
"Huuuuu...!" Tangis Mayang pecah seketika.
Brian yang terkejut segera mendekat dan menekuk satu lututnya tepat di hadapan Mayang."Sayang kenapa?"Tanya nya khawatir.
"Sejak kapan kau disana?!" Mayang bertanya sembari menangis sesenggukan.
"Sejak tadi.Aku ketiduran di bathtub sayang."
"Bohong! Kau pasti sudah melihat semuanya kan?!"
"Apa yang kulihat?" Brian bertanya bingung. "Memang ada apa sayang?"
"Aku tadi mandi... huuu..."
"Benarkah?"
"Kau pasti sudah melihatnya kan?!"
"Melihat apa?!"
"Melihat semua nya dariku!"
"Aku benar-benar tertidur tadi! Aku bahkan menyesal telah tertidur jika tahu kau juga mandi tadi!"
"Aaaa kau bohong!" Jerit Mayang sembari memukul dada Brian berkali-kali.
Brian menangkap tangan Mayang lalu menggenggam nya erat. "Sayang kenapa kau seperti ini?"
"Aku malu...!" Mayang menangis tersedu.
"Kau malu padaku? Sayang aku ini suami mu,untuk apa kau malu?"
"Jadi benar kau sudah melihatnya semua kan?!" Jerit Mayang frustasi.
"Sayang diam!!" Bentak Brian dengan suara keras dan tatapan nya pun terlihat tajam.Mayang yang terkejut sekaligus takut pun terdiam seketika.Tangisnya tertahan dan tercekat di tenggorokan. "Berhenti menangis atau ku cabik-cabik tubuh mu sekarang! Aku benci melihat mu menangis."Ucapan Brian terdengar sinis denga nada penuh ancaman.
Brian melepas kan tangan Mayang yang ia genggam dengan kasar lalu bangkit dan melangkah menuju ruang pakaian dan menutup pintu nya setengah membanting.
Tubuh Mayang berjingkat karena terkejut.Ia terlalu larut dalam rasa malu nya sehingga lupa memikirkan perasaan suami nya.
"Begitu aku keluar kau sudah harus siap!" Teriakan Brian dari dalam kembali menyentak kan Mayang.Gadis itu segera merangkak untung meraih anting yang sempat terjatuh.Memungutnya kemudian mengenakan nya.
Mayang lantas duduk di kursi meja rias nya.Meraih tisu dan menggunakan nya untuk menyapu wajah nya yang basah oleh air mata.Menyapu kan kembali kuas make-up nya yang sempat luntur pada wajah nya.Ia menatap wajah murung nya melalui pantulan cermin.
Terdengar syara pintu terbuka dan tampak Brian keluar dari ruang pakaian sudah dalam keadaan rapi dan tampan seperti biasa.Mayang tertunduk saat melihat sekelebat bayangan Brian dari pantulan cermin tengah menatap ke arah nya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Brian dengan suara dingin.
Mayang hanya mengangguk pelan.Ia lantas bangkit dari duduk nya dan menggerakkan tangan nya untuk meraih tas yang berada di nakas.Tanpa menoleh pada Brian ia berlalu mendahului suaminya keluar dari kamar.
__ADS_1
Brian hanya berdecak bingung melihat tingkah aneh istrinya itu tanpa berniat untuk bertanya lagi.Kemudian ia pun melangkahkan kakinya untuk menyusul sang istri yang telah lebih dulu keluar.
Selama perjalanan menuju ke kediaman orang tua Brian pun mereka hanya diam tanpa bicara.Brian fokus pada menyetir nya sambil sesekali melirik Mayang yang sejak masuk mobil tadi selalu memalingkan wajah nya menatap ke arah luar.
Sampai di rumah mertua nya,sambutan hangat dan hiruk pikuk ramainya pesta kecil yang di adakan keluarga Brian untuk menyambut menantu kesayangan keluarga Malik pun tak lantas membuat Mayang merasa nyaman dan melupakan kegelisahan hati nya.Ia lebih banyak diam dan melamun.
Bahkan saat acara makan bersama berlangsung,Mayang sendiri tak bisa menikmati hidangan yang tersaji di piring makan nya dengan baik.Ia hanya memasukkan beberapa suapan saja ke dalam mulutnya.
Mayang lebih banyak minum,hingga perutnya terasa kembung.Bagaimana tidak kembung karena setiap Brian menatapnya ia selalu mengalihkan pandangan nya dengan meneguk air putih dari gelasnya.Dan Brian kembali menambahkan nya setiap kali isi di gelas itu habis.
