
Mayang menatap Brian lekat dengan senyum nya yang hangat. Ia menggerakkan tangan nya untuk meraih jemari Brian dan menggenggamnya dengan kedua tangannya erat. Bibirnya mendekat dan menghadiahi kecupan lembut di punggung tangan kekar itu.
"Bukan baru kemarin aku jatuh cinta kepadamu." ucap Mayang tenang dengan pandangan mata yang berbinar penuh cinta. "Jaket ini sebagai bukti bahwa aku mencintaimu sejak sepuluh tahun lalu, dan hingga nanti saat aku mati." Tambahnya lagi dengan suaranya yang tegas dan penuh keyakinan.
"Aku adalah istrimu. Seorang istri yang baik tak akan meninggalkan suaminya yang sedang dalam keadaan terpuruk. Seorang istri yang baik harus bisa membantu suami menghadapi masalah terberat nya, bukannya malah semakin menyudutkan nya dan membuatnya semakin terpojok. Aku akan tetap setia kepada mu dalam situasi seburuk apa pun asalkan kita selalu bersama."
Brian tersenyum penuh haru saat mendengar ucapan sang istri yang sejuk bagaikan pohon yang tumbuh di gurun pasir, dan dialah satu - satu nya pohon yang memberinya tempat bernaung dari teriknya sinar mentari yang menyengat panas.
Jawaban yang terlontar dari bibir Mayang benar - benar membuat dirinya lega meskipun sesungguhnya tak perlu ada yang Brian takutkan karena Karla tak berhasil dengan upaya jahatnya.
Brian menarik tangan Mayang yang masih menggenggam tangan nya sehingga tubuh sang istri merapat padanya.
Ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri untuk menahannya supaya tak menjauh. Mata mereka saling menatap dengan kilatan cahaya penuh cinta,yang kian menyatukan dua insan yang tengah dilanda rindu yang membara.
Debaran jantung keduanya yang berdetak kencang seirama, bagaikan irama lagu yang mengalun mendayu - dayu yang membuat suasana semakin syahdu.
Mayang melingkarkan kedua tangannya di leher Brian. Ia sedikit menariknya sehingga lelaki itu spontan membungkuk dan mengikis jarak diantara keduanya. Tanpa Brian sangka, Mayang menyambar bibir Brian dan menghadiahi kecupan lembut disana.
Meski hanya sekilas, namun Mayang berhasil membuat hasrat Brian semakin tersulut. Lelaki yang sempat terbelalak terkejut itu lantas menangkup kedua sisi pipi Mayang yang tampak merona malu, lalu membenamkan bibirnya dengan lembut di bibir ranum Mayang dan menyesap nya semau dia.
__ADS_1
Tangan Brian bergerak merangkul pinggang Mayang, sedang tangan satu lagi memegang tengkuk sang istri. Brian kian memperdalam ciumannya saat tubuh Mayang seolah menyerahkan diri dengan suka rela dengan membalas permainan lidah Brian di dalam sana.
Erangan kenikmatan lolos dari Bibir Brian. Bibir yang msih belum puas itu bergeser menyusuri pipi dan semakin turun menjelajahi leher Mayang. Desahan kenikmatan yang terdengar lirih dari mulut Mayang kian mengobarkan hasrat yang semakin tak dapat Brian tahan.
Lelaki itu membungkuk untuk merengkuh tubuh Mayang kedalam gendongannya. Membawa tubuh sang istri untuk berbaring di atas ranjang. Dengan wajah yang merona malu sembari tertunduk, Mayang berusaha menutupi tubuh polosnya itu dengan kedua tangannya saat Brian telah berhasil melucuti pakaiannya satu per satu.
Namun Brian dengan kelembutannya berusaha meyakinkan Mayang agar melawan rasa takut dan malu yang sedang menggelayut di pikirannya. Bagaimanapun juga, keduanya sama - sama sebagai manusia yang masih awam dalam urusan di ranjang dan sama sekali tak memiliki pengalaman apapun mengenai hal itu.
