
"Mill, Ibu tinggal sebentar bawa buah ini ke depan nggak apa-apa kan?" tanya Ratih merujuk pada buah-buahan yang sudah siap dan menjadi irisan.
"Nggak apa-apa kok Bu, nanti aku nyusul." Milly menjawab sopan sambil menghentikan kegiatannya.
"Bener nggak apa-apa? Nggak takut setan juga?"
"Haha, masa iya saya takut sama setan, wong biasanya malah setan yang takut sama saya."
"Astaghfirullah." Terkejut, Ratih refleks mengusap dada. "Hebat kamu ya." pujinya sambil mencubit pipi Milly geregetan.
"Haha iya. Orang muka saya aja lebih menakutkan dari mereka." terang Milly dengan nada bercanda. "Makanya mereka takut lihat saya."
Mendengar ucapan Milly, Ratih pun meringis ngeri. "Asal jangan kau ajak berteman dan bawa dia kemari ya," tuturnya dengan bibir tersenyum kecut. "Ya sudah, Ibu bawa buah ini ke depan ya." pamitnya kemudian dengan tangan membawa piring berisi buah itu.
Tersenyum penuh kekaguman, Milly mengekori kepergian Ratih dengan pandangannya hingga wanita paruh baya itu tak lagi nampak.
Milly mendesah pelan, dan kemudian melanjutkan lagi aktifitasnya menyelesaikan membuat sambal. Namun senyum yang sebelumnya terpatri begitu manis kini berubah getir.
Ia memang merasa bahagia bisa, dengan mengenal keluarga berada ini setidaknya menjadi pelipur atas lara di hatinya. Sebab selain orang berada, mereka juga memiliki hati yang mulia dan tak membedakan manusia dari kasta. Sebuah kehangatan yang ia dapatkan di tengah keterpurukannya tanpa kasih sayang orang tua.
Namun jika teringat kembali kehidupan pernikahannya, wajah cantik itu berubah murung dengan sendirinya. Entah sampai kapan ia akan hidup dalam ketidak pastian. Sejujurnya ia mulai lelah. Sebab berpura-pura bahagia dan baik-baik saja itu juga butuh tenaga ekstra. Karena tidak terjadi dengan apa adanya.
Pernikahan sejatinya melibatkan dua orang manusia yang saling mencinta. Bukan hanya sebelah pihak saja. Perlu pondasi kuat agar biduk rumah tangga berdiri kokoh dan tegar menghadapi segala badai yang menerjang. Milly sendiri menyadari bahwa rumah tangganya saja tak memiliki pondasi. Maka berharap bisa berdiri, itu hanyalah sebuah mimpi.
Menyerah bukan berarti dia kalah. Namun melanjutkan perjuangan hanya akan menyengsarakan. Tak ingin memaksakan diri, hanya berpasrah pada ilahi. Ada hati yang harus dijaga. Ia pun tak ingin ada yang terluka.
Menghela nafas dalam, Milly berusaha menata hatinya kembali. Mengukir senyum bahagia walau nyatanya sebongkah merah di dada hanya bisa memendam lara. Tak lagi dianggap sebagai putri oleh orang tua sendiri, namun juga tak di anggap istri oleh suami sendiri. Ini benar-benar sangat sakit. Tapi tak apa, aku masih sanggup menahannya.
Diam beberapa saat dan menghentikan aktivitasnya, Milly yang semula menunduk pun seketika mengangkat pandangannya. Entah mengapa ia merasakan ada sesuatu berbeda yang datang dari arah belakangnya. Aura hangat yang tiba-tiba merambat, seolah melingkupi tubuhnya dalam suasana dapur yang begitu senyap.
Pembicaraan terakhirnya bersama Ratih tadi kembali terngiang di kepala. Menciptakan kengerian yang membuat rasa takut tiba-tiba saja menjalar meracuni otaknya. Seolah mensugesti dirinya sendiri agar bersikap waspada jika ada makhluk lain tengah mengintai dirinya.
Entah mengapa jantungnya yang berdebar-debar kencang sulit sekali untuk ditenangkan. Ditambah bulu kuduk yang mulai merinding ngeri. Telapak tangannya yang dingin dan mulai basah itu bergerak mengusap tengkuk yang bergidik tanpa ia minta. Tak berani menoleh kebelakang, matanya terpejam sementara bibir bergetar melafalkan doa apapun yang ia bisa.
