
"Apakah ada orang yang percaya padaku jika kukatakan siapa orang itu?" Ucap Mayang dengan nada seperti menantang. Seolah dia ragu dan tak yakin orang lain akan menerima ucapan nya. Bahkan itu suaminya sendiri.
"Tentu saja Mayang, tentu kami percaya padamu." Lucy meyakinkan Mayang dengan mengusap lembut punggung tangan Mayang.Senyumnya juga terlihat ramah dan hangat.
Hati Lucy benar - benar sangat lembut. Sebagai dokter ia memiliki sikap keibuan dan welas asih. Sebelum dua kali berada dalam perawatan Lucy, Mayang pernah bertemu dengan nya dua kali saat akad nikah dan acara resepsi pernikahannya.
Mayang tau dokter muda bisa di percaya dan di pegang kata - kata nya.Tapi hal itu tak lantas membuatnya bisa dengan mudah mengatakan nya begitu saja.
"Aku tidak bisa Lucy," ucap Mayang lirih seperti menyerah.Kata - katanya berhasil membuat kening Lucy berkerut karena heran. "Aku tak memiliki bukti untuk menjerat seseorang dengan suatu tuduhan. Aku tak mau malah menimbulkan fitnah, dan aku sendiri yang akan rugi nantinya." Mayang berucap dengan tenang dengan di bubuhi senyuman di bibirnya. Seolah mengatakan kalau dia baik - baik saja berada dalam kondisi seperti ini.
"Mayang," Ucap Lucy lirih sembari memeluk wanita cantik dengan wajah pucat itu. "Entah hatimu terbuat dari apa Mayang. Aku kagum padamu." Lucy melepas pelukan itu lalu menatap wajah Mayang antara iba dan bangga.
"Kau tak perlu merasa iba begitu padaku, aku sungguh baik - baik saja," Mayang kembali meyakinkan.
"Baiklah," Lucy menyerah. "Lalu apa yang bisa kulakukan untuk membantu mu?" Tawar nya dengan tulus. "Aku yakin kau memiliki rencana dengan membuat keributan tadi kan?" Tebak Lucy kemudian dengan tersenyum. Namun tebakannya kali ini benar.
Mayang tersenyum bahagia karena ada orang yang ternyata berada di pihaknya. "Bisakah kau berbohong mengenai kondisiku?" Tanya Mayang kemudian dengan pandangan mata penuh harap.
"Kau ingin semua orang menyangka dirimu dalam kondisi tidak baik? Apa pembunuh itu ada disini?" Tanya Lucy kemudian dengan suara berbisik namun wajahnya penuh rasa keingintahuan.
"Hey jangan bicara sembarangan." Mayang memperingatkan agar Lucy tidak menduga - duga. Biarlah ini menjadi rahasia nya sendiri.
"Lalu apa motif mu melakukan itu?"
"Aku hanya ingin orang itu puas karena melihat ku merasa tersiksa dengan kesakitan ku. Tapi di samping itu aku juga harus membayar mahal ini dengan kekhawatiran suami dan mertuaku. Kau lihat sendiri bagaimana Brian tadi kan?" Mayang Bertanya dengan wajah pias nya.
Lucy mengangguk faham dengan kondisi yang Mayang rasakan.Bagai buah simalakama. Benar - benar rumit.
"Lucy boleh aku minta saran? Menurutmu aku harus bagaimana?" Mayang benar - benar merasa dirinya dalam kondisi dimana ia benar-benar membutuhkan orang lain yang ia percaya untuk menentukan suatu keputusan agar ia tak salah langkah.
"Kenapa kau tidak berterus terang saja pada Brian? Aku tahu cintanya padamu begitu besar. Brian pasti akan percaya padamu."
"Aku tidak yakin, dan aku tidak seberani itu Lucy." Ucap Mayang jujur. "Dia bahkan tidak percaya Pada sekretaris nya sendiri yang bahkan sudah sekian lama ia percayai. Apalagi padaku..." Mayang menggerutu dengan wajah yang terlihat cemberut.
"Benarkah?" Lucy mengenyeritkan dahinya merasa tak yakin jika Brian tak mempercayai Billy. Karena menutut Lucy, duo B itu adalah pasangan bos dan sekretaris dengan chemistry amat kuat.Bagaimana bisa mengalami konflik seperti itu.
