
Tergesa-gesa Brian melangkah menuju mobilnya. Ia memang sengaja kabur dari Mayang. Tentu saja untuk menghindari cecaran pertanyaan tentang telepon yang ia abaikan tadi.
Brian sudah menangkap jika istrinya menaruh curiga. Maka dari itu ia segera pergi sebab tak ingin menjawab pertanyaan dengan kebohongan.
Berutung mobilnya sudah siap di halaman, sehingga dia bisa langsung mengendarai dan melesat pergi sebelum sang istri sempat mengejarnya.
Melihat dari pantulan kaca spion, nampak sang istri dengan napas terengah-engah menatap kepergiannya. Dia pasti berlari mengejarku tadi. Batin Brian. Untuk apa harus berlari-lari si, kalau sampai terjatuh bagaimana?! Sial! Kenapa pagi-pagi begini polisi itu sudah menghubungiku. Masa bodo, sampai kapanpun aku tidak akan mau bekerja sama dengan mereka.
Dengan pikiran yang berkecamuk, Brian tetap mengendarai mobilnya membelah hiruk pikuk jalanan kota. Berusaha bersikap acuh, namun pikiran tetap tak bisa dan selalu kembali pada masalah ini.
Setelah beberapa waktu Brian menahan untuk tidak menyentuh ponselnya, namun kali ini ia Brian lagi menahan rasa penasarannya. Dikenakannya earphon di telinga dan menekan nomor tadi lantas menghubunginya.
"Selamat pagi Pak Brian," suara berat dari seberang telepon pun menyapa.
"Ada apa Bapak pagi-pagi begini menghubungi saya?" tanya Brian tanpa basa-basi.
"Tadi saya hanya ingin mengabari kalau pagi ini saya ingin berkunjung ke kediaman Bapak."
"Oh begitu ,,," Brian mengangguk-angkuk sambil menyeringai. "Tapi mohon maaf ya Pak, bukannya saya tidak mau menyambut kedatangan anda, tapi saya sedang di jalan menuju ke kantor ini. Bagaimana ya?"
"Oh Pak Brian tidak perlu khawatir soal itu. Sebab istri anda sudah menyambut kami dengan baik. Bahkan beliau telah bersedia bekerja sama dengan kami. Dan sekarang kami sedang membicarakan kerja sama ini Pak."
Ciiittt! Decitan suara rem terdengar melengking bersamaan dengan mobil Brian yang berhenti secara mendadak.
"Halo Pak Brian, anda masih di sana?!"
***
Di sebuah ruang tamu, tampak wanita muda sedang duduk dengan posisi elegan saat sedang menjamu tamu dadakannya. Beberapa pelayan tampak berdiri sembari menunduk sopan di salah satu sudut ruangan. Sementara di beberapa titik ruangan lainnya tampak pula beberapa orang pengawal yang berdiri siaga untuk menjaga nyonya mereka.
Terlihat berlebihan memang. Namun itu memang harus dilakukan demi keamanan sang nyonya, sebab tamu yang datang pagi ini bukanlah tamu biasa saja.
"Terima kasih atas jamuannya Nyonya Mayang, mohon maaf karena mungkin kami telah mengganggu anda pagi ini." tutur salah satu diantara dua lelaki berseragam dengan pangkat jendral bintang lima tersemat di pakaian dinasnya. Lelaki berwibawa itu tampak begitu sopan dan tenang saat berbincang dengan Mayang di ruang tamu.
"Bapak tidak perlu sungkan," Mayang membalas dengan senyuman. "Tapi mohon maaf jika penyambutan kami tidak mengenakkan, sebab suami saya telah lebih dulu berangkat bekerja." Imbuhnya tak enak hati.
"Saya mengerti itu Nyonya, sebab kedatangan kami terlalu mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saya mengerti betul bagaimana kesibukan suami anda yang begitu padat." Menoleh pada teman di sampingnya, keduanya mengangguk seolah sepakat. Lalu kembali menatap Mayang dengan senyum santun. "Kalau begitu kami permisi dulu Nyonya. Lain waktu kami akan datang untuk membicarakan tentang perencanaan misi rahasia ini."
Mayang spontan berdiri mengikuti gerakan tamu-tamunya itu. "Baik Pak, pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk Bapak." balas Mayang seraya menyambut uluran tangan sang Jenderal dan bersalaman.
"Terima kasih untuk kesepakatan kerja samanya Nyonya."
"Sama-sama Pak."
