
"Tidak, aku hanya ingin menolong mu saja. Cepat raih tangan ku." Dengan bibir yang menipis, Billy berucap penuh keyakinan. Pandangan matanya pun terlihat tulus saat menatap Milly. Membuat gadis dihadapannya itu membelalakan mata seolah tak percaya dan membalas tatapan lelaki di hadapannya itu penuh keraguan.
"Aku sungguh-sungguh." Ucap Billy serius seolah tau isi kepala Milly, seraya menatap lekat manik gadis itu agar terlihat lebih meyakinkan.
Astaga senyumannya ,,, ngelihat dia berasa lagi ngemut gula. Manis banget cuy .... Kagum, Milly berbicara dalam hati hingga tanpa sadar gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya sendiri.
Terbiasa dengan pemandangan semacam ini membuat Billy hanya memutar bola mata malas. Sambil menggeleng heran ia pun berucap, "Ya ampun, sampai sebegitunya. Apa kau tidak pernah melihat lelaki setampan aku sebelumnya?! Cepat usap air liur mu itu!" tuturnya seraya menatap gadis itu malas.
Ucapan Billy sontak membuat Milly gelagapan dan menyentuh sudut bibirnya yang kering, lalu melempar tatapan sebal pada lelaki di hadapannya. "Maaf ya Pak, air liur saya terlalu mahal hanya untuk mengagumi kenarsisan Bapak yang hakiki ini, jadi saya harap Bapak tidak besar kepala." Ketusnya dengan nada peringatan. Bersedekap dada, Milly mengabaikan yangan Billy yang telah lama menggantung di udara karena terulur untuk menolongnya.
"Tidak mau ditolong, nich?" Billy menggoyang-goyangkan tangannya yang terulur. "Ya sudah," pungkasnya seraya bangkit dari jongkok.
"Eh Pak, jangan ngambekan gitu dong ,,," Milly bergerak cepat menarik ujung jemari Billy untuk menahan lelaki itu agar tidak beranjak. "Udah kayak anak perawan aja pakai acara ngambek segala pas minta dikawinin." Godanya sambil tersenyum genit. Namun sedetik kemudian ia pun memalingkan wajah sambil menggigit bibir bagian bawah saat tatapan Billy tiba-tiba menyalang tajam.
Eh buset, dia marah. Ini mulut minta di sentil apa ya, kalau ngomong nggak bisa di saring. Apa filternya rusak? Nggak merasa kalau lagi ngomongin diri sendiri. Milly merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Ha-ha-ha," Milly terkekeh pelan saat sepasang netranya beradu tatap Billy, sementara tangannya menggaruk kulit kepala yang tidak gatal. "Bapak ngeliat saya nya kok gitu banget, Pak? Sekedar peringatan ya pak, jangan terlalu lekat menatap gadis manis seperti saya pak, entar ketagihan loh." Celetuk Milly dengan memasang mimik wajah seriusnya.
"Hah?!" Billy terperangah. "Bangun woyyy!" Billy menonyol dahi Milly dengan telunjuknya. "Sudah terjungkal di selokan begini masih belum bangun juga! Pakai mimpi segala lagi!" Billy menggeleng tak habis pikir menatap gadis yang tengah mengusap dahi sambil memanyunkan bibirnya itu. Lantas ia pun bangkit dan berdiri.
"Eh Pak, mau kemana?" Cegah Milly seketika. "Tolongin saya dulu lah, Pak. Entaskan saya dari jurang yang curam ini menuju ke permukaan dong ,,,. Sekalian ke pelaminan juga bisa." Lagi-lagi Milly menggoda sembari mengedipkan mata. Meski dalam hati ia ingin menampar mulutnya sendiri yang tiba-tiba lepas kendali. Gadis berkulit putih itu berusaha bersikap tenang meski jantungnya berdebar sangat kencang.
"Mimpi." Sinis Billy dengan menarik sisi kiri sudut bibirnya dan menatap Milly dengan seringai meremehkan. Namun si gadis seolah tak peduli dengan sikap angkuh Billy, dan tetap menebar senyum meski wajahnya merona merah.
Seolah tak peduli, Billy pun melangkah meninggalkan gadis itu menuju mobilnya. Namun ia tiba-tiba menghentikan langkah saat teringat rujak buah pesanan Brian yang bwlum ia dapatkan. Sial! Umpatnya kesal. Billy pun memutar tumit dan kembali melangkah menghampiri gadis yang tampak putus asa itu.
"Raih tangan ku." Ucap Billy dingin seraya mengulurkan tangan kirinya.
Menatap wajah dan tangan Billy bergantian, akhirnya Milly pun menyambut uluran tangan Billy meski sedikit ragu. Sambil berjaga-jaga, Milly tampak memasang kuda-kuda kalau-kalau nanti Billy melepaskan tangannya dengan sengaja saat menarik tubuhnya ke atas.
