
"Sepertinya kau lelah sekali, Sayang. Maaf ya, Ibu terpaksa membangunkanmu. Hari sudah semakin sore dan hampir gelap. Sebaiknya Milly beristirahat di dalam saja," tutur Laksmi yang tengah berdiri di sisi ayunan gantung itu seraya mengusap rambut sang putri dengan lembut. Binar di matanya memperlihatkan rasa bersalah sebab telah mengusik kenyamanan tidur anak gadisnya.
"Tak apa, Bu. Rebahan di sini sangat nyaman hingga tak sadar aku ketiduran, hehe," Milly menjawab sambil melebarkan senyum dan menunjukkan deretan gigi putihnya yang tersusun begitu rapi.
"Begitu ya?"
"Huum," jawab Milly sambil mengangguk mantap. "Aku sangat merindukan suasana seperti ini, Ibu. Maka aku akan menikmati detik demi detik waktu yang kulewati di sini. Aku benar-benar senang bisa kembali ke rumah ini, Ibu ,,," ekspresi Milly benar-benar terlihat begitu bahagia saat mengatakannya, hingga mau tak mau rasa bahagia itu menular pada ibunda tercinta.
Namun senyum bahagia yang tercetak di wajah paruh baya itu berubah getir saat teringat nasip kepemilikan rumah ini yang berada diujung tanduk. Namun sebisa mungkin ia bersikap seolah dirinya lebih bahagia demi untuk membahagiakan putri tercintanya.
Siapa sangka, rupanya hal itu tak luput dari pengamatan putrinya. Milly bisa menangkap jelas aura kesedihan yang terselip di balik senyum manis sang bunda. Namun rupanya pancingan yang sengaja ia pasang tak juga membuat ibunya mengakui keadaan yang sebenarnya, hingga membuatnya berpikir keras untuk mencari cara lain demi mengorek informasi mengenai keluarganya sendiri.
"Ibu juga ikut bahagia jika putri ibu bahagia, Sayang," balas Laksmi sambil mencubit sayang pipi kenyal putrinya.
"Benarkah?" Milly menyipitkan mata selagi menatap ibunya. Mengamatinya dengan seksama seolah tengah menelisik lebih dalam. Dan sorot matanya itu terpancar penuh keraguan.
Sementara Laksmi, ia tampak menautkan alis karena melihat sikap putrinya yang mendadak menatapnya penuh curiga. Wanita paruh baya itu menundukkan kepala, seraya mengamati dirinya sendiri sebelum kemudian mengembalikan pandangan kebingungannya kepada putrinya. "Kenapa menatap Ibu seperti itu?" tanyanya kemudian dengan wajah penasaran.
"Kenapa senyum Ibu terlihat sedih? Apa ada masalah?" pada akhirnya Milly memutuskan untuk bertanya tanpa basa-basi.
"Masalah? Masalah apa?" Laksmi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan sebagai pengalihan. Wanita yang mengenakan terusan motif bunga-bunga itu lantas terkekeh pelan dan menepuk gemas bahu putrinya. "Kau ini ada-ada saja. Orang senyum kok dibilang sedih, itu bagaimana ,,," ucapnya di sela-sela tawa seolah sedang merasa geli mendengar perkataan putrinya.
Namun mata jeli Milly tak bisa dibohongi. Sebagai putri kandung ia mengerti betul bagaimana ibunya. Seperti apa perasaannya. Milly bahkan bisa mengerti itu semua hanya dari sorot mata sang bunda saat menatapnya meskipun Laksmi telah berusaha keras menyembunyikannya sekuat tenaga. Sebab kontak batin antara ibu kandung dan putrinya tak bisa dibohongi. Meski terpisah jarak yang membentang, meski mereka berada di bagian bumi yang berbeda.
Namun sikap Laksmi yang masih kekeuh menyembunyikan itu membuat Milly tak ingin mendesak dan memaksa. Ia pun tak ingin membuat ibunya semakin menderita.
Memilih tak melanjutkannya, Milly lantas mengulas senyum agar terlihat bahagia. "Tidak ada, Bu. Milly hanya mengkhawatirkan Ibu saja. Milly Nggak mau Ibu sakit lagi," lirihnya dengan nada manja. Dirangkulnya pinggang sang ibu, lantas melabuhkan sisi wajahnya pada perut ramping yang hangat itu. "Milly sayang Ibu ,,," ucapnya sambil mengeratkan pelukan.
Laksmi tersenyum lembut. Lantas mengangkat tangannya dan meletakkan di atas kepala putrinya. "Ibu juga sayang Milly," balasnya sambil membelai lembut rambut panjang Milly.
