
"B-Bapak?" Milly menyebut lelaki bertopi itu terbata dengan mata membulat sempurna. Ia benar-benar tak menyangka pria itu akan datang dengan cara yang tak biasa. Benarkah dia datang? Ah tidak mungkin. Ini mustahil. Itu hanya bayangan sebelum aku menemui kematian.
Ibra sontak menatap Milly saat mendengar gadis itu memanggil si pria dengan julukannya. Rahangnya langsung mengetat penuh kemarahan menatap orang asing yang telah datang tanpa diundang dan mengganggu kesenangannya. "Siapa kau!" tanyanya sinis tanpa bergeser dari posisinya.
"Aku adalah malaikat kematianmu," jawab pria yang berbalut jaket kulit itu dengan sorot mata mengancam yang begitu kental.
Ibra berdecih. "Malaikat kematianku, kau bilang?" ia lantas menyeringai penuh ejekan. Namun matanya celingukan menatap ke belakang si pria, untuk mencari keberadaan Lucky serta penjaga lainnya yang tak nampak di sana. Entah bagaimana bisa mereka meloloskan pria ini begitu saja tanpa meminta izin kepadanya.
"Lepaskan dia." Billy berucap penuh penekanan. Giginya menggemertak, berusaha keras menekan kemarahan.
"Apa kau bilang tadi? Melepaskannya?" Ibra seketika tertawa, dan tawanya itu terdengar meremehkan. "Memangnya siapa kau, hingga aku harus menuruti perintahmu yang tidak masuk akal itu!" ucapnya sambil memindai penampilan Billy yang serba hitam itu seperti meragukan. Andai saja ia tahu siapa pria yang sudah menghancurkan pintu kamarnya itu, ia pasti akan berpikir ribuan kali sebelum mengatakan semuanya.
Ibra tersenyum miring, kemudian menundukkan pandangan menatap Milly yang masih terkurung di bawahnya. Gadis itu masih tak bisa berkutik. Ia bahkan belum bisa menguasai diri dari keterkejutan yang mendera akibat kedatangan si pria yang begitu tiba-tiba. Gadis itu berusaha keras menepis sosok nyata di depannya dan berpikir itu hanya bayangan saja.
"Dia adalah wanitaku," tutur Ibra dengan bangga. Matanya melirik Billy penuh kesombongan, sementara tangannya bergerak membelai pipi Milly yang memucat dengan penuh kelembutan.
"Jangan sentuh aku!" teriak Milly frustasi sambil memalingkan wajahnya. Bulir bening yang menetes dari sudut matanya bahkan bisa dilihat jelas oleh Billy, dan hal itu sontak membuat darah pria itu seperti mendidih.
Milly menangis meratapi ketidakberdayaannya. Kehadiran Billy masih seperti mimpi baginya, hingga ia tak berani berharap banyak pada mimpi itu.
"Diam kau!" Ibra membentak penuh kemarahan. Sementara tangannya bergerak menekan Milly hingga gadis itu memekik kesakitan.
Ibra begitu fokus pada kesombongannya sampai-sampai lupa untuk memperhatikan hal yang lain. Ia bahkan tak menyadari jika bahaya besar tengah mengintai dirinya.
"Aku akan benar-benar menyakitimu jika kau tidak patuh terhadapku!"
Milly terdiam pasrah saat Ibra mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan. Gadis itu bahkan memejamkan mata saat lengan itu mulai berayun.
Milly sudah siap menerima pukulan. Namun suara pekik kesakitan yang terdengar bersamaan dengan beban di atas tubuhnya yang meringan membuatnya mengernyit bingung. Ia sontak membuka mata saat mendengar pukulan bertubi-tubi disertai suara mengumpat seorang lelaki.
"Beraninya kau menyentuh Istriku! Beraninya kau melukai Millyku! Aku akan membuatmu menyesal hidup dan lebih memilih untuk mati!" Billy berteriak sambil menghujamkan pukulannya dengan membabi-buta. Terus menyerang Ibra yang tak siap melakukan perlawanan.
