasil
membuat Brian dan Billy saling menatap terkejut. "Dan saya Ayahnya, nama saya Sulaiman Jamil."
"Baik, kita mulai acara ijab kabulnya." Kata penghulu itu seraya mengulurkan tangannya pada Billy.
"Sebentar Pak," cegah seorang lelaki yang duduk di belakang Brian. Bodyguard berusia matang itu bangkit dari duduknya dan meraih kain yang digelar di meja dan menggunakannya untuk menutup kepala Milly. Karena acara pernikahan terlalu mendesak membuat Milly lupa mengambil jilbab dari lemari pakaiannya. "Silakan dilanjutkan, Pak." tuturnya seraya duduk kembali di tempatnya semula.
Penghulu menjabat tangan Billy erat, lalu memulai ijab kabulnya. "Saudara Billy Adyaksa Daud, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Biantika Millyani binti Sulaiman Jamil dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar, tu-nai!" Tegasnya seraya menghentakan jabatannya dengan Billy yang seketika membuat pria berkeringat dingin itu refleks mengikutinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Brian Haris,--"
"Bill!" Brian menepuk keras lengan Billy saat mendengar namanya di sebut. "Aku ini bukan mempelai wanita mu, tahu!"
Sontak saja hal itu mengundang gelak tawa para bodyguard yang kala itu menjadi saksi ijab kabul Billy. Namun sedetik kemudian bibir mereka terkatup rapat dan terpaksa menahan tawa sekuat tenaga tatkala Billy melempar tatapan penuh ancaman.
Billy benar-benar merasa seperti orang bodoh saat ini. Pria yang biasanya selalu terlihat tenang itu kini terlihat kacau dan gugup. Mengurut pelipisnya pelan, Billy berusaha bersikap tenang.
Usai memberi secarik kertas pada Billy yang bertuliskan nama lengkap Milly beserta Ayahnya untuk Billy baca agar mempermudah saat pengucapan ijab kabul.
"Saudara Billy Adyaksa Daud, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Biantika Millyani binti Sulaiman Jamil dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tu-nai!" Ucap penghulu lalu menghentakkan tangan Billy yang seketika membuat lelaki itu mengucapkan ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Biantika Millyani bin Sulaiman Jamil dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Ucap Billy lantang dan jelas hanya dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi?" Tanya penghulu pada semua saksi di sana.
"Sah!" Para bodyguard menjawab serentak.
"Alhamdulillah." Ucap syukur penghulu dan semuanya --kecuali dua manusia yang kini telah sah menjadi suami istri itu-- lantas penghulu pun memimpin doa.
"Kalian sudah sah menjadi suami istri, sekarang salaman." Tutur penghulu itu memberi tahu saat melihat kedua mempelai hanya diam terpaku, yang penghulu pikir mereka malu-malu.
Canggung, Billy dan Milly pun saling berhadapan. Setengah hati Billy mengulurkan tangannya yang lantas Milly sambut dengan keraguan. Teringat akan adegan pernikahan di sinetron yang pernah ia tonton, Milly lantas mengecup lembut punggung tangan lelaki yang telah sah menjadi suaminya beberapa menit lalu itu.
"Cium kening istri mu itu." Bisik Brian memberi pengarahan.
"Apa?!" Billy bereaksi tak percaya, namun karena bola mata Brian yang membulat sempurna saat menatapnya, membuat lelaki itu mau tak mau mengecup kening istrinya, meski dengan terpaksa.
Acara ijab kabul secara khidmat namun tanpa cinta pun usai dilaksanakan. Bodyguard pun sudah berangkat mengantarkan kembali ke KUA untuk melanjutkan tugasnya.
Milly yang tengah duduk sendiri di kursi ruang tamu pun melepas penutup kepala yang sejaksejak tadi ia kenakan karena merasa janggal dengan kain itu.
__ADS_1
"Astaga, ini kan taplak meja! Jadi ijab kabul tadi aku mengenakan kerudung taplak meja. Astaga." Milly menepuk dahinya sendiri. "Untungnya yang ku pasang tadi motifnya bunga-bunga. Coba kalau kotak-kotak, berasa pakai kerudung serbet dong ...."
Bersambung