"Kau tidak percaya padaku kan?" Mayang mencoba menebak karena melihat dari ekspresi wajah Lucy yang tampak sedang meragukannya.Lucy tampak nyengir mendengar pertanyaan Mayang. "Aku tau, kau pasti tak percaya padaku. Tapi tak apa." Mayang tak ingin repot memikirkan hal itu. "Aku hanya ingin kepastian darimu. Apa kau mau membantu ku?"
"Apa bantuan untuk berbohong tadi?" Tanya Lucy yang langsung di jawab anggukan oleh Mayang. "Mayang apa kau tahu kalau berbohong itu dosa?" Ucap Lucy sembari menatap Mayang dengan wajah serius sehingga membuat yang di tatap tampak tercengang.
"Tapi kalau berbohong untuk kebaikan tidak apa kan?" Bantah Mayang pula dengan wajah polos nya.
Namun setelah itu Lucy pun tersenyum. Ternyata ia mengatakan itu hanya untuk menggoda Mayang. "Hey aku hanya bercanda, kenapa kau serius begitu."
Ucapan Lucy seketika membuat air muka Mayang kembali berubah. Kali ini ia menatap Lucy dengan pandangan menyelidik kemudian berucap, "kenapa kau suka sekali mengerjai orang yang sedang sakit dokter?" Mayang berbicara dengan menunjukkan ekspresi wajah yang tak bersahabat.
Lucy yang semula hanya bercanda kini tampak menyesal karena ternyata Mayang menganggapnya serius.Bahkan ia terlihat sangat marah. "Mayang apa kau marah? Aku hanya bercanda," ucap Lucy penuh kekhawatiran.Namun di detik lain Mayang terlihat mengatup kan bibirnya karena menahan tawa.Lalu keduanya pun tertawa bersamaan.
Namun seketika Mayang terdiam dengan tangan membungkam mulutnya sendiri sembari melirik pintu. Sadar kalau dia tertawa terlalu keras takut kalau yang di luar mendengar.
"Jangan khawatir, ruangan ini kedap suara. Mereka takkan mendengar apa yang kita bicarakan." Lucy berucap. "Baiklah, berapa lama kau ingin bersandiwara?"
__ADS_1
"Hanya hari ini."
"Apa?!" Lucy terkejut tak menyangka. "Ku pikir kau terlalu betah berada disini hingga ingin menginap untuk beberapa hari lagi."
"Tidak, kau harus mengizinkan ku pulang saat aku menginginkan nya."
"Baiklah, sekarang berbaring dan mulailah akting mu okey..."
Setelah selesai dengan urusannya Lucy pun keluar untuk menemui Brian dan yang lain nya.Saat Lucy muncul dari balik pintu, semua tampak spontan mengarahkan pandangan ke arah Lucy dengan pandangan penuh rasa keingintahuan.
Wajah mereka terlihat panik dan cemas. Entah apa yang ada di dalam benak mereka saat ini,yang pasti hal itu membuat Lucy sungguh - sungguh merasa bersalah.
Terlebih lagi saat menatap Wajah Brian yang begitu sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.Namun ia tak bisa mengingkari janjinya terhadap Mayang.
Brian bangkit dan menyongsong Lucy yang masih berdiri terpaku di depan pintu.Brian tampak kacau dengan wajah penuh gurat kekhawatiran.
"Lucy bagaimana dengan istriku? Aku ingin masuk kedalam melihatnya." Brian mengisyaratkan agar Lucy menyingkir dan memberi jalan padanya.
"Brian aku ingin bicara." Lucy menghalangi Brian yang mencoba memaksa masuk dan menahan lelaki itu agar mendengar nya bicara. "Biarkan istrimu beristirahat dan jangan ganggu dia dulu."
"Memangnya kenapa dengan isteriku? Aku suaminya kenapa kau melarang ku untuk masuk?" Brian bertanya bingung. Wajahnya terlihat semakin cemas.
"Lucy kenapa dengan Mayang?" Ratih pun tak kalah khawatir.
"Tante, biarkan Mayang beristirahat dulu dan aku minta jangan ada yang mengganggu nya." Ucap Lucy dengan nada memohon.
