Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Munajat cinta


__ADS_3

Brian menyandarkan tubuh nya pada sandaran kursi kerja nya sembari menghela nafas. Lantas merentangkan kedua tangannya untuk mengendurkan otot - otot tubuhnya yang terasa tegang akibat terlalu lama duduk dengan menghadapi setumpuk berkas di meja kerjanya.


Matanya terpejam untuk sesaat namun ia tidak dalam keadaan tertidur, Brian hanya sekedar mengistirahatkan matanya dari rasa lelah dan kantuk. Masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan hari ini.


Suara pintu yang tiba - tiba terbuka dari luar pun mengejutkannya dan memaksanya untuk membuka mata untuk melihat siapa yang datang. Pandangannya pun beryemu dengan Billy yang tengah melangkah mendekat dengan senyum lebar di bibirnya.


Hal itu seketika membuat Brian penasaran hingga mengernyitkan dahinya. Alisnya yang terangkat seolah sedang meminta ketegasan pada sekretaris nya itu penuh rasa ingin tahu.


"Apa Tuan ingin melihat kabar yang menggembirakan untuk anda?" Tanya Billy yang masih tampak menyunggingkan senyumnya.


"Berita baik apa yang kau bawa Bill?" Tanya Brian yang wajahnya seketika langsung terlihat ceria.


Billy tak bicara sepatah kata pun, dan hanya tersenyum sebagai jawabannya. Dengan sikap sopan ia pun menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat.


Brian pun lekas menerimanya dan membuka isinya dengan tak sabaran. Seringai puas pun muncul dari sudut bibir nya manakala ia melihat foto - foto yang terdapat di amplop itu satu persatu.


Foto - foto yang menampilkan gambar seorang gadis yang yang berprofesi sebagai cleaning service dalam menjalani aktifitas nya sehari - hari.


"Memangnya apa yang kau lakukan padanya hingga dia menjadi seperti ini sekarang?" Brian bertanya sembari menatap tajam kearah Billy yang masih berdiri dengan sikap siaga di seberang Brian. "Apakah keluarganya tak mengetahui ini?"


"Dari informasi yang saya dapat, orangtua nya belum mau menerimanya kembali akibat rasa malu karena putri mereka terlibat beberapa scandal. Sehingga Karla memilih untuk mengasingkan diri di pinggiran kota kecil di luar pulau. Akibat nama nya telah di black list, Karla tak bisa bekerja di perusahaan manapun hingga dia terpaksa bekerja sebagai cleaning service di sebuah mini market dengan gaji minim." Tegas Billy menjelaskan.


"Kau benar - benar membuatnya tak memiliki uang?"


"Sepeser pun tak ada uang yang tersisa dari beberapa rekening miliknya. Termasuk rumah, mobil dan tabungan lain. Bank sudah menyita semuanya sebagai denda atas korupsi yang ia lakukan di beberapa perusahaan, termasuk Wahana Group. Itu pilihannya sendiri, ia tak ingin dirinya terkurung dalam jeruji besi."


"Kau benar - benar jahat Billy." Ucap Brian dengan mimik wajah pura - pura sedih. Namun sesaat kemudian ia tergelak sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dan dengan santai memutar - mutar kursi itu ke kanan dan kiri seperti sedang berayun.


"Anda sudah membebaskan saya untuk melakukan apapun padanya sebagai balasan. Jadi terserah saya ingin melakukan apa." Seringai licik Billy pun muncul di bibirnya. "Lagi pula itu setimpal dengan kekacauan yang telah ia buat Tuan. Dia juga telah merugikan dan menyusahkan banyak orang."


"Good job. You are the best Billy." Puji Brian pada Billy dengan pandangan mata yang tulus.


"Apa anda puas?"


"Sangat puas." Desis Brian sembari melempar foto - foto itu dari tangannya dengan keras ke arah meja. "Tapi aku ingin kau tetap mengawasi nya secara diam - diam. Aku tak ingin dia menjalin kerjasama dengan orang lain untuk menuntut balas padaku secara diam - diam."


