
Mayang masih tetap berada di kamar saat hari sudah mulai gelap. Ia yang tengah duduk di sofa dengan tangan memeluk lutut dikejutkan dengan kehadiran dua orang pelayan yang masuk untuk menyiapkan hidangan makan malam. Menaruhnya pada meja, dua wanita itu lantas mempersilakan ia makan. Namun, alih-alih beranjak pergi, kedua pelayan itu justru berdiri siaga di sisi sofa.
Makanan ini kelihatannya enak, tapi kenapa sebanyak ini? Memangnya siapa saja yang akan makan bersama dengan aku?
Mayang memandangi kedua pelayan yang berdiri menunduk di sisi sofa itu.
"Apa memang hidangan ini hanya untukku saja?" tanyanya penasaran.
"Betul nona," jawab salah satu pelayan.
"Aku tidak mungkin bisa menghabiskan semua hidangan ini sendirian. Bagaimana kalau kita makan bersama," ajak mayang kepada dua pelayan itu.
"Tidak bisa nona."
"Kenapa? Bukankah kita sama-sama makan nasi?"
"Kami adalah pelayan yang ditugaskan untuk melayani Anda."
"Tapi aku kan bukan bos kalian."
Kedua pelayan itu tetap bergeming di tempatnya.
"Baiklah, kalau begitu aku juga tidak akan makan." Kesal, Mayang memilih buang muka sambil bersedekap dada hingga membuat kedua pelayan itu saling pandang dengan ekspresi bingung, lantas salah satu dari mereka berinisiatif untuk membujuk.
"Nona, saya mohon makan dan bersikap baiklah selama di sini. Bukankah Anda juga ingin pulang dengan keadaan baik-baik saja?"
Mata Mayang langsung berbinar senang mendengarnya.
"Benarkah aku bisa keluar dari sini dengan keadaan utuh?" tanyanya memastikan.
"Tentu," jawab pelayan singkat.
Dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan, Mayang mulai menyantap makanan secukupnya. Meski hidangan yang disajikan mewah dan sangat enak, tetapi baginya terasa hambar karena tidak ada teman makan. Terlebih lagi saat memikirkan nasib keluarganya di kampung.
"Maaf, bolehkah aku bertanya?" ucap mayang ragu tepat ketika para pelayan menyelesaikan tugas dan hendak keluar kamar.
"Silakan nona ...."
"Apa kalian tau sampai kapan aku akan berada di sini seperti ini?"
Kedua pelayan itu kompak menggeleng. Memasang ekspresi datar, keduanya lalu pergi meninggalkan Mayang sendirian.
"Gimana si, orang belum selesai nanya udah pergi aja," gerutunya sambil menatap pintu yang tertutup rapat. Ia sudah sangat bosan, sebab sejak datang tadi hanya diam di kamar tanpa bisa melakukan apa-apa. Ingin rasanya menemui sang bos besar dan menjelaskan duduk permasalahannya. Andai beliau tahu ini hanyalah salah paham, mungkin ada harapan untuk ia dilepaskan.
__ADS_1
Mendesah pelan, Mayang meluruskan kakinya yang terasa pegal. Tangannya mulai bergerak memijat. Hanya mondar-mandir di dalam kamar ternyata menguras tenaga dan pikiran, terlebih dengan nasib yang berada di ujung tanduk seperti sekarang.
Mulutnya mulai menguap, tanda rasa kantuk telah menyergap. Ia membenamkan tubuh pada sofa berukuran besar itu, berharap bisa tidur dan berada di rumah sendiri saat terbangun nanti.
***
Sekitar pukul lima pagi Mayang telah bangun seperti biasa. Ia mengerjapkan mata, lalu menatap ke sekeliling hingga kemudian mendesah pelan. Rupanya ia masih berada di tempat yang sama. Sangkar emas yang entah sampai kapan akan membelenggunya dari kebebasan.
Jika biasanya ia akan langsung bergegas mandi, tetapi kali ini ia perlu mengubah kebiasaan sebab tak memiliki baju ganti. Ia melangkah pelan menuju pintu. Mencoba menekan kenop dan berakhir menelan kecewa sebab pintu terkunci dari luar. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain kembali ke sofa dan merebahkan tubuhnya di sana. Walk in closed yang ada juga kosong tak berisi apa-apa.
Ketika pintu dibuka dari luar, gegas ia bangkit demi melihat siapa yang datang. Rupanya dua pelayan itu lagi dengan membawa troli penuh makanan.
