Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Kepanikan Brian


__ADS_3

Melangkah lebar meninggalkan para bodyguard nya dengan wajah kesal, Alex membawa dirinya menuju salah satu kamar di hotel miliknya.


Usai menutup pintu, ia tampak berdiri terpaku dengan pandangannya tertuju pada ranjang berukuran king yang berlapis seprei lembut berwarna putih.


Dengan perlahan ia mengayunkan langkahnya menuju ranjang dan kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas sana. Merubah posisi baringnya menjadi miring, tangannya pun bergerak mengusap permukaan seprei itu, tepat di tempat Mayang terbaring saat ia tak sadarkan diri.


Alex menipiskan bibirnya tatkala teringat pada wajah cantik nan damai Mayang yang tengah terbaring tanpa daya. Oleh pengaruh bius yang anak buahnya berikanlah Mayang bisa sampai ke tempat ini.


Tangannya terkepal kuat serta gerahamnya menggemertak keras tatkala mengingat kembali kegagalannya. Ia hampir saja memiliki tubuh Mayang andai saja dirinya tak meninggalkan gadis itu untuk suatu pekerjaan.


Gadis itu bahkan sudah berada disisinya. Begitu dekat. Sangat dekat. Bahkan tanpa kesadaran dan tanpa bisa melawan. Seharusnya ia bisa menyentuh. Mencium. Bahkan menjamah gadis itu dan menjadikannya miliknya seutuhnya.


Nasi sudah menjadi bubur. Ia lagi-lagi harus menelan kegagalan dan hanya bisa gigit jari. Saat dirinya tengah menatap wajah ayu itu dengan penuh puja, tiba-tiba beberapa bodyguard datang dan memberinya kabar kedatangan seoarang klein penting dari luar negeri pada saat Alex hampir menyentuh Mayang.


Ada masalah besar yang harus ia selesaikan sehingga tanpa pikir panjang Alex pun bergegas meninggalkan gadis itu dengan mempercayakannya pada tiga gadis yang sudah teruji kehebatannya. Namun siapa sangka, Mayang begitu tangguh dan cerdik sehingga bisa mengelabui ketiganya.


Gelak tawa getir Alex menggema memenuhi kamar hotel VIP yang seharusnya menjadi saksi kebahagiaannya. Namun kemudian gelak tawa itu berubah menjadi raungan penuh kesediha dan keputus asaan manakala kamar ini hanya menjadi saksi lara hatinya.


Beranjak dari baringnya, tangan Alex mencengkeram kuat kain seprei itu bagai seekor harimau buas yang tengah berang. Ia memporak-porandakan ranjang itu hingga kacau balau dan berserak. Seolah belum puas dengan hal itu, dengan amarahnya yang tak terkendali ia bergerak memukul, membanting dan menghancurkan semua yang ada di sana.


Dengan sekejap kamar mewah nan hangat yang di desain dengan nuansa lembut dan romantis itu berubah layaknya kapal yang pecah akibat sapuan gelombang besar yang mematikan. Memporak porandakan seluruh isi di dalamnya dan hanya menyisakan puing-puing kehancuran.


Lelaki itu tampak kacau dengan tangan yang berlumur darah. Dengan nafas terengah-engah ia duduk di lantai di sudut ruangan. Bersandar pada dinding di belakangnya, ia kini terdiam pasrah. Hingga pintu yang semula tertutup rapat kini tampak dibuka dari luar, terlihat para bodyguard yang mendengar suara kekacauan memberanikan diri untuk melihat keadaan di dalam dengan wajah penuh keterkejutan. Terlebih saat melihat keadaan Alex yang begitu memprihatinkan.


"Sampai kapanpun aku ingin kalian membawanya ke hadapanku!" Teriakan Alex menggelegar dan menggema di ruangan itu.


* * *


Brian tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Semakin Mayang merintih, ia semakin di dera gugup dan cemas. Dengan tangan kiri memeluk tubuh sang istri, sementara tangan kanannya sama sekali tak melepaskan ponsel miliknya.