Setelah acara makan selesai,seluruh keluarga pun berkumpul di ruang keluarga.Ruangan itu sangat luas dengan beberapa set sofa disana dan di tata sedemikian cantik hingga menimbulkan rasa nyaman saat berada di sana.Namun Mayang sama sekali tak bisa merasakan kenyamanan itu.
Terlebih lagi dengan duduk di samping lelaki yang tengah dengan santai duduk bersandar pada punggung sofa.Dan sejak tadi lelaki ini tak henti memainkan rambut panjang milik nya.Sambil sesekali menarik rambut itu agar Mayang menoleh padanya.
Ku mohon hentikan tuan...!
"Mayang apa kau sakit?" Ratih yang merasa sikap menantunya agak aneh pun bertanya.Merasa sedikit curiga karena sikap Mayang berbeda dari biasanya.Meski pemalu,tapi Mayang selau tersenyum pada orang di sekitarnya.Tapi hari ini ia jadi pendiam dan tampak murung.
"Tidak bu,aku baik-baik saja." Mayang memaksakan senyumnya.
"Tapi kau terlihat pucat." Ratih menatap Mayang seperti menyelidik.
"Ibu," Brian menyela. "Mungkin istriku hanya kelelahan saja.Dia kan pengantin baru..." Gurau Brian sembari mendekap tubuh Mayang dan mencium mesra pipi istrinya.
Semua yang ada di sana pun tertawa karena setiap orang dewasa pasti tau maksud Brian.
"Tidak lah seksi...,aku selalu lembut padanya. Iya kan sayang," Melirik pada Mayang sembari mengeratkan pelukan nya pada tubuh kaku istrinya dan lagi-lagi mengecup pipi istrinya mesra.
"Iya sayang." Mayang menjawab dengan senyum terpaksa.
"Bagaimana rasanya setelah menikah Bray?"Goda Rendy pula.Dan sepertinya pertanyaan Rebdy mewakili semua orang yang ada di sini.
"Menyesal." Jawab Brian singkat membuat semua orang tercengang,tak terkecuali Mayang.Bahkan dia sampai melotot ke arah Brian yang masih mendekap tubuhnya. "Aku menyesal kenapa tidak dari dulu saja aku menikahi nya." Lanjut Brian lagi membuat tawa semua orang pecah saat itu.Dan Mayang hanya bisa tertunduk malu untuk menyembunyikan wajah merah tomat nya.
Kejadian di kamar mandi itu benar-benar membuat Mayang jadi gelisah sepanjang waktu.Padahal kejadian itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu.Rasa takut dan malu bercampur aduk jadi satu.Rasa malu yang teramat sangat.
Mayang tak pernah se malu ini seumur hidup nya.Seolah seluruh dunia kini tengah menyoraki nya.
Hari mulai gelap karena berganti malam.Mayang tengah mondar-mandir di kamarnya karena rasa gelisah yang masih terus menyiksanya.
Jantung Mayang serasa berpacu dua kali lipat saat suara langkah kaki terdengar mendekat.Ia sudah bisa memperkirakan siapa yang datang maka dari itu ia segera melompat ke atas ranjang dan melindungi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal.
Mayang menghitung langkah kaki Brian diam-diam untuk memperkirakan tempatnya berpijak kini.Namun kini tak terdengar lagi suara langkah itu.
Apa dia sudah melepas sepatunya?Berarti dia sedang duduk di sofa sekarang.
Mayang sedikit bernafas lega sekarang.Setidaknya suaminya tidak berada di dekatnya saat ini.Namun tubuh Mayang terlonjak seketika saat merasakan ada pergerakan di ranjang tempat nya berbaring saat ini.
Mayang bisa merasakan tubuh nya yang bergetar hebat dengan peluh keringat yang mulai bercucuran.Ia merasa seperti maling yang ketahuan dan sedang dalam pengawasan pemilik nya.
__ADS_1
"Sayang,kau sudah tidur?" Brian yang duduk di samping kaki Mayang bertanya pelan.Ia berusaha berbicara normal agar istrinya tak tau kalau dirinya kini tengah berusaha sekuat tenaga menahan tawa.
Tak ada jawaban yang terdengar.Dan suasana masih hening.Hanya guncangan di bawah selimut itu yang makin bergetar hebat saat Brian menyentuh selimut itu.
