
"Bapak di sini juga?" Milly tiba-tiba kikuk saat melihat Billy tengah berdiri tegap di hadapannya. Ia benar-benar tak menyangka jika suaminya akan mendatanginya di tempat itu.
"Memangnya kenapa kalau saya ada di sini? Bukannya tadi kamu keliling-keliling buat nyariin saya?" tegas Billy dengan nada mengingatkan.
Perkataan Billy itu sontak saja membuat Milly yang semula menunduk pun mengangkat pandangan nya, lalu menyunggingkan senyum kecut kepada suaminya. "Kok Bapak tau."
Security yang memerhatikan tingkah keduanya pun tak bisa menahan diri untuk bertanya. "Tuan Billy kenal dengan gadis ini?" tanyanya kemudian dengan nada penasaran.
"Tentu saja." Jawab Billy sambil menipiskan bibir dan tersenyum. Jemarinya yang semula terselip di saku celana bahannya pun keluar dan Bergerak meraih pergelangan tangan Milly dengan lembut. Membuat gadis berambut panjang itu sontak menatapnya dengan bola mata yang membulat, terkejut sekaligus tak menyangka. "Perkenalkan, dia adalah istri saya." dengan sikap percaya diri, Billy memperkenalkan Milly pada lelaki penjaga keamanan itu.
Sikap mengejutkan Billy itu tak ayal membuat Milly ternganga. Begitu pula dengan security itu. Pria yang semula memandang Milly dengan sebelah mata itu tentu saja merasa terkejut dan tak menyangka. Malu sekaligus menyesal. Lantas dengan gerakan spontan ia membungkuk sopan dan meminta maaf berulang-ulang. "Maaf Nyonya, mohon maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Nyonya adalah istri dari Tuan Billy." ucapnya penuh sesal.
"Nggak apa-apa kok Pak, Bapak nggak perlu min--"
"Sebagai seorang penjaga keamanan seharusnya kau bisa membantu dan mengayomi masyarakat yang membutuhkan pertolongan! Bukannya malah menyudutkan." Sahut Billy dengan nada kemarahan sebelum Milly sempat menyelesaikan ucapannya.
"Maafkan saya Tuan, ampuni saya. Saya menyesal. Saya tidak sengaja melakukannya." Tanpa pikir panjang lagi, pria paruh baya itu menekuk lutut dan bersimpuh di lantai seolah sedang memohon sebuah pengampunan.
"Kau tentu tahu apa hukumnya bagi orang yang tidak menjalankan tugas dan amanah dengan benar." perkataan Billy memang terdengar datar dan penuh ketenangan, namun rahangnya yang mengeras dan tatapan matanya yang menyalang tajam, tentu saja lelaki ini tengah menebarkan ancaman yang begitu ditakuti oleh para karyawan.
"Tidak Tuan, ampuni saya." pria paruh baya itu berhambur merangkul kaki Billy. Bahkan tetes air mata meluap dari pelupuk matanya yang mulai menua. "Saya mohon jangan pecat saya." mendongak, ia pun berucap memelas dan mengiba, berharap tangan kanan pemilik mall itu mau mengampuni kesalahannya.
Milly yang sejak tadi hanya diam dan terperangah saat mengamati pemandangan menyedihkan yang tersaji di depan mata pun tak bisa menahan diri lebih lama. Ditatapnya sang suami dengan wajah seolah tak percaya. "Bapak apa-apaan sih?! Kenapa marah-marah dan mengancam dia?!"
"Karena dia jelas-jelas telah bersalah." tegas Billy penuh penekanan, dengan jari telunjuk yang secara langsung menuding pria sedang bersimpuh di kakinya.
"Salah apa?! Katakan dia salah apa?!" mengetatkan rahang, Milly menatap Billy seolah sedang menantang. Matanya bahkan tak berkedip saat beradu tatap dengan suaminya.
__ADS_1
"Karena dia telah meremehkan is--" Billy menggantung ucapnya.
"Apa! Kenapa berhenti?! Kenapa tidak diteruskan?!" Cecar Milly penuh kemarahan. "Dasar tidak punya hati nurani. Tidak punya belas kasihan!" Umpatnya dengan geram, sebelum kemudian berlutut dan mensejajarkan posisinya dengan pria sedang bersimpuh itu. "Bangun Pak, tidak sepentasnya Bapak memohon kepada orang seperti dia." ucapnya sambil membantu lelaki itu berdiri. "Dia hanyalah manusia, dia bukan tuhan." Milly mendesis dan menatap suaminya penuh peringatan.
Mencekal pergelangan Milly dan menariknya dengan kasar hingga tubuh gadis itu merapat kepadanya, Billy seolah ingin menunjukkan jika perkataan sang istri itu tak berarti apa-apa. "Berhenti bersikap seolah-olah kau ini seorang pahlawan." dengan tatapan lekat menyirobok manik bening milik sang istri, Billy Mendesis dengan nada memperingatkan.