Entah sudah berapa puluh kali ia menghubungi Dokter Lucy, namun saudari sepupunya itu sama sekali tak menjawab panggilannya sejak gadis itu mengatakan akan bertolak dari rumah sakit menuju kediamannya.


Bu Kuswara pun tak kalah terlihat panik. Wanita paruh baya itu tak dapat menyembunyikan kesedihannya saat melihat sang nyonya merasa kesakitan. Kuswara menyayangi Mayang bukan hanya sebagai seorang majikan. Namun karena kebaikan hati dan budi pekerti yang dimiliki gadis ini yang membuatnya sempat menganggap Mayang sebagai putrinya sebelum dinikahi oleh sang tuan.


"Bu Kus," lirih Mayang sembari meraih jemari wanita yang sejak tadi tak henti mengompres dan memijat nya. Kuswara yang semula hanya tertunduk menyembunyikan kesedihan kini menghentikan memijatnya dan mengankat pandangan menatap Mayang dengan netranya yang berkaca-kaca.


"Iya Nyonya," jawabnya dengan memaksa menarik kedua sudut bibirnya.


"Maaf telah merepotkanmu," tersenyum kecut, Mayang berbicara dengan penuh rada bersalah.


"Nyonya jangan bicara seperti itu ...!" Setengah membentak, Kuswara terlihat seperti seorang ibu yang sedang memarahi putrinya. "Saya tidak pernah merasa direpotkan oleh Nyonya dan Tuan. Memastikan kondisi rumah ini beserta penghuninya dalam keadaan baik-baik saja adalah tanggung jawab kami. Dan jika ada satu kesalahan yang terjadi, berarti kami yang tidak becus dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab."

__ADS_1


"Terima kasih atas dedikasi kalian terhadapku." Ucapan tulus itu terlontar dari bibir Mayang. Terdiam sejenak, kekehan kecil pun lolos dari bibir Mayang seolah ia tengah menertawakan dirinya sendiri. "Padahal aku hanya sakit perut tapi reaksi kalian seolah-olah aku sedang sakit parah saja. Kumohon jangan terlalu khawatir seperti itu, aku sungguh baik-baik saja."


"Jangan terlalu banyak bicara Sayang, kau sedang sakit." Brian menyahuti dengan nada kesal. Tak ingin mendengar celoteh sang istri yang dengar memaksakan diri menunjukkan dirinya baik-baik saja. Sebab hal itu justru membuatnya semakin sedih.


Memang benar dengan apa yang dirasakan Mayang. Suasana rumah itu seketika terasa mencekam. Beberapa orang pelayan tampak berbaris di depan kamar tuan mereka untuk mempermudah jika sewaktu-waktu tenaga mereka dibutuhkan.


Dari ekspresi wajah yang mereka tunjukkan, mereka tampaknya benar-benar mengkhawatirkan sang nyonya. Terlebih pada tuan muda mereka yang baru saja merasakan kembali kebahagiaan setelah bertahun-tahun dalam keterpurukan.


Seolah tak ada habisnya rumah tangga sang tuan di terpa masalah, belum lama sang nyonya kembali dan terbebas dari penculikan, ia kembali mendapat cobaan dengan rasa sakit yang kini di alami istrinya.


Mereka saling memandang satu sama lain saat lagi-lagi mendengar teriakan Brian dari dalam kamar yang seperti sedang mengumpat seseorang. Seperti hilang akal dan habis kesabaran, Brian melupakan bahwa jarak antara rumah sakit dengan kediamannya memang lah memakan waktu lebih dari setengah jam jika di tempuh dengan kecepatan normal.


"Lucy sedang di jalan Sayang, berhentilah memakinya seperti itu ...! Kau justru membuat telingaku terasa sakit dengan teriakandan itu!"


"Maafkan aku Sayang, aku begini karena mencemaskanmu."


"Sayang, kumohon berhentilah mencemaskan ku seperti itu. Ini hanya nyeri haid biasa." Pinta Mayang dengan nada memohon. Suara tang terdengar melemah bahkan Brian hampir-hampir tak dapat mendengarnya.