Baru saja Mayang melangkah untuk mengantar polisi itu menuju pintu, langkah mereka mendadak berhenti saat tiba-tiba Brian muncul dengan gurat wajah tak bersahabat. Dari sorot mata yang menyalang tajam, Mayang tahu jika sang suami kembali dengan keadaan marah.
"Sayang kau kembali?" Dengan penuh kecemasan, Mayang segera menghampiri Brian. Wanita yang jago bela diri itu lantas merangkul lengan sang suami berusaha meredakan amarahnya.
"Batalkan kerja sama ini." Tegas Brian dingin pada tiga orang yang tengah menatapnya bingung.
"Maksudnya Sayang?" Mayang menautkanalisnya.
"Selamat pagi Pak Brian," sapa sang Jendral seraya mengulurkan tangannya. "Tidak menyangka ternyata Bapak kembali untuk menemui saya. Ini sebuah kehormatan." Tutur pria berambut klimis itu tenang penuh wibawa.
Enggan, tapi pada akhirnya Brian menyambut uluran tangan itu. "Terus terang saya tidak setuju dengan kerja sama ini Pak." Terang Brian tanpa basa-basi.
"Sayang," sela Mayang untuk menghindari ketegangan. "Bapak sudah pamit mau ke kantor loh, beliau banyak urusan hari ini. Beliau bisa terlambat kalau kita ajak ngobrol lagi." Tuturnya lembut dan menatap Brian seraya mengerjap, sedangkan kepalanya menggeleng samar memberi isyarat pada suaminya untuk tidak melanjutkan lagi pembicaraan. "Bu Kuswara," panggilnya pada sang kepala pelayan yang sejak tadi berada di sana.
__ADS_1
"Ya Nyonya." Wanita paruh baya itu melangkah mendekat.
Mengabaikan tatapan tajam suaminya, Mayang pun memberi perintah pada Kuswara. "Tolong kau antar Bapak Jendral sampai di depan pintu."
"Baik Nyonya." Balas Kuswara patuh.
"Terima kasih atas pengertiannya Nyonya." Sang jendral yang ternyata adalah teman sekolah Malik itu tersenyum hangat, seolah tahu niat baik Mayang. "Kami permisi dulu permisi dulu Pak Brian. Lain waktu kami akan kembali untuk membicarakan lebih lanjut lagi."
Sepeninggalnya dua perwira itu, kini hanya tersisa sepasang suami istri yang tampak masih enggan memulai pembicaraan.
Si istri tampak terdiam kaku mengalihkan pandangan ke arah lain guna menghindari tajamnya tatapan dari netra sang suami.
"Kenapa diam?!" Pertanyaan setengah menyentak yang Brian lontarkan berhasil mengejutkan Mayang.
"Sayang, kita bicara sambil duduk yuk." Ajak wanita bersurai panjang itu pada suaminya. Dengan kelembutan ia gandeng tangan suaminya dan membawanya melangkah menuju sofa.
Duduk dengan menopang sebelah kakinya, Brian masih diam menatap tajam pada istrinya menunggu penjelasan kian membuat Mayang tak punya nyali. Jangankan untu berbicara, membalas tatapannya pun ia tak bisa.
Setelah beberapa lama keduanya terjebak dalam keheningan, akhirnya Brian pun menlngalah dan mendahului bertanya.
"Siapa yang mengizinkanmu menerima tamu laki-laki saat aku tak berada di rumah?" Dingin, tak ada kehangatan seperti yang selalu lelaki itu tunjukkan saat bicara pada istrinya.
Semakin tertunduk, Mayang merasa menyesal setelah menyadari ia melakukan dua kesalahan fatal dalam sekali tindakan yang ia lakukan.
"Jawab!" Bentakan Brian membuat Mayang seketika terperanjat.
"M-maafkan a-aku Sayang, a-aku bersalah." Lirih dan terbata gadis yang mulai berkaca-kaca itu berbicara. Sementara jemarinya tak henti saling meremas karena begitu takutnya. Entah mengapa kesalahan yang ia tak sengaja perbuat justru membuat suaminya begitu murka.
"Lihat aku." Singkat, Brian memberi instruksi tanpa menyertakan panggilan sayangnya. Tentu saja hal itu membuat Mayang semakin kian menciut saja. "Sayang, lihat aku! Apa yang kau lihat di bawah situ?!" Ulangnya semakin meninggikan nada bicara.
Mendongak perlahan, Mayang memberanikan diri menatap Brian dengan buliran bening yang mengalir dari pelupuk mata.
