
Mau tak mau, Mayang pun mengayunkan langkahnya perlahan. Mendekati pria itu dengan langkah seanggun mungkin. Ujung gaun panjang yang menyentuh lantai itu bergerak indah seiring kaki jenjang itu melangkah. Menginjak ribuan kelopak mawar nan wangi dan tertata indah, menyusuri lantai yang berpagar lilin-lilin dengan pendar cahaya yang temaram.
Sungguh indah, andai ia melewatkan malam dengan nuansa sangat romantis ini bersama suami tercintanya. Dalam hati Mayang hanya bisa mengurut dada, bagaimana nasip bisa membawanya bertemu dengan pria asing yang begitu menginginkannya seperti dia.
Andai ini bukan karena sebuah misi yang harus membuatnya berpura-pura bersikap manis, mungkin ia sudah berlari dan kembali pada pelukan suaminya.
Anting di telinganya masih mengeluarkan suara mengandung sebuah perintah agar ia mengembangkan senyuman di bibirnya, namun hal itu sangat berat untuk Mayang lakukan. Terlebih saat memikirkan bagaimana perasaan suaminya di sana.
Mayang mendadak menghentikan langkah saat posisinya berada persis di samping meja. Matanya menatap meja berisi hidangan penuh dan Alex yang masih merentangkan tangan secara bergantian. Tiba-tiba bingung menggerayangi pikirannya saat harus memutuskan apa yang harus dilakukannya.
Alex yang seolah mengerti kegelisahan yang tengah Mayang alami segera menurunkan tangannya yang merentang. Lelaki itu tersenyum lembut menanggapi ekspresi Mayang yang terlihat kaku. Walaupun menunjukkan sikap tenang, namun Alex bisa melihat dengan jelas kegugupan yang di wajah cantik itu.
Ekspresi Mayang mendadak menegang saat Alex melangkah perlahan mendekat ke arahnya. Mata elang itu menatapnya penuh kelembutan, sementara senyuman yang tersungging di bibirnya pun tak pernah pudar. Tak tahukah ia itu sungguh membuat Mayang sangat mual?
Berhenti tepat di hadapan Mayang, Alex mengamati setiap inci wajah kikuk di depannya itu dengan seksama seraya menelusupkan dua tangan pada saku celana bahannya. "Kau sangat cantik, sekali," pujinya dengan pandangan mata yang begitu terlihat memuja.
__ADS_1
"Terima kasih." Mayang menjawabnya dengan suara yang sengaja ia tekan. Segera ia memalingkan wajah, sebab tingkah laku Alex yang sama sekali tak mau mengalihkan pandangan dari dirinya benar-benar membuatnya jengah.
Tangan kanan Alex bergerak keluar dari saku, lantas mendekati wajah Mayang seolah ingin meraih dagu belah nan indah itu, namun Mayang yang seolah bisa membaca gelagat Alex segera menepis tangan itu sebelum berhasil menyentuh kulit ari dari wajahnya.
"Jangan sentuh aku!" hardik Mayang dengan tatapan tajam penuh peringatan yang langsung menusuk dua netra Alex bahkan menembus relung hati terdalamnya.
Jemari tangan yang baru saja mendapat penolakan itu mendadak terkepal. Lantas sebuah tinjuan bertenaga ke udara pun lelaki itu hujamkan sebagai bentuk sikap tidak sukanya atas pembangkangan yang Mayang lakukan.
Mendesah kasar, ia lantas kembali menatap Mayang yang tak bergeming dari posisinya. "Sayang ,,,." Nada bicara Alex saat memanggil terdengar seolah sengaja ditekan disertai rasa jengkel yang kental. Lelaki itu mengetatkan rahang seolah tengah menahan amarah yang mendadak datang karena dirinya yang tak suka diabaikan. "Karena mulai hari ini kau adalah milikku, bisakah mulai sekarang kau belajar bersikap manis kepadaku?" tanyanya dengan nada penuh tuntutan yang begitu kentara, sementara tubuhnya sengaja setengah membungkuk dan condong ke arah wanita di depannya.