"Nyeri haid biasa bagaimana?! Kau kesakitan Sayang," ucap Brian dengan mata berkaca-kaca. Ia mempererat pelukannya pada tubuh sang istri. "Katakan padaku sebenarnya apa yang telah terjadi padamu? Apa yang mereka lakukan padamu pada saat mereka menyekapmu?!" Dengan nada mendesak, Brian tak bisa menahan setitik air mata yang meluncur dari pelupuk matanya.


Memaksakan bibirnya untuk tersenyum, Mayang membelai pipi sang suami dengan tangannya yang terasa lemah. "Aku akan baik-baik saja Sayang, percayalah. Aku pasti sembuh setelah minum obat yang Lucy bawakan." Ucapnya berusaha menenangkan.


Meraih jemari sang istri lalu mencium punggung tangannya, wajah Brian terlihat semakin khawatir saat sekujur tubuh sang istri terasa semakin dingin.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Setengah memaksa Brian berniat menggendong tubuh sang istri, namun tiba-tiba pintu terbuka dari luar dan muncul sosok Lucy dengan raut wajah penuh kecemasan. Berjalan tergesa, gadis itu mendekat ke ranjang. Bu Kuswara yang semula berada di sisi Mayang di tepi ranjang pun menarik diri dan memberi tempat pada Lucy.


"Brian apa yang terjadi?!" Tanya Lucy yang mendadak panik saat melihat kondisi Mayang yang terlihat memperihatinkan. "Kau bilang dia hanya nyeri haid bukan, tapi kenapa dia sepucat ini?"


"Kenapa lama sekali kau datang?!" Bukannya menjawab, Brian justru balik bertanya.


Memaksa untuk tersenyum, Mayang membuka mulutnya yang pucat untuk berbicara. "Aku baik-baik saja, Lucy. Hanya sedikit nyeri." Ucapnya dengan suara lemah.


"Sayang berbaring ya, Biarkan Lucy memeriksamu." Ucap Brian sembari membaringkan tubuh Mayang dan membuat istrinya itu dalam posisi nyaman. Dibelainya puncak kepala sang istri yang tampak meringis menahan sakit.


Tak menghiraukan pertanyaan Brian, Lucy memilih fokus pada stetoskopnya dan memeriksa keadaan Mayang dengan teliti.


Pada saat yang bersamaan, ponsel Brian yang tergeletak di nakas pun berdering. Brian pun bergegas meraihnya. Ingin rasanya Brian mengabaikan panggilan itu, namun saat mengetahui Billy lah menghubunginya, ia lantas meminta izin pada sang istri dan melangkah pergi meninggalkan kamar untuk menerima panggilan.


Berdiri di balkon, Brian kemudian mengangkat teleponnya. "Apa yang kau dapatkan Bill?" Tanyanya tanpa basa-basi.


"Tuan," suara Billy di seberang telpon terdengar. "Saya sudah melepaskan seorang bodyguard yang berhasil saya sekap."

__ADS_1


Seketika amarah Brian pun mencuat setelah mendengar ucapan Billy. "Hey, apa kau sudah tidak waras!" Maki Brian dengan penuh kemarahan. "Dengan alasan apa kau begitu mudah melepaskannya! Apa kau benar-benar ingin mati di tanganku!!" Geramnya dengan tangan mencengkeram kuat pada pegangan balkon. Rahangnya mengeras dan matanya merah menyalang tajam penuh kemarahan. Andai saja Billy berada di dekatnya mungkin ia sudah habis Brian hajar.


"Dengar dulu penjelasan saya Tuan," Billy menyahut pelan berusaha meredakan amarah bos nya.


"Apa!" Dengus Brian kesal sambil berkacak pinggang.


"Bodyguard itu memang saya lepaskan, namun saya sudah menempelkan pada pakaiannya alat penyadap yang disertai dengan sensor lokasi keberadaannya Tuan, jadi saya jamin kita akan segera mengetahui siapa dalang dibalik penculikan Nyonya. Karena saya yakin dia akan datang untuk melapor." Papar Billy mencoba menjelaskan.


