
"Kemari lah,,," Brian sedikit menarik pergelangan tangan Mayang agar gadis itu mengikuti langkah nya."Jangan takut,aku tidak akan menyentuh mu."Ucap Brian kemudian untuk meyakinkan Mayang yang seperti enggan melangkah mengikuti nya.
Pelan-pelan Brian pun membimbing Mayang berjalan menuju ranjang dengan ukuran jumbo itu.Membawanya ke satu sisi sedang Brian naik di sisi lain nya.
"Apa kau benar-benar ingin mendengar ceritaku?"Tanya Brian yang kini sudah duduk sembari bersandar di punggung ranjang.
Mayang yang masih berdiri pun mengangguk.
"Apa kau akan berdiri di situ sampai besok pagi dengan memperlihatkan separuh paha mu yang terlihat itu pada ku?"Tanya Brian yang di barengi dengan seringai nya.
Mayang spontan melirik kebawah dan kemudian tergesa naik ke atas ranjang dan menutup setengah badan nya dengan selimut.Duduk bersandar dan beringsut menghadap pada Brian dan memasang wajah antusias nya.
"Kau siap mendengar pengakuan ku?"Brian kembali bertanya serius namun tetap tersenyum.
"Siap."Mayang meyakinkan sembari mengangguk.
Brian terlihat mendesah sebelum memulai ceritanya.Menyandarkan kepalanya dan menengadah menatap langit-langit kamar dan masih diam.Membuat Mayang kian penasaran karena ulah Brian yang terlihat seperti mengulur waktu.
"Tuan,,, cepat lah ceritakan..,"Rengek Mayang tak sabar sembari meremas lengan kemeja yang di pakai Brian.
"iya sabar."Brian meraih jemari Mayang yang masih mencengkeram lengan bajunya kemudian menggenggam nya hangat.Menatap lekat manik mata Mayang yang terlihat penasaran dan sangat siap mendengar cerita nya."Apa kau pernah menyangka kalau aku ini duda?"Tanya Brian kemudian.
Mayang yang berfikir Brian hanya bercanda tiba-tiba tertawa dan memecah keheningan di kamar luas yang kedap udara itu."Tuan jangan bercanda ya,memang kapan tuan pernah menikah?"Mayang Menepuk bahu Brian gemas.
"Siapa yang bercanda?Aku serius!"Wajah Brian yang tadi nya sendu kini berubah jadi kesal.
Mayang yang sadar akan perubahan mimik wajah Brian pun cepat-cepat menghentikan tawanya dan menelan ludah nya dengan susah payah.
"Tuan,apa benar yang anda katakan?"Menatap wajah cemberut Brian dengan lekat."Siapa mantan istri anda?Apa dia datang saat pernikahan kita?Lalu apa hubungan nya dengan wajah saya?"Mayang menyerang Brian dengan rentetan pertanyaan.
"Istriku sudah meninggal lebih dua tahun yang lalu."Jawaban Brian membuat Mayang ternganga.
"Me meninggal?"Ucap Mayang terbata berusaha meyakinkan ucapan Brian.
"Iya.Dan kau tau lelaki yang ku panggil ayah saat pernikahan kita?Dia adalah ayah mertua ku?"
"Oh benarkah?Lalu apa hubungan nya dengan wajah saya?"
"Dia mirip sekali dengan mu."
"Apa?!"Mayang tak percaya.
"Itu benar."
"Tapi saya tak merubah wajah saya sedikit pun tuan!Percayalah!Sejak lahir saya memang sudah begini!"Mengguncang-guncang lengan Brian untuk meyakinkan.
"Aku percaya Mayang,hentikan sekarang."
Mayang spontan menarik tangan nya."Maaf tuan."Merasa menyesal."Apa karena itu mereka membicarakan saya?"
"Mungkin.Aku akan urus mereka kalau kau mau."