Namun tindakan yang istrinya perbuat benar-benar membuatnya murka. Terlebih dengan sengaja Mayang telah membahayakan dirinya yang tengah mengandung buah cinta mereka. Bukan karena Mayang menerima tamu tanpa izinnya, melainkan rasa takut kehilangan yang membuatnya tak bisa memaafkan begitu saja.
Perasaan yang berkecamuk di hatinya membuat Brian frustasi. Dihujamkannya tangannya yang sejak tadi terkepal itu pada lengan sofa hingga membuat sang istri terperanjat.
Bangkit, Brian berdiri dari tempatnya dengan wajah merah padam. Tak bisa melihat sang istri menangis ia memutuskan untuk meninggalkannya sejenak dengan mencari kesibukan lain.
"Sayang mau kemana?" Panik, Mayang segera berdiri mengikuti suami sembari menyeka air matanya.
"Aku mau ke kantor." Brian menjawab dingin tanpa menatap Mayang.
"Sayang aku benar-benar minta maaf karena telah mempersilakan polisi itu masuk. Itu karena kupikir mereka adalah tamu dan aku hanya mewakilimu. Kau tahu kan di rumah kita banyak orang, aku pasti baik-baik saja karena anak buahmu selalu menjagaku dengan baik." Mayang berusaha menjelaskan. Ia tak ingin kesalahan pahaman merusak kehangatan hubungan mereka.
"Aku ingin kau batalkan kerja sama kalian." Tanpa menunggu jawaban dari Mayang, Brian berlalu begitu saja meninggalkan sang istri yang tampak sedih dan bimbang.
***
Keheningan melingkupi suasana di dalam mobil, dimana dua orang pasangan suami istri tengah terkurung di dalamnya, terjebak dalam suasana kaku yang benar-benar tidak mengenakkan.
Untuk pertama kalinya Billy mengajak sang istri keluar dengan menaiki mobinya. Lelaki dengan earphon di telinganya itu tampak fokus dengan kemudinya.
Sementara Milly, bukan perasaan senang yang saat ini ia rasakan dengan pengalaman pertamanya keluar bersama suaminya. Gadis yang masih mengenakan celana jeans dan kaus oblong itu justru dihinggapi rasa tegang berada satu mobil dengan makhluk sempurna yang kini menjadi suaminya.
Berkali-kali melirik pria dengan stelan jas yang selalu terlihat rapi itu Milly membandingkan dirinya yang tampak lusuh dengan pakaian sehari-harinya.
Ya Allah, mana pantes diriku bersanding dengan dirinya. Kalau dia mah udah pasti cakep. Lah gue, sepet. Hadeh .... Batin Milly seraya menepuk dahinya sendiri.
__ADS_1
Memperhatikan suaminya untuk pertama kalinya yang begitu sibuk bekerja meski sedang berkendara membuat gadis imut itu menggigit bibir bawahnya karena terpesona.
Menemukan jawaban mengapa earphon tak pernah lepas dari telinganya dalam setiap kesempatan. Milly yang semula berpikir Billy hanya menggunakan alat tersebut untuk mendengarkan musik, nyatanya di buat geleng kepala saat ponsel Billy tak henti berdering dengan panggilan orang-orangnya yang melaporkan hasil pekerjaan mereka.
Tentu saja hal itu menggelitik rasa penasarannya pada sosok tampan dengan alis tebal dan hidung bangir. Sorot matanya yang tajam bahkan telah menusuk Milly hingga tembus ke relung hati. Entah sepenting apa jabatannya di tempat dia bekerja.
Sementara bibir mungilnya, ah Milly pada akhirnya tahu kenapa Tuhan memberikan bibir mungil kepada lelaki seperti dia. Karena memang dia irit berbicara. Tidak seperti dia yang boros saat berkata. Bahkan kadang ia gunakan untuk memaki teman-temannya saat bercanda.
Eh, tapi kan bibir ku mungil juga. Apa ini perbedaan pria dan wanita? Batin Milly seraya menyentuh bibirnya.
Menoleh lagi pada lelaki yang mirip sebongkah es di sampingnya, Milly kembali bertanya-tanya. Ini sebenarnya mau kemana si? Nggak mau ke ragunan kan ya, mau naruh aku di sana karena dia pikir aku ini penghuni ragunan yang lepas. Astaga, bikin takut aja.
"Pak, ini kita mau kemana ya?" Akhirnya Milly memberanikan diri untuk bertanya. Namun bukannya menjawab, Billy malah tampak acuh seolah tak mendengar Milly bertanya. Sial, aku dikacangin dong, ish malunya. Dia anggap aku ini apa? Kecoa pengganggu yang perlu dibasmi? Ngapain aku dibawa kalau sama sekali tidak disapa?! Jadi sebal akunya.