"Saya tidak pernah merasa saya ini seorang pahlawan. Tapi saya hanya mau meluruskan kalau ini hanya salah faham. Dia nggak tau apa-apa! Kenapa Bapak malah marah-marah tidak jelas?!"
Sial! Kenapa kau malah mengatakan aku marah-marah tidak jelas! Harusnya kau tahu aku melakukan ini untuk siapa. Untukmu! Agar orang lain tidak semena-mena terhadapmu. Tapi nyatanya apa. Kau malah menuduhku yang bukan-bukan. Billy mengumpat dalam hati, hingga tanpa sadar ia semakin mengeratkan genggamannya.
"Pak, lepaskan," Milly menggeram sambil berusaha melepaskan tangannya yang terasa nyeri. Cekalan tangan Billy begitu kuat tepat pada jam tangan yang melingkar pada pergelangan, hingga membuatnya merasa tersiksa. "Pak ,,, sakit," gadis bersurai hitam itu melenguh pelan, menatap melas manik suaminya seolah tengah memohon.
Billy yang tengah laut dalam pikirannya pun seolah tersadar. Ia lalu mengerjapkan mata. "Maaf." ucapnya singkat seraya melepaskan cekalan tangannya. Milly yang terbebas pun terlihat kesal dan segera mengusap tangan kirinya yang kemerahan.
Terdiam, Billy rupanya memperhatikan tangan Milly yang tampaknya kesakitan akibat ulahnya. "Apa itu sakit?" Tanyanya kemudian dengan nada cemas, sementara Milly yang enggan berbicara hanya menawab gelengan kepala. "Ayo kita pulang," putusnya kemudian bahkan sebelum sempat Milly memberikan persetujuan. Lagi-lagi Billy meraih jemari istrinya, namun kali ini ia menggenggamnya dengan lembut namun disertai dengan sedikit tarikan.
"Apa lagi?" Tanya Billy dengan wajah penasaran.
"Bapak mau ajak aku kemana?"
Billy mendesah kasar. "Sudah kukatakan pulang, kan?!"
Milly memandang pria paruh baya yang masih tertunduk kaku di depannya itu sejenak, lantas kembali menatap Billy yang masih menggenggam jemarinya dengan penuh harap. "Pak, anda sudah melukai perasaannya, bukankah lebih baik Bapak minta maaf dulu sebelum meninggalkannya?"
"Kenapa harus aku yang minta maaf? Dia yang salah!"
"Kalau begitu aku tidak mau pulang." berucap dengan nada ancaman, Milly memalingkan wajah sambil bersedekap dada.
__ADS_1
"Hey, sudah berani mengancam kau ya?"
" Nggak mau? Ya sudah." Ucap Milly acuh lantas berlalu pergi.
"Hey! Tunggu!" Teriak Billy yang tak berhasil meraih tangan Milly. "Sial!" Pria beriris hitam itu mengumpat kesal. Sudah akan menyusul istrinya, langkahnya pun terhenti saat teringat akan lelaki paruh baya yang masih tertunduk takut di sisinya. Menggerakkan lehernya menatap pria itu, dengan sikap sopan dan penuh kesungguhan Billy pun berucap, "Saya minta maaf atas kejadian tadi. Anggap saja saya tidak pernah mengucapkannya." tangannya bergerak menepuk bahu lawannya bicara. "Sekali lagi maafkan saya." pungkasnya tulus sebelum kemudian beranjak pergi menyusul sang istri bahkan sebelum security itu sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.
***
"Ikut pulang bersamaku." ujar Billy dingin saat ia berhasil mendapatkan tangan Milly.
"Nggak mau!" Balas Milly dengan nada menantang.
"Harus mau!" Billy tetap memaksa.
"Aaa ... lepas ...!" Memberontak, Milly berusaha melepaskan diri. Namun sia-sia, sebab cekalan Billy lebih kuat dari tenaganya.
"Jangan keras kepala! Tidak bisakah kau menjadi istri penurut sebentar saja!" tubuh Milly seketika mematung dengan mata membelalak.
Tadi dia bilang spa? Bisakah diulangi sekali lagi? Batin Milly tak percaya.
Billy menarik tubuh kaku Milly berjalan menuju mobilnya. "Masuk." Perintahnya setelah membukakan pintu penumpang di bagian depan.
"Nggak mau." Milly berucap dingin.
"Astaga ...!" Billy menggeram frustasi. "Aku bilang masuk!" Bentak Billy keras hingga membuat tubuh Milly berjingkat terkejut sekaligus takut.
"Kejam." Gumam Milly pelan, menatap Billy dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Bersambung