"Tidak jangan."Cegah Mayang cepat."Saya tidak apa tuan,itu tidak perlu."Mayang menunjukkan senyum palsu nya agar Brian tak berbuat nekad hanya karena hal sepele ini.Tapi walaupun sepele,tapi karena hal ini lah Mayang jadi menitikkan ait mata di hari pernikahan nya hingga nyaris di culik."Tuan,apa dia mengalami sakit sebelum meninggal?"Tanya Mayang ragu."Eh maaf kalau saya lancang.Tak perlu di jawab kalau ini membuat anda merasa sedih."
"Dia tidak sakit.Tapi kami mengalami kecelakaan seminggu setelah pernikahan kami hingga merenggut nyawa nya."
"Seminggu setelah pernikahan?"Tanya Mayang tak percaya.
__ADS_1
"Iya.Kami bahkan belum melakukan malam pertama."Brian bicara sembari tersenyum.Tapi entah senyuman apa itu,Mayang bahkan tidak bisa mebebak nya.Namun ia tau Suaminya ini ternyata menyimpan kesedihan mendalam selama ini.
"Berarti anda ini duda rasa perjaka ya."Goda Mayang sembari tertawa untuk menghibur.Tetapi Mayang lupa kalau kini ia telah menjadi istri Brian hingga dengan cepat membungkam mulutnya agar berhenti tertawa."Astaga apa yang ku katakan.Maaf kan saya tuan,mungkin saya sudah gila.Ya tuhan."Mayang menepuk bibir nya sendiri merasa sangat malu dan tiba-tiba merasa kepalanya pusing karena nya.Ia lantas beringsut memutar tubuh nya dan membelakangi Brian.
"Kenapa menjauh?Kau merasa tertipu dan menyesal menikah dengan ku?"
"Tidak tuan,bukan begitu."Mayang hanya menoleh.
"Kau masih ingin dengar cerita ku lagi?"
Mayang hanya mengangguk.
"Kemari lah."Brian merentangkan tangan nya seolah mengatakan agar Mayang memeluk nya.
"Haha tidak tuan,saya di sini saja."
"Cepat!"Ucap Brian setengah berteriak membuat Mayang mau tak mau pun harus menggeser pantatnya semakin mendekat.Brian yang sudah merasa tak sabar akhirnya menarik tubuh Mayang hingga jatuh ke pelukan nya dan mengikis jarak di antara mereka.
Hangat nya tubuh Brian dengan keharuman maskulin nya yang khas membuat Mayang merasa nyaman dan pasrah saat Brian mendekap serta mengecup puncak kepalanya.Mereka saling berpelukan dalam satu selimut.
Brian bercerita banyak malam itu tentang kisah percintaan nya bersama Magda Lena istri Brian yang telah meninggal tanpa ada sedikitpun hal yang Brian tutupi.Hingga malam pun semakin larut.Dan cerita Brian pun selesai.
"Tuan,"Lirih Mayang mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah syaminya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Apa sayang?"Mengecup kening Mayang dengan lembut.
Katakan sekarang atau tidak ya mengenai jaket itu?Tapi apa tuan masih mengingatnya?Kalau ternyata sudah tak mengingatnya lagi bagaimana?Ah lebih baik jangan,toh tanpa aku menunjukkan jaket itu Tuan Brian juga menikahi ku kan.
"Sayang kenapa diam?"Brian masih menunggu Mayang untuk bicara."Apa kau menyesal menikah dengan ku?Diri mu dalam bahaya sekarang,tapi aku janji aku akan selalu melindungi mu sampai titik darah penghabisan ku."Ucap Brian tegas penuh keyakinan.
"Tidak tuan,bukan apa-apa.Saya sama sekali tidak menyesal.Saya siap berpetualang dengan anda."Mayang memasang senyum manis nya.Agar Brian merasa tenang.Namun sesaat kemudian Mayang menutup mulut nya dengan jemari nya karena menguap.
"Tidur?"Ucap Mayang terkejut.Otak nya tiba-tiba berputar Membayangkan bagaimana kalau Brian melakukan nya saat dia sedang tertidur pulas?
"Iya,ini sudah hampir pagi.Tubuh mu butuh istirahat."
"Lalu anda,"
"Aku juga akan tidur,kau fikir apa?"