__ADS_1
Milly bangkit dan langsung membulatkan matanya. Gadis itu sontak membungkam mulutnya yang ternganga. Pandangannya tertuju pada punggung lelaki yang tengah habis-habisan menghajar Ibra.
Milly kini benar-benar yakin jika itu adalah Billy meski penampilannya tak terlihat seperti biasanya. Mendadak ada sesuatu yang bergemuruh di dalam dada. Apa lagi jika bukan jantungnya. Sebongkah merah itu berdetak lebih cepat. Bertalu-talu tak menentu.
Ada perasaan bahagia bercampur haru. Sebuah rasa yang belakangan ini pergi entah kemana kini kembali menyergap dan merasuki jiwa. Air mata kembali meleleh, namun kali ini bukanlah karena kesedihan, melainkan air mata bahagia. Sebab ia kembali bisa melihat wajah suaminya meski keadaan mereka kini telah berbeda.
Milly menatap ngilu pada dua orang tengah berjibaku itu. Ibra yang terkapar di lantai terlihat pasrah menerima pukulan dari Billy. Wajahnya lebam dengan tetesan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya. Lelaki itu benar-benar kepayahan.
Namun ada yang membuat Milly semakin membelalak. Yaitu tangan Billy yang terluka namun tetap menghujamkan pukulannya.
"Lucky! Heri! Di mana kalian!" Ibra berteriak memanggil teman-temannya. Namun tak ada yang datang memberikan bala bantuan.
Billy menyeringai iblis sambil mencengkram kerah kemeja Ibra. Menariknya agar lebih dekat dengan dia. "Sekuat apa kau berteriak, mereka tak akan datang memberikan bantuan. Bangun! Dan lawan aku sekarang! Tunjukkan kesombonganmu dengan tenaga untuk melawanku!" Billy menarik kerah Ibra memaksa lelaki itu berdiri.
"Hentikan Pak! Jangan teruskan!" Milly berteriak-teriak agar Billy menghentikan, namun Billy yang sudah terlanjur dikuasai oleh amarah tak bisa menghentikan pergerakan tangannya.
Tak ingin tinggal diam, Milly memberanikan diri meraih tangan Billy dan menahannya kuat-kuat. Billy pun terpaksa menghentikan, dan menoleh ke arah Milly.
Untuk sejenak mereka saling memandang. Mengisyaratkan kata melalui pandangan mata. Ekspresi Billy seketika melemah saat Milly membelai kepalan tangannya dengan kelembutan.
Billy sontak membulatkan mata. Ia kembali naik pitam. Milly menghentikan bukanlah karena dirinya, melainkan untuk melindungi lelaki yang ia hajar itu.
Sungguh miris. Lelaki mana yang rela istrinya disentuh orang lain. Billy datang memburu waktu dan menghalau segala rintangan hanya untuk menolong istrinya. Tapi apa yang ia dapatkan selain kekecewaan. Sebab Milly justru membela Ibra mati-matian meski telah melecehkan dan menyakitinya.
Wajah Billy yang sempat melembut seketika menggelap penuh kemarahan. Ia menggeram penuh kekecewaan. Kedatangannya untuk menyelamatkan istrinya berakhir menyakitkan. Kini ia tahu seperti apa perasaan Milly yang sesungguhnya.
Semula ia berpikir akan menghajar lelaki itu habis-habisan untuk menunjukkan pada Milly seberapa berharganya gadis itu untuk dia. Namun melihat pembelaan Milly terhadap Ibra membuatnya merasa sakit dan kehilangan semangat yang sempat menggelora.
Billy menatap Milly dengan senyuman getir tersungging di bibir. Ia menggeleng lemah seolah tak percaya. "Jadi begitu? Kau masih membelanya meski telah menghancurkan usaha ayahmu?"
Billy mendengkus sambil membuang muka saat Milly tak juga menjawab. Entah apa yang dipikirkan istrinya itu hingga hanya terbengong dan membelalakkan mata.
