Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Kenapa harus pergi?


__ADS_3

Suara decitan akibat gesekan sepatu dengan lantai yang terdengar mendekat, berhasil memaksa Milly untuk menoleh ke arah pintu. Iris coklatnya langsung bersirobok dengan sosok pria yang sudah ia kenal. Pria berperawakan tinggi itu tengah melangkah menghampirinya dan Billy yang masih duduk di sofa ruang tengah.


Ibra? batin Milly bertanya-tanya. Ia memicingkan mata seperti tak percaya. Keadaan pria itu berbeda total dari sebelumnya. Berjalan lemah seperti nyaris tanpa daya, wajah babak belur seperti habis dihajar massa. Tertunduk lesu dengan tangan terikat di belakang tubuhnya.


Sadar sedang diperhatikan, pria dengan balutan kemeja lusuh setelah dua hari tanpa ganti itu berhenti melangkah dan bersikap salah tingkah.


Beralih dari Ibra, Milly menoleh ke arah kiri, menatap Billy yang masih merapatkan tubuh padanya dengan ekspresi penasaran, sedang yang ditatap hanya menunjukkan sikap tenang dan santai seperti tak terjadi apa-apa.


Milly mengerjapkan matanya pelan sebelum kemudian membuang muka. Bukan karena benci, melainkan malu sebab mata Billy sama sekali tak beralih dari menatapnya. Begitu intens, sampai-sampai ia jengah dibuatnya.


"Kenapa berhenti di sana?" Pertanyaan Billy ditujukan pada sang anak buah yang mengantar Ibra kepadanya. Namun, tatapannya sama sekali tak bergeser dari sang istri, bahkan mengulas senyum sambil memainkan sulur rambut panjang Milly yang hitam legam dan indah.


Seolah paham dengan instruksi sang bos besar, pria berbadan tegap dengan balutan stelan jas hitam itu menjejakkan kaki kanannya pada punggung Ibra sambil berteriak, "Jalan!"

__ADS_1


Brak!


Tubuh Ibra yang tanpa perlawanan sontak terhuyung ke depan dan tersungkur lunglai di depan Milly dan Billy. Pria itu meringis saat kerasnya pinggiran meja tertimpa dahinya. Rasa nyeri langsung menyerang. Warna lebam langsung nampak pada kulit yang membungkus tulang.


Tak seperti Milly yang sampai berjingkat karena saking terkejutnya, Billy hanya tersenyum miring sambil mengedipkan matanya genit pada Milly yang tengah mendelik tak percaya. Secuil adegan kekerasan barusan bahkan kembali mengingatkan pada baku hantam Billy dan Ibra di depan matanya tempo hari. Seperti masih menyisakan trauma, tubuhnya mendadak gemetaran karena saking takutnya.


"Se-sepertinya aku harus pergi." Milly langsung bangkit dari sofa. Namun, tangan Billy berhasil mencekal pergelangannya sebelum ia mulai melangkahkan kakinya.


"Biarkan aku pergi, Pak. Aku tidak ada kepentingan dengan dia ...," mohon Milly dengan sangat. Ia sudah menebak kejadian selanjutnya pasti akan terjadi pertumpahan darah. Mengingat jika pria yang kini tengah memangkunya itu bermental baja. Yang tak pandang bulu saat memberikan hukuman pada orang yang mengusiknya. Bayangan bagaimana Billy menampar Milea tadi bahkan masih membekas jelas di ingatan.


Sungguh Milly tak sanggup. Meski setengah mati membenci Ibra, tetapi ia tak mau menyaksikan pria itu meregang nyawa di hadapannya.


"Hemm?" Sebelah alis Billy terangkat, menatap Milly dengan wajah heran. "Dia datang kemari khusus untuk bertemu denganmu. Seharusnya kau akan senang, bukan?"

__ADS_1


Billy menjeda ucapannya sejenak, menatap Milly yang terkesiap sebelum kemudian kembali melanjutkan kata.


"Kenapa malah ingin pergi? Berusaha menghindar? Apa kau tidak tega melihat wajahnya yang sudah porak-poranda?" tanyanya dengan nada tenang, tetapi penasaran.


Bersambung


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Hai semuaπŸ€— aku datang dengan secuil kata dan cinta, Hehe untuk pemanasan,


Maaf telah membuat kalian menunggu lama (duileh, sok merasa dinantikanπŸ€­πŸ™ˆ)


semoga nggak bikin penasaran 😁😁

__ADS_1


__ADS_2