__ADS_1
"Kalau begitu berjanjilah untuk tidak pernah menyembunyikan apapun dari Milly, Ibu," gadis berbalut terusan berwarna pendek berwarna coklat itu meminta penuh harap. Tanpa melepaskan pelukan, ia mendongakkan kepala menatap ibunya dengan pandangan memohon.
"Kenapa bicara seperti itu, Nak? Tidak ada yang Ibu sembunyikan dari kamu kok," Laksmi menyahut cepat dengan nada sanggahan. Namun ekspresi berbeda saat berbicara. Ia bahkan tidak menatap wajah putrinya, tapi justru membuang muka. Mengigit bibir bawahnya, Laksmi Terlihat gelisah, seolah ada sesuatu hal yang mengganjal pikirannya.
"Kalau tidak ada yang disembunyikan kepada Ibu salah tingkah seperti itu? Ibu tidak berbohong, bukan?"
Menunduk, Laksmi menatap lekat manik kecoklatan putrinya. Seulas senyum lantas tergambar di wajah paruh baya itu untuk meyakinkan putri tercintanya. "Ibu sangat menyayangi Milly, mana mungkin Ibu tega membohongi Milly ,,," ucapnya penuh keyakinan.
Menatap ekspresi bahagia yang jelas-jelas terlalu dipaksakan oleh sang ibu, Milly hanya mendesah pelan lantas kembali membenamkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan netra bening yang mulai berkaca-kaca. "Terimakasih telah melahirkan dan membesarkanku, Ibu ,,," lirihnya kemudian dengan suara yang tercekat. Tak terasa bulir bening itu meluncur bebas, namun ia segera menyeka pipinya sebelum sang ibu sempat mengetahui.
Maafkan Ibu karena tidak jujur terhadapmu jika kondisi kita berada di ambang kehancuran. Ibu belum bisa memberitahumu karena Ibu masih memiliki harapan kecil pada usaha keras ayahmu. Namun Ibu janji, cepat atau lambat ibu akan mengatakannya kepadamu, tapi tidak sekarang, Sayang, batin Laksmi sambil mendongakkan kepala. Berusaha menahan bendungan cairan bening yang ingin meluber keluar dengan sendirinya.
"Mandilah, Sayang. Ibu akan bantu Bibi siapkan makan malam." Tanpa menatap putrinya, Laksmi melepaskan pelukannya sebelum kemudian pergi dengan tergesa-gesa.
Sementara Milly hanya terdiam sedih, menatap punggung kurus yang bergerak menjauh itu. Bulir bening itu tak sanggup lagi ia tahan, dan isak tangisnya pun akhirnya lolos dari bibir itu kala ia mengentakkan kepalanya ada bingkai ayunan. Tak henti ia menyesali dan merutuki kebodohannya sendiri yang memilih kabur saat itu.
"Maafkan Milly, Ibu ,,, maafkan Milly ,,," lirihnya dengan tangis tergugu pilu.
"Cepat makan." Billy mendorong piring berisi nasi lengkap dengan sayur serta lauk pauk, tepat di hadapan Brian. Namun Presdir itu masih sama pada posisinya, bersedekap dada dan memalingkan wajahnya penuh kemarahannya.
Lagi-lagi Billy hanya bisa menggeram jengkel. Ia benar-benar lelah membujuk bayi besar itu bahkan hanya untuk mengisi perutnya sendiri.
"Benar-benar menyebalkan." Billy bangkit dari duduknya sambil menggebrak meja penuh hidangan itu. Membuat Brian seketika menoleh lantas membuka lipatan tangannya dan menatap Billy seolah tak percaya. "Cepat makan sekarang, atau aku akan memaksamu menggunakan caraku!" gertaknya kemudian dengan memasang wajah garang.
"Hey! Memangnya kau pikir kau siapa berani-beraninya memaksaku!" Teriak Brian seraya bangkit, dan menuding Billy penuh peringatan ke arah Billy. "Istri bukan, kekasih bukan!"
"Aku yang bertanggung jawab atas kesehatanmu!" sahut Billy tak kalah keras. "Faham!"
Mendengkus kesal, Brian lagi-lagi membuang muka jengah. Napasnya terlihat memburu, sementara tangannya terkepal kuat. Jelas sekali ia tengah berusaha mengendalikan amarahnya. Lelaki berbalut pakaian serba hitam khas prajurit itu kembali mengempaskan tubuhnya pada kursi dan melipat kedua tangannya ke depan dada.