Brian menipiskan bibir, tersenyum setelah mendengarkan penjelasan Billy. "Bagus." Pujinya tegas. "Aku tahu kau selalu bisa diandalkan."


"Bagaimana kabar istrimu?" Wajah Brian mendadak berubah pias saat mendengar pertanyaan Billy.


"Dia mengeluh sakit di perutnya." Suara Brian melemah dan terdengar sedih saat menjawab. Diam beberapa saat, Brian memejamkan mata. Tangannya bergerak memijat pangkal hidungnya. Ingin membagi kegelisahannya, Brian pun membuka mulutnya untuk bertanya pada Billy. "Bill, apakah wanita yang sedang datang bulan akan merasa sesakit itu? Atau terjadi sesuatu yang buruk pada istriku pada saat dia diculik? Aku benar-benar takut Bill." Desah Brian penuh kekhawatiran.


"Aku sungguh tidak tahu mengenai hal itu, Tuan. Yang jelas bukankah istrimu melakukan perlawanan dalam upayanya melarikan diri? Bisa saja mereka melakukan tindak kekerasan pada istrimu." Jawab Billy jujur. "Apa kau sudah membawanya ke rumah sakit?"


"Itu lah Bill, dia bersikeras tak mau meski aku sudah memaksa ...!" Teriak Brian Frustasi. Ia kembali memijat pelipisnya yang terasa pusing. "Aku melihat ada bercak darah di celananya, dan dia bilang itu darah Haid. Entahlah Bill, aku tidak mengeeti mengenai masalah ini. Tapi Lucy sedang memeriksanya sekarang." Jelasnya sambil melirik pintu kamarnya yang tertutup rapat. "Aku harus menemani istriku sekarang."


"Baik. Panggil saya jika ada masalah."


"Tentu." Brian menjawab singkat lalu menutup telponnya. Memutar tubuhnya, ia segera melangkah menuju pintu kamar. Belum sempat tangannya yang sudah memegang handle itu untuk membuka pintu, Lucy yang sudah terlebih dulu membukanya melangkah keluar dengan wajahnya yang terlihat panik.


Brian pun seketika menarik mundur beberapa langkah seiring langkah lucy yang seolah mengintimidasinya. "Lucy," lirih Brian dengan kening berkerut penuh tanda tanya. "Istriku,--"


"Apa yang terjadi pada istrimu, Brian?" Tanya Lucy dengan menatap Brian serius.


"Memangnya ada apa dengan istriku? Katakan padaku Lucy, jangan membuatku bingung begini?!"


"Istrimu mengalami perdarahan Brian! Mayang hamil!" Suara Lucy yang terdengar lantang itu kemudian ldisusul suara benturan keras saat ponsel di tangan Brian terlepas dan terjatuh membentur lantai.


Seperti tersengat listrik, tubuh Brian seketika seolah membeku saking terkejutnya. Lelaki itu membulatkan bola matanya sempurna, menatap Lucy dengan ekspresi tak percaya.


"A-apa kau bilang?" Tanya Brian dengan suara terbata karena bibirnya bergetar.


Tidak tau ia harus bahagia atau bersedih mendengar kabar ini. Sungguh ia tak menduga sebelumnya, jika dia akan mendapat anugerah luar biasa ini begitu cepat.


Namun melihat bagaimana ekspresi wajah serta tatapan Lucy membuatnya bisa menebak sesuatu buruk mungkin telah terjadi pada sang istri. Ada pendar kesedihan yang terpancar dari netranya.


Seketika rasa sesak seperti memenuhi rongga dadanya. Menyumpal paru-parunya hingga membuat nafasnya terasa tercekat. Jantungnya seolah diremas sesuatu tak kasat mata.


Dengan mata yang mulai berkaca-kaca Brian menghela nafas dalam. Berusaha menerima kenyataan yang ada, ia memberikan diri untuk bertanya. "Apa itu berarti istriku keguguran," lirihnya dengan nada putus asa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2