
"Kalau mau hapus ya hapus saja,"Ucap Mayang santai begitu ponselnya sudah berpindah tangan.Sella yang terlihat geram dan tangan yang gemetar sedang berusaha menghapus video itu."semua juga sudah tau siapa yang benar dan siapa yang salah."
"Ini fitnah!Aku tidak melakukan ini!"Pekik Sella tak terima.Bibirnya gemetar."Perempuan sialan!"Sella melayang kan tangan nya bermaksud menampar Mayang namun ia malah memekik kesakitan karena buku-buku jemari kuat telah mencengkeram lengan nya hingga ia merasa kesakitan.
"Pergi dari sini atau aku akan melempar mu dengan paksa."Brian menggertakkan giginya Karena menahan amarahnya.Kata-kata yang terucap dari mulut Brian seperti belati yang mengghujam menembus relung hati Sella yang terdalam hingga menyebabkan luka yang menganga.
Sella merasa harga diri nya di injak-injak karena Brian lebih membela Mayang di banding dia.Susah payah ia berusaha menarik dan melepaskan tangan nya yang sepertinya mulai memar itu.Dan saat Brian melepaskan tangan nya,Sella kemudian berlari keluar dengan membawa serta ponsel Mayang.
Mayang yang merasa benda milik nya sedang terancam pun ikut berlari keluar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Sella dengan sekuat tenaga melempar kan ponsel itu jauh membentur ke sebuah batu besar kemudian terpental melayang ke udara dan akhirnya tercebur ke dalam kolam renang dan tenggelam di dasar kolam yang sedalam hampir dua meter itu.
Melihat ponselnya di perlakukan dengan kejam seperti itu,Mayang pun spontan berlari dan melompat kedalam kolam dan berenang ke dasar untuk mengambil ponsel nya di sana.
Semua orang yang berada di ruang kerja tadi ikut keluar untuk melihat apa yang terjadi.Mayang yang telah menemukan ponselnya pun kembali naik ke permukaan dengan nafas yang terengah-engah.
Brian meraih tubuh mayang yang terlihat lelah dan membantu nya untuk naik ke tepian kolam.Dengan linangan air mata Mayang merakit dan menyatukan kembali kepingan-kepingan dari badan ponsel nya yang terpisah.Rasanya mustahil untuk ponsel itu kembali berfungsi seperti sedia kala jika dilihat dari proses jatuh nya tadi hingga tak berbentuk lagi.
Isak tangis Mayang pun terdengar ketika ponsel nya benar-benar tak menyala lagi.
"Menyala lah,plis... ku mohon menyala..!!"Mayang menangis tersedu sembari memeluk ponselnya yang malang tanpa mempedulikan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan.Akses Satu-satu nya untuk bisa berhubungan dengan keluarganya kini tak berfungsi lagi.
Brian yang merasa hatinya ikut teriris pun meraih tubuh Mayang dan memeluk nya dengan erat.Tanpa mempedulikan pakaian nya yang ikut basah.Namun mayang justru berontak dan mendorong tubuh Brian agar menjauhi nya.Lantas ia melangkah mendekati Sella yang masih berdiri menatapnya dengan tatapan sinis nya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?!"Teriak Mayang di sela-sela tangis nya pada Sella yang terlihat puas sudah melampiaskan amarah nya."Memang nya Apa salah ku pada mu!Selama ini aku hanya diam saat kau berusaha menindas ku!"
Sella hanya menyeringai puas tanpa bicara sepatah kata pun.
Mayang berbalik dan berlari menuju kamarnya meninggalkan semua orang yang ada disitu.Tak ada lagi yang bisa di lakukan nya lagi.Balas dendam pun percuma.
Semua yang berada di tempat itu kecuali Sella tampak saling melempar pandang karena tak dapat berbuat apa-apa,lalu menatap kepergian Mayang dengan getir.
Ratih yang sudah tak tahan akhirnya menarik lengan Sella."Pergi lah dari sini jika kau tidak ingin melihat kemarahan Brian!"Ratih bicara dengan nada memperingatkan.
"Tante,,, tante kenapa lebih membela dia dari pada aku?Seharusnya tante belain aku!"Sella bicara dengan nada menuntut.
"Sella kamu tahu kan kalau kamu yang bersalah?!"Ratih membulatkan matanya menatap gadis itu tajam.
"Brian...!"Sella berlari menghampiri Brian meminta perlindungan pada lelaki itu.Berharap tetap mempertahankan nya.