__ADS_1
Billy menggigit bibir bawahnya yang terkatup rapat selagi selagi mengalihkan wajah dari istrinya. Ada riak-riak air pada netranya yang memerah. Sebuah desiran perih terasa, saat sesuatu tak kasat mata seperti menyayat-nyayat hatinya.
Billy mengangguk tipis berulang-ulang. Membasahi bibirnya, ia lantas memutar kepala menatap Milly yang masih terdiam dengan bibir bergetar. "Baik, kalau itu maumu," ucapnya dengan senyuman yang dilaksanakan. "Rupanya kau lebih memilih dia daripada aku."
Milly sontak menggelengkan kepala mendengar perkataan Billy barusan. Lelaki itu telah salah faham mengartikan ucapannya tadi. Kini ia kebingungan mencari cara untuk meluruskan kesalahpahaman ini.
Belum sempat Milly buka suara untuk menjelaskan, suasana kembali menegang saat Billy kembali terbakar amarah dipicu oleh seringai Ibra yang terkembang penuh kemenangan. Lelaki itu merasa sebab mengira jika Milly benar-benar membelanya. Hingga Billy kembali mengepalkan tangan sebelum kemudian menghujamkan pukulan tanpa ampun.
Seketika tubuh Billy terpaku dengan tangan terkepal yang menggantung di udara. Gerakannya tertahan oleh Milly yang tiba-tiba bersimpuh dan memeluk kakinya untuk memohon.
"Pak, saya mohon hentikan ini semua! Saya tidak mau anda terlibat masalah lebih jauh! Saya tidak mau tangan suci anda ternoda oleh darah pria iblis ini! Saya tidak mau tangan anda terluka karena memukulinya ,,,!" Milly berteriak setengah merengek di akhir perkataannya. Gadis itu kemudian tersedu sambil mengeratkan dekapannya.
Billy yang ternganga langsung menurunkan pandangan, menatap Milly yang tengah menunduk dalam dengan wajah penuh kesedihan. Ekspresi Billy seketika melembut, melihat istrinya yang mengiba. Terlebih lagi mendengar alasan yang baru saja gadis itu teriakan.
Benarkah yang kudengar tadi? Dia tak ingin aku terkena masalah? Dia tak ingin tanganku ternoda oleh darah pria ini, dan dia tak ingin tanganku terluka karena menghajarnya? Jadi dia benar-benar mengkhawatirkanku? batin Billy tak percaya. Ini sungguh terlalu mengejutkan baginya.
Billy seperti sedang diterbangkan hingga ke atas awan, sampai-sampai tubuhnya terasa seperti sedang mengambang saking bahagianya. Ia bahkan lupa jika tangan kirinya tengah mencengkeram kerah kemeja Ibra. Cengkeramannya terlepas hingga membuat tubuh Ibra yang tak berdaya itu terjatuh ke lantai dengan mengenaskan.
Billy langsung berjongkok untuk mensejajarkan posisinya dengan Milly. Gadis itu sontak melepaskan dekapannya namun tetap tertunduk dalam.
Tangan Billy bergerak memegang dagu Milly lalu sedikit memberikan tarikan agar Milly mendongak menatapnya.
"Bisa kau katakan sekali lagi?" tanya Billy saat pandangan mereka bertemu.
"Hah?" Milly mengerjap-kerjap kebingungan dan hal itu membuat Billy seketika merasa gusar.
"Apanya?" tanya Milly dengan wajah polosnya.
"Ah, yang itu tadi," balas Billy menggemertakkan giginya. Laki-laki itu mendesah pelan sambil mengalihkan pandangan. Kini ia mulai terlihat gelisah. Billy bahkan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yang bagian mana ya, Pak? Yang saya katakan tadi banyak. Dan itu secara spontanitas. Bahkan saya saja udah lupa, hehe," tutur Milly sambil nyengir.
__ADS_1
Sialan. Billy mengumpat kesal. Lalu kemudian mendesah kasar. "Ah, lupakan!" pungkasnya dengan mimik kesal sambil bangkit dari jongkoknya.
Bersambung