__ADS_1
"Kau pikir aku bisa makan dengan keadaan seperti ini, hah!" serunya dengan tatapan tajam ke arah Billy yang masih berdiri dan menatapnya kesal. "Kau tidak lihat bagaimana istriku sekarang? Nyawanya sedang terancam ...! Mana mungkin bisa aku di sini malah enak-enak makan!" tuturnya sambil menunjuk entah ke arah mana.
"Aku tahu." Billy menyahut cepat.
"Tapi kau tidak mengerti perasaan lelaki yang mencemaskan istri karena kau tidak pernah berada di posisi seperti ku sekarang ini." Brian bertutur dengan nada meremehkan, lantas tersenyum miring seolah tengah mencemooh lelaki--yang berdiri setengah membungkuk dengan tangan bertumpu pada meja itu.
"Hey, apa kau pikir hanya kau saja yang memiliki istri di sini!" Billy menyahut tak terima. "Aku juga memiliki istri yang aku sendiri tak tahu nasipnya seperti apa. Kau pikir aku tidak memikirkan itu? Asal kau tahu Brian, energi yang kupunya hampir terkuras habis karena harus membagi dengan memikirkanmu, kasus istrimu serta perusahaan, sampai-sampai aku mengesampingkan kehidupanku. Otakku panas, Brian! Kepalaku seperti ingin meledak! Dan kau malah bertingkah seperti bocah, hingga makan saja harus melewati drama menyesakkan. Berpikirlah realita dan jangan menggunakan egomu saja! Jika kau ingin terjadi yang semestinya, maka bersikaplah patuh dan jangan mempersulitku!" tegas Billy panjang dan lebar. Lelaki dengan pakaian sama itu menggebrak meja sebelum kemudian melabuhkan bokongnya pada kursi di belakang.
Keadaan hening sejenak. Dua pria muda itu sama-sama tengah disibukkan dengan pergulatan batinnya masing-masing. Tak saling berbicara, tak juga saling menatap. Mungkin mereka sedang berpikir. Bagaimanapun juga mereka kini bernasip sama. Tengah terpisah jarak dari istrinya. Namun keadaannya berbeda. Brian selalu diliputi perasaan cinta dan takut kehilangan. Sementara Billy ,,, auk ah, gelap.
Setelah beberapa lama sama-sama terdiam, akhirnya Brian menunjukkan pergerakan. Lelaki berhidung mancung dan bibir kemerahan itu bangkit dari duduk. Meraih piring kosong dan mengisinya dengan nasi lengkap dengan sayur serta lauk pauknya.
"Makan ini," ucapnya dengan nada perintah seraya menaruh piring itu ke hadapan Billy. Ia lantas kembali duduk, namun pandangannya masih intens menatap sekretaris sekaligus saudaranya.
"Aku tidak lapar." Billy menjawab asal.
"Tidak lapar bagaimana! Kau juga tidak makan sejak tadi!" Brian meraih buah apel utuh dari tempatnya, lantas melemparkannya dengan sengaja ke arah tepat di wajah Billy agar lelaki itu bergeming.
Berhasil, sebab Billy mampu menangkap apel itu sebelum sempat mendarat di wajahnya. Dan seperti yang sudah Brian duga, Billy mengembalikan apel itu dengan lemparan yang tak kalah keras dari Brian dan berhasil ditangkap oleh suami Mayang itu.
Tersenyum puas, Brian lantas menggigit buah ditangannya itu dengan penuh perasaan. Lantas mengunyahnya perlahan-lahan dengan penuh penghayatan. "Ayo sama-sama makan." Ajaknya kemudian seraya menyunggingkan senyum. "Anggap saja kita sedang berperang dengan kelaparan demi bertahan hidup. Agar kita bisa menyelamatkan istri kita."
"Setuju." Billy menjawab mantap. Seulas senyum pun terukir di wajahnya. Tanpa ragu lagi, ia pun menyentuh hidangan itu setelah memastikan Brian juga menyantapnya.
Di tengah-tengah kedua pria itu sedang bersantap, sebuah derit ponsel dari saku Billy berhasil mengejutkan lelaki itu hingga tangannya refleks bergerak merogoh dan mengeluarkannya. Pria bersurai hitam dan lurus itu tersenyum usai membaca pesan dari layar gawainya.
"Ada apa?" tanya Brian yang rupanya sejak tadi memperhatikan dengan wajah penasaran.
"Bukan apa-apa." Billy menjawab asal seraya menyimpan kembali ponsel itu di sakunya. "Hanya laporan kecil dari orang suruhanku di kantor."
__ADS_1
Bersambung