"Tapi aku suaminya Lucy, kau tidak bisa melarang ku untuk masuk." Kekeuh Brian tak terima. Dia memaksa menerobos ingin masuk. Tak mempedulikan larangan tegas yang Lucy berikan.
"Lucy kau apakan istriku! Kenapa dia tak sadar begitu! Kau lihat tadi dia baik - baik saja kan, kenapa sekarang dia begini?!" Brian berteriak - teriak tak terkendali. Ia merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Dia merasa kesakitan yang amat Brian, maka dari itu aku membius nya. Dia merasa tersiksa, bisakah kau tidak mengganggunya untuk sementara waktu?" Lucy mencoba menjelaskan sebisa mungkin untuk menahan supaya Brian tak mendekat.
Brian masih merasa sulit untuk menerima semua ini. Hal ini sungguh - sungguh di luar dugaannya. Kenapa istrinya tiba - tiba merasakan sakit yang teramat.
"Ayo kita keluar Brian." Ajak Lucy pada Brian yang kini telah terkulai lemas dengan posisi bertekuk lutut di lantai.
"Aku ingin menemaninya Lucy,"
"Tidak bisa Brian, kau harus keluar."
Hans yang masih berada di luar tampak menipiskan bibirnya saat mendengar reaksi yang di tunjukkan Brian.Ia tampak merasa senang dan puas saat Brian merasakan frustrasi.
Hans merasa usahanya kini ternyata sepertinya membuahkan hasil. Meski diawal ia merasakan kegagalan. Tapi melihat dari kondisi Mayang saat ini, ia bisa memperkirakan bahwa gadis itu tak akan bisa hidup lebih lama lagi di dunia ini. Karena kemungkinan besar racun yang telah anak buahnya masukan kedalam jus jeruk itu kini telah bekerja di tubuh Mayang.
Hans memeluk Brian agak lama untuk memberi dukungan serta rasa empati nya saat Brian keluar dengan tubuh yang lunglai dengan mata yang berkaca - kaca.
Dan malam itu Hans tampak duduk di sofa tunggal yang sangat nyaman dengan segelas anggur yang mahal. Ia duduk dengan posisi menghadap ke sebuah foto yang berukuran besar yang menempel sempurna pada dinding berwarna putih.Hans memandangi foto itu dengan rasa penuh kebahagiaan.
"Hari ini kita berpesta sayang." Ucap nya pada foto yang hanya bisa membisu itu dengan senyuman yang ter kembang. "Sebentar lagi ayah akan berhasil menyingkirkan wanita itu dari sisi suami mu untuk selamanya hahaha!!" Tawa keras Hans menggelegar memenuhi seluruh lorong ruangan dirumah nya yang sangat luas namun sunyi dan lengang.
Kehidupan yang Hans lalui setelah meninggalnya sang putri memang lah terasa berat baginya. Ia harus melewati hari - harinya dalam kesendirian dan kesunyian. Tiada teman untuk sekedar berbagi suka. Tiada kawan untuk bercengkerama.
__ADS_1
Saat ia berada di titik terendah nya di dalam hidup, dimana ia harus kelimpungan sendiri tanpa adanya teman kian membuat hatinya membatu karena kemarahan nya pada sang pencipta.Ia merasa Tuhan tak adil dengan memberinya cobaan yang bertubi.
Kematian - demi kematian yang bergantian merenggut putri dan sang istri tercinta. Rasa pedih yang teramat sangat membuat nya terguncang dan menimbulkan rasa iri yang benar - benar melingkupi jiwanya.
Ia benci melihat orang lain bahagia. Ia sedih melihat orang lain senang. Dan puncaknya kesedihannya adalah kebahagiaan yang Brian rasakan kini.
Kenapa laki - laki itu bisa begitu mudahnya melupakan cinta suci putri nya serta menggeser nya dengan begitu mudah. Bahkan ia menggantinya dengan wanita lain dengan latar belakang yang jauh berbeda dengannya. Rasa muak kian menyiksanya hari demi hari.
Segala cara dan upaya telah ia lakukan untuk menyingkirkan gadis itu, namun selalu kegagalan lah yang ia terima. Amarah nya kian memuncak saat Brian memintanya memberikan restu untuk menikahi gadis itu. Sehingga tak ada jalan lain selain merestui nya meski dengan terpaksa.
Hans tertawa terbahak - bahak saat menyadari begitu pintar nya dia. Saat dia berhasil mengelabui semua orang dengan wajah malaikat nya. Tak ada orang yang menyadari betapa busuk nya dia.
Tak terkecuali Si bodoh Brian yang bisa begitu mudahnya ia peralat semaunya. Bahkan laki - laki polos itu begitu menyayanginya melebihi apapun. Yang rela melakukan apapun demi ayahnya tercinta ini.
Sungguh ini kejahatan yang sempurna. Hans mampu membungkus dirinya yang sesungguhnya busuk bau dan ber lendir dengan cangkang emas nan mewah yang terlihat indah dan sangat berkilau.
****
Sesuai dengan rencana yang telah mereka buat, Lucy akhirnya mengizinkan Mayang untuk pulang dengan diagnosa kesehatannya yang sudah pulih dan semakin membaik.
Tanpa sepengetahuan Hans,diam - diam Brian telah membawa pulang Mayang kembali ke rumah mereka. Brian menurut saat Lucy memperingatkan nya untuk tidak mengatakan pada siapapun perihal kesehatan Mayang.
Brian merengkuh tubuh kedalam gendongan nya saat mobilnya telah berhenti di halaman. Mayang hanya pasrah saat Brian merengkuh tubuhnya yang semakin ringan melangkah memasuki rumah mereka.
Brian membaringkan tubuh Mayang dengan sangat hati - hati di atas ranjang empuk dikamar mereka.
"Maaf," lirih Brian sembari mengecup punggung tangan istrinya agak lama kemudian menghujani wajah istrinya dengan bertubi - tubi ciuman.
Mayang hanya bisa diam dan pasrah membiarkan suaminya melakukan apa yang dia inginkan. Namun dibalik itu ia juga merasa bingung dengan apa yang suaminya ucapkan dengan mata yang berkaca - kaca.
"Sayang kau minta maaf untuk apa?" Mayang akhirnya menyuarakan tanya di hatinya saat sang suami mebenam kan wajahnya kedalam pelukan.
"Maaf karena aku kau harus menderita begini." Brian mengeratkan pelukan nya.
"Sayang aku tak menderita!" Bantah Mayang seketika sembari mendongakkan kepala menatap wajah sang suami. "Aku bahagia karena mu," Ucapnya untuk pula meyakinkan sembari melingkar kan tangannya memeluk sang suami.
"Tapi hidupmu selalu dalam ketakutan selama kau bersama ku." Suara Brian terdengar lemah.
"Sayang sudah ku bilang kan, aku siap berpetualang dengan mu. Kau ingat kan?"
Brian tersenyum saat pandangan mata mereka saling beradu. "Terimakasih sayang." Mengecup puncak kepala sang istri agak lama. Mayang membalasnya dengan mengusap lembut lengan sang suami.
"Tidur lah sayang, aku akan menjaga mu." Lirih Brian tanpa melepaskan pelukan nya. Matanya tampak terpejam menikmati kehangatan tubuh kurus sang istri.
Tak lama kemudian terdengar nafas Mayang yang berhembus teratur hangat menyapu dadanya. Brian tersenyum sembari menarik anak rambut yang menutupi wajah sang istri, lalu menyelipkan nya ke belakang telinga.
"Aku mencintai mu sayang," Brian terkejut seketika saat mendengar suara gumam an sang istri. Brian lalu menundukkan kepalanya untuk memastikan istri nya. Rupanya Mayang masih memejamkan matanya dengan rapat.Brian pun akhirnya tertawa karena mendengar ungkapan cinta Mayang melalui igauan nya.
Sungguh Brian merasa sangat bahagia. Walau itu hanyalah igauan, namun justru itulah kata hati yang sesungguhnya yang terucap dari bibir sang istri. Karena ucapan dalam igauan tak mungkin berbohong.
"Aku juga mencintaimu sayang." Balas Brian tulus dengan wajah penuh kebahagiaan kembali mengerat kan pelukan nya.
__ADS_1
Bersambung