Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Kepolosan Milly


__ADS_3

Mobil sudah berhenti di pelataran kontrakan, namun Milly yang masih setengah sadar masih betah berada di dalamnya. Gadis yang menyandarkan tubuhnya itu mengerjap ketika menyadari mobil telah berhenti.


"Kok berhenti sih Pak, ini mampir dimana lagi si?" Protesnya tanpa melihat ke sekeliling.


Billy mendesah kasar sambil membenturkan belakang kepalanya pada sandaran kursi mobil. Lantas menatap geram pada istrinya. "Lihat dulu, baru bicara." Tegasnya penuh penekanan.


Milly menegakkan punggungnya. Sambil melebarkan mata, ia mengarahkan pandangan ke sekeliling. Gadis mungil itu lantas tertawa menunjukkan deretan gigi putihnya. "Hahaha sudah sampai ya. Saya kira masih di jalan Pak." ucapnya sambil menoleh pada Billy, namun seketika gadis yang masih tersenyum lebar itu seketika menghentikan tawa dan menelannya berat karena sorot tajam mata Billy masih saja mengawasinya. Perlahan Tangannya bergerak melepas sabuk pengaman yang membelitnya.


"Kau yakin betah di sini dan tak ingin pulang bersamaku?" Tanya Billy seraya menatap kontrakan kecil tempat tinggal istrinya itu.


"Yakin Pak, biarpun kecil tapi saya nyaman berada di sini." Milly menjawab sopan sambil menyunggingkan senyumnya. "Lagi pula, Bapak akan rugi kalau memiliki pembantu seperti Saya."


"Maksudnya?" Tanya Billy tak mengerti.


"Iya," Milly menegaskan. "Saya ini pemalas dan nggak bisa ngapa-ngapain Pak. Nggak ada kerjaan yang beres di tangan saya. Jadi mendingan Bapak cari pembantu lain yang lebih profesional saja ya." Pungkasnya sembari tersenyum, lalu beringsut turun dari mobil suaminya.


Sementara Billy masih terdiam di tempatnya dan berusaha menelaah arti dari perkataan istrinya. Lelaki itu lantas menggeleng tak habis pikir dengan imajinasi tinggi istri sirinya. Bagaimana bisa dia berpikir akan dijadikan pembantu oleh suaminya sendiri. Entah karena dia polos atau memang terlalu polos. Astaga, dasar gadis gila! Umpat Billy dalam hati.


"Terima kasih untuk traktirannya ya Pak! Sampai jumpa lain waktu! Jangan kapok loh." Teriak Milly sambil melambaikan tangan saat mobil Billy melaju meninggalkannya sendiri. Wanita itu masih memandangi mobil suaminya hingga tak terlihat lagi di ujung jalan.


Setelah menyeret langkahnya mundur beberapa langkah, Milly lantas berbalik badan. "Ini kepala kenapa pusing bener si?" Keluhnya sambil memijat lembut pelipisnya. Melangkah tanpa melihat jalan, tanpa sengaja kakinya terjerembab di lubang yang kemarin ia buat khusus untuk membakar sampah.


Tentu saja hal itu membuatnya tersungkur dan terduduk di kubangan. Sebab, tadi malam baru saja turun hujan sangat deras hingga air dan lumpur masuk ke dalamnya.


"Aaaa sial ...! Gue belepotan. Siapa sih yang naruh lubang di sini?! Nggak tau ini jalan apa!" Teriaknya kesal namun tak ada orang yang mendengar. Susah payah ia bangkit dari duduknya setelah berselancar.

__ADS_1


Milly memperhatikan dirinya yang sudah mirip tempe mendoan berwarna coklat. "Astaga, untung saja tidak ada orang. Coba kalau pas rame, apa kabar urat malu gue? Bisa-bisa putus." Keluhnya sambil berusaha naik dari lubang. "Ya Allah, kuatkan hambamu ini ...." Sambil sesenggukan tanpa air mata, Milly menengadah memanjatkan doa. Namun gadis itu urung menyapukan tangannya ke wajah, sebab kedua telapaknya kini penuh dengan lumpur.


"Aaaa bau ...." Keluhnya setelah mencium aroma tak sedap dari tangannya. Ia lantas bergegas masuk untuk membersihkan diri.


***


Duduk termenung sendirian di ayunan taman, pikiran Mayang melayang jauh memikirkan Brian. Sesak di dada masih terasa sangat menyiksa saat teringat perilaku dingin suaminya. Terlebih tak ada hal yang membuatnya bisa mengalihkan pikiran.