Hanya dengan satu tarikan ringan akhirnya Billy berhasil membawa Milly naik ke atas jalan. Dengan kasar, lelaki dengan ekspresi datar itu melepas paksa jemari Milly yang masih menggenggam jemarinya.
"Kelihatannya kecil kau ini berat juga rupanya. Kebanyakan dosa ya?!" Keluh Billy terdengar tanpa perasaan seraya mengibaskan tangan kirinya.
"Astaghfirullah Pak, kok ngomongin dosa?! Itu rahasia Tuhan Pak, manusia nggak ada yang tahu!" Kesal, Milly berlalu begitu saja menuju sepedanya. Dan tanpa menoleh pada Billy, ia pun melangkah pergi dengan mendorong sepeda tinjaknya.
"Astaga ini orang, benar-benar nggak ada akhlak! Di tolong bukannya berterima kasih, malah berlalu pergi." Gumam Billy tak habis pikir, lalu melangkah menuju mobilnya dan melajukannya pelan mengikuti gadis di depannya.
__ADS_1
"Bapak ngapain ngikutin saya sampai kemari pak? Tergila-gila sama saya ya?!" ketus Milly saat telah sampai di depan kontrakannya. Ia tampak acuh sambil memasang standar penyeimbang sepeda mini dengan kakinya.
"Bisa nggak sih, kalau mimpi itu nggak usah ketinggian."
"Lantas mau Bapak apa? Maaf ya Pak, kalau Bapak mau nagih hutang saya terus terang saya belum ada uangnya."
"Saya ke sini cuma mau beli rujak."
Melirik sekilas pada Billy, Milly pun berucap ketus. "Rujaknya nggak ada!"
"Apa?!" Billy terbelalak kesal. "Apa kau sengaja mempermainkan ku?! Aku sudah membuang waktuku yang berharga hanya untuk gadis tidak jelas seperti mu! Kenapa tidak kau katakan sejak tadi jika memang rujak buah mu telah habis, hah! Sial!" Umpat Billy seraya tanpa sadar melayangkan tendangan ke arah sepeda mini Milly, hingga sepeda tak berdosa itu terkulai tak berdaya di tanah.
"Oh tidak! Sepeda ku!" Teriak Milly histeris sembari menolong sepedanya yang teronggok tak berdaya. "Astaghfirullah ,,, Ya Allah ,,,." Ucapnya pelan sambil mendirikan sepedanya hati-hati. "Kamu nggak pa-pa kan Billy ,,, mana kau ini belum lunas lagi ...." Imbuhnya dengan mimik wajah sedih sembari mengusap keranjang sepeda itu lembut.
Billy membulatkan bola matanya sempurna saat mendengar namanya di sebut. "Apa kau bilang tadi? Kau menamai sepeda ini siapa?"
"Billy."
* * *
Mayang menutup pintu kamar mandi di belakangnya dengan hati-hati setelah ia selesai membersihkan diri. Wanita dengan lingerie merah muda berbahan satin itu pun melangkah perlahan sembari menebar senyum menuju ranjang, di mana sang suami tengah berada di sana menunggunya.
"Kau sudah terlihat segar sekarang," ucap Brian seraya mengulurkan tangan guna membantu istrinya naik ke atas ranjang.
Tersenyum, Mayang menyambut uluran sang suami dan naik perlahan ke atas ranjang. Disandarkannya punggungnya pada tumpukan bantal yang sudah di susun oleh Brian untuk kenyamanannya.
"Apa aku cantik ...?" godanya sambil menyunggingkan senyum, sementara tangannya meraih sisir yang berada di nakas.
"Kau selalu cantik, Sayang. Bahkan kadar kecantikan mu selalu bertambah dari waktu ke waktu." Puji Brian penuh keyakinan dengan menatap lekat manik sang istri.
Dengan wajahnya yang kemerahan, Mayang membalas tatapan suaminya sambil tersenyum malu. Entah mengapa ia masih saja selalu berdebar-debar setia kali Brian memujinya, meskipun hal itu suaminya lakukan disetiap kebersamaan. Berdehem kecil, Mayang berusaha menetralkan perasaannya. "Kau memuji begitu karena aku ini istrimu, kan??"
"Tentu saja karena kau istriku." Jawab Brian cepat. "Karena kau adalah ratu dihidupku dan pemilik hatiku." Sambungnya seraya membenamkan sang istri ke dalam pelukannya. "Aku sangat mencintaimu, Sayang." Bisiknya parau tepat di telinga sang istri.
Mengulum senyum, tangan Mayang bergerak menyentuh pipi Brian dan mengusapkan tangannya yang halus di sana dengan lembut. "Aku juga mencintaimu Sayang." Balasnya lalu melayangkan kecupan lembut di sisi lain pipi sang suami dengan mesra.
