Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Di mana kamar mu?


__ADS_3

Brian yang baru saja keluar dari pantri itu tampak melangkah menuju kamarnya dengan membawa nampan yang berisi dua piring menu sarapan lengkap dengan dua gelas susu putih.


Lelaki berperawakan tinggi itu tampak segar dengan rambut setengah basah yang ia sisir rapi ke belakang. Dengan parfum aroma oriental yang kian menambah sisi maskulinnya. Penampilannya terlihat santai dengan pakaian casual khas rumahan yang melekat di tubuhnya.


Sudah memasuki kamarnya, lelaki yang tak mengenakan pommade itu menipiskan bibir saat samar-samar mendengar gemercik air dari arah kamar mandi.


"Lama sekali dia mandi," gumamnya heran sambil menggeleng samar.


Usai meletakkan nampan di atas meja, pria dengan kaus berkerah warna putih itu lantas melangkah menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya. "Sayang, jangan lama-lama mandinya, nanti bayi kita kedinginan ...!" Sedikit meninggikan suara agar Mayang yang berada di dalam dapat mendengar dengan jelas.


Tak ada sahutan, membuat lelaki itu mengernyit dan kembali mengangkat tangan untuk mengetuk. Namun pegangan pintu


yang tiba-tiba berputar membuatnya mengurungkan niat.


Wajah Mayang menyembul dari sela pintu yang sedikit terbuka dengan senyuman yang merekah.


Brian menggeleng pelan sembari berdecak.


"Kenapa lama sekali kau mandi, heum?" tanyanya sembari menaruh tanfan kirinya di pinggang, sementara tangan kanannya menyangga tubuh bertumpu pada dinding.


"Ha-ha aku hanya kegerahan, Sayang. Menyentuh air rasanya begitu menyegarkan, membuat ku betah berlama-lama mandi." Terang Mayang sambil menutup pintu di belakangnya dan berdiri tepat dihadapan suaminya.


"Tapi kalau terlalu lama di air bayi kita bisa masuk angin, Sayang." tutur Brian dengan wajah cemas.


"Ah kata siapa?" Kelit Mayang sembari membuka handuk yang melilit rambutnya, lalu berlalu meninggalkan suaminya melangkah menuju meja rias. "Mana ada bayi dalam perut masuk angin gara-gara ibunya mandi." Sambungnya dengan nada protes.


"Ada lah!" Jawab Brian seraya melangkah cepat mengikuti istrinya. "Buktinya kita nggak boleh bersetubuh selama bayi kita belum kuat menempel di dinding rahim!" paparnya dengan nada tidak rela.


Mayang yang sedang mengusap rambut basahnya dengan handuk segera melempar pandangannya ke arah Brian. Wanita yang hanya berbalut handuk kimuno itu menggeleng pelan lalu berucap, "Beda dong Sayang, bersetubuh itu interaksi secara langsung, tapi kalau mandi itu tidak." Mayang diam sejenak sambil meneruskan mengeringkan rambutnya. "Lagipula aku merasa gerah, Sayang. Mandi agak lama membuatku lebih merasa enakan." lanjutnya dengan suara melemah dan senyum untuk meyakinkan.


Brian hanya mendesah pelan mendengar perkataan sang istri. Lelaki pemilik nama lengkap Brian Haris Abdullah itu menatap sang istri tajam seraya bersedekap dada. "Makan terlalu pedas juga tidak boleh." Ucapnya dengan nada penuh peringatan, membuat sang istri seketika membeliak kaget. "Aku tahu, diam-diam kau masih suka makan makanan pedas di belakang ku, kan ,,,?" selidik Brian sambil mencubit gemas pipi sang istri.


"Tapi menurut ku itu tidak pedas, Sayang. Aku bahkan tidak merasakan pedas sama sekali." Protes Mayang setengah memohon. "Aku tidak bisa makan tanpa rasa pedas sama sekali ...."


"Harus bisa Sayang. Kemarilah." Brian meraih jemari sang istri, lalu melangkah memimpin istrinya itu menuju sofa. "Aku sudah membawa makanan untuk sarapan kita." ujarnya seraya menunjukkan hidangan yang telah tersaji di atas meja.


"Wah, sepertinya enak Sayang. Kau memang suamiku yang paling baik hati dan tidak sombong ...." Puji Mayang asal sambil menggelayut manja di lengan suaminya.