Sampai disebuah rumah makan, Billy pun memarkirkan mobilnya di pelataran. Tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya, Billy turun dari mobil mewah hadiah dari Brian dihari ulang tahunnya.
Milly yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa diam di tempatnya. Gadis yang menguncir rambutnya ekorkuda itu hanya mengamati Billy dari dalam mobil. Dicondongkannya wajahnya saat Billy membuka lagi pintu mobil dengan badan setengah membungkuk.
"Mau sampai kapan kau akan berada di sini? Mau jadi penjaga ini mobil?!" Ketusnya dengan wajah tak bersahabat.
Milly menarik sudut bibirnya hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya. Tanpa ragu, gadis itu segera turun dan berlari kecil mengitari mobil guna mendekati Billy.
"Kita mau ngapain di sini pak?" Sambil mengamati keadaan sekitarnya, Milly pun bertanya.
"Bisa baca nggak, itu tulisan apa?" tunjuk Billy pada tulisan pada papan besar di depan bangunan itu.
"Rumah makan." Jawab Milly polos sembari membaca tulisan yang terpampang begitu besar.
"Menurutmu apa kita kemari untuk naik pesawat." Tandas Billy sengit lantas berlalu begitu saja meninggalkan Milly memasuki rumah makan itu.
Menatap Billy keheranan, Milly menggeleng tak percaya menatap punggung suaminya. "Pak kok saya ditinggalin?!" Teriaknya pada lelaki acuh itu. "Kalau bawa tas aja ditenteng kalau nggak digendong, ini kenapa yang bawa istri malah ditinggal. Digandeng ngapa Pak. Astaga ...." Milly mendesah pelan lalu melangkah malas mengikuti suaminya.
Sudah duduk satu meja saling berhadapan, namun keduanya sama-sama diam tidak tertarik untuk berbicara. Hingga hidangan yang telah Billy pesan pun tiba.
"Terima kasih." Ucap Billy pada pramuniaga rumah makan yang mengantar pesanannya.
"Sama-sama Tuan." gadis pramuniaga itu menjawab pelan dengan rona kebahagiaan.
Tanpa si gadis sadari, sepasang bola mata tengah mengamatinya keheranan saat dirinya mencuri-curi pandang lelaki dihadapannya itu dengan penuh puja.
"Mbak, kalau lama-lama lihat suami orang hati-hati matanya timbilan loh." Sindir Milly dengan seringai mengolok dibibirnya, membuat gadis pramuniaga itu gelagapan dan seketika menundukkan kepala.
"M-maaf Mbak, saya pikir Mbak bukan istrinya." Jawab pramuniaga itu terus terang. "Habisnya kaya nggak pantes gitu."
Seketika Milly menunduk mengamati penampilannya sendiri. Yang pramuniaga ini katakan memang benar. Aku memang tidak cocok menjadi istrinya. Memalukan sekali kalau sampai orang tahu aku ini istri siri lelaki sempurna ini. Batin Milly.
"Memang yang bilang saya istrinya itu siapa?" Celotehan Milly seketika membuat Billy dan pramuniaga itu membelalak. "Saya kan cuma bilang kalau nyuri-nyuri pandang suami orang itu bisa bintitan kalau istrinya nggak rela."
"Jadi mbak bukan istrinya Tuan ini? Ya ampun Mbak, baru jadi pembantunya aja sudah sewot majikannya dilihat orang."
Ya ampun, dia kata aku ini pembantunya. separah itu? Batin Milly kesal.
"Biar kata cuma pembantunya masih mending tiap hari bisa lihat senyumannya, lah dari pada embak. Boro-boro disenyumin, dilirik aja kagak." Milly mencebik bangga.
"Huh, baru jadi pembantu saja sudah bangga." Ledek gadis pramuniaga itu sebelum beranjak pergi. Sedangkan Milly, bukannya kesal karena mendapat penghinaan itu, ia malah tersenyum bangga. Milly bahkan tertawa puas manakala berhasil membuat gadis itu kesal. Ditatapnya punggung gadis itu hingga tak nampak lagi di balik pintu.
Mamun pada saat pandangannya bertemu dengan lelaki tampan di hadapannya itu, seketika Milly menutupi wajahnya dengan buku menu yang berada di meja sembari menggigit bibir bawahnya menahan malu.
__ADS_1
Namun dengan caranya bersembunyi itu, ia tak tahu jika lelaki yang duduk di hadapannya itu tengah tersenyum gemas menatapnya.