Hey kenapa kau bergetar begitu?! Hanya selimut yang membungkus mu yang ku sentuh,bukan dirimu! Kenapa kau jadi paranoid begini terhadap suami mu sendiri?!
Brian nekad membuka selimut yang menutup kaki Mayang,dan ia terpingkal seketika.Bagaimana mungkin orang tidur masih menggunakan alas kaki.
"Sayang apa kau nyaman tidur dengan alas kaki ini?"Goda Brian sembari menahan tawa.
Astaga bodoh sekali aku.Kenapa aku sampai lupa melepas alas kaki ku?! Ketahuan kan jadi nya.
"Sayang bangun lah." Desak Brian. "Aku tahu kau belum tidur."
Mayang tak bisa berpura-pura lagi kalau sudah begini.Pelan-pelan ia menarik selimut yang menutup kepalanya dan tersenyum kecut saat pandangan nya beradu dengan Brian yang tengah menatap nya juga.
"Astaga rambut mu berantakan.Kau berkeringat.Ada apa dengan mu sayang...?"Tanya Brian khawatir sembari mendekatkan tubuhnya dan menggerakkan tangan nya ingin menyentuh Rambut istrinya.
Namun Mayang buru-buru menepisnya keras. "Aku tak apa jangan sentuh aku!" Jerit nya kemudian.
"Sayang kenapa kau jadi paranoid begini!" Teriak Brian frustasi. "Bangun! Kita harus bicara kalau kau tidak ingin aku gila!"
Brian menyodorkan secangkir teh hangat pada istrinya yang kini tengah duduk di sofa.Dengan tangan sedikit gemetar Mayang pun menerima cangkir itu dengan kedua tangan nya dan langsung menyeruput nya.
Brian duduk agak jauh dari istrinya.Sengaja.Agar sang istri tak lari terbirit-birit karena ia mendekati nya.Brian berusaha agar istrinya selalu merasa nyaman.Ia kemudian menyeruput cangkir kopi milik nya.
"Sudah merasa tenang sekarang?" Tanya Brian memulai pembicaraan.
Mayang hanya mengangguk pelan dengan tatapan yang masih menyiratkan rasa takut.
"Apa yang kau pikirkan tentang aku?" Brian menegakkan kepalanya.Bertanya sungguh-sungguh pada Mayang. "Apa aku terlihat seperti predator wanita?! Pengintip?! Penguntit?! Apa aku pernah memaksa mu menuruti kehendak ku?!" Brian bertanya dengan nada penuh kemarahan.Meluapkan segala emosi dan kekesalan nya yang telah beberapa hari ini tak merasakan sentuhan kasih sayang dari sang istri.
Mayang hanya menggeleng menyesal.Kata-kata yang Brian ucapkan benar-benar seperti menampar nya.Bagaimana bisa ia berpikir se dangkal ini terhadap suami yang selalu memperlakukan nya dengan penuh kelembutan.
Lagipula belum tentu juga Brian telah melihatnya kan.Bisa saja dia benar-benar tertidur di sana.Lagipula untuk apa dirinya sok-sok an mandi sembari bersenandung ria sampai terlupa keadaan sekitar nya.Benar-benar seperti orang gila.
Lalu seperti apa pandangan lelaki ini terhadapnya sekarang?Jika benar-benar Brian telah melihatnya seharusnya dia akan ilfil kan??Mana ada laki-laki waras dan sempurna yang mau dengan wanita gila sepertinya.Tapi kenyataan nya lelaki ini masih juga mengharapkan nya.
Mayang merasa kepalanya semakin pusing dan ingin segera tidur.."Sayang aku mengantuk." Suara Mayang terdengar lemah namun tenang.
Brian yang tadinya tegang akibat kemarahan nya tiba-tiba melunak oleh suara Mayang yang terdengar seperti merengek manja.
"Tidur lah sayang,mau ku bantu ke tempat tidur?" Ucap Brian siaga.Mayang hanya mengangguk membuat Brian bangkit dari duduk nya dan membungkuk untuk merengkuh tubuh mayang kedalam gendongan nya.
Brian membawa tubuh Matang yang sudah dalam gendongan nya menuju ke ranjang dan merebahkan tubuh istrinya itu dengan hati-hati.Menarik selimut dan menutup tubuh istrinya hingga ke atas dada.Membelai lembut puncak kepala dan mengecup kening istrinya agak lama.
Setelahnya ia hanya duduk di tepi ranjang menjaga istrinya hingga Mayang tertidur dengan nafas yang berhembus pelan dan teratur.
Bersambung
__ADS_1