Menyandarkan kepala pada penyangga ayunan, lagi-lagi Mayang menitikkan air mata. Entah kenapa hatinya benar-benar merasa terluka. Bukan karena sikap acuh suaminya, namun penyebab sang suami acuh adalah dirinya. Membuatnya benar-benar dirundung rasa bersalah.


"Nyonya," suara Kuswara yang tiba-tiba berhasil membuyarkan lamunan Mayang. "Hari sudah senja. Apa tidak sebaiknya Nyonya masuk dan istirahat di dalam kamar saja? Wanita hamil pamali berada di luar rumah saat senja, Nyonya." Tutur kepala pelayan itu pelan.


Mayang memaksakan senyumannya saat melirik Kuswara, lalu bergerak dan duduk dengan tegak. "Apa Tuan sudah pulang?" Tanyanya kemudian pada Kuswara yang berada di sisi kirinya.


Jawaban Kuswara membuat wajah Mayang kembali muram. Wanita yang mengenakan dres santai motif bunga mawar itu melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya. Sepi. Tak ada notifikasi pesan atau panggilan masuk dari nomor suaminya sama sekali seharian ini. Bahkan pesan yang ia kirimkan sama sekali tak digubrisnya. Semarah itukah dia?


Meraih ponsel itu, Mayang lantas bangkit dan berdiri. Dengan langkah berat ia melewati Kuswara yang masih berdiri di tempatnya.


Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, iris Mayang menatap hampa pada seluruh isi di dalam kamar. Barang-barang mewah yang ada di sana sama sekali tak terlihat indah jika tanpa suaminya. Sebegitu bergantungnya dia hingga Mayang merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


Sama sekali tak mengantuk, ia memilih menghabiskan waktu untuk membaca selagi menanti suaminya pulang. Ia tak ingin melewatkan meyambut kedatangannya dan menjelaskan banyak hal padanya.


Memilih duduk di sofa ia tak ingin terlelap begitu saja. Ditambah pula memutar televisi dengan volume suara nyaring, ia pastikan dirinya tak akan tertidur dengan gangguan berisik ini.


Namun hingga matanya lelah dan terasa berat, Brian belum juga menunjukkan tanda-tanda kepulangannya. Mayang semakin dihinggapi rasa resah dan gelisah.

__ADS_1


Tersenyum getir, diusapnya dengan lembut perutnya yang masih rata. "Sabar ya Sayang, mungkin Ayah sedang sibuk. Jadi belum bisa pulang sekarang." Tuturnya pada janin di dalam rahimnya.


Mendesah pelan, Mayang menaikkan kakinya selonjoran di atas sofa. Menyandarkan punggung yang terasa pegal, ia memaksakan diri untuk membaca novel komedi romantis, berharap dia bisa tertawa dan melupakan sejenak kesedihannya.


Namun nyatanya justru pandangannya semakin kabur, dan matanya kian meredup. Hinggga akhirnya ia pun tertidur dengan posisi novel menelungkup di dadanya.


***


Brian yang sudah menantikan kedatangan Billy, tiba-tiba melayangkan bogem mentah ke wajah sekretarisnya yang tahu apa-apa. Brian bahkan mencengkeram kerah jas Billy yang terkejut hingga terpelanting membentur meja, seolah tak ingin melepasnya lagi.


"Apa-apaan ini?!" Tanya Billy bingung seraya berusaha melepaskan cengkeraman Brian namun sia-sia. Sebab lelaki yang tengah dipenuhi amarah itu semakin liar menghakiminya.


"Kau yang apa-apaan!" Geram Brian penuh kemarahan. "Untuk apa kau mengundang polisi itu ke rumahku?!" Sentaknya sembari mendorong tubuh Billy hingga mengimpit tembok di belakangnya.


"Polisi kau bilang?!" Billy semakin tak mengerti. "Ku tegaskan padamu, aku tidak mengundang mereka!"


"Bohong!" Teriak Brian dengan napas naik turun. Entah mengapa menatap wajah Billy kali ini benar-benar membuat murka. Sebab hanya pria yang sebaya dengannya inilah satu-satunya orang pelampiasan kekesalannya.


"Aku tak pernah membohongi sekalipun. Lepaskan tanganmu Brian. Tenang! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" Menatap Brian lekat, Billy berusaha meyakinkan bosnya yang sedang kalap itu.


Keributan yang terjadi antara dua lelaki muda itu mengundang decak heran Malik yang baru saja memasuki ruangan. Beruntung ruangan presdir itu kedap suara, sehingga tak satupun karyawan di luar ruangan yang mendengar pertengkaran dua orang penting ini.


"Apa-apaan kalian!" bentakan Malik mengejutkan keduanya, hingga Brian dan Billy serentak menoleh ke arahnya. "Bisakah kalian bicarakan ini baik-baik!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2