Mayang memekik tertahan saat Brian berhasil menyatukan tubuh mereka setelah kesekian kalinya dirinya tak berhasil melakukannya. Dan akhirnya dua insan yang telah halal dalam ikatan pernikahan itu berhasil dalam penyatuan mereka, di saat keduanya dalam keadaan siap untuk saling memberi dan menerima. Saling menginginkan satu sama lain.
Bulir bening tampak mengalir dari sudut Mata Mayang saat Brian berhasil merobek selaput dara yang selama ini ia pertahankan hanya untuk lelaki yang berhak menyentuh tubuhnya.
Bukan airmata kesedihan melainkan airmata kebahagiaan lah yang membasahi pipi nya. Mayang mengigit bibir bawahnya serta tangannya yang secara tak sadar mencakar punggung Brian saat menahan rasa perih oleh serangan Brian yang tampak tak terkendali oleh hasrat yang telah menguasai dirinya.
Brian mengangkat kepalanya yang sempat terbenam lama di ceruk leher sang istri lalu mendekatkan bibirnya di telinga nya dan membisikkan kata lembut di sana.
"Terima kasih sayang,,," ucap Brian tulus sembari mengecup bibir sang istri dengan penuh kasih sayang. Berterimakasih karena sang istri telah berkorban untuk menahan rasa sakitnya demi memberi kenikmatan yang tiada tara untuk dirinya.
Brian dengan perlahan melepas penyatuan mereka lalu menjatuhkan tubuhnya di sisi sang istri. Di tariknya tubuh Mayang agar semakin merapat dalam pelukannya.Di usapnya dengan lembut sisa keringat yang tampak di wajah Mayang.
__ADS_1
Mayang menggerakkan tangannya untuk membelai permukaan kulit didada Brian bermaksud untuk memeluk sang suami.
Namun tanpa dia sadari, sentuhan itu justru membuat Brian ingin melakukannya lagi sehingga Brian kembali mendekatkan bibirnya di telinga sang istri dan berbisik.
"Sayang, aku mau lagi..." rengek nya dengan suara manja dan parau. Brian tak dapat menahan hasratnya yang kembali menyala hanya karena sentuhan yang dilakukan sang istri tanpa sengaja.
Mayang tak memiliki pilihan Lain selain pasrah sembari tangannya mencengkeram kuat seprei pembungkus kasur yang sudah berantakan itu.
* * *
Brian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya beserta sang istri yang sudah terlelap dalam pelukannya. Brian membelai lembut wajah sang istri yang terlihat sangat kelelahan itu. Gadis itu langsung terlelap setelah permainan terakhir mereka malam itu.
Entah sampai berapa kali mereka bercinta malam itu bahkan Brian pun tak menghitung nya. Dia benar - benar merasa gila, gila karena cintanya pada sang istri. Gila karena kenikmatan yang Mayang berikan hingga membuat nya merasakan candu tersendiri yang membuatnya ingin selalu menyentuh sang istri tanpa bisa menahannya lagi dan lagi.
Malam itu Brian benar - benar tak memberi kan Mayang ampun lagi. Ia bahkan tak dapat mengendalikan dirinya dalam percintaan yang membara sehingga sesekali dia lupa diri dan tak menyadari bahwa permainannya telah melukai sang istri.
Sungguh pengalaman malam pertama yang tak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya. Brian menghujani wanita yang telah hanyut dalam buaian mimpi itu dengan bertubi - tubi ciuman dan bisikan ucapan terimakasih nya.
Hari sudah semakin dini, bahkan menjelang pagi. Namun Brian tak berniat untuk memejamkan mata dan tidur di malam ini. Pandangan nya tak pernah lepas dari wajah sang istri yang tampak masih pulas dalam tidurnya yang damai.
__ADS_1
Senyum kepuasan tampak muncul di bibir Brian seolah tak habis - habisnya. Namun ia harus berusaha keras untuk menahan hasratnya yang kembali datang, mengingat ia harus membiarkan istrinya untuk beristirahat dan mengumpulkan kembali energinya yang sempat terkuras saat sang istri melayani dirinya.
Bersambung