
Suasana sebuah kamar berukuran sedang memperlihatkan seorang gadis tengah duduk termenung di meja rias. Tatapannya kosong, dan wajah cantiknya terlihat muram kehilangan seri.
Milly sudah selesai merias diri. Ia terlihat sempurna malam ini. Namun sebongkah merah yang bernaung di dada tak sesempurna penampilannya. Hanya ada kehampaan sebab asa yang terlunta.
Ia tersenyum getir menatap dirinya melalui pantulan cermin. Entah untuk siapa akan ia persembahkan penampilan yang indah ini. Sang suami tiada lagi kabar berita. Kini ia tak memiliki cinta. Hingga ia memutuskan untuk memilih berkorban demi kebahagiaan orang tuanya.
Milly menghela napas dalam sebelum bangkit dari duduknya. Ia memantapkan langkah, keluar dari kamar untuk memulai memasuki dunia baru. Meski bukanlah keinginan, namun ini adalah pilihannya. Sebuah pilihan yang sesungguhnya ia benci selama ini.
Milly menghentikan langkahnya yang sudah mencapai ambang pintu. Sejenak ia berdiri di sana, menatap sedih pada ayah dan ibunya yang tengah mengemasi barang-barang ke dalam kardus besar.
Ya, dua hari lagi mereka harus angkat kaki dari rumah ini. Tentu mereka harus mengepak apapun yang masih bisa dibawa.
Menghela napas yang tersendat, Milly menyeka setitik bulir bening yang tiba-tiba meluncur bebas tanpa ia minta. Ada sesuatu kasat mata seperti meremas paru-parunya di dalam sana. Rasanya sangat sesak. Hingga terasa menghambat pernapasannya.
Berat rasanya harus pergi dan melepaskan rumah ini. Sedih, tentu sangat sedih. Bukan karena harus pindah menempati kontrakan kecil dan hidup seadanya. Ia bahkan pernah menderita lebih dari itu. Namun melihat orang tuanya harus menjalani hidup susah di usia yang menua benar-brenar merupakan siksaan yang amat perih baginya.
Ia sungguh tak rela membiarkan jerih payah sang ayah yang telah merintis dari nol harus diambil orang lain dengan paksa. Maka itu ia bertekad untuk merebutnya kembali entah dengan cara apapun juga. Meski harus merelakan diri untuk dinikahi oleh orang yang tidak ia cinta.
Milly mengambil napas dalam dan menghelanya perlahan untuk menetralkan perasaan. Ia memasang senyum agar luka di hati tak nampak di wajahnya. Memantapkan hati, gadis itupun melangkah mendekati orang tuanya yang berada di ruang tengah.
"Bu," panggilan Milly sontak mengundang sepasang paruh baya itu menoleh.
Menghentikan kegiatannya, wajah teduh penuh kasih itu tersenyum kagum mendapati putrinya begitu cantik dan anggun.
"Kau cantik sekali, Nak. Apa kau akan keluar, malam ini?" tanya Laksmi yang semula berjongkok sambil berdiri. Mereka pun saling memandang hingga berjarak hanya sejengkal.
"Ibu, Ayah, malam ini aku ada pertemuan penting. Tak apa kan, kalau malam ini aku keluar sebentar?" tanya Milly dengan wajah penuh harap. Sementara kedua tangannya meremas gagang tas tangan yang ia genggam di depan.
Laksmi tersenyum sambil membelai rambut terurai indah milik putrinya. "Tak apa, Sayang. Asal pulangnya jangan terlalu larut, ya," pesanan kemudian.
Milly mengangguk patuh. "Tentu, Bu." Ia lantas menoleh pada ayahnya untuk berpamitan. "Ayah, aku pergi, ya."
"Biar Ayah yang mengantarmu, Nak."
Milly sontak membelalak. Ia mendadak gugup. "Nggak perlu, Yah. Milly bisa sendiri. Sessa akan bersamaku nanti."
"Kau yakin?"
"Hu'um," balas Milly sambil mengangguk mantap.
Akhirnya Milly keluar rumah dengan mengendarai mobil kesayangannya. Mobil berwarna merah terang itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah keramaian jalan di pinggiran kota.
Sekitar seperempat jam Milly menempuh perjalanan hingga ia membelokkan mobil yang dimilikinya setahun lalu itu di sebuah villa yang berlokasi di dekat pantai.
Mobil itu berhenti di pelatarannya. Agak lama Milly berdiam diri di sana, hingga pada akhirnya memutuskan untuk keluar setelah benar-benar memantapkan hati.
***
Seorang pria dengan switer berwarna gelap tampak duduk di sebuah sofa dengan kaki menyilang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran di belakang, tangannya bersedekap dada, sementara matanya masih tertuju mengawasi pria seumuran yang duduk di seberangnya.
"Kau sudah terlalu banyak minum hari ini," tuturnya dengan nada mengingatkan saat pria di seberangnya kembali menuangkan minuman beralkohol pada gelas kecil lantas menenggaknya hingga habis.
