
Ibra yang sempat bernapas lega kini kembali dilanda ketakutan saat Billy kembali mendekatinya. Pria bertopi itu berjongkok di sisi tubuhnya dan menunjukkan seringai mengerikan.
Ibra beringsut mundur menyeret tubuhnya dengan susah payah. Namun tembok yang berdiri kokoh di belakangnya menyempitkan ruang gerak, hingga membuatnya tak bisa bergerak untuk menjauh. Dia mendengkus putus asa sambil mengepalkan tangannya.
Tak ada jalan untuk kabur. Tubuhnya pun sudah lemah tak berdaya. Di sisa keberanian, Ibra memaksakan diri menatap Billy dengan wajah penasaran. Entah apa latar belakang pria ini hingga berani menghajarnya habis-habisan. Namun melihat dari segi penampilan, Ibra yakin lelaki ini bukanlah orang sembarangan. Lalu bagaimana bisa lelaki ini bertemu dan menikahi Milly?
Billy tersenyum sinis sambil mencengkeram kerah kemeja Ibra dan menariknya. "Katakan, hukuman apa yang pantas kuberikan untuk bajingan sepertimu!" geramnya penuh kemarahan tepat di depan wajah Ibra.
Ibra menarik lengan Billy berusaha melepaskan diri. Meski percuma, sebab lengan kokoh itu telah menyatu sangat kuat pada kerahnya. Ibra nampak semakin ketakutan. Ia langsung melempar pandangan ke arah pintu dengan ekspresi mengenaskan. "Lucky! Hendra!" teriaknya memanggil sang asisten dan pengawal, namun tak juga mendapat jawaban.
Tawa Billy menggelegar memecah keheningan. Menertawakan tingkah bodoh lelaki di depannya yang seperti ayam kehilangan induknya. Tawa itu seketika berhenti, berubah menjadi tatapan penuh ancaman yang menakutkan. Auranya menggelap menguarkan aroma dendam.
"Panggil saja siapapun yang ingin kau panggil. Tapi jangan harap mereka bisa menolongmu dari ancamanku." Billy menghentakkan tubuh Ibra hingga membentur tembok dengan keras. Lelaki itu mengerang kesakitan saat kepalanya menghantam.
Sesaat kemudian suara derap langkah terdengar mendekat. Kemudian muncul dua sosok lemah dengan wajah babak belur serta tangan yang terikat. Keduanya tak berdaya dalam ancaman beberapa pria bertubuh kekar dengan pakaian stelan jas rapi serba hitam.
Ibra terkejut hebat mendapati dua orang kepercayaannya telah kalah telak. Harapannya untuk mendapat pertolongan kini pupus sudah. Iapun semakin terkejut saat beradu tatap dengan salah seorang di antaranya. "Kau--"
Pria yang membuat Ibra terkejut itu tersenyum penuh isyarat selagi membalas tatapan. Iya, akulah yang membeli pabrik itu. Dan asal kau tahu, aku hanyalah orang suruhan dari Tuan Billy. Jadi, di sini aku hanya sebagai perantara mengingat statusku yang hanya asistennya, batin pria muda itu dalam hati.
Sungguh Ibra tak menduga kebahagiaannya kala itu akan menjadi bencana baginya saat ini. Tak ada sedikitpun kecurigaan saat transaksi itu berjalan. Semua terjadi sewajarnya saja. Lelaki itu mau membayar mahal sebab sangat menginginkan. Sementara Ibra berpikir hanya ingin mengambil keuntungan.
Ibra sontak melempar pandangannya dan menatap Billy yang tengah menunjukkan seringai penuh kemenangan. Seketika lelaki itu tertunduk lemah dan hanya bisa pasrah menanti hukuman. Pria bertopi di depannya itu bahkan telah mengantongi bukti-bukti kecurangan dalam bisnisnya.
***
Dengan menyeret langkah, Milly berjalan menjauhi fila itu mengikuti langkah Billy di depannya. Wajah gadis itu terlihat murung sambil menunduk menatap bayangannya oleh sinar rembulan.
