Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Bahagia menyambut kematian


__ADS_3

Ketenangan malam hari di sebuah rumah sakit mendadak riuh oleh kedatangan beberapa mobil polisi. Terlebih dengan bunyi sirine yang ditimbulkannya, semakin menggemparkan seluruh para medis di sana.


Namun para medis itu terlihat sudah mempersiapkan segala sesuatunya saat rombongan dengan wajah panik itu tiba, sebab sebelumnya mereka telah mendapat kabar jika ada pasien dengan luka tembak di punggung tengah membutuhkan pertolongan untuk diselamatkan.


Petugas dengan cekatan memindahkan tubuh lemah bersimbah darah itu ke atas brankar dorong, sebelum kemudian melangkah cepat setengah berlari menuju ruang operasi.


Tak ingin membuang waktu, operasi pengangkatan peluru yang bersarang di tubuh ramping itu segera dilaksanakan. Semua dilakukan dengan pelayanan yang sangat baik, sebab ini atas permintaan Presdir Wahana Group sendiri.


Operasi malam itu tak berlangsung lama, sebab semua dikerjakan oleh tenaga yang sudah ahli di bidangnya.


"Aku merasa lega telah menyelesaikan operasi ini dengan baik," ucap seorang dokter wanita kepada temannya saat mereka sama-sama sedang mencuci tangan.


Pakaian khusus operasi untuk dokter masih melekat di badan mereka. Wajah-wajah para medis itupun terlihat tegang, seolah tengah memikul beban berat. Namun kini terlihat lega saat proses operasi telah terlaksana.


"Kita bisa tenang, sekarang. Operasi tadi berjalan lancar, dan aku yakin wanita itu baik-baik saja. Dia sudah melewati masa kritisnya. Optimis, saja," timpal dokter lain lagi menyemangati.


Dokter yang membuka percakapan tadi tersenyum menanggapi suport teman sesama dokternya. Mereka saling memandang dan kemudian mengerutkan kening seperti sedang berpikir.


"Siapa wanita itu, ya? Apa dia istri sah Presdir Wahana Group?"


"Entah," balas dokter dua sambil mengedikkan bahunya.


"Kalau dia benar-benar istri presdir, lalu kenapa ia sampai terkena tembakan? Apa itu imbas dari kesuksesan sang suami hingga ia menjadi korban atas sikap iri para pesaingnya?"


"Entah," lagi-lagi dokter kedua menyahut pendek sambil mengedikkan bahunya.


"Hey, apa kau tidak bisa mengucapkan kalimat lain selain entah!" gerutu dokter satu kesal sambil menatap dokter dua penuh peringatan.

__ADS_1


Dokter dua langsung tertawa melihat emosi meledak teman seperjuangan. "Lagi pula kau juga, sudah kukatakan aku ini tidak tahu, kau masih bertanya lagi, lagi dan lagi! Kita ini dokter, bukan paparazi. Dari pada mengurusi kehidupan orang lain bukankah lebih baik mengurusi kehidupan kita sendiri!"


"Hey, aku begini karena wanita itu pasien kita. Sedangkan Presdir Wahana Group sendiri adalah orang yang sangat berpengaruh di sini!" Dokter pertama menghentikan ucapannya. Lalu bersedekap dada sambil melirik temannya penuh curiga. "Aku yakin, juga pasti sama keponya seperti aku, kan?"


"Tidak!"


"Bohong."


Dokter ke dua mendesah pelan. Lalu bersedekap dada dan menatap temannya, melakukan persis seperti yang dokter satu lakukan. "Apa menurutmu muka cantik bak bidadari ini adalah tampang pembohong?" tanyanya kemudian dengan nada penuh kesombongan yang hakiki.


"Cih, bidadari kau bilang?" tanyanya dengan nada tak percaya sambil memasang mimik ingin muntah.


"Terserah kau bilang apa, lah. Yang jelas aku tahu jika Presdir Wahana Group memesan dua kamar untuk perawatan. Yang satu VIP untuk istrinya, dan satu kamar dengan kelas biasa untuk wanita yang tertembak itu," ucapnya ringan lalu melenggang pergi meninggalkan temannya yang masih bengong di sana.


***


"Aku tak bisa mengampuni diriku sendiri kalau sampai sesuatu buruk terjadi padamu, Sayang," ucap Brian lemah sambil membenamkan wajahnya di dada Mayang yang saat itu tengah duduk setengah berbaring. Brian berusaha menyembunyikan gurat sesal yang sejak tadi menutupi seri di wajahnya.