"Apa kalian tidak membawakan baju ganti untukku?" Pertanyaan yang langsung terlontar dari Mayang begitu pelayan itu datang.
Kedua pelayan itu saling menatap lalu menggeleng bersamaan.
"Apa tidak ada sehelai pakaian pun yang bisa kukenakan? Aku tidak menginginkan yang bagus. Asal bersih aku sudah berterima kasih. Kalau perlu baju pelayan juga tak apa."
Meski sudah bertanya panjang lebar bahkan tak sedikitpun jawaban yang ia dapatkan. Kedua pelayan itu hanya diam seribu bahasa sambil terus menjalankan tugasnya.
Terpaksa, pada akhirnya ia memutuskan mandi dan mengenakan pakaiannya kembali. Bahkan saat mengantar makan siang pun para pelayan itu masih juga tidak membawakan pakaian ganti.
"Apa yang harus kita lakukan? Tuan Billy hanya memerintahkan pada kita untuk memberinya makan, bukan?" tutur seorang pelayan kepada temannya ketika mereka sama-sama berjalan menuju dapur.
***
Menjelang malam, Mayang menyantap hidangan makan malamnya dengan sikap ogah-ogahan. Para pelayan itu sepertinya menyadari, tetapi enggan membicarakan hal ini.
Setelah para pelayan itu pergi, Mayang hanya sendirian di kamar itu. Bingung hendak melakukan apa, gadis itu malah mondar-mandir tidak jelas dihinggapi rasa bosan hingga ke tulang. Namun, setidaknya ia sudah merasa sedikit tenang sebab telah memberi kabar keluarganya melalui ponsel yang sengaja ia sembunyikan. Billy memang sengaja tidak menyita benda itu dari dia, entah atas dasar apa.
Ketika pandangannya tertuju pada pintu, entah mengapa nalurinya menggiring kaki untuk melangkah mendekati. Iseng, ia mencoba menekan kenop pintu, dan tara ....
Pintu terbuka dan matanya sontak berbinar ceria. Melongok keluar untuk melihat keadaan sekitar, ia memberanikan diri keluar kamar dan menutup pintu itu lagi dengan hati-hati.
Di ruangan serupa lorong itu, ia tak menjumpai orang lain sama sekali. Sunyi, hanya suara langkah kakinya yang menggema di udara. Lantai teratas ini mungkin memang sengaja di desain dengan suasana tenang untuk beristirahat pemiliknya. Berbeda dengan lantai bawah yang dipenuhi oleh para pengawal yang senantiasa siaga di beberapa sudut rumah. Meski melihatnya baru sekali, tetapi Mayang sudah cukup mengerti akan hal ini.
Langkah Mayang terhenti tepat di depan sebuah pintu. Pintu yang desainnya sama dengan pintu kamar yang ia tempati. Ia yang selalu ingin tahu benar-benar tak bisa menahan diri untuk mencari tahu. Dengan kekepoannya yang hakiki, gadis itu dengan lancang mulai menekan kenop pintu. Atas nama iseng, ia pun berusaha sambil memejamkan mata.
Lagi-lagi ia dibuat terperangah. Pintu tak dikunci, dan ia pun bisa dengan leluasa memasuki.
"Aku jadi penasaran, sebenarnya siapa pemilik rumah ini? Aku tidak suka dengan sifatnya yang mubazir. Kenapa dia membuat begitu banyak kamar tetapi kosong tak berpenghuni?" Mayang menggerutu sendiri sambil menyisir ruangan melalui pandangan. Sedangkan tangannya berkacak pinggang, dan mimik wajahnya terlihat sebal.
"Oh, ini ruang pakaian rupanya." Mayang tanpa sadar mulai membuka pintu lemari kaca yang memang tidak terkunci itu. Ada banyak pakaian dan aksesoris bermerek di sana. Entah mengapa, melihat hal itu memunculkan niatan untuk meminjam sehelai pakaian di benaknya. Bukanlah yang terbagus yang gadis itu ambil, melainkan pakaian tidur dengan desain polos berlengan panjang yang jadi pilihannya.
__ADS_1
Seulas senyum menghiasi wajah ayunya ketika Mayang memperhatikan baju warna putih itu.
Tidak papa kan kalau aku meminjam ini? gumamnya dalam hati.