Seketika langkah berat Milly itu terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada membuat tangannya bergerak menangkup wajah. Rasa panas di mata tak bisa lagi ia tahan hingga lelehan cairan bening meluncur bebas dari manik hitamnya.
Billy sendiri sontak menghentikan langkah saat mendengar sesuatu yang jatuh menimpa tanah. Seketika ia berbalik badan dan langsung membelalak mendapati istrinya tengah bersimpuh di tanah pelataran dengan tangan menutup wajah.
__ADS_1
Billy mendekat dan berjongkok tepat di depan Milly. Ia masih terdiam mengamati istrinya. Meskipun tak bersuara, tapi Billy tahu jika Milly tengah menangis. Hal itu nampak dari guncangan di bahunya yang bergetar.
Namun lama kelamaan isak lirih mulai terdengar hingga membuat Billy merasa penasaran. Seketika ia memegang dua pergelangan Milly dan memaksa gadis itu menunjukkan wajahnya.
"Kenapa kau menangis?"
Milly menatap wajah Billy yang bertanya penuh keseriusan. Untuk sejenak keduanya saling memandang dalam diam dan senyap, sebelum kemudian Milly kembali tergugu dan berurai air mata. Gadis itu tertunduk dalam berusaha menyembunyikan wajah.
Jemari lentik itu bergerak mengusap matanya yang basah. Ia menghela napas dalam sebelum kemudian mengangkat wajah dan kembali mengarahkan pandangan pada Billy yang masih menatapnya penasaran, Milly lantas berucap, "Aku tidak mau pulang."
***
Billy terus mengendarai mobil Milly dengan kecepatan sedang sambil sesekali menoleh ke arah kirinya--di mana Milly duduk di sana--dengan penuh kecemasan.
Gadis itu masih terdiam dengan wajah mengarah pada kaca mobil yang menembus pemandangan luar. Suara desahan sisa tangis samar-samar masih sesekali terdengar.
Billy hanya diam dan menuruti keinginan istrinya. Ia berusaha menahan diri untuk tidak bertanya atau banyak bicara. Pria itu ingin melihat bagaimana istrinya meluapkan perasaan yang selama ini menyesakkan dada.
Hawa dingin langsung terasa tatkala embusan angin malam menerpa tubuh keduanya. Billy melangkah perlahan sembari mengawasi Milly yang berjalan di depannya dengan penuh antisipasi. Jangan sampai gadis itu memiliki niat buruk dengan melemparkan diri dari atap karena memiliki niatan untuk mati.
Hal ini membuat Billy kembali teringat pada peristiwa pertama pertemuan mereka. Di mana saat itu Milly tengah begitu putus asa hingga berpikir mati adalah jalan satu-satunya.
Dan bisa jadi malam ini gadis itu menginginkannya lagi, mengingat peristiwa buruk yang belakangan ini ia alami. Namun jangan harap itu akan terjadi, sebab Billy akan mencegah itu semua bagaimanapun caranya.
Milly melangkah dengan tatapan kosong. Meski seri di wajahnya memudar akibat kesedihan yang dalam, tapi tak melunturkan kecantikan alami dari paras yang ia miliki.
Suara hentakan heels tinggi yang ia kenakan mewarnai kesunyian malam itu. Gaun malam cantik yang menempel begitu pas di badan, menyibak indah di bagian belahan saat kaki mulusnya melangkah perlahan. Sementara rambutnya yang tergerai bebas tampak melambai-lambai oleh terpaan angin seperti menyisir di setiap helaiannya.
Billy terpana pada sosok istri mungil yang malam ini tiba-tiba menjelma menjadi wanita cantik nan elegan, begitu dewasa dan sangat mempesona. Pria itu bahkan tak berkedip menatap istrinya dengan penuh kekaguman.
