Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Hadiah Brian


__ADS_3

"Aaa .... Bapak jangan menakuti saya ...!" Milly yang merasa ketakutan pun refleks merangkul lengan Billy. Bahkan gadis itu mungkin tak sadar jika remasan kukunya seolah menancap di kulit suaminya yang tertutup oleh kain jas hingga mengakibatkan rasa nyeri yang membuat tubuh lelaki itu menegang saat berusaha menahan.


Milly yang menyadari tatapan Billy begitu tajam ke arah tangannya pun segera melepaskan cengkeramannya, lantas menarik diri mundur beberapa langkah. "Maafkan saya Pak, saya nggak sengaja. Maaf ...." Ucapnya penuh sesal sambil mengangguk berulang-ulang.


Datar, Billy hanya mendesah pelan melihat tingkah istrinya itu. "Dengar ya, intinya tidak ada hantu di apartemen ini--"


"Tapi Bapak bilang, tadi ...?"


"Apa?"


"Apa?" Wajah polos Milly terlihat bengong untuk beberapa saat, sebelum kemudian gadis yang wajahnya merona merah itu tiba-tiba meringis malu. "Ha-ha, apa ya, saya lupa." kekehnya sambil menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.


Lagi-lagi kelakuan Milly itu membuat Billy menggeleng tak habis pikir. "Ingat ya, tidak ada hantu yang menakuti manusia, kecuali manusia itu sendiri yang mengotori pikiran mereka dengan ketakutannya sendiri." tegas Billy dengan nada mengingatkan.


"Tapi Pak, setan itu beneran ada!"


"Mana?" Tanya Billy dengan nada menantang. Bahkan wajahnya condong ke depan semakin mendekat pada istrinya. "Tidak bisa jawab, kan?


Milly mengerjap kecil saat melihat pergerakan Billy yang tiba-tiba itu. Walaupun wajahnya tampak cemberut seolah menunjukkan dirinya tidak sependapat, namun pada akhirnya gadis itu pun mengangguk mengiyakan.


"Bertemanlah baiklah dengan setan-setan yang ada di sini, sebab merekalah yang akan menemani hari-harimu selama aku tidak ada." ucap Billy dengan nada menggoda, sementara bibirnya menunjukkan seringai nakal yang membuat Milly merinding ngeri karenanya.


"Aaa ... Bapak!"


***


Akhirnya Billy pun keluar dari apartemennya. Namun sebelum ia pergi, tak lupa lelaki itu memberi tahu passcontac apartemennya supaya gadis itu bisa keluar masuk tanpa harus menunggunya pulang.


Usai memarkirkan mobilnya dengan baik di basemant kantor Wahana Group, lelaki berbadan tegap itu lantas berjalan ke lobi dan menuju lantai teratas gedung itu dengan lift yang dikhususkan untuk dirinya dengan keluarga Brian.


"Kau rupanya." ujar Brian saat Billy tiba dan masuk ke ruangannya sambil menatap sekretarisnya itu setengah mengawasi. "Bagus lah." Ucap Brian sambil menundukkan pandangan dan membolak-balikkan buku di depannya. "Kalau begitu kemari, ada yang ingin kutunjukan kepadamu."


Billy yang saat itu tengah melangkah menuju meja kerjanya pun berhenti seketika, lantas memutar haluan dan mengayunkan langkah menghampiri meja Brian.


Belum sempat sekretarisnya itu mengucapkan sepatah kata, Brian sudah bergerak cepat menyodorkan buku itu begitu saja pada Billy yang sudah menyentuh tepian meja.


"Pilihlah yang mana, aku akan memberikannya sebagai hadiah." ucap Brian santai sambil menyandarkan punggung, lalu memutar-mutar kursi kerjanya sambil tersenyum.


"Rumah?" Billy menautkan alisnya lantas mengangkat pandangan menatap Brian seolah tak percaya.

__ADS_1


"Yup." Jawab Brian singkat.


"Aku tidak mau." Billy menjawab datar sambil menggeser buku itu ke hadapan Brian.


Sontak saja hal itu membuat bos sekaligus saudara angkatnya itu menegakkan punggung dan mengarahkan pandangan kesalnya ke arah Billy. "Hey! Apa maksudmu?!"


"Tidak perlu memberiku hadiah. Aku bisa membelinya sendiri." jawab Billy sambil berdiri dengan posisi tegak.