"Apa hubungannya siapin sarapan dengan tidak sombong si Sayang?" tanta Brian bingung.


"Haha nggak ada." Mayang terkekeh pelan sambil mengeratkan rangkulannya. Gadis itu lantas mendongak menatap wajah suaminya. "Sayang makasih sudah siapin sarapan buat aku ...." ucapnya tulus sambil tersenyum genit. Seperti yang selalu ia ucapkan setiap hari belakangan ini semenjak dirinya divonis mengandung oleh dokter.


"Sama-sama Sayang," balas Brian lembut. "Ayo kita sarapan." ajaknya sambil mendudukkan sang istri di sampingnya. Mengambil sesendok nasi goreng dari piring, lelaki itu tak segan menyuapkannya ke mulut sang istri.


"Terima kasih Sayang." Mayang berbicara dengan mulut penuh dengan makanan.


Sambil mengunyah, Mayang melirik ke arah suaminya dan baru menyadari penampilan Brian tampak santai, tanpa pakaian formal melekat di tubuhnya.


Menyentuh kaus yang di pakai Brian, Mayang mengernyit bingung lalu bertanya, "Sayang, kenapa memakai kaus seperti ini, kau tidak pergi ke kantor?"


Menunduk saat menyendok makanan dari piring, Brian menggeleng pelan. Lalu ia menyuapi lagi istrinya yang masih menatapnya penasaran. "Aku ingin di rumah saja seharian ini."


"Kenapa? Apa karena kau ingin menjaga ku?" tebak gadis itu tak meleset. Melihat sang suami tak bereaksi membuat Mayang mendesah tak nyaman. "Sayang, sudah ku katakan aku baik-baik saja. Aku senang kau selalu berada di sisiku, tapi aku tak ingin pekerjaan mu terganggu karena aku ...." tutur gadis itu tak enak hati.


Masih tampak tak peduli dengan ucapan sang istri, Brian menyodorkan segelas susu ibu hamil dan memaksa sang istri meminumnya. "Minum dulu." ucapnya penuh tuntutan.


Tampak kesal, namun Mayang tetap patuh dan meneguk susu itu dari tangan syaminya.


Kau tidak tahu, Sayang. Selama ini bahkan Alex telah mengutus mata-matanya untuk mengintai mu setiap hari. Bahkan setiap waktu. Batin Brian seraya memandang sang istri yang tengah minum. Diusapnya mulut basah sang istri dengan tissue.

__ADS_1


"Sayang ...." rengek Mayang masih menunggu jawaban suaminya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya ingin melewati waktu bersama mu." Brian menjawab santai sambil menyuapi istrinya lagi.


Sudah membuka mulut ingin protes, namun suara ketukan pintu membuat Mayang terpaksa mengurungkan niatnya.


"Ada apa Bu Kus!" tanya Brian suara tinggi, bermaksud yang di luar bisa mendengar.


"Sayang, jangan teriak-teriak. Nggak sopan tau." Tutur Mayang menasehati.


"Iya, aku keluar." Setengah terpaksa, Brian bangkit dan melangkah menuju pintu.


"Sekretaris Billy sudah berada di lantai bawah, Tuan." Ucap Kuswara sopan setelah pintu kamar terbuka dan Brian bertanya.


"Aku akan segera turun." Jawab Brian singkat.


"Baik Tuan," wanita paruh baya itu pamit undur diri.


Brian menoleh pada Mayang yang ternyata sedang memperhatikannya. Melihat sang istri yang tampak begitu ingin tahu, Brian pun berucap. "Sayang, aku tinggal sebentar untuk menemui Billy di bawah, ya."


"Untuk apa, bukannya kau ingin libur kerja hari ini?"


"Sebentar saja, Sayang. Ada yang ingin kubicarakan dengan dia." Bujuk lelaki yang tengah menyandarkan kepalanya pada daun pintu itu sambil memasang wajah memohon.


"Hemmm," desah Mayang sambil memanyunkan bibirnya.


"Hanya sebentar Sayang."


"Iya ...."


Ditatapnya punggung sang suami yang semakin menjauh dari kamar hingga tak nampak lagi. Namun mimik wajah yang tadinya nampak murung itu kini menyunggingkan senyum. Ia pun bergegas bangkit dan mengambil botol saus sambal yang tersembunyi di belakang sofa.