"Baik Tuan." Jawab Billy dengan tegas.


"Huh, karena kabar gembira ini aku jadi teringat pada istriku." Ucap Brian sembari tersenyum. Tangannya pun meraih ponsel nya. " Aku sangat merindukan istriku." Tambahnya dengan nada penuh semangat.


"Kau ingin meneleponnya?" Tebak Billy setengah bertanya.


"Tidak. Aku hanya ingin mendengar suaranya. Apa saja yang dia lakukan sejak tadi ya?" Brian bertanya pada dirinya sendiri dengan wajah penuh rasa penasaran. Brian mulai mendengarkan rekaman suara sang istri melalui ponselnya.


"Apa aku harus pergi?" Tanya Billy meminta persetujuan. Dia cukup tahu bagaimana menempatkan diri kapan Brian membutuhkannya dan kapan Brian ingin sendiri.


"Tidak perlu. Kau juga boleh mendengarkannya." Jawab Brian yang menginginkan Billy untuk tetap di tempat.


Sementara Billy hanya mengangguk sopan. Dan memasang telinganya untuk mendengarkan suara yang terdengar dari ponsel Brian.


Di awal - awal Brian masih tampak tersenyum saat mendengarkan suara istrinya. Dari saat wanita itu bangun dan melakukan aktifitas setelahnya.


Brian melirik tajam kearah Billy, tang secara spontan membuat Billy mengangkat alisnya sembari bertanya dengan ekspresi wajah bingung.


"Kenapa menatap ku seperti itu?"


"Jangan sampai kau memikirkan hal yang tidak - tidak karena mendengarkan suara istriku Bill!" Ancam Brian dengan nada serius.


Memang apa yang akan ku pikirkan dengan suara dentingan sendok dan piring yang terdengar beradu? Sudah pasti istrimu sedang makan kan?!" Gumam Billy dalam hati.


"Tidak akan Tuan," ucap Billy meyakinkan.


"Huh sayang sekali wajahnya tidak terlihat." Keluh Brian dengan wajah murung.


"Kenapa waktu itu kau tidak memintaku untuk menyertakan kamera pengawas juga pada liontin istrimu?!"

__ADS_1


"Hey bodoh! Kalau istri ku memasukkan liontin itu ke dadanya bagaimana?! Bisa kelihatan kan!" Seketika itu Brian pun mengatupkan bibirnya dan menyesali yang telah ia ucapkan. Lalu melirik Billy dengan gusar. "Sialan kau Bill." Umpat nya kemudian dengan nada kesal.


Billy hanya diam tak menanggapi sikap absurd bos nya itu. Ia hanya mendengus sembari menatap malas pada Brian dan menggelengkan kepalanya karena heran.


Setelah beberapa lama mendengarkan, ekspresi keduanya pun seketika terkejut saat mendengar suara asing dari sana.


"Apa kau menyuruh orang untuk menjemput istrimu?!" Billy seketika bertanya pada Brian yang tampak terlihat tegang.


"Aku tidak menyuruh siapapun untuk menjemput istriku!" Jawab Brian setengah berteriak karena rasa panik mulai menjalar di sekujur tubuhnya. "Kurang ajar! Siapa yang melakukan ini?!" Geram Brian sembari menggebrak meja kerjanya dengan keras. Namun perhatiannya masih terfokus pada ponsel itu dan mendengarkan suaranya.


"Sialan! Apa mungkin Hans pelakunya?! Untuk apa dia membawa istriku ke rumah ku yang lain?!" Dengus Brian semakin kesal sembari bangkit dari duduknya dan berdiri.


Wajah Brian yang awalnya diliputi kepanikan kini pun tampak memerah padam dengan kilatan mata yang menunjukkan kemarahan.


Rahang yang mengeras dan tangan yang terkepal kuat seolah siap menghujamkan pukulan mematikan tanpa ampun. Degupan jantung yang tiba - tiba memompa lebih keras seolah siap meledakkan api kemarahan yang kian meradang yang selama ini telah berusaha ia tahan.