__ADS_1
Pria berkulit putih itu meletakkan gelas kosong pada meja kaca dengan sedikit tekanan hingga kaca yang beradu itu menimbulkan suara. Ia tersenyum lebar menanggapi perkataan asistennya.
"Ini hanya perayaan kecil untuk pencapaianku saja. Lagi pula aku belum mabuk karenanya," ucap pria itu dengan santai. Senyumnya yang terkembang kian membuat paras tampan itu semakin terlihat menawan.
"Kau sedang bahagia rupanya, Bra. Pantas, senyummu sejak tadi tak pernah luntur."
Ibra hanya tertawa. Ia lantas menyatukan jemari dan menggunakannya sebagai bantalan kepala saat menyandarkan tubuh pada kursi santai di belakangnya. Sejenak matanya terpejam, merasakan semilirnya embusan angin laut di malam hari dari balkon lantai dua villa tempat ia bersantai saat ini.
Suara ketukan pintu kamar sejenak membuatnya terusik. Ia sontak membuka mata, dan menoleh ke arah pintu bersamaan dengan asistennya.
"Biar kubuka," ucap sang asisten seraya bangkit dari duduk.
Pintu terbuka dan menampakkan seorang penjaga yang berada di sana.
"Ada apa?" tanya asisten yang bernama Lucky itu tegas.
"Maaf, Bos. Di luar ada seorang gadis ingin bertemu dengan Bos Ibra. Dia sangat cantik," jawab pengawal dengan jaket kulit membungkus tubuh dempalnya.
Lucky menoleh ke arah Ibra dan keduanya saling menatap penuh tanya.
"Apa kau ada janji dengan seseorang?" tanya Lucky kemudian.
Tak langsung menjawab, Ibra justru tampak berpikir. Sesaat kemudian pria yang mengenakan jas semi formal itu tersenyum dengan mata berbinar senang. "Sepertinya aku tahu siapa dia," tuturnya dengan penuh keyakinan. Lantas melempar pandangan ke arah penjaga. "Bawa dia kemari."
***
Milly menaiki satu persatu anak tangga yang terbuat dari kayu itu dengan hati-hati saat seorang pria membawanya ke atas untuk menemui Ibra. Ragu tapi ia tetap melangkah, sebab ini sudah menjadi pilihannya.
Sampai di depan sebuah pintu kayu berukuran besar dengan pahatan cantik yang nampak dari luar, penjaga yang membawanya menghentikan langkah. Lantas mengetuk pintu itu dengan pelan.
"Selamat datang Nona Milly," sebut Lucky menyapa Milly. Ia kemudian menggerakkan satu tangan untuk mengisyaratkan agar Milly masuk ke dalam. "Silahkan masuk Nona, yang kau cari ada di dalam sana."
Masih berdiri di tempatnya, Milly mengarahkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia tahu betul itu adalah sebuah kamar, sebab ranjang berukuran king nampak mendominasi rumah. Sementara Ibra nampak duduk santai pada sebuah sofa yang berada tak jauh dari ranjang. Milly mengerutkan keningnya dan menatap Lucky seperti meragukan.
Senyum manis kemudian tersungging di bibir Lucky, seolah tahu kegelisahan yang Milly alami. "Tenang saja Nona, takkan terjadi apa-apa. Aku ada di antara kalian. Lagi pula kami sudah terbiasa menjadikan tempat ini sebagai saksi menjalin kerja sama.
Tak ingin berpikiran buruk, Milly berusaha percaya lantas mengangguk menyanggupinya. Wanita yang mengenakan dress merah dengan model panjang namun memperlihatkan kaki mulusnya itu kemudian melangkah perlahan memasuki ruangan.
Sebuah senyum lebar yang menunjukkan perasaan senang pun tersinggung dari bibir Ibra untuk memberikan penyambutan.
"Selamat datang, Milly ku Sayang." Ibra menepuk tempat kosong di sisinya, seolah mengisyaratkan agar Milly menempatinya.
"Terima kasih," jawab Milly sambil mengangguk sopan. "Tapi aku bisa duduk di sini saja," lanjutnya, kemudian duduk menempati sofa di seberang Ibra dengan hati-hati.
Ibra hanya tersenyum kecil sambil mengedikkan bahunya. "Tak apa. Bagiku di manapun kau duduk itu sama saja."
Keadaan ruangan itu terasa hening untuk sejenak. Ibra duduk bersilang kaki, tangannya bersedekap dada dan mengawasi Milly yang tertunduk kikuk dengan mata menyipit.
"Sampai kapan kau akan mematung seperti itu?"
Suara Ibra membuat Milly tersentak dari lamunan. Gadis itu mendadak gusar dan salah tingkah saat diperhatikan Ibra.
__ADS_1
"Ibra, maksud kedatanganku kemari,--"
"Hemm?" Ibra menggumam sambil mengangkat alisnya. Tubuhnya pun condong ke depan, seolah tengah menunggu apa yang akan Milly katakan dengan tak sabaran.
