Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Sama-sama gila


__ADS_3

Milly yang saat itu sedang bergosip ria dengan teman-temannya pun segera pulang saat langit mendadak mendung dan seperti akan turun hujan. Namun keadaan yang belum rintik membuatnya mengambil keputusan untuk menunda pekerjaan yang akan ia lakukan.


Memasuki kontrakannya, Milly yang memang sengaja meninggalkan ponselnya itu tak sengaja mendengar benda pipih miliknya itu berdering. Hingga ia memutuskan untuk setengah berlari demi untuk mengambil ponselnya itu.


Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal membuatnya sedikit enggan untuk menerimanya. Sudah hendak meletakkan ponselnya itu ke atas meja, namun ponsel yang sudah hening itu kembali berdering.


Usai berdehem, gadis yang mengikat rambut panjangnya dengan asal itu lantas menekan ikon berwarna hijau pada layar ponselnya, sebelum kemudian mendekatkannya ke arah teling. "Halo," sapanya dengan suara sedikit ragu dan pelan.


"Di mana kau sekarang?" Suara berat seorang laki-laki terdengar bertanya dengan nada datar. Bahkan tanpa basa-basi dulu sebelumnya.


Menjauhkan ponsel itu dari telinga, Milly kembali melihat layar ponselnya, memastikan kembali nomor yang sedang menghubunginya. Ini siapa sih? Kenal juga enggak, pakai nanya-nanya aku di mana. Penipu kali ya? Huh, kadal kok mau di kadalin. Biar tau rasa itu penipu aku tipu juga.Yang begini baru adil. Batinnya dalam hati.


Kembali menempelkan ponsel itu pada telinganya, Milly pun lantas bertanya dengan nada ketus dan terbata. Namun juga bersikap waspada. "I-ini siapa?"


Keheningan pun membentang beberapa saat, sebelum kemudian lelaki itu menjawab dengan nada datar. "Ini aku."


Aku? Iya aku nya itu siapa? Tuh kan, dia nggak ngaku. Berarti beneran dia penipu ini. Fix, aku kerjain juga kamu. batinnya terpingkal. "Aku? Aku siapa? Indra ya?" Tanyanya berpura-pura sedang menebak.


Hening sejenak, sebelum suara datar itu kembali terdengar. "Bukan."


Singkat amat jawabnya? Hahaha takut ketahuan ya??? Batinnya lagi. "Roy?" panggilnya kemudian, masih berpura-pura menebak lagi.


"Bukan juga." Jawab lelaki itu setengah menggeram.


Milly membungkam mulutnya menahan tawa saat merasa dirinya berhasil memancing emosi si penipu. "Bukan? Lalu siapa?" Tanyanya kemudian dengan nada bimbang, berpura-pura putus asa. "Emm ,,, pasti Erlangga ya? Atau Budi? Atau mungkin Jono?" Tebaknya asal dengan nada polos tanpa rasa berdosa.


"Hey!" Sahut lelaki itu dengan nada keras, membuat Milly membelalak seketika. "Sudah kukatakan ini aku! Aku suamimu!" Sentak Billy dengan nada penuh amarah, membuat Milly seketika membungkam mulutnya yang hampir saja menjerit karena saking terkejutnya. Tangannya lantas bergerak menjauhkan ponselnya dari telinga, sedangkan wajahnya masih meringis tak menyangka.


Astaga, ini suamiku. Ya Allah tolonglah aku. batinnya lirih. Buru-buru ia mendekatkan ponsel itu lagi ke telinga. Lalu memberikan diri untuk bertanya, meskipun dengan suara yang terbata. "B-Bapak?! I-ini benar-benar Bapak?! Bapak tahu nomor saya dari mana?!" tanyanya kemudian dengan nada penasaran.

__ADS_1


"Tidak penting saya tau dari mana. Yang kutanyakan sekarang, kau sedang apa? Di mana kau sekarang?" Tanya Billy dengan nada mengintimidasi.


"Saya sedang di kontrakan, Pak." Milly merasa jengah, Milly pun menjawab enteng sambil memutar bola mata malas. Namun pada saat ia sedang berbicara, tiba-tiba rintik hujan pun turun menyapa bumi, menyebabkan kepanikan pada gadis yang tengah berbicara melalui telepon ini. "Astaga. Astaga." Ucapnya saat hujan itu semakin deras.


"Ada apa?" Billy yang di seberang terdengar panik.


"Jangan dulu Ya Allah!" seru Milly panik, merujuk pada sang hujan yang tak bisa lagi tahan, mengabaikan pertanyaan Billy yang mulai dilanda kecemasan. Milly yang terlupa jika ponselnya masih terhubung pun berhambur keluar kontrakan.


"Hei ada apa?! Jelaskan dengan benar! Jangan membuatku penasaran!"