"Maniak cabe kau larang makan pedas. Maafkan aku Sayang, selain setia padamu aku juga setia pada cabai ku. Aku sudah menanyakan pada dokter kalau makan pedas saat hamil aman untuk kandungan kok. Jadi aku makan pedas diam-diam ya," tutur Mayang sambil menuangkan saus sambal di piringnya.


***


Billy melajukan mobilnya dengan malas usai mendapat perintah dari Brian untuk membelikannya rujak buatan gadis itu lagi. Seketika wajah tampan itu terlihat tak bersahabat saat mengingat sekelebat bayangan tentang gadis mungil penjual rujak buah yang belakangan ini membuatnya naik darah.


"Berani-beraninya dia menamai sepeda bututnya itu dengan nama Billy." Desis lelaki itu kesal sambil mencengkeram kuat stir mobilnya. "Billy itu kan nama ku! Nama paten ku! Bisa-bisanya dia samakan dengan sepeda butut belum lunas itu. Orang tua ku saja memberi ku nama pakai selamatan besar-besaran! Apa dia itu tidak waras, atau memang belum tahu siapa aku? Tapi mana mungkin dia tidak tau bagaimana pengaruh ku di kota ini!" Gerutunya sambil menggeleng tak habis pikir.


Sampai di area kontrakan tempat tinggal Milly, Billy pun memarkirkan mobilnya di pelataran kontrakan gadis itu. Setelah keluar dari mobil, lelaki dengan stelan jas dan kacamata hitam itu memperhatikan sekeliling. Tempat yang telah beberapa kali ia datangi itu pagi ini tampak lengang dan sepi itu.


Entah di mana gadis itu berada. Lapak jualannya pun tampak kosong tanpa buah-buahan yang biasanya tersusun rapi di sana. Namun Billy melihat pintu serta jendela kontrakan itu tampak terbuka, hingga ia menyimpulkan penghuni kontrakan itu pasti berada di dalam sana.


Tak ingin membuang waktu lama, ia pun memutuskan untuk mendatangi gadis itu di dalam rumah. Saat Billy tengah melangkah menuju pintu, tiba-tiba indera pendengarannya yang tajam tak sengaja mendengar suara mirip seperti benda terjatuh dan menimpa lantai.


Namun ia dibuat curiga saat suara dentuman itu disusul dengan suara pekikan tertahan seorang gadis. Entah mengapa sekelebat pemikiran liar serta prasangka buruk hinggap di kepalanya hingga ia bergegas masuk kedalam kontrakan kecil itu untuk mencari tahu.


Dan benar saja, sesosok mungil yang ia kenali tengah selonjoran di lantai sambil meringis menahan sakit. Gadis itu nampak terkejut saat menyadari kedatangan Billy, hingga ia pun tertunduk dengan wajah merona malu.


Tak jauh dari gadis itu, Billy melihat kulit pisang teronggok mengenaskan yang ia perkirakan sebagai korban pijakan kaki ganas gadis di hadapannya ini.


Berjongkok dengan satu kali bertumpu pada lantai, Billy menarik sudut kiri bibirnya membentuk seringai memcemooh di sana.


"Dasar ceroboh." Desisnya pelan namun penuh penghinaan.


Dengan wajah menahan sakit serta malu, Milly mendongak dan memaksakan diri melempar pandangan sengit terhadap Billy. "Saya sedang kesakitan Pak, saya malas berdebat sekarang." Balasnya berusaha angkuh, walau sejujurnya tubuhnya terasa rapuh.


"Ini salah mu sendiri." ucapnya dengan nada memperingatkan. Dipandanginya gadis yang terlihat kesakitan bercampur kesal itu dengan seksama. Ia memang sempat kesal pada gadis ini, tapi naluri kemanusiaan meronta-ronta saat melihat sesama sedang dalam kesusahan. Ia tak bisa bersikap acuh dan membiarkan gadis ini dalam ketidak berdayaan.

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa bangun dan berdiri?"


"Hah?!" Milly berdecak sebal. "Kalau saya bisa bangun, sudah sejak tadi saya lari dan bersembunyi dari Bapak." jawab Milly ketus lalu memalingkan wajahnya dari sorot mata lelaki yang selalu membuat jantungnya berdebar tak menentu. "Dari pada Bapak menghina dan membuat badan saya semakin sakit lebih baik Bapak segera angkat kali dari sini." usirnya tanpa melihat pada lawan bicara.