"Rupanya permintaan maafnya waktu itu hanya kebohongan belaka! Meski akupun tak mempercayainya, tapi aku tak menyangka dia akan berbuat senekad ini untuk mengganggu istriku. Kali ini aku benar - benar tak akan mengampuni nya Bill." Desis Brian dengan sorot mata tajam penuh amarah.


"Siapkan mobil sekarang sebelum terjadi hal buruk pada istriku." Perintah Brian sembari melangkah mendahului Billy setelah meraih ponselnya.


"Baik." Jawab Billy lantas berjalan cepat dan mendahului Brian untuk membukakan pintu ruangan itu.


Sudah berada di mobil dengan kecepatan penuh, keduanya masih terlihat panik. Billy yang tegang tampak fokus pada kemudi nya. Sedangkan Brian tampak membuka ponselnya, untuk kembali mendengarkan percakapan istrinya yang sempat terjeda.


Kedua lelaki itu tampak benar - benar memasang indera pendengaran mereka saat suara itu kembali terdengar. Wajah Brian tampak semakin menegang saat suara sang istri terdengar memohon dengan disertai suara tangisan.


"Bill, apa yang Hans telah lakukan pada istriku Bill!" Wajah Brian tampak panik dan mulai ketakutan. "Kau tahu istriku sedang berada di balkon! Tapi kenapa dia memohon seperti itu?"


"Jangan - jangan Hans telah,"-Billy menghentikan ucapannya karena Brian tiba - tiba memotongnya.


"Jaga bicara mu Bill!!" geram Brian sembari mencengkeram bahu Billy dari belakang disertai tatapan tajam penuh kemarahan. "Kau ingin mengatakan Hans telah mendorong istriku dari balkon begitu!!"


"Bukan itu maksudku." Sahut Billy pelan agar tidak semakin memperuncing suasana yang semakin memanas. Ia menoleh kebelakang menatap Brian untuk meyakinkan. "Dengarkan lagi percakapan mereka selanjutnya."


Brian pun melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Billy, lantas kembali pada ponselnya. Namun pemutar suara itu tak memperdengarkan lagi suara apapun.


"Di tekan yang benar, mungkin tangan mu gemetar jadi salah tekan."


"Dalam situasi seperti ini kau malah bercanda Bill!" Teriak Brian sembari memukul bahu Billy. "Ada apa dengan kalung nya. Kenapa suaranya tidak terdengar lagi!" Brian menghempaskan ponsel itu di jok mobil dengan kesal.


Namun ia kembali meraihnya dan mencoba mendengarkan suara istrinya namun tudak berhasil. "Kenapa tetap tidak berfungsi Bill!" geram Brian sembari membenturkan kepalanya pada sandaran jok mobil. Rasa cemas kini semakin menjalar di tubuhnya. "Sayang, apa yang terjadi dengan mu ...?" lirih Brian dengan mata yang berkaca - kaca.


Billy yang terlihat diam itu tampak mencengkeram kuat setir mobil. Ia pun terlihat sama geram nya dengan Brian.


"Kalau sampai terjadi hal buruk pada istriku, aku benar - benar akan membunuhnya. Aku akan membunuh Hans!!" Teriak Brian sembari memukul jok mobil di hadapannya membuat Billy yang sedang menduduki nya berjingkat terkejut.


"Ku mohon tenangkan dirimu Tuan." ucap Billy sembari menoleh ke arah Brian.


"Apa kau bilang!" Brian mencondongkan tubuhnya mendekat pada Billy. "Kau minta supaya aku tenang! Apa kau sudah tidak waras Bill? Istriku berada dalam bahaya dan kau minta aku untuk tenang? Mikir kamu Bill!!" Teriak Brian di telinga Billy dengan geram sembari menghempaskan tubuhnya pada sandaran jok kembali.


Brian lantas mengusap wajahnya berusaha mengendalikan diri. Rasa marah, kesal, panik, cemas dan takut bercampur aduk menjadi satu membuat dirinya seperti hilang kendali.