Suara Billy yang terdengar di ponselnya membuat Milly tersadar seketika. Aaa dia masih di sana rupanya. Milly lantas mendekatkan ponsel itu ke bibirnya. "Maaf saya harus menutup telepon ini, Pak. Keadaannya sangat darurat dan genting!"


"Hei ada apa! Jangan membuatku ja--"


Belum sempat Billy menyelesaikan kata-katanya, Milly sudah lebih dulu memutuskan sambungan. Lantas melempar ponselnya entah kemana.


Entah berapa lama Milly berada di luar rumah, namun pada saat dia kembali ke dalam, terdengar suara lagu favoritnya menggema di rongga telinga.


Usai meletakkan sesuatu yang ada di tangannya, ia pun kembali mendengarkan alunan lagu itu. Lagu milik Ipank, yang telah banyak di cover orang.


Cinta ... apakah itu cinta ...


Bertanya ... tanpa sengaja ...


Cinta ... berkorban jiwa ...


Indah ... harum bermakna ...


He ... ho ... mmm ...

__ADS_1


OOO itukah cinta ...


"Ya Allah, ini lagu kok muter terus ya, tau aja kalau gue suka. Eh bentar deh, kayak pernah dengar ini lagu, tapi di mana ya? Kok mendadak lupa-lupa ingat." Merasa ada yang janggal, Milly lantas berusaha mengingat-ingat sesuatu. Dan benar saja, gadis beriris hitam itu membeliak begitu dirinya menyadari sesuatu.


"Ya ampun, ini kan ringtone Hp gue. Lah terus Hp gue mana?!" Milly kebingungan mencari ponselnya. Dan gadis itu bernapas lega usai menemukan gawainya itu teronggok di kolong meja.


Dan tepat di saat ia memegang benda pipih itu, ponsel yang semula hening beberapa saat kini mendadak berdering kembali.


Dan lagi-lagi Milly membulatkan bola matanya saat nomor Billy lah yang sedang menghubunginya lagi.


"Ya Ampun ni orang kenapa ya? Tumbenan banget hari ini nelpon terus. Kepalanya nggak lagi kepentok kan?" gumamnya merasa aneh. Lantas dengan segera menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel dan mendekatkannya ke telinga. "Iya Pak?"


"Hei apa yang terjadi padamu? Katakan!" Tanya Billy dengan nada Mendesak.


"Maaf Pak, saya baru angkat jemuran. Di sini hujan deras, Pak. He he." Jawab Milly sambil nyengir tanpa rasa bersalah.


"Apa?!" Teriak Billy seolah tak percaya. Bahkan Milly bisa mendengar decitan rem mobil yang berbunyi nyaring dan Milly bisa pastikan lelaki itu menghentikan mobilnya secara mendadak. "Yang kau bilang darurat dan genting tadi itu ternyata hanya karena masalah jemuran?!" Tanya Billy meminta ketegasan. Bahkan nada bicaranya pun meninggi, membuat Milly yang mendengar di ujung sana meyakini jika suaminya itu sedang marah karena merasa dipermainkan.


"Iya Pak, Maaf ...." Milly berucap dengan nada menyesal. Namun ia masih tak terima jika dirinya dipersalahkan sepenuhnya.


"Maaf kau bilang?! Setelah seenaknya membuat orang lain khawatir dan mencemaskan mu, dan sekarang kau ingin aku memaafkan mu?! Jangan mimpi kau." desis Billy penuh kemarahan. "Hanya masalah jemuran, letak darurat dan gentingnya itu di mana?! Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa ada wanita gila sepertimu di muka bumi ini!" umpatnya kemudian.


"Tega sekali Bapak mengatakan saya gila. Gila-gila Begini juga saya ini istri Bapak! Turun hujan di saat jemuran banyak itu sama gentingnya dengan badai tornado, Pak! Sama-sama musibah bagi saya! Memang Bapak mau saya telanjang! Oops." Tut ... tut ... tut ...


Dan seketika sambungan pun terputus.


"Hei aku belum selesai bicara! Kau main putus seenaknya!" Lagi-lagi Billy mengumpat kesal. "Beruntung dia berada jauh di sana. Jika saja dia ada di depan mata, entah apa yang akan kulakukan terhadapnya." Sambil melakukan mobilnya berputar haluan, ia pun menggerutu kesal. "Eh tunggu sebentar. Apa yang dikatakannya di akhir kalimat tadi? Apa dia sudah gila. Bisa-bisanya seorang wanita mengatakan hal itu kepada seorang lelaki."


Hening, saat Billy tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sembari mengingat-ingat kejadian tadi. Bagaimana bisa ia merasakan kecemasan yang luar biasa terhadap gadis yang bahkan sama sekali tidak ia cintai itu. Ia bahkan seperti orang gila, yang begitu mengkhawatirkan gadis gila yang ternyata menghilang karena mengangkat jemuran. Ternyata mereka sama-sama gilanya. Ya ampun ....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2