Tapi Brian malah mencengkeram lengan Sella dengan kuat dan menarik nya secara paksa membawa nya meninggalkan tempat itu.
Brian menghempaskan tubuh Sella dengan keras hingga tersungkur di lantai teras dan membuat gadis itu mengaduh kesakitan."Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!"Kalimat yang terlontar dari mulut Brian sarat akan ancaman."Penjaga!!!"Beberapa orang lelaki bertubuh tegap tampak berlari mendekati Brian dan menunggu perintah."Bawa gadis ini keluar dan pastikan dia tak akan pernah kembali lagi!!"
"Baik tuan."Para penjaga itu setengah membungkuk sopan lalu dengan ringan nya mengangkat tangan Sella hingga kaki nya tak menapak di tanah.
"Hey lepas!Lepaskan aku!Brian maafkan aku!"Sella berontak,meronta dan menjerit tapi Brian tak bergeming dan memilih meninggalkan tempat itu.Bagi nya ada yang lebih penting dari ini.
Brakk!
Suara pintu mobil Sella yang di tutup dengan di banting keras oleh para penjaga yang Brian perintahkan tadi.Mereka sudah memindahkan mobil Sella terlebih dulu ke luar gerbang.
Sella yang sudah berada di balik kemudi mengumpat dan menyumpahi para pengawal itu dengan kata-kata kotor karena telah memperlakukan nya dengan buruk.Lalu gadis itu mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi.
**********
"Mayang..."Panggil Brian sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar Mayang.Ia terpaksa masuk karena yak ada respon dari gadis itu saat dia mengetuk pintu tadi.
Terdengar suara isak tangis kecil dari balik ranjang yang berukuran besar itu.Mayang tengah duduk bersimpuh dengan menggunakan tepian ranjang sebagai sandaran.Brian pelan-pelan mendekat dan menemukan Mayang dengan tubuh nya yang terlihat lunglai disana.
Brian ikut duduk bersila di karpet tebal di dekat Mayang.Gadis itu tampak salah tingkah dan memalingkan wajah nya sembari menyeka sisa air mata yang masih tertinggal di pipi nya.Tubuh nya beringsut membelakangi Brian.
"Untuk apa tuan kesini."Suara Mayang terdengar lirih.seperti tak suka dengan kedatangan Brian.
__ADS_1
"Ganti pakaian mu dengan yang kering."Brian bicara dengan nada memerintah.
"Tidak mau."Mayang menjawab singkat.
"Tubuh mu basah kuyup begitu,kau akan sakit nanti!"Brian meninggikan suaranya seoerti memaksa.
"Memang siapa yang peduli!"Suara Mayang tak kalah tinggi.
"Tentu saja kami semua peduli!"Sahut Brian cepat.
"Lebih baik anda urus calon istri anda itu!Bukan nya malah disini bersama orang yang tak penting."Terdengar nada kesal dari kalimat Mayang barusan yang membuat Brian tersenyum puas.Ia berhasil memprofokasi dan membuat Mayang cemburu padanya.
"Aku sudah mengurus nya dan melempar gadis itu keluar dari rumah ini."
"Apa?!"Mayang seoerti tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Benarkah Brian telah mengusir Sella?
Brian meraih tangan Mayang dan mengambil ponsel dari genggaman gadis itu."Kau masih saja menangisi benda ini?"Tanya Brian heran."Kau lihat kan dia terluka parah dan tidak mau menyala lagi walau kau menangis sambil berguling-guling sekalipun.. Jangan menghabis kan energi mu hanya untuk hal yang sia-sia.. Kau bisa mengganti ponsel mu dengan yang baru yang lebih canggih seperti apapun yang kau inginkan akan ku berikan."Brian mencoba membujuk.
"Ponsel ini terlalu berharga untuk saya,sehingga tak dapat di ganti kan oleh ponsel baru secanggih apapun."Mayang menjawab tegas."Saya tidak mau ponsel lain."
"Seberapa berharganya?"
Mayang kembali terisak.Brian refleks mengusap lembut bahu gadis itu untuk menenangkan nya."Ponsel ini adalah hadiah dari ayah saya, satu-satu nya kenangan dari keluarga saya.Ponsel ini satu-satu nya akses saya untuk bisa berhubungan melepas rindu dengan keluarga saya."Suara Mayang terdengar terbata karena isak tangis nya.
