Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Membuka brangkas


__ADS_3

"Apapun yang kau inginkan pasti akan kupenuhi, Sayang. Jangankan seluruh hartaku, bahkan aku rela mengorbankan nyawaku demi dirimu." Alex berucap tegas penuh keyakinan seraya menatap manik Mayang lekat-lekat. Ia mengatakan hal itu seperti sedang merapalkan sebuah sumpah.


Namun bukannya merasa bangga, Mayang justru merasa risih dengan kegilaan Alex ini. Ia menyunggingkan senyuman sinis sebelum kemudian berucap dengan nada angkuh. "Terima kasih. Tapi sayangnya aku tidak membutuhkan semua itu. Kurasa kau tahu jika yang kuinginkan hanya kebebasanku saja, bukan?" tanyanya dengan nada seperti mengingatkan.


"Kau sangat cerdas, Sayang," balas Alex nada menggoda. Senyumnya pun terkembang begitu menawan selagi menatap Mayang yang terlihat jengah pada dirinya. Namun kemudian senyuman itu berubah menjadi seringai jahat ketika dirinya berucap, "Tapi sayangnya aku tidak sebaik hati itu dengan melepaskanmu begitu mudah. Kau adalah ratuku. Seorang ratu tidak akan pernah meninggalkan raja beserta istananya, bukan?"


"Kau terlalu percaya diri, Alex." Mayang berucap lambat-lambat serta menekan di setiap katanya. Bibirnya pun menyunggingkan senyum penuh ironi. "Tapi baiklah," sambungnya sambil mengedikkan bahu dan mengangkat kedua alisnya. "Tak ada pilihan lain untukku selain mengikuti keinginanmu, bukan?"


Perkataan terakhir Mayang itu benar-benar membuat Alex terlihat begitu senang. Pria itu sontak melebarkan senyum dengan mata memancarkan binar bahagia. Entah mengapa pesona Mayang selalu membuatnya tak tahan untuk menyentuhnya, hingga tanpa aba-aba ia pun bergerak semakin dekat.


Tangannya sudah terangkat hendak menyentuhkannya pada bagian tubuh si wanita, namun reaksi Mayang yang langsung memalingkan wajah membuatnya memutuskan mengurungkan niat sebab tak ingin membuat kemarahan Mayang kembali merebak.


Setengah membungkukkan badan, Alex mendekatkan bibirnya pada telinga Mayang sebelum kemudian mendesiskan kata dengan nada menggoda. "Kau benar-benar wanita idamanku. Kepatuhanmu sungguh-sungguh membuatku senang, Sayang."


Mayang mengarahkan tatapan nyalangnya saat Alex sudah menarik tubuh dan berdiri dengan normal. Ia membalas tatapan sinis Mayang itu dengan senyuman sangat manis.


Alex lantas menolehkan kepalanya ke arah Mister Wang dengan senyuman yang masih terpatri. Tangan kirinya kemudian bergerak agresif melingkar di pinggang Mayang tanpa peduli akan keterkejutan gadis itu. "Kau lihat," ucapnya pada Mister Wang. "Wanitaku sangat patuh kepadaku. Aku benar-benar beruntung bisa memilikinya."


Tersenyum kecut, Mister Wang pun berucap, "Ya, ya, ya. Aku percaya."


Mayang sontak melebarkan mata penuh keterkejutan. Ia benar-benar tak menyangka jika Mister Wang sesungguhnya begitu fasih berbahasa Indonesia.

__ADS_1


Reaksi Mayang itu rupanya tak luput dari perhatian Alex dan Mister Wang sendiri. Kedua lelaki itu saling memandang sambil tersenyum lucu. Namun mereka memilih untuk tidak membahasnya, sebab ada yang lebih penting dari itu.


"Bisa kau suruh wanitamu untuk membukanya sekarang?" tanya Mister Wang kemudian yang terlihat sudah tak sabaran.


Alex menganggukkan kepala, lantas menoleh ke arah Mayang. "Sayang, buka sekarang, ya," ucapnya dengan nada setengah memerintah.


"Baik." Mayang menjawab singkat dengan nada angkuh. Lagi pula untuk apa juga ia harus mengulur-ulur waktu jika dua juga merasa penasaran akan isi di dalamnya.


Mayang yang dibimbing Alex kemudian melangkah perlahan mendekat pada pintu. Entah mengapa, Mayang yang semula merasa tenang kini mendadak didera gugup yang luar biasa. Jantungnya berdegup sangat kencang. Wajahnya memucat serta keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Berkali-kali ia meneguk salivanya dengan berat.


Alex yang berada di sisi Mayang menyadari ekspresi gadis itu. Sebenarnya ia juga merasa tegang, sebab penantiannya selama ini akan berakhir dalam waktu beberapa detik lagi. Namun ia bisa bersikap lebih tenang dibanding gadis di sampingnya ini.


Tersenyum, Alex kemudian meraih jemari Mayang dan kemudian membimbing tangan dingin yang berkeringat serta gemetaran itu mendekati kunci kode kombinasi pada pintu bagian luar brangkas itu.


"Kamu bisa, Sayang. Kamu pasti bisa." Alex berucap penuh keyakinan.


Mayang mengembalikan pandangan ke arah tangannya yang sudah memegangi tombol itu. Sensor pada tombol kode itu pun langsung bereaksi saat Mayang menyentuhkan sidik jarinya.


Mayang menghela napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan, seolah tengah mengumpulkan keberanian. Semoga saja otaknya masih berfungsi dengan benar, sehingga ia bisa membuka pintu brankas itu hanya bermodalkan ingatan di kepalanya yang sudah tertimbun sejak berbulan-bulan lalu.


Mayang masih dikuasai penasaran akan isi di dalam brangkas itu. Jika ukurannya saja mampu menampung puluhan manusia dewasa di dalamnya, lalu berapa nilai nominalnya jika brangkas raksasa itu berisikan uang ataupun perhiasan. Atau entah barang berharga seperti apa hingga membuat dua lelaki ini begitu menginginkannya.

__ADS_1


Setelah memantapkan diri serta hatinya, Mayang akhirnya mulai melakukan tugasnya usai dia memanjatkan doa dalam hatinya. Suasana hening di ruangan itu diliputi ketegangan dengan seluruh pasang mata tertuju ke arah brangkas itu.


Pengamanan yang berlapis-lapis membuat proses itu sedikit memakan waktu dan bahkan menguras energi Mayang yang di dera kecemasan. Ia begitu berharap segera berhasil melakukannya. Sebab bila ia gagal, bukan tidak mungkin Alex dan Mister Wang akan menghukum dirinya karena telah membuat mereka kecewa.


Mayang menyeka keringat yang semakin membasahi wajahnya dengan punggung tangan. Sementara bibirnya yang memucat nampak bergetar hebat. Tinggal satu langkah lagi menuju keberhasilan, namun tenaganya seolah hampir habis karena di dera kegugupan. Berhenti sejenak, ia mengepalkan tangan yang semakin bergetar.


"Sedikit lagi, Sayang. Sedikit lagi. Ayo, berusahalah." Alex berucap setengah mendesak. Ia meraih jemari Mayang lantas menggenggam penuh kelembutan, seolah-olah tengah memberikan kekuatan.


Tak bisa menjawab dengan kata-kata, Mayang hanya menganggukkan kepala. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, lantas kembali melanjutkan usahanya yang tinggal sedikit saja.


Mayang memejamkan mata saat menekan tombol terakhirnya. Untuk sesaat keadaan hening, sebelum kemudian brangkas itu menurut mengeluarkan suara semacam alarm pengingat disertai lampu sensor yang menyala dan mati dengan ritme cepat seolah memberikan peringatan. Mayang yang terkejut sontak menarik diri dan bergerak mundur beberapa langkah dengan ekspresi wajah tegang penuh kepanikan.


Namun berbeda dengan dua pria di sampingnya. Alex dan Mister Wang tampak membulatkan mata lebar-lebar saat saling memandang. Keduanya bergerak serentak mendekati pintu brankas dan berusaha memutar tuas pintunya.


Body brangkas yang terbuat dari besi keras itu terlihat sangat berat, hingga butuh tenaga ekstra untuk Alex dan Mister Wang ketika berusaha membukanya. Kedua pria itu bahu-membahu dan bekerja sama, hingga pada akhirnya mereka berhasil dan mampu membuka pintu itu lebar-lebar dengan masing-masing memegangi salah satu sisi.


Saling menatap, Alex dan Wang langsung tertawa senang bersamaan di sela deru napas yang masih berpacu. Mereka sama-sama kelelahan akibat tenaga yang terkuras ketika mengerahkan seluruh kekuatan untuk membuka pintu besi itu. Namun semua kelelahan itu terbayar lunas begitu melihat isi berangkasnya.


Sementara Mayang, ia benar-benar dibuat tercengang dengan benda yang ada di depan matanya. Brangkas raksasa itu dipenuhi dengan mata uang asing dan begitu banyak serbuk putih yang ia yakini adalah barang haram dengan kemasan sangat rapi.


Masih belum habis keterkejutannya, Mayang kembali dibuat semakin terkejut dengan pemandangan yang tersaji di sekitarnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2