"Sudahlah, Sayang. Kita sudah melewati semua kejadian mencekam itu, jadi kumohon jangan terus-terusan menyalahkan dirimu atas hal itu. Bukankah seharusnya kau senang karena aku sudah selamat? Jadi, berterima kasihlah padanya karena telah menghentikan Bianca yang ingin menembak kita," bujuk Mayang lembut sambil membelai-belai rambut Brian.


Mayang hanya bisa mendesah pelan sebab Brian tak menanggapi perkataannya. Lelaki itu malah semakin mengeratkan pelukan pada pinggangnya dan menyembunyikan wajah pada dada hangat Mayang yang berbungkus pakaian khas pasien rumah sakit.


***


Entah berapa lama wanita itu tenggelam dalam kegelapan. Bergulung dalam ketenangan dan sendiri dalam kesunyian. Ia merasa tenang terbebas dari kesakitan.


Namun sesosok tubuh kekar dengan wajah tampan tampak berdiri di balik cahaya terang seperti memanggil-manggilnya sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Senyumnya terkembang senang seolah-olah tengah memaksa wanita itu untuk keluar dari sana. Menggoda dan mengiming-iminginya dengan masa depan bahagia. Hingga pada akhirnya Bianca tersadar dan membuka matanya.


Gadis itu mengerjapkan mata guna menyesuaikan cahaya yang masuk dan menyilaukan. Ia menatap langit-langit ruangan, lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mendapati dinding dengan warna putih yang mendominasi.


Bianca terhenyak lalu membulatkan mata. Apakah ini surga? Lalu di mana neraka yang seharusnya menjadi tempatku setelah tiada. Aku adalah pendosa, lalu kenapa aku ada di surga? Apa Tuhan telah keliru memasukanku kemari? batin Bianca heran setelah ia siuman.


Ia menggerakkannya tubuhnya perlahan ingin segera bangkit, namun pening di kepala serta sakit yang mendadak menghujam punggung membuatnya urung dan meringis kesakitan. Ia masih merasa kebingungan untuk bisa menelaah apa yang terjadi.


Sesaat kemudian ia terperangah mendapati tangan kirinya yang terpasang selang infus. Lebih-lebih mendapati alat penunjang kehidupan terpasang di tubuhnya.


"Astaga," Bianca menutup mulutnya yang ternganga sambil membulatkan bola mata. "Jadi aku masih hidup? Jadi aku sekarang berada di rumah sakit?" Ia menggumam tak percaya.


Entah apa yang dirasakannya saat ini, yang jelas itu sangat membuatnya tidak nyaman hingga membuat mata beningnya berkaca-kaca. Ada rasa haru di balik rasa bersalah di hatinya.


"Kenapa mereka menyelamatkanku? Kenapa mereka merawat lukaku sebaik ini?" Bianca menghentikan pertanyaannya saat riak-riak itu meluber membasah di wajah. "Seharusnya mereka membiarkanku mati karena aku pantas mendapatkannya. Sungguh aku rela sebab aku merasa sudah cukup bahagia."


Bianca menyeka air matanya perlahan. Wanita yang mengenakan pakaian khas pasien rumah sakit itu mendesah pelan. Sekelebat bayangan sebelum ia tak sadar kembali berputar-putar di kepala.


Ia bahkan masih mengingatnya dengan jelas bagaimana kejadian itu. Bagaimana sakitnya saat timah panas menghujam punggungnya saat sebuah tembakan yang datang dari arah belakang berhasil menggagalkan niatnya untuk membunuh Mayang.


Pistol di tangannya terpental dan jatuh entah di mana. Ia limbung dengan darah yang mengucur. Namun tanpa ia sangka, sepasang tangan kokoh berhasil menangkapnya sebelum tubuh lemah itu menyentuh tanah.


Ya, Alex menyambut tubuhnya yang kesakitan dan tak berdaya. Lelaki itu bahkan berurai air mata. Histeris meneriakkan namanya. Menepuk-nepuk pipi Bianca agar gadis itu tetap tersadar.


Air mata meleleh dari sudut mata Bianca yang tersenyum penuh haru saat kata cinta terucap dari bibir Alex di tengah tangisan. Alex merengkuh tubuh lemah itu ke dalam dekapannya yang hangat. Tak rela jika wanitanya pergi mendahului dia.


Sesaat Bianca melupakan sakit hatinya selama ini. Terlupa akan sakit oleh timah panas itu. Yang tersisa hanya rasa bahagia, sebab pada akhirnya ia tahu cintanya kini bersambut.

__ADS_1


Ia tersenyum bahagia meski bibir tak mampu menyuarakan kata. Kini ia bisa tenang menyambut kematian. Hingga matanya terpejam rapat dan kesadaran gadis itu menghilang sepenuhnya.


Bersambung


__ADS_2