"Baik lah."Mayang memejamkan kedua matanya kemudian namun tidak benar-benar tidur.Ia harus waspada untuk malam ini.Kalaupun memang Brian ingin melakukan nya malam ini,Mayang berfikir diri nya harus dalam kondisi terjaga dan siap.
Brian membenamkan wajah Mayang di dada bidang nya tang terasa hangat dan secara langsung menyalurkan rasa nyaman,membuat Mayang yang awalnya hanya pura-pura tidur,kini malah benar-benar tidur dengan pulas.
Brian mendengar nafas Mayang yang kini mulai teratur.Berarti istrinya kini sudah benar-benar tidur dan kini mungkin sudah memasuki alam mimpi.Hembusan nafasnya yang hangat menyapu lembut di dada Brian.
Brian meraih ponsel tang tadi ia letakkan di nakas dan memencet kamera untuk mengabadikan momen nya.Ia mengirim hasil jepretan nya pada ibu nya sebagai bukti bahwa mereka dalam keadaan baik-baik saja.
Seluruh keluarga tengah kebingungan karena kehilangan kedua mempelai pengantin di acara resepsinya.Rencana menginap di hotel yang romantis dengan hiasan bunga-bunga yang harum yang sudah di rencanakan secara matang pun gagal di lakukan.
Brian menatap hangat wanita yang tengah terlelap dalam pelukan nya itu sembari tersenyum.
"Sebenarnya se istimewa apa kau ini?Kenapa kau selalu membuat ku takut kehilangan mu heumm,,,"Brian kembali mengecup puncak kepala Mayang agak lama dan mendekap nya semakin erat.
Hari sudah semakin pagi namun Brian masih terjaga.Ia benar-benar tak ingin tidur malam ini,karena tanggung jawab nya yang begitu besar untuk memastikan istri nya dalam keadaan selamat.Meski penjagaan di setiap sudut rumah itu semakin di perketat oleh anak buah nya,namun Brian tetap harus memastikan nya sendiri.
Mayang terjaga saat merasakan seseorang mencium dan mengerat kan pelukan nya.Ia mengerjapkan matanya dan tak terkejut mendapati Brian tidur sembari memeluk nya.Mayang menatap lekat wajah tampan yang tengah terpejam itu dengan rasa iba.
__ADS_1
Pelan-pelan Mayang melepaskan dirinya dari pelukan sang suami.Ia sangat berhati-hati saat melakukan nya agar tidur suami nya tak terganggu.Mayang menarik ujung selimut untuk menutup tubuh suaminya sampai ke dada sebelum ia beranjak menuju kamar mandi.
Seringai Brian muncul saat tubuh Mayang menghilang di balik pintu kamar mandi.Ia merasa lega karena Mayang ternyata menunjukkan perhatian nya walau dirinya sedang terlelap.Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi di buka,dan Brian pun cepar-cepat memejam kan matanya kembali berpura-pura tidur.
Mayang berjalan menuju meja yang lebih mirip mini bar yang masih berada di dalam kamar.Mengambil dua buah cangkir lalu menuangkan gula dan kopi hitam di dalam nya.Lalu menyeduh nya dengan air panas.
Harum semerbak aroma kopi membuat indera penciuman Brian yang sedang pura-pura tidur jadi terganggu.Pelan-pelan ia membuka matanya dan mendapati istrinya tengah duduk di kursi mini bar tanpa sandaran itu dengan posisi membelakangi nya.Rambutnya yang panjang tergerai menutupi bagian belakang tubuh nya.Ia terlihat tengah menikmati kopi panas itu.
Brian bangun dari tempatnya tidur dengan pelan hingga tak menimbulkan suara.Berjalan pelan mendekati istrinya dari belakang.Menelusupkan kedua tangan nya melalui pinggang Mayang lalu merangkul nya di bagian perut.Membenamkan bibirnya di leher jenjang Mayang dengan lembut seketika membuat tubuh Mayang terasa menegang karena terkejut.
"Selamat pagi sayang."Suara Brian terdengar parau berbisik di telinga Mayang.
"Pagi ss sayang..,"Jawab Mayang lembut namun sedikit di paksakan.Jantungnya terasa berdesir tak karuan."Mau kopi,,,?"Mendongak kan kepalanya untuk menatap wajah suami yang masih belum melepas pelukan nya.Menunjuk cangkir di dan mengisyaratkan agar Brian duduk di kursi di samping nya.
"Boleh."Ucap Brian sembari melepas pelukan nya dan duduk di samping Mayang."Kopi nya harum sekali."Menghirup aroma kopi itu lalu menyesapnya sedikit.
"Masih panas sayang,,"Mayang mengingatkan.
"Iya sayang,aku tahu,,"
Setelah diam agak lama,Mayang pun memberanikan untuk bertanya."Sayang kita di mana?"
"Ini rumah kita juga sayang."Jawab Brian singkat kemudian menyesap kembali kopi nya.
"Sayang kau punya berapa rumah?"Tanya Mayang kemudian tak bisa menahan rasa penasaran nya.
"Entah lah,aku tak menghitung nya.Billy yang lebih tau dari pada aku."
"Hah?!"
"Kenapa?Kau bisa tanyakan pada Billy kalau kau ingin tahu."
"Ah tidak."
Ini kan memalukan.Masa iya aku harus tanya pada sekretaris Billy mengenai ini.Tapi kenapa malah sekretaris mu yang lebih tau sesuatu milik mu?Memang sepenting apa posisi dia untuk mu?
"Sayang,,, sepertinya minum kopi di balkon lebih nyaman sembari melihat keadaan di luar.Bolehkah kita ngopi di sana?"Pinta Mayang dengan nada merayu membuat Brian tak kuasa untuk menolak nya.
"Aku ambil ponsel ku dulu ya,"
"Baik,aku keluar dulu ya,,,"Mayang tersenyum setelah mendapat anggukan dari Brian.
Mayang segera bergegas membuka pintu dan dengan riang gembira keluar menuju balkon.Brian yang tengah mengambil ponselnya tiba-tiba teringat kalau mereka kini dalam pelarian dan segera bergegas menyusul Mayang yang telah keluar lebih dulu.
"Sayang jangan ke,,,"Suara Brian terhenti saat terdengar suara keras tembakan dari arah balkon.Jantungnya berdetak kencang seketika mengingat istrinya kini berada di sana yang membuat nya kini merasa takut dan khawatir.
Namun Brian terkejut saat melihat Mayang yang tengah berdiri terpaku dengan mata yang terbelalak menatap tangan nya yang gemetar memegangi cangkir yang hanya menyisakan gagang nya.Sementara cangkir itu pecah dengan serpihan yang berhamburan kemana-mana akibat terkena peluru dari tembakan itu.
Brian segera meraih tubuh Mayang yang tengah shock untuk merunduk sehingga terhindar dari tembakan peluru yang kedua.Beruntung tepat di tembakan yang selanjutnya Brian sudah berhasil mengamankan Mayang masuk ke dalam rumah.
Sementara para penjaga yang mendengar tembakan itu segera naik dan memberi perlindungan terhadap Brian dan Mayang.Sebagian balik menyerang ke arah sumber tembakan dan sebagian menyisir lokasi tempat di mana sumber tembakan itu terjadi.
Brian menarik lengan Mayang membawanya berlari menuju garasi mobil,dimana seorang pengawal telah siap dengan mobilnya lalu membawa mobil itu keluar dari garasi melalui jalan belakang begitu Brian dan Mayang sudah berada di dalam mobil.
Mobil itu melaju sangat kencang melalui jalan rahasia yang di pastikan tak di ketahui oleh penyerang rahasia itu mengingat jalan itu memang tersembunyi dan tak terlihat dari arah depan. karena terlindungi oleh bangunan rumah.
Brian mendekap tubuh Mayang yang tampak bergetar hebat karena begitu terkejutnya ia dengan serangan mendadak ini.Mayang membalas pelukan suaminya itu.Brian kemudian mendengar isakan lirih keluar dari mulut Mayang membuat lelaki itu semakin mengerat kan pelukan nya.
__ADS_1
"Tenang sayang,ada aku di sini.Kau akan baik-baik saja."Brian mengecup lama puncak kepala Mayang untuk menenangkan istrinya yang tengah ketakutan itu.