
Mayang mulai menunjukkan pergerakan nya perlahan.Gadis itu mengerjapkan mata saat mulai terbangun untuk mengembalikan kesadaran nya.Kesadaran dari mimpi indah nya.Lagi-lagi laki-laki itu muncul di alam mimpi nya.
Ya- Mayang memimpikan tuan muda Brian.Entah mengapa akhir-akhir ini Mayang sering sekali memimpikan nya.Bukan hanya di alam nyata,Bahkan laki-laki itu juga terbawa sampai ke alam mimpi.
Memang lah benar, keberanian Mayang mencintai Brian hanyalah sebatas mimpi. Mereka berdua jelas-jelas berbeda.Mayang juga berfikir jika Brian telah memiliki kekasih,jadi tak ada tempat untuk wanita lain di hati Brian.
Mayang meraih ponsel nya yang tergeletak di nakas."Masih jam setengah lima."Ucap nya dan menaruh kembali ponsel itu di tempat semula.Lalu berguling-guling malas di bawah selimut lagi.Ini masih terlalu pagi untuk bangun bagi pengangguran seperti Mayang.
Tapi rasa penasaran pada keadaan Brian lantas membuat nya berhenti bermalas-malasan.Ia menyibakkan selimut hangat yang menutup tubuh nya dan beranjak menuju toilet untuk sekedar mencuci muka dan gosok gigi.
Mayang mulai mengayunkan langkah nya keluar dari kamar dan berjalan menuju ke arah kamar Brian.Sesampai di depan pintu ia malah merasa ragu.Tapi rasa penasaran mengalah kan keraguan nya.
Teringat pula ia pada kata-kata nyonya besar untuk menjaga tuan muda membuat nya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan Brian.Dan ini upaya nya untuk memastikan keadaan laki-laki itu.
Tangan Mayang meraih handle pintu,saat akan menekan nya tiba-tiba saja pintu itu terbuka dari dalam.Mayang terlonjak dan mundur beberapa langkah.
"Tuan sudah bangun?Pagi buta begini tuan mau kemana?!"Tanya Mayang penasaran saat melihat Brian keluar dari kamar dengan memakai jaket Hoodie dan sudah mengenakan sepatu running.
"Mau joging lah,memang nya mau apa lagi."
Jawab Brian santai sambil menutup pintu kamar nya.
"Sepagi ini tuan?!"Mayang bertanya dengan rasa tak percaya.Jauh dari yang ia perkirakan kalau Brian sedang tidur nyenyak dan hangat di pagi buta begini."Apa tuan muda benar-benar sudah sehat..?"Tanya Mayang untuk memastikan lagi.Karena sebenar nya dia masih ragu dengan keadaan Brian.
"Apa kau fikir aku akan lumpuh hanya karena menghirup racun dari buah sialan itu?!"Bentak Brian terlihat kesal karena mengingat kejadian memilukan semalam.
Iya-pilu.Mayang gagal menikmati tebal dan legit nya daging buah durian itu.Entah kemana para penjaga melempar buah berduri tajam itu.Terserah lah.... asal tidak mengenai kepala orang saja.
Kalau saja Mayang berada di rumah nya sekarang,pasti dia sedang merayakan pesta durian bersama keluarga nya karena kebun ayah pasti sedang panen raya.
Brian berlalu melewati Mayang yang masih mematung berdiri di tempat nya.Mayang mengekori langkah Brian dengan pandangan nya.Sambil berfikir.Entah kenapa naluri kewanitaan nya selalu mengatakan ingin bersama dan berdua dengan tuan muda.
"Tuan..." Mayang tergopoh mengimbangi langkah Brian."Apa saya boleh ikut?"
"Untuk apa?"Tanya Brian merasa aneh."Aku ini mau lari pagi bukan nya mau zumba.Jadi kembalilah tidur sana!"Ejek Brian karena melihat Mayang yang masih mengenakan baju tidur.
"Saya akan mengganti pakaian saya tuan,tapi tuan muda tunggu saya sepuluh menit saja."
"Hah!Menunggu mu??Apa kau fikir waktu ku tidak berharga?!"Suara Brian remeh sambil berkacak pinggang.
"Lima menit tuan,hanya lima menit."Mayang meralat ucapan nya dan bergegas kembali ke kamar nya.