Merutuki diri sendiri, Milly menyesali kebodohannya yang telah menjadikan mereka sebagai bahan gurauan. Makhluk tak kasat mata yang tadi ia sebut setan yang bahkan belum pernah ia lihat seperti apa penampakannya. Namun dengan sok beraninya ia mengatakan setan takut pada dirinya sedangkan nyatanya kini ia yang merasa ketakutan oleh mereka. Benar-benar seperti bumerang yang justru malah berbalik menyerangnya.
__ADS_1
Mbah, penunggu dapur ini, atau siapapun kalian, jangan ganggu saya ya plis. Saya manusia, derajat saya lebih tinggi dari kalian. Tapi daging saya juga pahit, tidak enak dimakan. Jangan balas dendam ya. Batin Milly dalam hati dengan tubuh yang gemetar.
Tak ingin berlama-lama berada di sana sendirian, Milly pun lantas cepat-cepat menyelesaikan tugasnya. mendongakkan kepala, ia menatap mangkuk yang berada di atas sana. Di lemari yang tingginya bahkan jauh melebihi posturnya.
Mengangkat tangan kanannya, Milly berusaha untuk meraih mangkuk itu. "Ahh, boro-boro sampai, tersentuh saja tidak." Keluhnya bernada kesal. Tak patah arang, ia pun tetap berusaha dengan meraihnya dengan kaki yang berjinjit. "Aaa tidak sampai juga ...!
"Dasar boncel." Sebuah suara berat yang di susul dengan tangan kokoh yang bergerak hendak meraih mangkuk yang berasal dari tubuh menjulang yang berada di belakangnya membuat Milly membelalak seketika.
Karena penasaran, ia pun menoleh saat itu juga. Dan benar saja, tubuhnya begitu rapat menempel dengan Billy yang saat ini tengah dengan mudahnya mengambil mangkuk dari tempatnya. Begitu rapat, hingga ia bisa merasakan kehangatan yang tersalurkan dari tubuh kekar suaminya. Bahkan aroma maskulin yang menguar dari tubuh lelaki itu begitu menenangkan ketika terhirup oleh indera penciumannya.
"Ini." Ucap Billy berniat memberikan mangkuk itu. Lelaki sebenarnya sangat manis saat tersenyum itu menundukkan kepala, yang secara langsung membuat tatapannya bertemu dengan dua manik milik sang istri yang tampak terperangah. Menatapnya dengan begitu terpesona.
Seolah menyukai hal itu, Billy justru tampak menipis bibir hingga membentuk sebuah senyuman. Sangat manis, sampai-sampai Milly menggigit bibir bawahnya tanpa sadar karena begitu terpana.
Jarak mereka begitu dekat. Sangat, dekat. Bahkan Embusan nafas mereka yang hangat, saling bertukar menyapu wajah pasangannya. Entah berapa detik pandangan mereka saling bertaut syahdu sebelum akhirnya suara dentingan mangkuk yang beradu dengan meja pantry saat Billy dengan sengaja meletakkannya berhasil menyadarkan si gadis.
Membeliak, Milly yang terkejut lantas membuang muka dengan bahasa tubuh sangat kikuk. Napasnya terengah saat ia tak bisa kendalikan desiran jantung yang bergejolak tak seperti biasanya. Menelan salivanya dengan berat, jemari Milly tanpa sadar meremas helai kain dari gaun yang ia kenakan.
Astaga-astaga, kenapa tubuhku tiba-tiba bergetar seperti ini? Ini juga, sejak kapan dia ada di sini? Ya Allah, kenapa jatuh cinta rasanya seperti ini? Jantungku rasanya seperti ingin lompat Ya Allah. Semoga saja aku tidak pingsan karena dia.
"Bisa lebih cepat?"
Semakin tak bisa bergerak saat tubuh Billy tiba-tiba membungkuk dengan dua tangan bertumpu pada tepi meja pantry. Seolah sedang mengurung agar di wanita tidak berniat melarikan diri. Sementara pandangannya begitu lekat memindai si wanita yang tanpa daya berada di bawah kuasanya. Terpejam takut dengan tubuh bergetar hebat. Merasakan desiran aneh yang tiba-tiba menghujam menembus ke relung jiwa.
Seketika pijar tekadnya yang hampir saja redup dan menyerah seakan kembali bersinar dan memupuk harapan di dada. Sikap hangat sang suami membuatnya ingin merengkuh hatinya lagi. Walaupun tak ingin bermimpi, setidaknya secercah harapan dan setitik asa mampu menyemangati diri. Bagaimanapun juga, ia ingin merasakan bahagia bersama orang yang ia cinta.