Tangisnya semakin pecah saat Brian menarik tubuh nya dan memeluk nya erat.Gadis itu hanya bisa menangis dalam kepasrahan setelah tak berhasil saat meronta mencoba melepaskan diri dari laki-laki itu.
Sementara di ruangan lain,Ratih dan Malik terlihat sedang membahas sesuatu yang serius.
"Kita harus segera mendesak Brian secepatnya!Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi.."Ratih yang terlihat gusar sambil mondar-mandir merasa tak tenang.
"Sayang duduk lah tenangkan dirimu."Malik membimbing istrinya untuk duduk di sebuah sifa panjang bersama dengan nya.
"Itu tak akan terjadi,kita memiliki banyak penjaga untuk mengawasi gadis itu."
"Dia gadis yang tangguh.Aku yakin dia lah wanita yang tepat menjadi pendamping Brian."Ratih bicara dengan penuh keyakinan.Ada secercah harapan di matanya yang terlihat binar kebahagiaan itu.Ratih kemudian bangkit dari duduk nya dan merik tangan Malik."Sayang ikut lah bersama ku."Ucap Ratih kemudian karena suaminya tak bergeming.
"Kemana?"Tanya Malik bingung namun pasrah saat istrinya memaksa nya untuk ikut bersamanya.
"Ayo ikut saja.."
**********
"Sekarang ganti pakaian mu."Perintah Brian seraya melepas pelukan nya saat tangis Mayang mulai mereda."Kau tidak ingin sakit saat bertemu dengan keluarga mu kan...?"Ucap Brian dengan seringai penuh arti yang membuat Mayang membelalak kan matanya tak percaya.
"Maksud tuan..?"Mayang ingin Brian mengulangi ucapan nya lagi yang masih mengambang.
"Aku mengizinkan mu bertemu untuk bertemu dengan keluarga mu selama dua hari,tapi dengan satu syarat."
"Apapun itu akan saya lakukan tuan!"Mayang bereaksi cepat sembari mengguncang lengan Brian mendesak nya agar segera bicara.
"Kau harus berhenti menangisi ponsel itu dan mau menggantinya dengan yang baru."
"Baik tuan saya akan berhenti menangis."Mayang dengan cepat menyeka air matanya dan memasang senyum manis nya."Apa tuan benar-benar membiarkan saya pulang?"Mayang kembali bertanya untuk memastikan.
"Hanya dua hari,tidak lebih.Billy akan mengantar mu besok.Jadi persiapkan dirimu."
Brian bersandar di dinding di samping pintu kamar mandi dengan posisi bersedekap dan menyilangkan kedua kakinya.Sengaja menunggu Mayang yang tengah mengganti pakaian nya.Brian menggerakkan lehernya menoleh ke arah pintu yang di buka dari dalam.
"Tuan,kenapa masih disini?"Mayang terlihat terkejut mendapati Brian yang seperti sengaja menunggu nya.
"Aku hanya takut kamu pingsan."Jawab Brian sambil menarik sudut bibirnya.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa tuan,,, anda keluar lah."
Brian memutar tubuh nya menghadap ke arah Mayang."Aku sedang menunggu bayaran ku."Ucap Brian kemudian di barengi dengan senyuman yang menggoda membuat Mayang bergudik ngeri.
"Bayaran apa tuan..?"Tanya Mayang takut-takut sembari menarik kakinya melangkah mundur pelan-pelan menjauhi Brian.
"Aku sudah berusaha keras membuat mu berhenti menangis kan,,, harus nya aku mendapat upah yang sepadan!"
"** tapi saya tidak punya uang tuan... Saya harus memberi anda upah berapa?"
"Aku tidak mau uang!"Brian setengah membentak.Ia mengayunkan langkah nya mendekati Mayang yang telah terpojok menghimpit tembok.
Mayang tak berani menatap Brian yang tiba-tiba sudah berada di hadapan nya sangat dekat dengan sorot mata nya yang tajam menatap lekat ke arah nya.
"Lalu tuan maunya apa?!"Tanya Mayang mulai kesal karena merasa di intimidasi.
Wajah Mayang berubah merah padam saat melihat Brian mengetuk-ngetuk pelan bibir nya sendiri dengan jari telunjuk nya mengisyaratkan agar mencium nya disana.Mayang spontan membuang mukanya.
"Kalau tidak mau aku akan menarik kembali ucapan ku tadi!"Brian berbicara dengan nada mengancam.Wajahnya terlihat marah membuat mayang seketika gelagapan.
