Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Gadis sinting


__ADS_3

Billy yang melihat ada insiden segera menghentikan mobilnya dan bergegas keluar dan ditutupnya pintu mobil dengan cara membanting. Dengan wajah terlihat panik, lelaki dengan stelan jas hitam itu bergegas menghampiri sepeda yang roboh itu lantas mendirikannya di tepi jalan.


"Astaga, untuk kamu nggak cedera." Ucap Billy pada sepeda itu sembari mengusapnya lembut.


"Hey Bapak! Hallooo ,,,!"Milly yang sedang selonjoran di rerumputan melambaikan tangan. "Ini kenapa yang di tolong malah sepedanya. Yang terluka saya loh Pak, yang sakit saya. Kok malah saya dibiarin begini?!"


Billy pun spontan menoleh dan berjingkat seolah terkejut. "Loh, ada orang di situ rupanya. Kenapa tidak terlihat ya," tuturnya dengan nada acuh.


"Ish Bapak, memangnya saya siluman ,,,." Decak Milly sebal "Tolongin saya dong Pak. Sakit ini ...!" Pinta Milly dengan memasang wajah memelas sambil menunjukkan sikunya yang terluka.


Namun bukannya iba dan hatinya tergerak untuk menolong, Billy malah berdecak. "Ya ampun, manja sekali sih! Siku mu hanya tergores sedikit, tak perlu bertingkah seolah kau kehilangan kaki!" Ucapnya sambil bersedekap dada.


"Ya ampun Pak, tega sekali Bapak nyumpahin saya Patah tulang! Ada gadis cantik terluka di sini Pak, bukannya merasa kasihan dan menolong, Bapak malah memaki dan membiarkan saya terkapar begini. Kalau saya tiba-tiba kejang bagaimana Pak?!"


"Hah?!" Billy melepaskan lipatan tangannya. "Memangnya kau mempunyai penyakit epilepsi?" Tanyanya penuh rasa ingin tahu.


"Bukan epilepsi sih, Pak, tapi saya suka tiba-tiba kejanh kalau nggak dapatin yang saya mau." Milly mengedipkan mata dan memasang wajah imutnya, berharap lelaki angkuh itu tersentuh dan menolongnya.


"Terserah! Bukan urusan saya! Mau kamu menggelinding. Terjungkal. Patah tulang, atau bahkan kejang-kejang bukan urusan saya." Beber lelaki itu dengan nada tak peduli.


"Bapak mau kabur setelah menabrak saya?"


"Jangan fitnah ya, siapa yang menabrak lamu?!"


"Kalau saya teriak begitu Bapak pikir bisa lari dengan mudah? Ayo lah Bapak, orang pasti akan berpikir Bapak telah menabrak saya. Karena orang akan berkata berdasarkan apa yang mereka lihat, he-he ...." Milly terkekeh penuh kemenangan. Sementara Billy tampak mendengkus kesal.


"Kamu mau mengancam saya?" Geram Billy dengan nada tidak suka. Matanya mendelik sebal.


"Hohoho tidak, saya hanya memanfaat keadaan saja." Tutur gadis itu santai sambil sambil tersenyum. Namun sedetik kemudian ia merasakan gatal di bagian kaki, refleks ia pun segera menggaruknya. Rupanya ada seekor semut yang menggigit kakinya. "Bapak buruan tolongin saya, bahaya kalau gadis manis seperti saya lama-lama berada di sini. Nanti semut keburu datang ...!" Milly mengulurkan kedua tangannya, berharap Billy yang berjongkok di atas trotoar menyambut kedua tangannya.

__ADS_1


"Astaga, bagaimana mungkin mereka mau memakan mu, kau kan pahit ...!"


"Bapak cepat, badan saya sudah gatal semua, ini ...! Keburu dilihat orang juga! Mau ditaruh di mana muka saya Pak, harga diri saya langsung turun nanti. Bisa-bisa saya dilelang sama Ibu Bapak saya!"


"Biar dilelang juga nggak akan laku."


"Bapak ,,,," rengek Milly kembali memasang wajah memelas. Tak mudah putus asa, gadis itu tetap bertahan pendiriannya.


"Sepertinya kau terlalu percaya diri. Memangnya siapa kau hingga aku harus repot-repot menolong mu?" Billy berdecih. "Hanya buang waktu." Pungkasnya seraya bangkit. Melempar senyuman sinis terhadap gadis itu lalu beranjak pergi menuju mobilnya.


Milly hanya menggeleng tak habis pikir pada lelaki tampan tapi angkuh itu. Pandangannya mengekori kepergian mobil mewah berwarna hitam metalik yang Billy kendarai.


"Amit-amit jabang bayi. Semoga aku tidak melahirkan anak angkuh seperti dia. Kalau nggak balik kesini, ku sumpahi nggak ada perempuan yang mau nikah sama kamu." Ujar gadis itu pelan, namun penuh ancaman pada lelaki pengendara mobil yang sedang ia pandang.


Milly mendengkus kesal sambil membersihkan tubuhnya yang kotor oleh dedaunan kering yang menempel dan menghiasi gaun indahnya. Lantas dengan perlahan ia mulai bangkit dari tempatnya.