"Buahaha kau lucu sekali!!"
Suara gelak tawa yang menggema di rongga telinga berhasil mengusik lamunan indahnya dan memaksanya membuka mata. Menoleh cepat ke arah lelaki yang sedang terpingkal di sampingnya, mata Milly kembali membulat tak percaya lelaki itu sedang mempermainkannya.
Apa? Dia menertawakanku! Jadi melakukan itu hanya untuk mengujiku?! Sialan, dia cuma nge-prank aku? Aaa ini tidak adil! Dia benar-benar membuatku terlihat bodoh di matanya. Dan setelah berhasil, dia malah ngakak seenaknya. Mau kutaruh di mana muka malu ku ini. Harga diriku juga entah apa kabarnya. Dasar laki-laki sialan. Lagi-lagi aku lupa, kalau sebongkah es batu mana mungkin punya perasaan.
Mendengkus kesal, Milly masih menatap suaminya dengan tajam. Merasa tak terima lelaki itu mengerjainya.
Sementara si lelaki yang menangkap sorot tajam dari manik sang istri pun segera menghentikan tawanya, lantas menatap istrinya dengan pandangan menggoda. "Kenapa melotot seperti itu ke arahku? Salahku apa heuum? Aku hanya memintamu membuat bumbu itu sedikit lebih cepat, tapi kau malah melotot seolah aku ini seorang penjahat." Bersedekap dada, namun wajah Billy lebih condong ke wajah istrinya. Sementara bibirnya menipis, menunjukkan seringai nakal yang membuat tangan Milly gatal ingin mencubit ginjalnya.
__ADS_1
Huaaaa sebal!!! Batin Milly berteriak kencang namun tak mampu menyuarakan. Andai saja lelaki ini bukanlah orang yang ia cinta, mungkin ia sudah habis tercabik tanpa sisa. Tapi apa boleh buat, ia sudah cinta. Kalau sudah cinta biar diapakan juga pasti terima.
Menghela napas dalam untuk menetralkan perasaan, Milly lantas fokus kembali pada bumbu rujakan. memindahkan nya ke dalam mangkuk yang suaminya ambilkan tadi. Sementara Billy, perlahan bergerak mundur. Menyandarkan bagian belakang pinggangnya pada tepi meja pantry dengan tangan bersedekap dada. Namun pandangannya tampak mengawasi sang istri dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
Milly yang merasa dirinya sedang diperhatikan, hanya mendesah pelan setelah melirik sekilas pada lelaki di sampingnya. Berusaha mengusir kecanggungan, ia pun memutuskan untuk mengajak suaminya untuk berbicara. "Jangan lama-lama lihatin saya Pak. Bapak nggak tau kalau senyuman saya mengandung sabu yang sangat berbahaya. Entar Bapak ketagihan loh!" godanya sambil mengarahkan pandangan penuh peringatan kepada suaminya.
"Oh ya?" Billy mengangkat sebelah alisnya. Lantas memindai wajah pemilik tubuh mungil itu secara seksama. Ada ketertarikan tersendiri di hatinya, hingga ia memutuskan untuk bertanya, sekedar menggali perasaan si wanita lebih dalam.
Tak dapat dipungkiri, meskipun ia masih menyimpan dendam dan kebencian, setidaknya gadis mungil ini mampu sedikit mengalihkan perhatiannya dari segala rasa penatnya menghadapi pekerjaan. Secara tanpa sadar, wajah kemerahan Milly yang selalu berseri saat malu-malu benar- benar menjadi hiburan tersendiri ditengah kekalutannya.
Menyipitkan mata, Billy yang pura-pura sedang mengamati wajah istrinya pun lantas berkata. "Setelah kulihat-lihat dari keseluruhan tubuhmu ini, bagiku biasa saja. Tidak ada yang menarik sama sekali. Wajahmu yang standar, posturmu juga boncel. Lantas di bagian mana yang kau katakan mengandung sabu itu, hah?" Tanyanya kemudian dengan nada meremehkan. Lantas dengan santainya ia memalingkan wajah, sementara seringai mencemooh tampak tersungging di bibir kemerahannya.
Milly yang mendengar ungkapan penuh ejekan itu tiba-tiba merasa kesal. Ditambah pula dengan seringai meremehkan itu membuatnya semakin bertambah jengkel.
