
"Maaf tolong lepaskan saya." Pinta Mayang dengan nada memohon karena lelaki itu tak bergeming.Ia malah terpaku begitu menatap wajah Mayang dan semakin mengeratkan pelukan nya. "Tuan, tolong lepaskan saya!" Mayang meninggikan suara nya.
Lelaki itu terperanjat seperti tersadar dari lamunannya. "Oh maaf." Melepas pelukan nya. "Apa kau tidak apa-apa?" Bertanya dengan nada khawatir.
"Saya baik-baik saja. Seperti yang anda lihat." Jawab Mayang ketus sembari menoleh kiri kanan memperhatikan keadaan sekitar merasa tak tenang.Bagaimana kalau tiba-tiba Brian muncul saat dia bersama laki-laki lain,apa yang akan terjadi nanti?
Walaupun ia tak mau besar kepala dan berharap Brian cemburu,tapi ia tetap ingin menjaga dirinya sendiri hanya untuk sang suami.
"Mari kita mengobrol sambil minum." Ajak lelaki itu dengan senyum manis nya.Dia nampak sangat percaya diri di hadapan wanita cantik ini. "Panggil saja saya Alex." Ucap lelaki itu ramah sembari mengulurkan tangan nya.
"Saya Mayang. Maaf saya harus pergi." Ucap Mayang sembari pergi dengan tergesa dan meninggalkan lelaki yang tengah menatapnya bingung.
Mayang terus melangkah kan kakinya menuju tempat yang agak sepi.Dia ingin sendiri.Dia ingin menenangkan dirinya sebentar sebelum suaminya nanti kebingungan mencarinya.
Mayang menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan dan mengulanginya beberapa kali hingga dirinya merasa sedikit tenang.
Sekelebat ingatan pelukan Brian pada Karla masih terngiang di pikiran nya.Namun bukan itu yang membuat dada nya terasa sesak.Mayang tau itu terjadi karena refleks Brian terhadap sesuatu yang tiba-tiba bergerak di sampingnya.Apalagi Seorang wanita yang akan terjatuh.Itu wajar Brian lakukan karena dia memiliki jiwa penolong.
Namun pandangan sinis Karla padanya lah yang membuat ia geram.Ia seperti secara terang - terangan mengibarkan bendera peperangan.
Mayang percaya dengan cinta yang di miliki Brian untuknya,namun ia juga tak yakin.Jika Karla selalu menggodanya setiap saat,suatu saat Brian akan berpaling darinya.Mengingat pertemuan selalu terjadi di antara mereka setiap hari,bisa saja Karla menjebak Brian pada saat suaminya dalam kondisi terpojok dan tak dapat menghindar.
Ahh!Memikirkan ini saja membuat Mayang jadi frustasi.Ia teringat akan pepatah jawa yang mengatakan,
'Witing treno jalaran soko kulino'
Bisa saja timbul benih - benih cinta karena seringnya mereka bertemu.Namun Mayang tidak mau larut dalam kecurigaan.Ia menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.Ia sudah merasa tenang dan berniat untuk kembali ke pesta.
Pada saat Mayang memutar tubuhnya untuk melangkah,namun sesosok lelaki tampak muncul mendekatinya dengan tatapan heran.
"Mayang kenapa kau disini? Mana suami mu?"
"Dia sedang berbincang dengan teman nya ayah." Mayang menjawab sembari tersenyum.
"Kenapa tidak ikut gabung dia saja?" Hans bertanya sembari tersenyum.Tatapan hangat nya tersirat seperti ayah kepada putri nya.
__ADS_1
"Saya sedikit merasa lelah dan ingin menghirup udara segar saja."
"Mau duduk minum dan mengobrol dengan ku? Aku benar-benar melihat putri ku di dalam dirimu." Wajah nya berubah sedih dengan mata seperti memohon membuat Mayang jadi iba.
"Baik ayah." Mayang mengangguk.
Keduanya pun sama-sama melangkah mendekati kursi yang di tunjuk oleh Hans.Sebuah kursi panjang yang berada tak jauh dari tempat mereka berbincang.
"Apa kau mau minum?" Tawar Hans pula saat mereka sudah sama-sama duduk.
"Tidak terima kasih ayah," Mayang menolak halus sembari menggeleng.
"Kau harus minum." Bujuk Hans pelan. "Karena saat berbicara tenggorokan akan kering dan membuat kita merasa haus. Biar pelayan mengambilkan kita minuman."
Tiba - tiba ada seorang pramusaji yang memakai seragam yang sama dengan para pelayan di pesta itu.Berarti dia juga para pelayan yang bertugas melayani tamu undangan.Ada dua gelas minuman dalam nampan yang sedang ia pegang.Dia datang mendekat saat Hans melambaikan tangan padanya.
Untuk beberapa detik Mayang di buat salah fokus pada lelaki yang bertubuh tinggi dan dempal itu.Kumis dan alis yang sangat tebal serta tahilalat besar yang letaknya di tengah pipi.