"Kalau kau yang berada di posisiku, lantas apa yang akan kau lakukan jika berada dalam keadaan seperti ini?" Keluh Brian pada Billy setelah beberapa saat dia terdiam mencoba menenangkan diri. Sadar, sekeras apapun ia meluapkan amarahnya, itu takkan merubah keadaan.


"Terjebak dalam ketidak berdaya dan hanya bisa pasrah tanpa bisa berbuat sesuatu untuk menolong istri mu sendiri. Aku merasa tak berguna sebagai seorang suami Bill." Desah Brian dengan mata yang berkaca - kaca. "Aku bahkan tidak tahu seperti apa nasip istriku sekarang." Lirih nya kemudian dengan titik air mata yang tak sanggup lagi ia tahan.


Billy hanya bisa diam termangu tanpa bisa berbuat sesuatu untuk menenangkan tuannya itu. Dirinya betul - betul memahami bagaimana kacaunya perasaan Brian saat ini. Terjebak dalam ketidak berdayaan. Terhimpit dalam kesulitan.


Tiba - tiba hati Billy pun terasa perih bagai terurus sembilu. Dirinya merasa tak berguna sebagai orang kepercayaan Brian yang seharusnya memberikan perlindungan bukan hanya pada atasannya saja, melainkan keluarga nya juga. Di tatapnya Brian yang tengah menatap kosong kearah luar jendela dengan wajah penuh kesedihan.


"Tuan, jika kita tidak bisa mengandalkan manusia sebagai penolong, namun sejatinya Tuhan lah penolong dari semua umatNya. Tidak ada yang lebih berkuasa selain dia. Maka berdoalah agar Tuhan menyelamatkan istri anda Tuan," ucap Billy dengan penuh keyakinan.


Ucapan Billy ternyata berhasil menyentuh hati Brian. Bagaimana mungkin dua bisa melupakan kuasa Tuhan dalam keadaan seperti ini.


Brian pun menengadah kan tangan dan memohon kemurahannya dengan kesungguhan hati.

__ADS_1


Ya Allah, Tuhan yang maha pengasih lagi penyayang, selama ini aku tak pernah meminta apapun kepadamu untuk diriku sendiri. Namun kali ini kumohon selamat kan lah istriku dari segala mara bahaya. Dia lah satu - satu nya sumber kebahagiaan hamba. Ku mohon lindungi lah dia karena sesungguhnya dia adalah milikmu. Brian pun meraup kan dua telapak tangannya ke wajahnya setelah bermunajat dan berdoa.


Mobil telah sampai pada tempat yang di tuju. Suasana di tempat itu pun tampak ramai dengan orang - orang yang tampak memenuhi area halaman rumah itu hingga mencapai pagar.


Brian yang tampak panik pun segera melompat turun bahkan sebelum mobil itu benar - berhenti. Ia pun segera memaksa menerobos di antara kerumunan orang - orang untuk mencapai rumah.


"Wah kasihan ya jatuh dari atas. Apa orangnya masih selamat?"


"Saya kurang tahu, sebab korban sudah di bawa ke rumah sakit setelah kejadian."


Selentingan - selentingan suara orang - orang yang terdengar kian membuat kecemasan Brian terasa mendarah daging. Lelaki itu tampak mengedarkan pandangan nya mencari sosok sang istri, namun Mayang tak memperlihatkan dirinya disana.


Brian hampir - hampir putus asa. Namun seketika pandangannya pun terpaku pada sebuah benda mungil yang tergeletak di lantai halaman rumah tepat di bawah balkon. Kalung yang ua berikan pada sang istri tergeletak di sana.


Dan seketika itu pula sekelebat bayangan buruk tentang keadaan sang istri pun terlintas di benaknya. Brian pun menyeret kakinya yang tiba - tiba lemas itu mendekat lalu ia pun bertekuk lutut untuk meraih kalung itu.


Air mata yang sejak tadi ia tahan pun kini tak mampu lagi ia bendung. Di kecupnya liontin itu dengan linangan air mata.