"Tuan,, tuan tidak bisa membatalkan begitu saja.Kita sudah sepakat kan?!"Mayang memprotes secara terang-terangan.
"Kalau begitu lakukan!Hanya sebuah ciuman apa susah nya si?!"
Tapi masalah nya saya belum pernah mencium lelaki,bagaimana saya melakukan nya?!
"Apa kau tidak tau bagaimana caranya mencium?!"Brian akhirnya bertanya karena melihat Mayang yang seperti kebingungan.
Mayang mengangguk kan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya menahan malu.
"Apa kau belum pernah berciuman dengan lelaki lain selain aku?!"Brian bertanya lagi kali ini dengan nada penuh desakan.Ia betul-betul tak sabar ingin mendengar jawaban itu dari mulut Mayang.
Sekali lagi Mayang mengangguk kan kepala nya dengan rasa malu yang tak dapat ua tahan hingga membuat wajahnya menjadi merah padam.
Brian tergelak melihat ekspresi wajah Mayang yang menurutnya menggemaskan itu.Sekaligus ua merasa lega karena ia lah satu-satu nya lelaki yang telah menyentuh Mayang.
"Kenapa menertawakan saya seperti itu?!"Mayang terlihat salah tingkah."Saya memang tidak pernah berpacaran,tapi bukan berarti tidak ada yang menyukai saya kan!"Mayang membela diri untuk mengusir perasaan malu nya.
"Baiklah... aku percaya."Brian tak mau berdebat."Sekarang cium aku seperti aku pernah mencium mu."Brian melingkar kan kedua tangan nya di pinggang Mayang dan menarik tubuh gadis itu agar merapat padanya.
Mayang membelalak kan mata karena terkejut lalu mendorong dada kekar Brian dengan kedua telapak tangan nya dengan kuat."Tuan jangan sedekat ini saya takut...!"
Brian menghela nafas dalam lalu melepaskan tangan nya dari pinggang Mayang.Ia mulai kesal karena sudah menahan hasrat nya begitu lama.Sepertinya Matang memang sengaja mengulur waktu."Cepat lakukan atau kau benar-benar tidak akan pulang besok atau kapan pun!"Brian menggeram penuh ancaman membuat tubuh Mayang menjadi gemetar.Ia tak menyangka kalau Brian akan semarah ini padanya.
"Tuan jangan marah... "Bujuk Mayang dengan nada memelas.Ia bergerak mendekati Brian yang tengah memalingkan wajahnya sambil berkacak pinggang.Mayang memberanikan diri meraih dagu Brian agar lelaki itu menghadap ke arahnya.
Mayang berjinjit lalu meraih kerah kemeja Brian agar ia bisa mencapai bibir lelaki itu.Brian membungkukkan tubuh nya agar sejajar dengan tinggi Mayang supaya memudahkan gadis itu untuk mencium nya.
Dengan wajah yang memucat dan bibir yang gemetar Mayang mendekat kan bibirnya dengan bibir Brian.Mayang mulai menanamkan pada bibir Brian yang telah menanti dan terlihat memejam kan mata begitu bibir mereka bersentuhan.
Ketika Mayang akan menarik kepalanya untuk menjauh,Brian dengan cepat merengkuh tengkuk leher mayang karena ia tau gadis ini pasti akan bersikap curang padanya.
Brian menggerakkan kepalanya semakin memperdalam ciuman nya tanpa menghiraukan Mayang yang meronta.Ia melepaskan ciuman itu saat Mayang tersengal karena kehabisan nafas.
Wajah Mayang kian terlihat semakin merona karena menahan malu.Ia menarik kakinya lalu melangkah agar menjauh dari Brian,namun kakinya tersandung ujung karpet bulu yang terlipat sehingga ia kehilangan keseimbangan.Spontan ia mencari pegangan dan tak sengaja Mayang meraih baju Brian dan menarik nya hingga tubuh Brian yang tak dalam keadaan tak siap pun jatuh terjerembab menindih tubuh Mayang dilantai.
Dan dalam waktu yang bersamaan Malik Dan Ratih tepat membuka pintu dan memasuki ruangan itu sehingga bisa melihat dengan jelas kedua manusia yang terlihat sedang bergumul itu.
"Brian!!Apa yang kamu lakukan!!"Teriak Ratih seketika dengan wajah penuh kemarahan.
Bersambung
__ADS_1