
Kuswara yang mendengar kabar kepulangan Brian dari penjaga gerbang depan segera bergegas melakukan penyambutan seperti biasa. Bersama dengan beberapa orang pelayan wanita, ia tampak berdiri di barisan paling depan.
"Selamat datang, Tuan." sapanya dengan sopan begitu Brian memasuki pintu utama.
"Di mana Nyonya kalian?" pertanyaan Brian terdengar datar.
"Sedang berlatih di ruang gim, Tuan. Bersama beberapa orang instruktur wanita dan didampingi dokter kandungan juga." Kuswara menjawab sambil menunduk sopan. Menjelaskan keadaan sang nyonya dengan sejujurnya.
Brian melepaskan jas yang masih dikenakannya lantas memberikannya kepada Kuswara dan langsung diterima oleh wanita paruh baya itu. "Aku akan melihatnya ke sana."
"Perlu saya temani, Tuan?" Kuswara menyela Brian yang akan melangkahkan kakinya.
"Tidak terima kasih, aku bisa sendiri. Siapkan saja air hangat untuk kami mandi." Brian memerintahkan sebelum ia beranjak pergi.
Sampai di depan pintu ruangan g**im, dua orang penjaga yang memang ditugaskan untuk menjaga ruangan itu selama sang nyonya menjalani pelatihan segera membukanya begitu Brian datang. Dengan sikap hormat dan patuh, keduanya mempersilahkan sang bos besar untuk masuk ke dalam.
Brian yang sudah berada di depan pintu bisa bisa mendengarkan suara seruan beberapa orang wanita yang salah satunya ia sangat hafal, siapa lagi kalau bukan suara Mayang. Suara pukulan demi pukulan pun tampak jelas terdengar di telinganya.
Tubuh menjulang Brian tampak berdiri memperhatikan sang istri dari jarak yang sedikit jauh, di tempat yang minim pencahayaan sehingga tak terlihat oleh para wanita yang sedang beradu tinju di dalam sana.
Dengan delapan jemari yang menelusup ke dalam saku celana bahannya, ekspresi wajah Brian tampak tersenyum melihat istrinya yang terlihat gahar saat menggosok dua belati di tangannya sebelum kemudian siap melawan instruktur yang berperan sebagai lawannya dengan menggunakan senjata yang sama.
Tubuh wanita hamil itu tampak dipenuhi dengan keringat yang membasahi seluruh badan. Dengan kostum gim model ketat yang melekat di tubuh, hingga bentuk perutnya yang mulai membuncit pun terlihat dari pandangan.
Suara khas gesekan benda tajam dari dua belati yang beradu begitu kental terdengar memenuhi ruangan, disertai suara teriakan dua wanita semakin memperlihatkan begitu panasnya pertarungan. Kejelian Mayang yang mampu memanfaatkan kelengahan lawan membuatnya berhasil menjatuhkan lawan duelnya itu setelah kaki jenjangnya berhasil menyapu lawan dengan satu kali tendangan.
Wanita muda itu memekik tertahan ketika merasakan sakit di tubuh bagian belakang, sebab begitu keras ia terhempas pada lantai yang terbuat dari marmer itu. Sementara itu di sisi lain ia tak bisa berkutik karena tubuh Mayang sudah menguasai tubuhnya di atas dengan ujung belati yang tertodong tepat di lehernya.
Suara tepukan tangan yang terdengar menggema dari instruktur pelatih menandakan pertarungan telah usai dengan Mayang sebagai pemenangnya. Mayang menyunggingkan senyum saat bangkit, lantas mengulurkan tangannya untuk membantu sang lawan bangkit dari sana.
"Terima kasih, Nyonya." ucap si gadis saat menyambut uluran tangan Mayang, dan kemudian bangun dengan tubuh segar seolah tak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Maafkan aku ya. Apa punggungmu kesakitan?" Mayang bertanya khawatir sambil mengusap punggung sang lawan latihan.
"Ah tidak, Nyonya. Saya sudah terbiasa." si gadis menjawab sopan, dengan senyum manis menghiasai bibir mungilnya.
"Terima kasih ya."
"Tidak perlu berterima kasih Nyonya, ini sudah menjadi kewajiban saya."
Namun ada yang berbeda dari suara tepuk tangan itu. Mayang yang merasa curiga dan sudah mengira-ngira begitu saja seketika mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, guna mencari sosok lain yang ia perkirakan berada di sana selain mereka.
Dan benar saja, rupanya Brian lah yang tengah bertepuk tangan sambil melangkah mendekat ke arah lima wanita yang sedang berada di sana. Lelaki yang selalu berhasil menghipnotis setiap mata yang menatapnya itu tampak menyunggingkan senyum penuh kekaguman terhadap istrinya.