Dengan waktu lima menit memang nya apa yang bisa ku kenakan.Aku tidak mungkin memakai dress untuk lari pagi kan.. lalu baju apa yang ada di sini selain dress dan baju tidur?
__ADS_1
Mayang membuka satu persatu lemari dan membolak-balikkan satu persatu baju yang tergantung dengan cepat.Apakah ada kaos jaket dan semacam nya mengingat ini masih terlalu pagi dan udara masih sangat dingin menusuk tulang.
Mayang hampir saja putus asa sebelum akhirnya menemukan satu stel pakaian zumba berwarna merah dengan ada sentuhan warna hitam lengkap dengan jaket nya.
Ternyata yang mereka siapkan di lemari ini lengkap sekali.Aku sudah seperti memiliki lemari ajaib saja... Gumam Mayang setelah menemukan sepatu dan topi untuk melengkapi penampilan nya.
Mayang tidak mendapati Brian di tempat mereka berpisah tadi.
"Tuan muda jahat sekali!Dia benar-benar meninggalkan ku!"Mayang lalu berlari menuruni tangga dan berhambur kemanapun atau menyusul nya ke jalan sekalipun asal menemukan tuan muda."Tuan muda cepat sekali pergi nya.Aku padahal sudah berganti baju dengan secepat kilat tadi."Mayang menjatuhkan tubuh nya di tangga naik di lantai teras depan.Ia terlihat lemas dan putus asa karena tak menemukan Brian dimanapun.
Mayang menarik topi yang ia pakai dari kepalanya dengan lemas membuat rambut panjang nya yang ia masukkan ke lubang bagian belakang topi itu tergerai dan menari dengan bebas karena tak ada pita yang mengikat dan menyatukan mereka.
"Kenapa di lepas?"Suara lelaki terdengar membuat Mayang terkejut dan menoleh ke sumber suara.
"Tuan..."Suara Mayang terdengar girang seperti menemukan sesuatu yang hilang saat melihat Brian berdiri melipat kedua tangan dan menyilang kaki dengan bahu bersandar di sebuah pilar besar di teras.
"Apa tuan muda sudah lama berdiri disitu?"Tanya Mayang meyakinkan kalau Brian melihat tingkah nya tadi.Karena itu sungguh memalukan.
"Kenapa lama sekali!Kau sudah membuat ku menunggu!"Suara Brian terdengar kesal sambil melangkah mendekati Mayang yang sudah dalam posisi berdiri.
"Maaf tuan,,, saya kan harus mencari baju ini dulu di dalam lemari.Belum lagi memakai nya.Bukan kah itu butuh waktu??"
"Alasan."Lagi-lagi ucapan Brian selalu di bubuhi nada meremehkan."Ingat ya,, aku tidak mau kau banyak bicara,banyak tingkah dan ikuti aturan ku jika kau ingin ikut denganku!" Ucap nya lagi dengan sorot mata tajam. Bicara Brian terdengar seperti ancaman seolah mengatakan tak ingin di ganggu.Karena Brian merasa selama ini justru Mayang lah yang selalu mendominasi Brian setiap kali mereka berdua.
"Kalau lari mu tidak cepat,kau akan tertinggal nanti."Ucap Brian meremahkan sambil meregangkan otot-otot tubuh nya dan bergerak teratur kekiri dan kekanan melakukan pemanasan.
"Apa tuan fikir saya tidak bisa berlari??"Nada bicara Mayang terdengar angkuh untuk menutupi rasa takut nya.Takut kalau tertinggal oleh Brian."Bagaimana kalau kita berlomba sebagai penentu?"Tantang Mayang pada Brian.
"Hey kau berani menantang ku?!"Brian terbelalak karena gadis dihadapan nya ini sudah terlalu berani menantang nya."Baik lah,,
bagaimana lombanya?!"Tanya Brian enteng karena merasa yakin dia akan menang dibanding gadis lemah disamping nya ini.
"Kita hanya akan berlomba sampai di
gerbang depan saja."Mayang menunjuk gerbang depan."Yang menang lah yang
berhak memberi aturan dan yang kalah
harus menuruti aturan pemenang.Bagaimana tuan muda?"Tanya Mayang pada Brian lagi-lagi dengan senyuman nya.
