
Usai membersihkan diri di kamar kecil, Mayang melangkah perlahan mendekati sang suami yang saat itu sudah berbaring di ranjang. Dengan posisi miring membelakangi istrinya, terlihat sekali jika Brian sedang berusaha menghindar. Ia bahkan sengaja memejamkan mata meskipun ia masih dalam kondisi terjaga.
Melingkarkan tangan kirinya di pinggang sang suami dari belakang, Mayang berharap lelaki dengan piyama berwarna putih itu bereaksi seperti biasanya. Namun bergeming saja tidak meski Mayang telah meraba-raba dadanya.
"Sayang ,,, sudah tidur ya?" Mayang berbisik lembut tepat di telinga Brian, lalu bibir mungilnya bergerak mengecup ceruk leher suaminya. Agak lama, sembari menyesapi aroma maskulin yang menguar lembut dari tubuh kekar itu memang benar-brnar menenangkan, hingga membuatnya betah berlama-lama.
Melihat sang suami yang tak meresponnya sama sekali Mayang justru tersenyum lembut. Wanita yang mengenakan kimono lingerie itu lantas merapatkan pelukannya dan menyandarkan kepala di atas kepala suaminya dan merekatkan pipi kirinya dengan pipi kanan Brian yang masih saja diam dan terpejam rapat.
"Kau boleh marah kepadaku. Kau boleh kesal kepadaku. Karena aku tahu, semakin besar kemarahanmu, justru semakin besar pula rasa cintamu kepadaku." Mayang tak bosan berbicara meski sang suami tak menanggapinya.Tidak merasa kesal juga, sebab ia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi.
Sejak kepulangan mereka tadi, Brian memang sudah menunjukkan gelagat kemarahannya ini. Wajar saja, tidak ada lelaki manapun yang rela istrinya diumpankan. Terlebih kepada rombongan mavia yang kejam dan tak punya perasaan.
Malam ini mereka telah mengadakan pertemuan rahasia dengan pihak berwajib guna merundingkan misi rahasia, di mana Mayang akan merelakan dirinya sebagai umpan. Namun semua itu sudah di rencanakan begitu matang, sehingga mereka meyakini Mayang tak akan terluka oleh hal ini.
Mayang sendiri sudah merasa siap dan yakin akan melakukan kerjasama ini. Tak ada keraguan yang terbesit di hatinya. Tak nampak pula rasa takut dari sorot matanya. Semua yang ia lakukan demi rasa tanggung jawabnya. Namun cita-cita bahagialah yang memicunya untuk segera mengakhiri semuanya.
Namun berbeda dengan Brian, lelaki itu bahkan menunjukkan sikap penolakan secara terang-terangan. Pria yang sebelumnya tak pernah memiliki rasa takut itu justru kini harus dihadapkan pada ketakutan yang luar biasa. Dengan sengaja ia harus melepaskan istri yang tengah mengandung calon putranya dan merelakan mereka di bawah genggaman para mavia.
__ADS_1
Hanya memikirkan hal itu saja sudah membuatnya merasa gila, lalu akan seperti apa jika nanti sudah benar-benar menjalaninya?
Namun protes kerasnya itu tak berarti apa-apa jika sang istri sudah menghendakinya. Hanya bisa menelan kepedihan dan menyerah dalam keputusan asaan. Terbungkus dalam kepasrahan.
Brian benar-benar merasa sendiri di tengah keramaian orang. Tak ada yang peduli, tak ada yang mau mengerti perasaannya. Bahkan istrinya sendiri justru dengan sengaja membahayakan diri dan janinnya. Hanya karena rasa pertanggung jawaban sialan yang kini mengusik ketenangan mereka.
Beberapa waktu lalu di sebuah tempat rahasia. Dengan bola mata memerah dan menyalang tajam Brian bangkit dari duduknya. Rahang yang mengetat sementara kedua tangannya mengepal kuat penuh kemarahan, Brian tak terima dengan mufakat telah di capai.
Merasa dirinya tak dianggap Brian pun beranjak pergi dari ruangan itu dengan hati dipenuhi oleh amarah. Ia marah pada semuanya yang ada di dalam sana. Ia murka pada pria-pria berseragam dengan pangkat tinggi dan banyak bintang yang tersemat pada seragam dinasnya. Ia murka pada Billy dan sang Ayah yang tak menerima sikap protesnya. Bahkan ia juga murka pada sang istri yang begitu dicintainya karena tak mendengar jeritan hatinya.
"Mereka semua biadab!" Jeritan pedih Brian menggema di lorong di lorong sunyi itu, lantas disusul dengan suara pukulan bertubi-tubi saat ia layangkan tinju mentahnya pada tembok tak berdosa.
Sepasang bola mata yang mengawasi tak jauh dari sana tak bisa menahan diri saat hatinya terasa sakit bagai direjam ribuan batu. Mayang yang sudah berlinangan air mata segera berhambur dan merangkul tubuh suaminya yang terduduk pilu di lantai.
"Pergi kau dari sini!" tak mendapat balasan atas pelukannya, justru dorongan kuat lengan Brian yang mencampakkannya tanpa perasaan, Hingga tubuh ramping Mayang tersungkur ke belakang.
Suara pekikan tertahan lolos dari bibir Mayang saat tubuhnya membentur lantai dengan kasar, hingga memicu Brian menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Hati Brian bagai di sayat-sayat belati yang berkarat ketika menyadari dirinya telah melukai sang istri meskipun tanpa niat. Segera ia bangkit dan mendekati seonggok tubuh dengan derai air mata di pipinya itu. Direngkuhnya tubuh ramping dengan dua nyawa itu penuh sesal ke dalam pelukannya. Keduanya sama-sama terisak dalam kebisuan. Menangis dalam pelukan. Saling mencinta namun memiliki pemikiran yang berbeda.
Agak lama mereka hanyut dalam suasana hangat namun memilukan, hingga bau anyir khas darah terhirup oleh rongga hidung Mayang yang kemudian membuat gadis itu terpaksa mengurai pelukan mereka. Buru-buru ia meraih dua tangan dengan noda darah yang masih merembes dari dalamnya.
Ternganga dan kembali terisak, melihat luka itu membuat dada Mayang terasa sesak. Semakin sesenggukan saat dihujam rasa bersalah yang teramat. Lantas menatap wajah sang suami dengan seribu sesal yang terpendam dari netra basahnya.
"Sayang kau terluka," lirihnya dengan suara tercekat di sela Isak tangisnya.
"Luka ini tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan luka hatiku yang tak kasat mata." Balas Brian dengan nada menohok, yang kian membuat Mayang semakin dirundung rasa bersalah.
Tangan berdarah yang semula dipegang itu kini berbalik memegang. Kembali berusaha meyakinkan agar sang istri memikirkannya lagi. Berharap keteguhannya goyah saat kebahagiaan mereka kembali menyadarkannya.
Sedikit remasan dari jemari Brian pada jemari istrinya saat kedua netra mereka saling bertemu dalam tangis sendu. "Sayang kumohon, katakan pada mereka kau membatalkan semuanya. Masih ada waktu untuk menggagalkannya Sayang, aku mohon
.... Pikirkan kebahagiaan kita. Pikirkan keselamatanmu dan bayi kita. Kan juga aku yang akan gila jika jika aku kau tinggalkan .... Katakan pada mereka. Katakan pada Ayah dan Billy. Katakan pada para perwira itu. Katakan kau tidak mau melakukannya, aku mohon ...." dengan air mata penuh kesedihan Brian berucab dengan nada penuh permohonan. Jika saja bisa digantikan, maka ia ingin mengganti peran istrinya dengan apapun juga. Bahkan ia rela menyerahkan nyawanya.
Menggeleng kepala pelan, tangis Mayang semakin sedu sedan. "Aku tidak bisa. Ini sudah menjadi kewajibanku Sayang, aku tidak bisa lari dari ini semua."
__ADS_1
Perih. Bahkan air mata masih saja mengalir dari sudut netra Brian yang masih terpejam, membasahi bantal dengan sarung lembut berwarna putih sebagai pembungkusnya. Tangan yang berbalut perban itu lantas terkepal hingga noda merah kehitaman nampak menodai warna putih perban itu.
Bersambung