"Sayang?" lirih Mayang seolah tak percaya jika sang suami pulang secepat ini. Seulas senyum lantas tersungging dari bibir kemerahan itu, ketika membalas senyuman suaminya. Ia lantas berhambur menubruk tubuh Brian saat lelaki itu merentangkan tangannya seolah mengisyaratkan agar si istri memeluknya.
Empat wanita yang berada di sana hanya bisa menunduk patuh dengan sikap sopan.
"Pergilah tinggalkan kami. Latihan hari ini sudah cukup sampai di sini." Titah Brian tanpa melihat ke arah keempatnya.
"Terima kasih atas kerja samanya hari ini. Usahakan agar kalian tetap berhati-hati dan jangan bersikap mencurigakan, sebab musuh selalu mengintai setiap pergerakan." imbuh Brian dengan nada memperingatkan.
"Baik Tuan, kami akan lebih berhati-hati." Instruktur wanita berbadan kekar itu berucap tegas untuk meyakinkan.
"Bagus." Brian memuji singkat.
"Kami permisi mohon diri Tuan Brian dan Nyonya Mayang." pamit keempatnya yang kemudian di balas anggukan oleh Brian.
"Terima kasih untuk hari ini ya semuanya!" sahut Mayang yang seketika berjinjit dan melongok dari atas pundak suaminya. "Aku tunggu kedatangan kalian besok-besok lagi ya." imbuhnya dengan suara yang terdengar riang.
Keempat wanita yang sudah beberapa langkah meninggalkan Brian dan Mayang itu seketika berhenti dan berbalik badan. "Dengan senang hati, Nyonya." jawab mereka dengan senyum bahagia.
Mereka adalah empat orang terbaik yang ditunjuk langsung untuk melatih kekuatan fisik Mayang sebagai pembekalan diri istri Brian itu. Sebagai umpan, dia harus memiliki bekal ilmu bela diri yang matang agar perannya yang sebagai umpan itu tidak termakan.
__ADS_1
Meskipun perancangan sekenario misi benar-benar dirancang untuk keamanan Mayang, namun tidak menutup kemungkinan istri Brian itu akan merasa terancam tanpa perlindungan sama sekali di dekatnya. Maka dari itulah hal ini penting dilakukan. Dengan basic Mayang yang telah memiliki ilmu dasar tentang ilmu bela diri, hal itu justru semakin mempermudahnya dalam menyerap pelajaran baru yang para pelatih itu berikan.
Sepeninggalnya keempat orang tadi, kini hanya menyisakan sepasang suami istri yang tengah bersatu dalam sebuah pelukan hangat.
Saling memandang, tangan Brian bergerak menyibak anakan rambut yang membingkai wajah cantik istrinya, lantas menyelipkannya ke belakang telinga. Di usapnya wajah basah sang istri dengan lembut, lalu bertanya, "Capek?"
Mayang mengulas senyum sambil menyentuh tangan Brian yang menangkup kedua sisi pipinya. "Sedikit." Jawabnya sedikit lemah, dengan napas yang belum normal akibat latihan beratnya di hari pertama.
"Jadi apa keputusanmu? Masih mau lanjut?" Brian menaikkan alisnya seolah menggoda. "Masih ada kesempatan untuk mundur."
"Tidak, Sayang. Aku tetap pada pendirianku semula."
Mendesah pelan, Brian telah kehabisan kata-kata untuk membujuk istrinya. Dan pada akhirnya ia hanya bisa berpegang pada satu kata, yaitu pasrah.
"Baiklah ... aku tau istri hebatku ini memang tidak mudah menyerah." sambil menyebik, Brian pun berucap dengan nada memuji pada istrinya.
"Istri hebat?" Mayang menautkan alis. "Kau bilang begitu karena melihatku menjatuhkan lawanku tadi?"
"Ya." Brian menjawab singkat.
"Apa sih Sayang! Dia tadi memang sengaja mengalah untuk aku! Kumohon jangan meledekku seperti itu ...!" sambil menutup wajahnya dengan dua belah telapak tangan, Mayang merengek malu-malu.
"Mengalah bagaimana?" Brian menarik lengan Mayang agar si istri berhenti bersembunyi. Lalu setengah membungkuk untuk mensejajarkan posisi mereka. "Aku melihatnya sendiri sat kau menjatuhkan lawanmu tadi. Kau tahu Sayang? Kau benar-benar keren ...." ucapnya penuh kekaguman.
"Sayang, itu tidak seperti kelihatannya."
"Sudahlah. Aku malas berdebat." putus lelaki itu sambil meraih jemari sang istri lalu menggenggamnya. "Bukankah lebih baik kita membersihkan diri?"
"Hehe, benar juga." Mayang meringis menyadari tubuhnya yang benar-benar kacau.
Bersambung
__ADS_1