"Bapak kalau ngomong kok suka ngasal ya Pak, gini-gini saya manusia Pak! Saya punya perasaan! Bapak orang berpendidikan, Pak. Harusnya bisa mikir dulu sebelum bicara. Masa mulut Bapak kalah sama pantat! Pantat saja yang mau kentut masih suka mikir loh Pak, di belakang ada orang apa enggak?! Lah mulut Bapak malah sama sekali nggak ada saringannya! Apa udah jebol ya Pak?! Biar jelek begini! Biar boncel begini! Saya ini tetap istri Bapak!" Dengan suara lantang Milly mengatakannya. Hingga dadanya terlihat naik turun saat deru napasnya tidak teratur. Bahkan sama sekali tak memberi kesempatan pada Billy untuk menyela.
Bukannya tersinggung, Billy justru malah tergelak.
"Loh kok malah ngakak?!" Ucap Milly kebingungan. "Ini saya lagi marah loh, Pak. Bukannya ngelawak!"
"Astaga kau ini kenapa?" ucap Billy di sela-sela tawa, sambil menjitak dahi Milly dengan jari tengahnya. "Aku hanya menanyakan di bagian mana tubuhmu yang mengandung sabu? Katakan salahku di mana? Jawabmu malah ngegas tidak karuan, sudah seperti kereta listrik kecepatan *****, hingga menyela saja aku tidak bisa. Pakai bawa-bawa pantat segala." Terang Billy dengan nada kesal, sementara kepalanya menggeleng tak habis pikir.
"Kenapa Bapak harus menanyakan bagian mananya? Tentu saja semuanya?! Semua dari tubuh saya mengandung sabu, karena apa?" Milly menghentikan ucapannya sejenak saat merasa perkataannya ada yang janggal. Gadis bersurai panjang itu lantas berdehem untuk menetralkan perasaannya. "Bapak jangan pernah mikir kalau saya bandar loh, ya. Ini cuma perumpamaan saja." Ucapnya pada Billy yang masih setia mendengarkannya.
"Yang jelas semua bagian tubuh wanita itu memiliki candu tersendiri." Sambung Milly lagi. "Tapi hanya lelaki yang memiliki rasa cinta yang bisa mengerti. Jadi karena Bapak tak punya hati, mohon maaf ya, Pak. Jangan bersedih kalau Bapak masih juga belum mengerti." Terangnya begitu percaya diri namun penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Nada bicara Milly terdengar begitu meremehkan. Sebagai balasan atas sikap meremehkan yang semula telah terlebih dulu Billy lakukan, membuat rahang Billy tampak mengeras berusaha menahan kesabaran.
"Baiklah," nada suara Billy terdengar melemah. Lelaki itu berusaha bersikap mengalah menghadapi sikap istri mungilnya itu. Sebab bagaimanapun juga ia tak ingin menunjukkan bagaimana perangai mereka yang sebenarnya di hadapan ibu angkat nya. "Karena aku masih belum tahu, bisakah kau beri contoh satu bagian tubuh saja kepadaku?" tanyanya dengan sikap penuh rasa ingin tahu.
"Bibir." Jawab Milly penuh keyakinan.
Billy tergelak. "Mulut maksudmu?" Tanyanya seolah mendeskripsikan secara menyeluruh apa yang dimaksud oleh Milly. "Ya, aku pernah dengar katanya wanita memiliki dua mulut. Makanya saat mereka mengomel itu susah sekali untuk disela. Seperti kau tadi. Good." Ucap Billy sambil mengacungkan jempol tangannya.
"Kok mulut?! Bibir aku bilang!" protes Milly dengan nada bicara yang terdengar seperti menggeram. "Mau ku tunjukkan cara kerjanya?! Iya! Baik!" Geram wanita mungil itu kesal. Lalu tanpa aba-aba ia menarik dasi suami jangkungnya hingga tubuh Billy setengah membungkuk akibat tarikan istrinya. Lalu dengan cepat Milly pun membenamkan bibirnya pada bibir suaminya.
__ADS_1
Sama-sama membelalak saat keduanya merasakan senyar berbeda pada sentuhan lengkung merah tak bertulang itu. Seperti tersengat mendadak, namun terasa nikmat hingga Milly seketika menarik diri dan melepaskan pagutan mereka.
Gadis mungil itu bergerak mundur teratur dengan tangan kanan memijat pelipisnya yang terasa pusing seketika. Dadanya pun terasa sesak saat jantungnya berdenyut cepat di dalam sana, sementara matanya pun mendadak berkunang-kunang. Astaga, gejala apa ini Ya Allah, aku butuh obat pereda demam dan sakit kepala sekarang. Kalau perlu pereda rasa malu juga sekalian. Batin Milly lemas.