Apa dia benar-benar pelayan?
"Terimakasih." Ucap Mayang sembari menatap pelayan itu penuh selidik.
Pelayan itu pun pamit undur diri.
"Mari minum." Hans tersenyum menunjukkan gelas di tangan nya pada Mayang sebelum lelaki itu menenggak minumannya.Menyisakan hanya sedikit jus jeruk di gelas itu. "Ah aku sangat kehausan." Hans terkekeh saat menatap wajah heran Mayang.
"Apa ayah mau lagi?" Mayang menawarkan gelas berisi jus jeruk di tangan nya.
"Tidak nak, untuk mu saja." Hans menolak halus.
Hans mulai bercerita mengenai putri nya yang telah tiada.Seperti sedang mengenang kejadian yang sangat indah.Mayang hanya bisa mendengarkan dan mengangguk dan tak tau harus mengatakan apa.Ia hanya berusaha menjadi pendengar yang baik.
Hans tampak menarik nafas panjang dan membuang nya perlahan.Seperti sedang berusaha menetralkan rasa sesak di dadanya akibat rindu yang tertahan pada putri yang tak bisa lagi ia jamah.
"Kau mirip sekali dengan putri ku,baik dari segi fisik maupun tingkah laku mu." Hans tersenyum menoleh pada Mayang.Gadis itu hanya tersenyum dan membalas tatapan nya.
__ADS_1
"Pantas saja Brian menyukai dan menikahi mu."
Apa ini! Jadi maksud anda saya di nikahi hanya karena wajah saya yang mirip dengan putri anda?Hoho jangan salah ya tuan. Suami saya bahkan pernah mengatakan hal itu pada saya. Saya tidak terpancing tuan. Sepertinya anda sedang pelan-pelan berusaha menyiramkan bensin di tubuh saya,dan berharap akan megobarkan api pada saat saya tersulut emosi? Anda salah tuan...
Entah mengapa Mayang tiba-tiba jadi kesal karena kalimat terakhir yang terucap dari mulut laki-laki tua ini?Secara tak sadar Mayang akhirnya menyeruput minuman dari gelas di tangan nya.Paahal dari awal ia sudah bertekad tak akan makan ataupun minum makanan dari pesta ini.
Ya tuhan, kenapa aku lupa dan menyeruput minuman ini.Kenapa rasa jus heruk ini aneh.Aku harus memuntah kan nya.Tapi bagaimana caranya jika lelaki ini masih terus menatap ku seperti ini.
"Apa kau mencintai Brian?"
Ya tuhan,dia bertanya lagi.Bagaimana cara ku menjawab nya dengan mulut yang penuh dengan jus begini.
Glek
"Tentu saja saya mencintai suami saya." Jawab Mayang dengan pandangan penuh keyakinan.
Ya tuhan!Aku menelan nya.Aku benar-benar menelan nya!Bagaimana ini!
"Aku tahu itu." Hans tampak tersenyum puas.Namun entah karena apa. "Baiklah," Hans bangkit dari duduknya. "Kau bisa beristirahat di sini dulu. Akan ku panggil kan Brian untuk mu." Mengusap puncak kepala Mayang sebelum ia melangkah meninggalkan gadis itu.
Sepeninggal lelaki itu, Mayang menatap gelas yang baru saja ia minum.Dan karena jengkel,ia pun membuang aur jus itu ke arah belakang nya dengan gelas masih di tangan agar ia tak kelupaan dan meminumnya kembali.
Tiba - tiba Mayang merasakan ada yang aneh di tenggorokkan nya.Rasa panas dan seperti sesak.
Astaga. Kenapa ini? Apa aku keracunan? Apa begini rasa nya orang yang sedang keracunan?!
Mayang berusaha merogoh tenggorokan nya menggunakan jarinya agar ia memuntahkan isi perutnya.Tapi tak berhasil,rasa sakit dan panas di lehernya terasa kian mencekik nya.
Mayang kemudian dengan tertatih melangkah menuju tempat pesta untuk mendekati kerumunan orang sembari memegang lehernya yang terasa sakit.Ia tak mau mati konyol di tempat sepi sendirian Setidaknya ada orang yang menolong jika ia ambruk di tempat keramaian.
Ingin rasanya Mayang menjerit minta tolong.Namun lidahnya tercekat tak bisa berkata apapun.Rasa pusing yang mendominasi di kepalanya membuatnya tak mampu lagi untuk berdiri menjejakkan kaki.
Dan akhirnya tubuh Mayang tumbang terjatuh di lantai.Gelas yang masih berada di genggaman nya pecah membentur lantai dengan beling kaca yang tajam berserak kemana - mana.
Dan salah satu nya mengenai tepat di pergelangan tangan Mayang sehingga mengucur darah segar dari sana.Matang tergeletak tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung