
Billy yang terkejut menyempatkan memutar kepalanya ke arah belakang dan menoleh kepada Brian yang membelakanginya. Keningnya lantas berkerut seolah tidak suka. "Kenapa kemari? Bukankah lebih baik pergi dari sini dan lindungi istrimu itu! Tenangkan dia dulu dan biarkan semua ini menjadi urusanku."
"Istrku aman berada di bawah perlindungan. Dan Alex tetap menjadi bagianku," desis Brian singkat dengan nada ancaman. Ia sudah terlihat sangat geram dan tak sabar ingin melampiaskan kemarahan.
Billy pun tak bisa melarangnya. Bagaimanapun ia tak berhak memaksa Brian menahan amarahnya. Kekejaman Alex memang sudah di luar batas, maka dari itu ia perlu diberi pelajaran yang setimpal oleh Brian.
"Terserah kau saja," Billy berucap pasrah kemudian. Sementara Brian, tampak tersenyum samar sebelum kemudian mengfokuskan pandangan pada Alex yang tengah menyeringai padanya.
Dengan sorot mata menyalang tajam, Brian melangkah mantap mendekati Alex dengan tangan yang terkepal. Tanpa aba-aba lagi ia segara menghujamkan kepalannya ke pipi Alex yang terlihat begitu tenang tanpa antisipasi.
Pukulan itu begitu kuat, hingga membuat tubuh Alex terhuyung dan limbung di lantai dengan sudut bibir mengucur darah. Pria itu terlihat marah. Ia mengusap darah di bibirnya dengan kasar, kemudian menggunakan tangannya untuk menopang tubuh hendak bangkit dari sana.
Namun, belum sempat Alex bangkit, Brian sudah lebih dulu datang dan mencengkeram kerah jasnya dengan kuat untuk membangunkannya paksa.
"Bangun penjahat!" sentak Brian sambil menarik tubuh Alex dengan ringan untuk memberdirikan. "Belum saatnya kau mati! Kau harus membayar semua kepedihan yang telah kau buat kepadaku sedari dulu hingga sekarang!"
Mendengar itu Alex justru tergelak kencang dengan nada meremehkan, membuat Brian mengernyitkan kening sebelum kemudian menggeram penuh kemarahan.
"Brian, Brian." Alex menyebut nama sambil menggelengkan kepala, bersikap seolah-olah tak habis pikir. "Lawakanmu benar-brenar menggelikan hingga membuatku terpingkal. Kau penipu besar, Brian! Kau menipu begitu banyak orang! Kau bersikap seolah-olah kau yang teraniaya, padahal di sini akulah korban yang teraniaya!" ucap Alex penuh penekanan dengan tangan menepuk dadanya sendiri begitu keras untuk mempertegas ucapannya.
Brian berdecih. "Dasar. Maling teriak maling. Kau memang pecundang besar, Alex." Brian berucap lambat-lambat namun dengan tekanan di setiap kata. Bibirnya pun tersenyum miring penuh ejekan. "Kupikir sebagai mafia besar hatimu telah tertempa dengan keras hingga memiliki mental baja dan membuatmu kuat mengakui kesalahan. Tapi ternyata, kau justru lempar batu sembunyi tangan. Membuat kesalahan dan menuduh orang lain! Kau benar-benar luarrr biasa, Alex."
__ADS_1
"Kurang ajar!" bentak Alex seketika seraya melayangkan pukulan tepat ke arah wajah Brian. Namun sial gerakannya telah terbaca, hingga Brian berhasil menghindari dengan sedikit menarik kepalanya dan membuat tinju Alex hanya melayang di udara.
Brian tersenyum puas. Sebab perkataannya tadi berhasil memprovokasi Alex dan memicu kemarahannya. "Aku adalah malaikat mautmu, Alex, dan sekarang kau tidak bisa menghindar lagi dariku!"
Tubuh Alex kembali limbung setelah Brian menghadiahinya pukulan serta tendangan. Tubuhnya setengah terduduk dengan punggung bersandar pada tembok setelah tadi membenturnya begitu keras di sana. Alex meringis dengan tangan memegangi perutnya. Tendangan Brian tadi terarah tepat sasaran dan berhasil mengenainya.
Entakan kaki Brian di lantai begitu mantap saat melangkah mendekat, dan berhenti tepat di sisi kaki tubuh yang teronggok itu. Alex seketika mengangkat pandangannya dan menatap wajah pria menjulang yang berdiri kokoh di depannya.
"Bangun penjahat! Jangan pura-pura lemah di depanku!" bentak Brian tak sabaran dengan gigi menggemertak jengkel.
Alex menyeringai sambil memalingkan wajahnya. Namun seketika ia bangkit dan kemudian berdiri tegak di depan Brian. Senyumnya terkembang lebar, seolah-olah ia tak merasa kesakitan sebelumnya.
Mengamati penampilan Brian dari ujung kaki hingga kepala, seringai Alex lantas tersungging penuh ejekan. Bola matanya berputar malas sebelum kemudian tertawa meremehkan.
Tentu saja hal itu memicu kemarahan Brian yang saat itu benar-benar melupakan apa yang ia kenakan. Tanpa pikir panjang lagi, Brian langsung melepaskan semua atribut pengamanan yang melekat di tubuhnya. Bahkan pakaian bagian atas yang ia kenakan hingga menampakkan tubuh polos dan perut berototnya.
Alex pun tak tinggal diam. Tanpa pikir panjang ia segera menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan celana seperti halnya Brian.
"Adil, bukan." Alex berucap sambil memainkan alisnya. Sedetik kemudian ia menggerakkannya tubuh dan memasang kuda-kuda, bersikap layaknya ia telah siap untuk melakukan perkelahian. Ia memajukan tangan dan menggerakkan jemarinya, seolah tengah memberi isyarat pada Brian untuk menyerangnya duluan.
Brian berdecak. Namun kemudian ia berhambur ke arah Alex dengan tangannya yang sudah mengepal, dan pertarungan panas pun tak terelakkan.
__ADS_1
Di sisi lain, Billy pun juga tengah berjibaku mengerahkan tenaganya untuk melawan Mister Wang.
Seperti diberi aba-aba. Melihat para bos mereka tengah bergelut panas, para anak buah Alex dan Wang bergerak bersamaan melakukan perlawanan pada para prajurit yang semula telah mengintimidasi mereka. Hingga pertempuran untuk mempertahankan keselamatan diri pun terjadi. Termasuk juga prajurit wanita yang berusaha memberikan perlindungan kepada Mayang.
Mayang sendiri tak bisa tinggal diam melihat semua kericuhan ini. Terlebih melihat ekspresi Bianca yang sejak tadi telah mengincar dan berusaha membobol pertahanan para pelindungnya.
"Dia bagianku." Mayang berucap tegas sambil menolong prajurit wanita yang limbung di lantai akibat tendangan Bianca.
"T-tapi Nyonya--"
Mayang mengangkat tangannya untuk menghentikan perkataan prajurit wanita itu. Ia tak mau menerima segala protes dalam bentuk apapun, termasuk demi keselamatannya.
"Dia memiliki dendam pribadi terhadapku. Jadi biarkan dia melampiaskan semuanya." Mayang bertutur penuh keyakinan dengan senyum yang terulas. Lantas ia menggerakkan kepalanya, seperti memberi isyarat agar prajurit wanita itu menarik diri dan memberinya kesempatan.
Tak ada pilihan lain bagi prajurit wanita itu untuk mematuhi perintah. Ia pun mengangguk patuh dengan raut wajah terpaksa. "Tapi saya tidak akan tinggal diam jika sampai Nyonya terluka."
"Baik." Mayang menjawab penuh kesanggupan. "Bantu jika aku sampai terluka agar kau tidak mendapatkan hukuman," imbuhnya kemudian sebagai tanda kesepakatan.
Prajurit wanita itu mengangguk patuh, lalu menarik diri untuk menjauh. Sementara Bianca, tampak tersenyum lebar menyambut Mayang begitu senang, seolah-olah hal ini telah lama ia nantikan.
Mayang tampak menghela napas dalam. Ia sejenak memejamkan mata seperti sedang berdoa, lalu meraba perutnya perlahan sebelum kemudian melangkah mendekat dan memasang kuda-kuda seolah-olah siap bertarung melawan Bianca.
__ADS_1
Bersambung