"Ya ampun, tubuh ku rasanya seperti remuk redam begini ...! Apa memang manusia punya hati di muka bumi ini sudah punah? Kenapa tidak ada satu pun manusia berakhlak yang datang untuk menolong ku? Laki-laki itu juga. Benar-benar tidak punya belas kasih! Dasar branjang kawat." Gerutu gadis itu kesal sambil berusaha naik ke jalan..Namun selokan yang agak dalam membuatnya sedikit kesulitan.


"Aku tidak butuh lelaki kaya ataupun mapan. Terlebih lagi lelaki sempurna. Yang aku inginkan adalah lelaki yang bisa bekerja sama dengan ku untuk saling menyempurnakan dalam sebuah mahligai rumah tangga." Milly mendesah pelan. "Rupanya mencari suami itu sangat susah. Ku pikir lari dari rumah aku akan mendapatkan jodoh ku dengan mudah. Aaa ,,, aku jadi rindu Ibu dan Ayah ...!"


Tak lama kemudian, suara deru mobil yang terdengar mendekat memaksa Milly untuk menolehke arahnya. Gadis yang tengah berusaha untuk naik ke bahu jalan itu membelalak tak percaya. Berkali-kali ia mengerjakan mata, berusaha memastikan jika yang ia lihat itu ialah nyata.


"Dia kembali? Untuk apa?" Gumamnya bingung. "Dia tidak mungkin kembali hanya untuk meledek ku, kan?" Tanpa segan Milly mengikuti langkah Billy yang mendekat ke arahnya.


"Hey pendek, apa kau tidak punya tangga untuk naik?" Tanya Billy asal saat dirinya sudah berada di hadapan Milly.


"Tangga saja saya tidak punya Pak, apalagi rumah. Lalu bagaimana saya bisa membangun rumah tangga sakinah kalau saya tidak memiliki keduanya. Barangkali Bapak bisa memberikannya untuk saya?"


Billy hanya menggeleng tak habis pikir pada gadis di hadapannya itu. Dalam keadaan susah masih sempat saja dia bercanda. "Buruan naik." Ucap Billy seraya mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Saya nggak mau di naikkan sama Bapak kalau ujung-ujungnya bakal di jatuhin lagi." Milly membuang muka acuh.


Ulah Milly yang seolah mengabaikan Billy tentu saja membuat lelaki itu sangat jengkel karena merasa dipermainkan. Billy tampak mengepalkan tangan berusaha mengendalikan amarah. "Sebenarnya apa yang kau mau, hah?! Aku bahkan sudah kembali hanya untuk menolongmu karena aku merasa kasihan, tapi lihatlah kelakuan mu itu!"


"Saya tau, Bapak kembali karena ada maunya kan??"


Billy terdiam saat mendengar ucapan Milly yang seolah tahu isi kepalanya. Ia teringat akan kejadian beberapa menit lalu.


"Dasar gadis kurang ajar. Dia pikir dia siapa berani-beraninya mengatur-atur hidupku. Ua bahkan secara terang-terangan ingi memerasku dengan keinginannya." Gerutu Billy sambil melajukan mobil meninggalkan si gadis yang masih terjebak di selokan. "Biar dia rasakan susahnya terbebas dari sana tanpa bantuan."


Entah sudah seberapa jauh Billy meninggalkan tempat itu, hingga diadi kejutkan dengan ponselnya yang berdering tiba-tiba. Billy segera meraih ponsel, dan dilihatnya nama sang bos. yang tertera di layar ponsel. Billy segera menerima panggilan itu dan mendengarkan suara Brian melalui Earphon.


"Bill, kau di mana?" sambar lelaki itu bahkan sebelum Billy sempat membuka mulut untuk menyapa. "Kenapa lama sekali?! Apa kau membeli rujak itu di Negara Arab sana dan pulangnya naik unta?!" Tanya Brian dengan nada kesal.


Suara lelaki yang tak sabaran itu bahkan terdengar sangat keras melengking di telinga Billy, hingga sekretaris itu meringis sembari menarik earphon itu hingga terlepas dari telinganya.


Sial! Kenapa aku sampai melupakan rujak buahnya? Ini semua karena gadis sinting itu. Geram Billy dalam hati seraya dengan cepat membanting stir mobilnya berbalik arah.


"Astaga, kau membuat telingaku pengang. Bisa tidak, berbicara dengan suara pelan sedikit saja kepadaku?!" Protes Billy setelah memasang kembali earphon itu di telinganya.


"Kau sendiri bagaimana? Bisa tidak, bergerak lebih gesit lagi dalam melakukan tugas-tugasmu? Hanya membeli rujak saja aku harus menunggumu sampai setengah abad." Gerutu Brian masih terlihat kesal.


"Kenapa kau ini sangat tidak sabaran, hah?! Kau tau rujak yang kau sukai itu peminatnya banyak, dan aku harus mengantri lama untuk mendapatkannya!" Dusta Billy demi melindungi harga dirinya.


"Hey kenapa tiba-tiba kau jadi lemah begini? Dengan wibawa yang kau miliki seharusnya kau tidak perlu mengantri!"


"Hey, dalam urusan mengantri tidak ada orang dispesialkan di sini." Ujar Billy dengan nada santai. "Sudah dulu ya, kalau kau berlama-lama menelpon ku bisa-bisa nomor antrianku semakin jauh. Bay ...!" Putus Billy seraya memutus sambungan telepon mereka.


"Sial!" Umpat Billy setelah sambungan terputus. "Entah mimpi apa aku malam tadi hingga harus bertemu dengan gadis sinting itu dua kali."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2