Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Sayang lihat aku!


__ADS_3

Seolah tak ingin membuang waktu, Bianca yang juga tersungkur oleh serangan balasan Mayang bergegas bangkit dan berniat melarikan diri. Namun belum sempat gadis itu melangkah, ternyata kaki jenjang Mayang sudah lebih dulu berhasil menjangkaunya hingga gadis itu lagi-lagi terbanting dengan keras di lantai yang terbuat dari marmer.


Mayang yang sudah semakin geram pun segera bangkit dan menindih serta menekan tubuh Bianca semakin kuat. "Kau sudah berani mengelabuiku rupanya. Apa kau benar-benar ingin kehilangan kedua tanganmu! Atau kalau perlu dua bola matamu yang indah ini hah!" Mayang berteriak kesal sembari menudingkan ujung pisau yang tajam tepat di depan mata Bianca.


Gadis itu membulatkan bola matanya sempurna sembari menatap ngeri pada ujung pisau yang tajam itu. Sekelebat bayangan mengerika terlintas di kepalanya andai Mayang benar-benar melukainya. Sontak saja hal itu membuatnya sangat ketakutan hingga membuat tubuhnya yang dibawah tekanan Mayang itu bergetar hebat.


"Tidak! Kumohon jangan jangan lukai tubuhku. Aku masih ingin hidup dengan normal tanpa cacat. Aku akan mengantarmu keluar dari sini. Aku berjanji padamu. Tolong jauhkan pisau itu dari ku, ku mohon ...!" Pekik Bianca dengan tangis yang mengiba.


"Sekarang cepat bangun!" Tanpa belas kasih Mayang menarik lengan gadis itu untuk membantunya beranjak.


Namun pada saat keduanya telah berdiri dan hendak melangkah keluar, terdengar suara derap langkah yang semakin mendekat. Kim dan Joy serempak membelalakkan mata terkejut saat mendapati temannya tampak tak berdaya dibawah ancaman tawanannya.


Menelan slavinanya susah payah, keduanya tak menyangka jika gadis lemah yang mereka remehkan justru berhasil menguasai Bianca yang garang dan sudah terbiasa dengan dunia mafia yang begitu kejam. Wajah polos Mayang yang lemah lembut benar-benar berhasil mengelabuhi cara pandang mereka.


"Biarkan aku pergi jika kalian ingin Bianca selamat!" Gertak Mayang sambil menarik tubuh Bianca dan menjadikan gadis itu sebagai perisai pelindungnya. Ia menarik tubuh gadis itu mundur semakin menjauhi dua wanita yang hanya bisa menyaksikan temannya terperangkap tanpa bisa berbuat apa-apa.


Sadar jika tiga gadis itu saling memberi isyarat untuk melakukan perlawanan, Mayang kembali menekan Bianca dengan ancamannya. "Suruh temanmu membuang senjatanya jika kau masih ingin hidup. Cepat!"


Tak bergeming, Bianca yang masih berharap Kim dan Joy bisa menyelamatkannya tak mau memberi instruksi pada kedua temannya yang sudah menodongkan pistol mereka ke arah Mayang.


"Kau pikir aku main-main dengan ucapan ku hah!!" Hilang kesabaran, Mayang pun membuktikan keseriusannya dengan menggores leher Bianca dengan pisau hingga noda merah pekat menetes dari sana.


"Hentikan kumohon!" Pekik Bianca berteriak memohon agar Mayang tak meneruskan tindakannya. Rasa perih dari luka itu tak sebanding dengan ketakutan Bianca menghadapi ancaman Mayang yang rupanya tidak main-main. "Lempar senjata kalian! Cepat!" Perintah Bianca dengan derai air mata di pipinya.


"Tapi Bi," tolak Kim yang ragu dengan keputusan impulsif yang Bianca buat.

__ADS_1


"Plis biarkan dia keluar, gue nggak mau mati!" Pekik Bianca dengan suara keputusan asaannya.


"Tapi dengan melepaskannya kita juga akan mati di tangan bos!" Joy pula menimpali.


"Bos tidak akan sekejam itu!" Sahut Bianca meyakinkan.


Sungguh ini sebuah pilihan yang sangat sulit. Bagai mendapatkan buah simalakama. Melukai Mayang, nyawa mereka akan terancam. Namun melepaskan Mayang pun nyawa mereka jadi taruhan. Dan mereka tak punya pilihan lain saat melihat ternyata Mayang pun sudah menodongkan pistol ke arah mereka. Sehingga dengan terpaksa keduanya melempar senjata itu jauh dari jangkauan keduanya.


Mayang yang merasa aman segera menyeret tubuh Bianca kearah lift yang tak jauh dari mereka. Setelah memikirkan resiko yang akan mempersulit dirinya dengan membawa seorang sandra membuat Mayang harus bisa kabur dengan upayanya sendiri tanpa perlu mengancam Bianca lagi.


Sehingga saat pintu lift terbuka, Mayang menyeret gadis itu untuk ikut masuk, namun ia menendangnya keluar dengan keras saat pintu lift hampir tertutup. Dan sesuai dengan yang dia inginkan, pintu pun tertutup rapat saat Bianca sudah tersungkur keluar.