"Aku tidak ingin kehilanganmu," Bisik Brian lagi yang seketika membuat Mayang mengernyit bingung. Ia pun lantas mendongak menatap wajah suaminya.
__ADS_1
Entah mengapa ia merasa ucapan Brian baru saja terdengar tak biasa dan seperti mengandung arti yang tersembunyi. Terlebih wajah Brian terlihat agak muram dan terkesan memaksakan senyumannya.
"Sayang, kau ini bicara apa? Kau pikir aku akan hilang kemana, heumm?" guraunya seraya mencubit gemas ujung hidung Brian.
Bukannya kesal, Brian justru terlihat senang. Ia menarik dua sudut bibirnya, ada gurat kebahagiaan saat menatap wajah sang istri yang penuh keceriaan.
Teruslah tersenyum Sayang, aku berjanji tak akan membiarkan siapapun merenggut senyuman itu dari wajah cantumu.
Entah mengapa Brian selalu tak tahan setiap kali menatap bibir ranum sang istri, hingga selalu lepas kendali dan menyambar bibir itu meski sang istri tidak dalam keadaan siap.
Agak lama Brian menyesap manisnya lengkung merah milik Mayang, hingga membuat wanita yang tengah hamil muda itu tersengal karena kehabisan napas.
"Sayang, kenapa selalu memcium ku secara tiba-tiba begitu? Kau mengejutkan ku," terlihat kesal karena ulah nakal sang suami, gadis bersurai panjang itu memanyunkan bibir.
"Maafkan aku, Sayang. Bibir mu sangat manis dan membuatku selalu ingin menikmatinya." Tutur Brian seraya mengusap lembut bibir basah sang istri akibat ulahnya.
Melihat tatapan penuh hasrat sang suami, Mayang lantas beringsut melepaskan diri dan meraih sisir yang tergeletak di sisi kirinya.
"Sayang ,,,," panggil Brian masih dengan suara paraunya. Bahkan tangannya pun sudah mulai bergerilya menjamah area favoritnya.
Seketika tubuh ramping itu membeku saat senyar berbeda terasa merambat dan menjalar ke seluruh tubuh. Mamun naluri keibuan Mayang masih bekerja dengan baik hingga sekelebat ucapan larangan dokter beberapa waktu lalu tiba-tiba terngiang memberi peringatan padanya.
menelan slavinanya berat, Mayang berusaha menetralkan hasrat yang tiba-tiba muncul seiring cumbuan yang dilakukan sang suami padanya. Dengan kelembutan, ia menahan tangan suami yang masih bergerilya di dadanya, dan membuat Brian yang tengah menikmati leher serta wajahnya pun seketika menghentikan aksinya.
"Kenapa Sayang?" Mengerutkan kening, Brian tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya. Ada gurat kekesalan di wajah lelaki yang tengah dikuasai oleh nafsu itu saat sang istri tiba-tiba menghentikan kenikmatannya.
"Sayang, kau ingat kan, kita belum boleh melakukan ini sebelum dokter mengizinkan."
Semangat yang sudah berkobar layaknya api yang membara itu tiba-tiba padam begitu saja saat Brian mendengar sang istri memperingatkannya. Lelaki dengan tatapan teduh saat bersama sang istri itu seketika menyandarkan tubuh lemasnya pada kepala ranjang dengan gurat kekecewaan.
Tanpa sepatah kata, ia hanya mengusap kasar wajah kemerahannya dengan dua belah telapak tangannya. Berusaha menetralkan diri dan menghempas jauh hasrat terpendam yang sudah naik hingga ke ubun-ubun.
"Sayang ,,," lirih Mayang penuh rasa bersalah saat melihat kekecewaan yang terpampang nyata di wajah suaminya. "Maafkan aku ...," imbuhnya dengan mata berkaca-kaca seraya menggigit bibir bawahnya.
"Tak apa Sayang, aku baik-baik saja." Brian menunjukkan senyuman termanisnya lalu merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Sayang ,,," seolah tak yakin, Mayang mendongak dan menatap wajah sang suami berusaha memastikan sesuatu.
__ADS_1
"Percaya padaku Sayang, aku baik-baik saja." Lagi, Brian menunjukkan senyumannya untuk meyakinkan sang istri. "Aku tahu nafsuku begitu besar, namun sayang ku pada kau dan bayi kita jauh lebih besar, Sayang. Its okay," ucapnya meyakinkan seraya menyugar rambut dengan jemarinya dan tersenyum dengan memasang wajah kerennya.
"Terima kasih Sayang," ucap wanita yang tengah terharu itu seraya melabuhkan dirinya dengan pasrah di dada bidang milik suaminya.