Seketika itu pula amarah nya pun memuncak. Ia segera bangkit dengan wajahnya yang merah padam. Rahangnya pun mengeras dengan tangan yang terkepal. Matanya menyalang tajam mengedar ke arah kerumunan orang yang tampak menatap iba padanya.


"Hans dimana kau!!!" Suara lantang Brian terdengar menggelegar memecah keheningan. lelaki itu bahkan tak menghiraukan tatapan ngeri orang - orang yang berada disana.


Sorot mata elang itu masih memburu mangsa yang belum ia temukan diantara banyaknya manusia disana. Tangan nya seolah siap mencabik - cabik hingga mangsa nya hancur lebur tanpa sisa.


"Keluar kau penjahat! Pembunuh kau!" Teriakan nya kembali menggelegar menakutkan.


Billy yang baru saja muncul setelah memarkirkan mobil pun tampak tergopoh menghampiri Brian setelah mendengar teriakan kemarahan lelaki itu.


"Tuan kendalikan dirimu. Jangan bersikap seperti ini." Billy menahan tubuh Brian dan mencoba menenangkannya.


"Lepaskan aku Bill!" Brian menghalau tangan Billy dan melepaskan diri darinya. "Aku ingin memberi pelajaran pada orang yang telah membunuh istri ku!"


"Tuan sadarlah! Hans tidak ada di sini. Dia sudah pergi!" Billy berusaha menenangkan Brian yang semakin tak terkendali. Hingga akhirnya Brian pun terkulai lemas sembari bertekuk lutut di lantai.


Lelaki itu tampak kacau dan terpuruk dengan wajah penuh dengan kesedihan. Di kecupnya liontin yang masih di genggam itu dengan penuh kasih sayang.


"Tuhan, kenapa secepat ini kau ambil istriku?" lirih Brian dengan tetes air mata.


Namun tanpa Brian duga, sesosok wanita cantik dengan gaun putih dan rambut panjang yang terurai tampak mendekat dan berdiri di hadapannya sembari tersenyum. Gadis itu pun bersimpuh dan memeluk Brian dengan hangat.


"Tuhan, bahkan secepat ini kau menjadikan istriku bidadari di surgamu karena kebaikan hatinya!" Jerit Brian pilu karena menganggap orang yang memeluknya adalah bidadari jelmaan istrinya.


"Sayang, aku disini. Aku bersamamu!" Mayang mencoba meyakinkan.


"Dia bahkan bicara padaku." Brian lagi - lagi menganggap Mayang bukanlah istrinya. "Aku ingin istriku kembali Tuhan! Aku tak ingin dia menjadi bidadari dan meninggalkan ku sendiri! Aku mau istriku kembali!" Jeritan pilu Brian terdengar pedih dan penuh kesedihan.


Namun laki - laki itu tak menggunakan logikanya untuk berpikir bahwa sesuatu yang masih bisa di sentuh itu tentu saja masih bernyawa, begitu pula istrinya.


Mayang hanya diam sembari menatap bingung pada Billy yang ada dibelakang Brian. Namun kemudian ia bisa mencerna maksud ucapan sang suami yang menyangka dirinya telah mati.


Sehingga Mayang pun kembali mencoba meyakinkan kan Brian dengan mencubit gemas pipi lelaki itu.


"Sayang ,,, aku Mayang istrimu. Aku masih hidup!" Teriak Mayang dengan keras agar sang suami bisa mendengar dengan jelas.


Lelaki itu pun terbelalak terkejut sembari menatap Mayang dengan seksama. la pun mengerjapkan mata dan mencubit lengannya untuk yakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang bermimpi.


Ia merasakan sakit di area yang ia cubit. Namun karena masih belum yakin, tangannya pun bergerak membelai lembut wajah sang istri, dan pada saat Mayang bereaksi dengan memejamkan matanya barulah Brian merasa yakin bahwa itu adalah sang istri.


Lantas di raihnya tubuh Mayang kedalam pelukannya dengan sangat erat sembari mengucap syukur yang tiada terkira.


Bersambung


_______________________________________


Hai readers tercinta, kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Amara

__ADS_1


dan berikan juga dukungan kalian untuk author ya


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2