Tanpa pikir panjang, ia segera kembali ke kamar untuk mandi dan menukar pakaiannya. Tak lupa pula mencuci rambut yang panjang hingga ke pinggang. Beberapa menit berselang, keluar dari kamar mandi, gadis itu terlihat segar dan harum khas sabun mandi.
Semakin tak mengantuk, Mayang memutuskan untuk keluar kamar mumpung ada kesempatan. Sebuah balkon yang memperlihatkan keindahan malam kota dari ketinggian, menjadi pilihannya untuk melepas penatnya badan.
Berpegangan pada pagar balkon setinggi dadanya, ia memejamkan mata menikmati semilirnya angin malam yang berembus menyapanya. Surai sehitam jelaga yang dibiarkan tergerai itu menari-nari indah dengan bebasnya.
Jujur, Mayang bahkan nyaris melupakan ia kini berada di sana atas dasar apa. Larut dalam ketenangan, gadis cantik itu tak menyadari ada sepasang bola mata tengah mengintainya dari belakang.
******
Tepat pukul dua belas malam Billy mengantar Brian pulang dari kantor. Setelah memastikan sang presdir aman hingga disambut para pelayan di depan pintu, ia lantas kembali mengendarai mobilnya meninggalkan rumah besar itu.
Brian yang tak tertarik mengisi perut memutuskan untuk naik ke lantai teratas di mana kamarnya berada. Ketika keluar dari lift yang membawanya naik, ia dikejutkan dengan pintu balkon yang terbuka. Karena penasaran, gegas dihampirinya pintu itu untuk melihat siapa yang sedang ada di sana
Alangkah terkejut ia melihat ada sosok wanita tengah berdiri di sana. Terlebih dengan rambut panjang yang tergerai dan pakaian putih yang menutupi sekujur tubuhnya, Brian nyaris mengira itu adalah iblis wanita yang sedang menikmati indahnya bulan.
Namun, logikanya langsung bekerja saat itu juga. Mana ada setan yang bergentayangan? Itu hanyalah pemikiran manusia yang telah diracuni karena ketakutannya sendiri. Namun, yang jadi pertanyaan sosok itu siapa? Sedangkan di rumah rumah ini, selain pengawal dan pelayan ia hidup seorang diri.
Karena lagi-lagi terusik dengan rasa penasaran, pria gondrong itu pun mendekat. Seulas senyum seketika mengembang menyadari sosok itu adalah siapa. Wanita yang selama ini ia rindukan, kini telah kembali untuk memberikan sebuah kejutan.
Beberapa detik lelaki tampak tenggelam dalam pesona sang gadis ayu. Wajahnya memancarkan sinar kekaguman terhadap ciptaan tuhan yang sedang ia pandang. Namun, di detik lain ia teringat bahwa yang ia kagumi dulu telah tiada, lalu siapa dia?
Lobus frontal Brian bekerja cepat meneriakkan alarm kewaspadaan. Sadar jika sesuatu tidak beres telah terjadi, ia dengan cepat menghampiri gadis yang tengah menatap bulan itu sebelum kemudian memutar tubuh si gadis dengan kasar hingga menghadap tepat ke arahnya.
"Siapa kamu?" tanyanya dengan pandangan menyorot tajam.
Mayang yang sangat terkejut hanya bisa menatap sosok di depannya dengan ekspresi ketakutan. Ia tercekat, dan hanya kelopak mata yang mampu mengerjap tak percaya.
Kesal tak mendapatkan jawaban, Brian kembali mengulang pertanyaan dengan intonasi lebih tinggi. Lebih-lebih melihat pakaian yang gadis itu kenakan sekarang, ia benar-benar naik pitam hingga nyaris bertindak kasar.
"Selain penyusup, kau juga sangat lancang karena telah mengenakan pakaian milik orang. Siapa yang memberimu izin memakai pakaian ini!" bentak Brian lagi.
"Sa--saya–" tercekat, Mayang tak dapat melanjutkan perkataannya.
Brian menggeram frustasi. Tanpa peringatan, ia menyeret tubuh Mayang untuk masuk kedalam.
"Pergi kau dari sini! Aku tidak suka orang lain mengusik ketenanganku!"
Kemarahan telah membutakan mata hati Brian. Ia dengan sengaja mengempaskan tubuh Mayang hingga membentur tembok dengan kuat. Ia bahkan sempat mendengar pekikan tertahan si gadis sebelum kemudian tubuh itu terkapar tak berdaya dan pingsan.
__ADS_1
Bersambung