Ada debaran asa yang kian menggema dan membuncah di dada. Rasa itu bukan baru saja ada. Melainkan sudah tumbuh subur sejak lama. Billy menyadari dirinya memang pecundang yang tak mau menyatakan perasaan.
__ADS_1
Bukan tak berani, tapi dia membutuhkan momen tepat untuk menyatakan perasaan yang ada di hati. Jangankan untuk cinta. Untuk hal sepele saja ia perlu mempertimbangkan dengan matang.
Setiap lelaki selalu ingin terlihat hebat di mata wanitanya. Begitu juga dengan Billy malam ini. Hingga ia rela memburu waktu agar tiba di saat yang tepat untuk menolong istrinya. Ia ingin menjadi pahlawan untuk Milly. Padahal jika ditilik, ada begitu banyak pengawal yang belakangan ini menguntit setiap gerak-gerik sang istri yang setiap saat menunggu perintah hanya untuk bergerak sigap melindungi.
Langkah Milly berhenti. Billy pun mengambil tempat di sisi sang istri untuk mensejajari. Dengan jemari yang menelusup pada saku celana, Billy masih mengamati istrinya dengan seksama.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Pada akhirnya Billy memutuskan untuk bertanya setelah keduanya terdiam cukup lama.
Gelengan kepala menjadi jawaban atas pertanyaan. Milly masih enggan untuk berbicara dan Billy menghargainya. Gadis itu menghela napas dalam sebelum kemudian memejamkan mata dengan kepala yang menengadah.
Masih terpesona, Billy hampir saja terlonjak saat Milly mendadak berteriak sangat kencang. Namun pada akhirnya Billy tahu jika Milly tengah meluapkan rasa sesak di dadanya.
Entah berapa kali teriakan Milly terdengar menggema di udara sebelum kemudian gadis itu terdiam dengan napas terengah-engah. Isak kecil kembali terdengar hingga pada akhirnya tubuh mungil itu terduduk lesu dan menyuarakan tangisnya dengan sedu sedan.
Tangis itu terdengar begitu memilukan hingga membuat Billy refleks berlutut tepat dihadapan Milly.
"Aku sudah gagal. Aku sudah gagal." Milly merapalkan kalimat itu berulang-ulang dalam tangisnya. Ia terlihat sangat frustasi dengan masalah yang saat ini tengah ia hadapi.
Yang ia tahu harapannya telah sirna. Ibra telah menjual pabrik serta rumah orang tuanya pada orang lain. Itu artinya ia dan keluarga telah kehilangan segalanya. Bukan hanya tempat usaha dan tempat berlindung, tapi juga seluruh kenangan manis yang pernah ada. Serta jerih payah kedua orang tuanya.
Milly hanya bisa meratapi semuanya dengan tangisan. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ia tak menyangka sebelumnya akan pilang dengan tangan hampa, padahal saat berangkat tadi semangatnya begitu membara.
Billy menatap istrinya yang tengah menangkup wajah dengan mata berkaca-kaca. Sedikitpun ia tak rela istrinya mengalami luka, namun kini wanita itu justru bersimbah air mata.
Entah mengapa ia bisa merasakan luka hati yang istrinya tengah alami saat ini. Mungkin bahkan lebih sakit. Andai saja Milly tahu, ia bersedia menyerahkan nyawa hanya untuk melihatnya bahagia.
Tak tahan melihat tangisan istrinya, Billy bergerak cepat merengkuh tubuh Milly dan membawanya ke dalam dekapan.
Milly pun hanya bisa pasrah tanpa perlawanan. Sejenak ia terpaku penuh keterkejutan menyadari tubuhnya merasakan kehangatan yang selama ini telah ia dambakan. Sungguh, ia bahkan tak pernah merasa sebagai ini sebelumnya.
Entah disadari atau tidak oleh Billy, pelukan itu benar-benar memberikan kenyamanan bagi Milly. Dan kini keduanya semakin mengeratkan pelukan penuh haru pengobat rindu setelah sekian hari tak bertemu.
__ADS_1
Bersambung.