Hampir-hampir Mayang meluncurkan umpatan-umpatan pedas pada lelaki itu, namun lagi-lagi suara yang berasal dari anting yang dikenakannya berhasil mencegah sebelum ia bertindak.
Jemari lentik itu mengepal kuat selagi pemiliknya memejamkan mata dan menggemertakkan giginya. Ia mendesah panjang, berusaha menetralkan perasaannya. Kelebatan bayangan wajah suaminya yang selalu berputar di kepala kembali menjadi cambuk penyemangat agar ia bisa segera keluar dari tempat itu dengan selamat. Maka ia harus memantapkan tekad dan mengesampingkan hati agar keberhasilan segera menghampiri.
Membuka mata, Mayang mendapati wajah yang dilingkupi kemarahan begitu membara itu berada tepat di depan wajahnya. Desiran ketakutan pun mendadak menggerayangi hati, namun sebisa mungkin ia tetap bersikap tenang.
__ADS_1
Entah demi apa, walaupun ingin muntah, namun Mayang berhasil memasang mimik mengiba saat membalas tatapan penuh hasrat itu.
"Jangan menatapku seperti itu ,,," rengek Mayang dengan nada manja seraya menundukkan kepalanya. "Apa kau tidak tau, yang kau lakukan itu membuatku malu?" imbuhnya kemudian, lantas ia mengigit bibir bawah dan bersikap malu-malu di depan pria itu.
Alex sendiri tampak terperangah. Lelaki itu seolah tak menyangka jika Mayang akan menunjukkan reaksi seperti itu di depannya. Seringai penuh kemenangan pun tersungging di bibir. Bahkan rona bahagia pun tergambar jelas di wajah garang itu. Rupanya meluluhkan hati Mayang tak seberat yang pernah ia bayangkan.
Alex terkekeh gemas menatap Mayang. "Malu?" tanyanya kemudian dengan kening yang berkerut.
Mayang yang tengah menunduk seketika mengangkat pandangannya. Membalas tatapan penasaran itu sekilas lalu kembali menunduk dan mengangguk malu-malu.
Lagi-lagi Alex tertawa tak percaya melihat reaksi wanita yang kini telah ia anggap menjadi wanitanya itu. "Astaga, Sayang .... Kau adalah wanitaku. Kau sangat mulia di mataku. Jadi untuk apa kau malu-malu terhadapku, heum?" tangan Alex benar-benar tak tahan ingin menyentuh Mayang saat menatapnya, namun sekuat tenaga ia berusaha menahan demi menjaga perasaan wanita di depannya.
"A-aku--" terbata, Mayang menggigit bibir bawahnya. "Mungkin aku hanya belum terbiasa bersamamu saja. Bisakah beri aku sedikit waktu untuk menyesuaikan diriku berada di dekatmu?" Mayang menatap Alex dengan sorot mata penuh harap. "Aku tipikal wanita yang tidak bisa dipaksa dan didesak. Tapi saat hatiku merasa tersentuh, aku benar-benar wanita yang rela menyerahkan apapun demi seseorang yang ku suka. Jadi, apa kau mau bersabar dan berusaha merebut hatiku?" tanyanya dengan mata mengedip-ngedip gemas. Sementara tubuhnya bergerak berputar ke kiri dan ke kanan dengan dua tangan yang menyatu di belakang. Benar-benar terlihat menggemaskan seperti bocah yang tengah memohon kepada orang tuanya.
Sial! Dia benar-benar cantik dan menggemaskan. Kalau begini, mana mungkin aku bisa menolak keinginannya. Jika dia bisa menjanjikan menyerahkan diri dengan suka rela, untuk apa aku harus memaksa dan membuat lara di hatinya. Sepertinya bukan perkara sulit untuk merebut dan menaklukkan hati bekunya menjadi cinta. Bukankah selama ini aku adalah rajanya menaklukkan hati wanita? Alex membatin bangga.
__ADS_1
"Baik. Aku menyetujui permintaanmu." Alex menjawab dengan tersenyum mantap, yang langsung di balas senyuman manis di bibir Mayang. Walaupun sesungguhnya senyuman itu hanyalah palsu belaka.
Bersambung.