Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Tatapan Buas


__ADS_3

Berdiri dengan tangan menyilang di depan dada, seorang pria muda berperawakan tinggi tampak mengamati sesosok tubuh--yang tergeletak di atas ranjang dengan mata yang terpejam--dengan penuh kekaguman. Senyumnya mengembang terlihat begitu senang melihat gadis itu diam tanpa daya dan tanpa perlawanan.


Rasanya seperti mimpi bisa mendapatkannya dengan cara yang begitu mudah. Bahkan ia tak perlu menggunakan cara kekerasan dan pemaksaan seperti yang pernah ia bayangkan.


"Apa kalian memakai biusnya dengan dosis besar?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari si wanita pada beberapa anak buah yang tampak berjaga di belakangnya.


"Tidak, Bos. Kami hanya memakainya sedikit saja. Mungkin tak lama lagi dia akan segera siuman," jawab seorang berperawakan kekar dengan pakaian serba hitam.


"Kalau begitu tinggalkan kami berdua. Aku tak ingin saat sadar nanti dia merasa ketakutan dengan keberadaan kalian di sini," perintahnya sambil mengibaskan tangan.


"Baik Bos," balas lima orang lelaki itu serentak. Bersamaan kelimanya mengangguk sopan sebelum berbalik badan lalu keluar meninggalkan sang bos di sana setelah menutup pintunya rapat.


Hanya tinggal berdua saja, membuat jiwa si lelaki begitu bahagia. Seolah hanya dirinya sendirilah pemilik si wanita.


Lipatan tangan di dada itu terlepas saat dirinya melangkah mendekat. Dengan tubuh yang setengah membungkuk, ditariknya selimut hangat yang menutup si wanita hingga mencapai dada. Lantas menarik kursi rias sebelum kemudian duduk menghadap tepat ke arah wanita itu tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya.


Sementara si wanita yang sejak tadi memejamkan mata, meskipun ia terdiam tanpa sedikitpun pergerakan, namun kesadaran penuhnya sama sekali tak menghilang. Ia bahkan bisa mendengarkan serta merasakan apapun yang terjadi pada dirinya. Ya-dia hanya sedang berpura-pura tidak sadarkan diri saja.


Merasa sudah cukup bermain rebahannya, ia pun memutuskan untuk segera mengakhirinya dengan pura-pura sadar saja. Ia mengerjapkan kelopak mata bersikap seolah benar-benar baru saja terjaga.


Terperanjat, ia berlagak seolah dirinya merasa sangat terkejut mendapati diri tengah berbaring di ranjang dan ruangan yang terasa asing.

__ADS_1


Bergerak mundur hingga tersudut pada sandaran tempat tidur sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, wanita dengan jaket hugo itu membulatkan bola matanya saat mendapati sesosok lelaki tengah tersenyum kepadanya.


"A-Alex, kenapa aku di sini?" tanyanya dengan ekspresi ketakutan. Bahkan jemarinya meremas ujung selimut yang ia genggam.


"Selamat datang di istanaku, Mayang." Alex menyambut kesadaran Mayang dengan senyuman penuh kebahagiaan. "Bagaimana perasaanmu? Berada di tempat ini membuatmu senang, bukan?" tanyanya lagi dengan senyuman yang masih terkembang.


"Apa salahku hingga kau nekad menculik, Alex!"


"Menculik? Come on Mayang. Aku tidak menculik! Aku hanya berusaha membawa ratuku ke istana milik rajanya. Walaupun dengan cara yang sedikit dramatis, tapi itu cukup keren, bukan? Aku yakin kau menyukainya."


"Kau gila, Alex!"


"Hey, stop mengatakan aku gila. Masih belum sadar juga gilanya aku ini karena ulahmu juga?"


Bergeming, Alex bangkit dari duduknya. Sedikit melangkah maju, ia duduk di tepi ranjang berusaha mendekati Mayang. Namun wanita itu justru menarik dirinya mundur dan menatap Alex jengah.


"Berhenti di tempatmu, dan jangan dekati aku!" hardik Mayang sambil mengangkat telapak tangannya, seolah sedang memberi isyarat agar Alex tak mendekat.


"Santai, Sayang. Jangan bereaksi berlebihan seperti itu ...."


"Jangan panggil aku Sayang!" Mayang lagi-lagi menghardik dengan suara keras. Meski bergerak menjauh, namun ekspresinya sama sekali tak menunjukkan ketakutan.

__ADS_1


Tapi tanpa dirinya sadari, hal itu justru membuat Alex semakin tertantang untuk berusaha menyentuh gadis yang entah sejak kapan telah menjadi obsesinya.


Alex membuka jas yang membungkus tubuh kekarnya sebelum kemudian melemparnya ke sembarang arah. Lantas mengendurkan dasi yang terasa sesak melilit di lehernya.


Sementara Mayang yang tampak geram, ia memalingkan wajahnya dengan ekspresi tidak suka.


Alex menipiskan bibirnya selagi menatap wanita di depannya. Seolah tahu kegelisahan yang tengah dirasakan, ia pun berucap pelan dengan nada begitu pengertian.


"Maaf, aku harus melepaskan jasku." Alex menggulung lengan kemejanya hingga di bawah siku dengan santai. "Apa kau tau, hanya berdua denganmu dalam satu ruangan membuat hasratku terasa semakin panas dan membara. Kau begitu istimewa hingga membuatku begitu penasaran." racaunya tanpa perasaan. Bahkan menatap istri Brian itu dengan sorot mata penuh puja.


Perangai menggoda yang Alex tunjukkan itu benar-benar membuat Mayang jengah. Ia menepis tangan lelaki yang tengah berusaha menyentuh ujung rambutnya. Sadar jika ada hati yang harus dijaga, ia segera bangkit dan berlari menuju ke pintu yang tidak dijaga, berharap agar ia bisa kabur dari sana.


Berhasil. Pintu tidak terkunci dan Mayang seolah tak ingin melewatkan kesempatan, ia pun segera berlari keluar.


Sementara Alex, melihat Mayang pergi bukannya berusaha mengejar, ia justru tertawa sambil merebahkan badan dengan jemari yang bertaut ia gunakan sebagai bantal. Tawanya pun menggema memenuhi ruangan kedap suara itu.


Dan benar saja, beberapa detik kemudian Mayang kembali nampak masuk dengan langkah mundur, sebab tiga orang lelaki berbadan dempal tampak mengintimidasinya hingga ia melangkah kebelakang.


Tanpa sadar, langkah Mayang telah melewati pintu, dan wanita itu terkejut ketika salah satu dari tiga orang itu berhasil menarik tuas lantas menutupnya dari luar. Mayang segera bergerak membuka pintu itu namun gagal, sebab orang-orang itu telah menguncinya dari luar.


Sial! Lagi-lagi aku terjebak bersamanya, batin Mayang sambil menoleh ke belakang dan menatap ngeri pada Alex yang tengah menatapnya dengan pandangan buas.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2