Tangan Mayang yang gemetar segera menekan tombol dan turun ke lantai dasar. Harap-harap cemas, perjalanan yang biasanya begitu cepat kini terasa begitu lambat. Hingga akhirnya denting lift pun berbunyi.


Mayang dengan sikap penuh waspada mengawasi area sekitar sebelum ia memutuskan untuk keluar saat dirasa tempat itu aman. Namun sebelumnya ia kembali menekan tombol lift untuk naik ke atas guna memperdayai tiga wanita yang sudah ia perkirakan akan mengejarnya. Dan gadis itu segera melompat keluar sebelum pintu lift benar-benar tertutup rapat.


Memekik kesakitan, Mayang menelusupkan tubuhnya dan berlindung di samping pot tanaman hias di lorong yang sunyi senyap itu. Berusaha menyembunyikan diri, ia mendekap kakinya dan membenamkan wajah di antara dada dan lututnya.


Sakit tak terperi berpadu dengan rasa takut yang teramat tanpa sadar membuat air matanya jatuh bercucuran. Suara derap kaki yang lamat-lamat terdengar mendekat membuat keputus asaan pun merambat dan menderanya.


Pasrah, hanya itu yang bisa ia lakukan andai saja hidupnya akan berakhir di tangan mavia itu. Berserah pada tuhan dan mencoba berusaha hingga titik penghabisan, Mayang kembali meraih pistol yang tergeletak di lantai.


Tangannya yang gemetar dan lemah tanpa daya kembali berusaha menggenggam erat senjata itu dan siap menarik pelatuk untuk menembak siapa saja yang berusaha mengganggunya.


Jantungnya berdetak semakin kencang seiring dengan derap langkah yang semakin dekat. Keringat dingin pun mulai bercucuran. Mayang menelan slavinanya dengan susah payah saat indera pendenganya menangkap suara begitu banyak derap langkah. Ia bisa memperkirakan bukan hanya seorang saja yang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Tangan kiri Mayang bergerak membungkam mulutnya agar isak tangis tak terdengar oleh mereka. Sementara tangan kanannya yang gemetar semakin erat menggenggam pistol.


Menarik nafas dalam-dalam Mayang berusaha menguatkan dirinya untuk menarik pelatuk saat sesosok manusia tampak muncul dihadapannya.


Namun tangannya yang bergetar seolah tak memiliki kekuatan untuk melakukannya saat sosok tubuh yang tampak menjulang tinggi dengan mantel longcoat yang melapisi stelan jas nya itu tanpa aba-aba merebut pistol dari tangan Mayang lantas bersimpuh dan mendekap tubuh gadis yang tengah shock itu dengan erat.


Mayang bergeming saat orang asing itu dengan seenaknya menyentuh tubuhnya. Ia meronta sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dan mengabaikan rasa sakitnya.


"Lepaskan aku! Pergi kau penjahat!" Pekiknya dengan air mata yang berderai sembari mendorong tubuh kekar itu walaupun sia-sia. Tenaganya sungguh tak sebanding dengan lelaki dengan aroma parfum oriental tersebut hingga membuatnya harus menyerah kalah.


Mayang berusaha membuang muka untuk menghindari bersitatap pada lelaki yang kini tengah menangkup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ia benar-benar tak mau tahu dengan lelaki jahat di depannya ini.


"Sayang lihat aku. Tatap aku." Kata lelaki itu dengan nada memohon. Suaranya tersengar parau seperti sedang menahan rasa sesak di dadanya.


"Tidak mau! Pergi kau dari sini, lepaskan aku!" Dengan nada jengkel dan keras kepala, Mayang tetap bersikeras tak mau menatapnya.


"Sayang, ku mohon lihat aku. Aku suamimu ...!" Setengah frustasi, lelaki itu lantas mencium bibir Mayang seperti yang selalu ia la lakukan. Agak lama, mengabaikan orang-orang yang berdiri dengan tegap di belakangnya. Ia meluapkan rasa rindunya dalam pertautan itu.


Dan entah mengapa, seperti tersihir, Mayang hanya terdiam dan pasrah saat lelaki itu menikmati bibirnya. Tatapan lelaki itu tampak berkaca-kaca saat kedua netra saling menyapa. "Sayang ,,, ini aku." Lelaki itu mengusap pipi Mayang yang basah oleh air mata dengan lembut.


Seperti terbangun dari mimpi buruk, tangis Mayang pecah saat menyadari ternyata sang suami lah yang kini berada dihadapannya. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan Brian. Menumpahkan rasa takut, sedih, sakit dan pilu yang bercampur aduk menjadi satu.


"Maaf karena aku terlambat menyelamatkanmu Sayang," ucap Brian dengan nada penuh penyesalan. Ia mengecupi seluruh bagian wajah sang istri dengan penuh cinta. Tangannya lantas bergerak melepaskan mantel yang melekat di tubuhnya dan memakaikannya pada tubuh sang istri yang terasa sangat dingin saat ia sentuh.


"Kita pulang Sayang," ajak Brian sembari merengkuh tubuh sang istri kedalam pelukannya. Tak terdengar jawaban dari bibir mungil Mayang. hanya terdengar isak kecil dar bibir wanita yang wajahnya tampak tersembunyi di dada bidang sang suami yang tengah menggendongnya dengan ringan seolah tanpa beban.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2