Mendengar pengusiran halus si gadis, Billy hanya berdecih. Namun dengan cekatan lelaki itu merengkuh tubuh gadis itu dan menggendongnya.


Entah mengapa Milly benar-benar tak bisa menguasai diri tatkala dirinya merasa seperti tengah terbang ke atas awan saat Billy merengkuhnya ke dalam gendongan.


Tak bisa berkata-kata, gadis itu hanya membelalak tak percaya menatap Billy dengan mulut yang ternganga.


"Katakan di mana kamar mu?" tanya Billy


setengah mendesak.


Gelagapan, gadis itu mengerjap bingung. "A-apa?!" Tanyanya tak percaya. "K-kamar?!"


"Iya lah! Apa kau ingin aku menceburkan mu ke sumur?!"


"J-jangan di kamar, Pak! Kata Ibu saya pamali bawa laki-laki bukan mahram ke dalam kamar."


"Baik, saya jatuhkan tubuh kamu di sini." desis Billy tanpa perasaan.


Seketika Milly membeliak kaget. "Oh


tidak! Jangan lakukan itu Pak. Pinggang saya sakit. Saya tidak mau patah tulang." tutur gadis itu merasa ngeri. Tak ingin sesuatu buruk terjadi, ia pun nekad mengalungkan tangannya di leher pria tampan itu.


Untuk beberapa saat keduanya saling memandang dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan embusan napas keduanya saling bertukar begitu sejuk menyapu permukaan kulit. Tak ada kata yang terucap antara keduanya, selain rasa canggung dan suasana kaku yang melingkupi kontrakan remang itu.


Tanpa ia sadari, gadis yang tengah terpukau dengan kepribadian serta ketampanan lelaki dingin ini menggigit bibir bagian bawahnya karena terpesona.


Tuhan, bisakah kau hentikan waktu untuk beberapa saat saja. Aku tak ingin suasana seperti ini lenyap begitu saja karena kepergiannya.


"Di mana letak kamar tidur mu?!" Billy mempertegas pertanyaannya tanpa berkedip menatap Milly, dan seketika membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"D-di sana." Tunjuk Milly ke arah pintu kamarnya. Meneguk slavinanya susah payah, gadis itu tertunduk menahan malu saat Billy melangkah menuju kamar sempit tempatnya melepas letih.


Meski selama ini ia menganggap Billy sebagai lelaki dingin serta angkuh, namun tak dapat Milly pungkiri kali ini lelaki itu memperlakukannya dengan begitu lembut. Bahkan lelaki yang semula tampak tak berperasaan itu membaringkan tubuhnya dengan sangat hati-hati.


Tuhan, jika memang ini hanya mimpi, hamba rela untuk tidak bangun lagi.


Entah atas dasar apa, Billy bahkan menata posisi baring Milly agar gadis itu merasa nyaman dan tidak kesakitan. Dengan posisi setengah membungkuk, lelaki itu mengganjal punggung Milly dengan bantal.


Namun tanpa keduanya sadari, sepasang bola mata tampak mengawasi mereka dari ambang pintu dengan sangat terkejut. "Apa-apaan ini!!" Geramnya dengan kedua tangan yang terkepal siap menghujamkan pukulan.


Bersambung


__________________________________________


Hai readers, aku mau curhat dikit dong,


sebagai pembaca, tolong kasih pesan dan kesan kalian mengenai Tawanan cantik itu istriku di kolom komentar donk,


masih mau tetep lanjut atau ditamatin aja?


Mohon maklum ya, aku masih dalam proses belajar dan amatiran. Aku coba revisi dan perbaiki kesalahan serta bab-bab awal yang nggak banget itu tapi selalu gagal😒


Tapi sebagai seseorang yang sudah terlanjur terjun di sini aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian di sela-sela kesibukan ku di dunia nyata.


Saya ucapkan Terima kasih untuk perhatiannya teman-teman sekalian, semoga kita selalu di beri kesehatan untuk menjalani aktifitas dan kesibukan, serta umur panjang agar selalu bisa bersua walau hanya di dunia maya.

__ADS_1


Maafkan halusinasiku yang tingkat dewa dan tidak jelas ini yaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Lope lope kalian semua😍😍😍


__ADS_2