"Hey, kalau kau mau beli ya beli saja nanti! Tidak perlu menolak hadiahku juga kan?!" ujar Brian bersungut-sungut, menunjukkan sikap tidak terimanya.


"Sudah lah ...! Aku masih merasa nyaman tinggal di apartemenku itu." mengacuhkan kekesalan Brian, Billy berlalu begitu saja meninggalkan meja kerja sang bos dan melangkahkan menuju meja kerjanya.


Menatap punggung sekretarisnya yang bergerak menjauh, Brian hanya menggeleng tak habis pikir. "Ya sudah kalau tidak mau." ucapnya ringan sambil sambil mengangkat kedua alisnya, lantas meraih lagi buku yang menyajikan beragam contoh rumah mewah nan asri itu.


Billy yang sudah duduk di kursi kerjanya pun terlihat biasa saja melihat sikap menyerah yang barusan Brian tunjukkan.


"Aku tau kenapa kau semakin merasa nyaman tinggal di apartemenmu itu bahkan setelah kau menikah."


Seketika Billy mengarahkan pandangannya ke arah Brian yang sedang menyeringai seolah mengolok dirinya. Ia tahu, mudah menyerah bukanlah sikap Brian yang sebenarnya. Lantas apa yang sedang lelaki itu rencanakan lagi kepadanya. Billy menatap Brian dengan penuh tanda tanya.


Sementara Brian, ia tampak menyunggingkan senyum penuh kemenangan sebab berhasil membuat saudara angkatnya itu terpancing. "Pasti karena kau hanya memiliki satu kamar di apartemen itu kan? Jadi kau tak akan khawatir kalau istrimu nanti memilih tidur di kamar lain. Emmm, lebih tepatnya, kau tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada istrimu untuk menjauh darimu. Benar begitu kan???"


Namun gelak tawa itu terhenti seketika saat sebuah pulpen yang semula melayang mendarat tepat di pelipis Brian. "Sialan kau, kenapa melemparku dengan pena!" protes Brian sambil mengusap pelipisnya. "Untung saja kenanya masih di jidat, kalau kena mata bagaimana?!"


"Diam kau! Lemparan ini memang sudah ku perkirakan!" balas Billy sambil menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi kerjanya.


Melihat kekesalan Billy justru membuat Brian semakin bersemangat menggodanya. Hal itu nampak jelas dari seringai penuh kepuasan yang masih terpatri di bibir kemerahannya.


"Kalau memang tidak mau ya santai saja dong, tidak perlu marah-marah seperti orang yang ditagih hutang seperti itu." tutur Brian santai namun kental akan sindiran.


Menghela napas dalam, Billy lantas menggeleng kepalanya merasa pusing karena di hadapkan pada dua pilihan yang membuatnya kesal. Menolak hadiah Brian, itu artinya sama saja dengan dirinya membenarkan pernyataan gila saudara angkatnya itu. Namun di sisi lain, ia merasa belum siap untuk membina rumah tangga yang seutuhnya. Dan jika dia memilih untuk menerima, itu artinya dia harus berkomitmen untuk benar-benar berkeluarga. Brian sialan! gerutunya dalam hati.


"Kenapa kau? Pusing?" Tanya Brian yang kebetulan melihat Billy tengah memijat pelipisnya.


Billy pun seketika mengangkat pandangannya menatap ke arah Brian. Menerima hadiah itu bukan berarti harus secepatnya ditempati, kan?? pikirnya dalam hati.


Billy tampak mengerjap sebelum kemudian menyunggingkan senyum sembari mengangguk samar, lantas menatap Brian dan berucap, "Baik. Aku terima hadiahnya."


"Bagus." Puji Brian yang melihat kemantapan dari keputusan Billy. Ia yang semula menyandar, kini merubah posisi duduknya menjadi tegap, sambil membalas tatapan Billy. "Sebagai laki-laki, kau jangan hanya memikirkan dirimu sendiri, tapi pikirkan juga istrimu yang tercinta itu. Kau mungkin merasa nyaman berada di apartemenmu yang simpel itu, tapi wanita juga butuh halaman, kolam renang, taman bunga dan lain sebagainya. Dan sekarang, kau mau pilih yang mana?" tanyanya kemudian sambil menunjukkan buku yang telah Billy tolak tadi.