Apa dia tidak merasa kalau senyuman nya itu berbisa dan mematikan! Gumam Brian dalam hati.
"Hanya sampai gerbang kan?! Huh itu mah kecil."Kata Brian remeh sambil menjentikkan ibu jari dengan kelingking nya.
__ADS_1
"Baik lah,,kalau begitu bersiap ya.."Mayang memberikan aba-aba.Kedua nya bersiap mengambil sikap ancang-ancang."Di hitungan ketiga ya.."Mayang melirik Brian.
"Udah buruan hitung!"Desak Brian yang tak sabar."Kelamaan."
"Iya iya... Satu.... tiga!"Mayang lalu melesat lari meninggal kan Brian yang masih bengong karena hitungan Mayang yang tidak benar.
"Hey itu curang namanya!"protes Brian yang tak dihiraukan oleh Mayang.Gadis itu terus berlari hingga sampai di gerbang utama.Dan terlihat merentangkan kedua tangan nya dan bersorak menang."Nggak bisa!Lomba ini batal!"Ucap Brian tegas yang sudah sampai menyusul Mayang.
"Nggak bisa gitu dong!Kan saya sudah menang."Mayang yang tidak terima ikut bicara lantang.
"Iya tapi kamu menang dengan cara curang!"
"Tapi tidak ada peraturan dilarang curang kan!Yang penting start di hitungan ketiga!"
""Iya tapi kenapa dua nya dilewati hah!"
"Ada kok!"
"Mana?!"Brian mencengkeram kedua bahu Mayang semakin mengikis jarak diantara mereka.
"Aku dan kamu..." Jawab Mayang asal karena merasa dirinya dalam bahaya."Kita berdua tuan muda sayang..."Jawab Mayang lembut yang spontan membuat cengkeraman tangan Brian terlepas.Otak Mayang ternyata bekerja dengan baik,ia teringat kejadian kemarin yang tuan muda tiba-tiba jinak begitu ia panggil sayang.
Brian seketika memutar tubuh nya agar mayang tak melihat wajah nya yang bersemu merah.Sementara Mayang tengah meraba bahunya yang terasa sakit akibat cengkeraman Brian tadi.
"Kenapa kamu suka sekali si cari-cari alasan." Ucap Brian yang sudah mulai bisa mengontrol diri nya.
"Maaf tuan,, ini bukan alasan..."Bantah Mayang dengan suara pelan."Tuan.. berarti saya menang kan...?"Tanya Mayang dengan pandangan penuh harap.
"Kenapa kau ingin sekali menang?Apa kau ingin menindas ku dengan aturan-aturan konyol mu nanti?!"Tanya Brian merasa curiga.
Justru saya ingin menang karena tidak mau anda tindas tuan....
"Tidak bukan begitu tuan... saya hanya ingin kita damai..."Jawab Mayang tersenyum sambil mengacungkan dua jari nya.
Brian tak menyahut dan hanya melengos.
"Tuan,,, anda tidak menganggap serius perkataan saya semalam kan...??Tentang sekretaris Billy itu,,,"Mayang mencoba mengingatkan kalau-kalau Brian lupa.Karena terlihat dari wajah nya Brian sedang mengingat-ingat.
"Memang nya apa peduli ku!Silahkan saja kau bermimpi untuk mendapat kan nya."Jawab Brian sok acuh.Padahal dia pasti akan menangis sambil guling-guling sampai tujuh hari tujuh malam kalau benar-benar Mayang dan Billy sampai menikah.
Mayang hanya mengerucutkan bibirnya sambil memasukkan jemari nya disaku jaket nya."Iya tuan... saya tau saya bukan tipe wanita yang di sukai sekretaris Billy."Jawab Mayang pasrah dengan nada lemas.Lalu dilirik nya lelaki tampan di sebelah nya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki."Tapi kalau tuan muda saja bagaimana?"Celetuk Mayang dengan tak tahu malu nya sambil tersenyum dengan lirikan maut nya.
Sepersekian detik gadis itu pun melesat dengan jurus langkah kaki seribu nya karena tak ingin mati dalam keadaan masih jomblo.Mayang melihat air muka Brian yang berubah marah dan memilih untuk berlari menyelamatkan diri nya dari singa yang sedang marah itu.
__ADS_1
Bersambung