"Aku bersedia menjadi istrimu asal kau kembalikan semua aset ayahku."
"Apa aku tak salah dengan?" Ibra bertanya dengan seringai di bibirnya. Namun Milly bisa menangkap jika seringai itu terlihat merendahkan.
"Tidak. Kau tidak salah dengar." Milly menjawab penuh keyakinan.
Milly merasa tidak ada yang lucu dari perkataannya, tapi entah mengapa Ibra justru tergelak karenanya. Milly mengerjap-kerjap karena kebingungan.
"Apa ada yang salah dari ucapanku?" tanya Milly kemudian dengan nada penasaran.
"Bukan ucapanmu yang salah, Sayang. Tapi kedatanganmu lah yang tidak tepat." Ibra menyahuti dengan nada nakal yang kian membuat Milly kebingungan.
Milly beringsut, sementara matanya menatap Ibra penuh tanda tanya besar. "Apa maksudmu dengan tidak tepat? Bisakah kau menjelaskan tanpa membuatku kebingungan?" Milly diam sejenak selagi mengawasi ekspresi Ibra yang semakin terlihat aneh menurutnya. Entah Mengapa Milly mendadak merasa curiga. Jangan-janga? "Kau tidak mungkin menjual aset ayahku pada orang lain, bukan!" Akhirnya Milly menyuarakan isi hatinya dengan raut wajah gelisah.
"Tepat sekali!"
"Hah!" Milly sontak bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati Ibra dan berdiri tepat di depannya. Jemarinya terkepal kuat menahan amarah yang mendadak bergolak. "Bukankah kemarin kau bilang tidak akan menjualnya? Tapi kenapa sekarang kau lakukan! Kau tidak bisa seenaknya seperti ini! Kau tidak bisa lakukan ini!"
"Tidak bisa bagaimana? Apa kau lupa kalau semua aset ayahmu telah sah menjadi milikku? Jadi terserah aku!" Ibra diam sejenak menjeda ucapannya. Seringai meremehkan tiba-tiba tersinggung di bibirnya saat berkata, "Apa kau pikir aku tidak tau jika kau ini telah memiliki suami sebelum datang kemari? Dasar tidak tahu malu!"
Mendengar hal itu Milly sontak terkejut tak menyangka. Ia benar-benar tak mengira Ibra mengetahui hal ini di luar dugaannya.
"Tapi pernikahan kami bukan atas dasar saling cinta, Bra. Meskipun telah menikah, tapi kami tidak pernah bersinggungan!"
Ibra tergelak menatap wajah Milly yang memerah padam. Ia tahu gadis itu tengah dikuasai oleh amarah. Dan entah mengapa hal itu kian membuatnya bersemangat untuk menggoda.
"Apa kau tahu dengan harga berapa aku menjualnya?" Ibra berdiri, lalu melipat tangannya di depan dada selagi menunduk menatap Milly di depannya.
Tak menjawab dengan kata, Milly malah mempertajam sorot matanya dan rahangnya pun terlihat mengetat.
"Tiga kali lipat, Milly, tiga kali lipat," ujar Ibra sembari menunjukkan tiga jarinya. "Aku menang banyak, bukan, hahaha! Dan kau tahu kapan aku menjualnya? Sesaat sebelum kita bertemu malam itu. Hahaha!" Ibra tergelak kencang setelah berucap tanpa rasa bersalah.
"Kurang ajar! Kau jahat!" umpat Milly penuh kemarahan sambil memukuli dada Ibra dengan sekuat tenaga.
Namun seolah tak berarti untuknya, Ibra terlihat tenang saja menerima pukulan Milly. "Pukul saja aku jika itu membuatmu puas. Tapi asal kau tahu, itu tak akan pernah mengembalikan apapun."
Lelah, gadis itu menghentikan gerakannya. Ia mengusap kasar air mata yang menganak sungai di pipi. Namun matanya tetap mengarah penuh peringatan kepada lelaki tak punya hati di depannya. "Tuhan tidak tidur, Ibra. Dia tahu mana yang baik dan mana yang jahat. Setiap kejahatan pasti ada balasannya, dan kau pasti akan mendapatkan ganjaran atas kejahatanmu itu!" ancamnya dengan geram.
"Hahaha! Serukan saja jeritan hatimu itu, Milly Sayang. Kita lihat apa yang akan terjadi nanti!" Ibra mencengkeram dagu Milly dan memaksa gadis itu menatap wajahnya. "Dan kau tahu bagian terbaiknya?"
Bersambung
_____________________________________
maaf karena akhir-akhir ini aku slow up ya,
bukan tanpa alasan, tapi aku juga lagi garap karya aku yang lain juga.
__ADS_1
Jangan lupa baca juga karya aku yang judulnya Terjerat cinta sang perawat
Bagi yang nunggu kisah Amara, ceritanya aku lanjut dari awal di sana. So baca lagi dan kasih dukungannya ya, so ada sedikit perubahan dan revisi. Ingat, Like, komentar serta vote kalian begitu berarti untuk aku🤗🤗🤗💖💖