__ADS_1


"Aku tidak bisa memilih. Terserah kau saja mau pilihkan yang mana." Balas Billy acuh sambil memfokuskan pandangan pada berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


"Hey!" Lagi-lagi Brian bersungut-sungut. "Jika kku berikan hadiah padamu, tentu saja menuruti seleramu! Cepat pilih!" Desaknya dengan nada memaksa.


"Sudah kubilang, aku tidak bisa memilih. Terserah padamu saja kau ingin menghadiahi aku rumah yang seperti apa. Kau kan sudah berkeluarga dan memiliki rumah, tentu kau yang lebih tau seperti apa rumah idaman bagi semua keluarga." tutur Billy dengan nada pasrah.


"Oh ... baik! Kalau kau ingin kuberikan yang sesuai dengan seleraku, tentu aku akan memberikan yang terbaik untukmu." ucap Brian sambil tergelak geli, lantas meraih buku itu dan membuka lembar demi lembar isi di dalamnya. "Karena aku begitu mencintai istriku dan selalu ingin bermesraan dengan dia, maka kupilihkan untukmu rumah dengan ukuran yang luas yang memiliki ranjang di setiap ruangan rumahmu. Jadi kau bisa bermesraan dengan istrimu di manapun juga dan saat itu juga. Pilihanku keren kan??" ucapnya kemuduan dengan penuh bangga.


Sontak saja pikiran gila Brian itu membuat Billy melebarkan matanya seketika. "Hal gila macam apa itu?! Mana bisa kau menaruh ranjang di setiap ruangan, lalu apa gunanya kamar?! Dasar otak mesum!!" Billy mengumpat penuh kekesalan dengan sorot mata yang menyalang tajam.


"Otak mesum bagaimana?" ucap Brian dengan kening yang berkerut seolah dirinya tak merasa, padahal dalam hatinya ia tengah berusaha keras menahan tawa. "Kubilang karena aku begitu mencintai istriku dan selalu ingin bermesraan dengan dia, makanya kuberi kau ide itu. Bukankah perasaan kita sama? Seharusnya kau senang memiliki aku yang begitu perhatian kepadamu, bukannya malah kesal seperti itu!!" sungut lelaki yang mengenakan kemeja putih berlapis rompi vest itu kesal. Lantas membuang muka memalingkan wajahnya.


Rahang Billy tampak mengetat dan jemarinya terkepal. Namun sebisa mungkin ia menahan agar kata-kata kotor tidak sampai keluar dari bibirnya. Sebab ia tahu Brian memang sengaja memancingnya. Menghela napas dalam, ia berusaha menetralkan amarahnya. "Kau benar-benar menyebalkan." desisnya kemudian.


"Kau yang menjengkelkan!" balas Brian dengan nada lebih keras.


"Aku ingin membuangmu ke lautan."


"Aku yang akan lebih dulu melemparmu ke dasar jurang." balas Brian lagi.


Mendengkus, Billy benar-benar semakin dibuat geram oleh Brian. "Terserah." Ujarnya karena kehabisan kata-kata.


"Terserah!" Brian membalasnya.


"Kau urus sendiri sana permasalahan istrimu dengan mavia itu! Aku tidak mau membantumu!"


Brian sontak berdiri dengan wajah yang memanas. "Apa kau bilang?! Kau pikir aku ini tidak berguna hingga tidak bisa melindungi istriku sendiri!!" Brian benar-benar naik pitam. Sekuat tenaga ia berusaha melupakannya namun lagi-lagi Billy mengingatkannya dengan cara yang membuatnya kesal.


Masih dengan wajah yang merah padam, Brian menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi kerjanya. Wajah penuh kemarahan itu mendadak berubah murung saat bayangan sang istri kembali melingkupi pikirannya.


"Hey, ada apa denganmu?" tanya Billy yang mendadak khawatir melihat perubahan mimik wajah Brian. Lelaki itu lantas bangkit dari duduknya dan kemudian melangkah mendekati meja kerja bos nya. "Are you oke?" tanyanya kemudian dengan penuh kecemasan.


Mendesah lemas, Brian lantas bangkit dari posisinya. Mengabaikan Billy yang masih menatapnya penuh tanya, ia meraih jas yang terpasang di kursi kerja sebelum kemudian mengenakannya.


"Hey, kenapa diam saja! Katakanlah sesuatu!" Billy meraih lengan Brian dan mendesaknya untuk bicara. "Kau marah atas kata-kataku tadi?!"


"Tiba-tiba aku merindukan istriku. Aku ingin pulang sekarang." Brian menjawab datar.


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2