
Mayang hanya memainkan sendok dan garpu yang ia genggam di tangannya di atas piring dengan nasi dan lauk pauk lengkap di dalamnya. Hanya mengaduk - aduk hidangan lezat itu tanpa ada selera untuk menikmatinya.
Wajahnya yang murung tampak tertunduk menatap piring dihadapannya dengan tatapan kosong. Hatinya terasa hampa sejak Ayah mertuanya menjemput dirinya dan memisahkannya dengan sang suami.
Malik dan Ratih yang semula tampak menikmati makananan nya pun seketika menghentikan kegiatan mereka. Keduanya saling berpandangan, lalu sama - sama melirik pada sang menantu yang sedang tertunduk melamun.
"Mayang," panggil Ratih dengan suara lembut.
Mayang secara spontan pun mendongak. "I-iya Bu," Mayang tergagap karena terkejut.
"Makanlah dengan benar, kau belum menyuapkan sama sekali makanan itu ke mulut mu." Ucap Ratih dengan nada menuntut.
"Baik Ibu," ucap Mayang sembari memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Lantas tangannya bergerak menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Dikunyah nya makanan itu perlahan dengan malas.
Makan malam kali ini benar - benar terasa tak nyaman bagi Mayang. Pikirannya tak dapat teralihkan dari wajah sang suami yang selama dua hari kemarin selalu bersamanya mekewati masa - masa bahagia. Melewati detik demi detik dengan penuh cinta.
Dan kini saat tiba - tiba mereka terpisah oleh jarak yang terbentang benar - benar membuat hari - hari nya terasa hampa. Hati Mayang selalu diliputi oleh kesedihan, akibat rasa was - was dan khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa suaminya.
Namun ia selalu memaksakan untuk tersenyum agar dua orang yang sedang makan satu meja dengannya ini tak khawatir terhadapnya. Mayang merasa beruntung karena memiliki mertua yang benar - benar menyayangi nya layaknya pitri sendiri.
Setelah memaksakan memasukkan beberapa suap makanan ke mulutnya, Mayang merasa tak mampu lagi untuk menghabiskan nya. Ia pun menaruh sendok dan garpu dengan hati - hati ke dalam piring. Dan meneguk air putih yang berada di sampingnya.
"Ibu, tidak apa kan Mayang kembali ke kamar lebih dulu. Perut Mayang sudah kenyang dan sekarang mulai mengantuk."
"Istirahatlah." Ucap Ratih memberi izin sembari tersenyum.
"Terimakasih Bu," ucap Mayang sopan sembari beranjak dari duduknya. Tatapannya yang semula tertuju pada Ratih pun beralih kepada Malik yang tampak sedang menatapnya. "Mayang permisi Ayah," ucapnya sembari mengangguk pelan saat memohon izin.
Malik tersenyum sembari mengangguk pertanda dia mengizinkan Mayang meninggalkan tempat itu. Usai mohon diri Mayang pun mengayunkan langkahnya menuju kamar.
Di benamkannya tubuh lelahnya diatas ranjang yang empuk dengan perlahan. Entah mengapa, saat ini dirinya lebih suka menyendiri dalam kesunyian dan sama sekali tak ingin ada orang lain yang mengganggunya.
__ADS_1
Entah berapa lama Mayang hanya bergulang - guling tanpa ada rasa kantuk sedikitpun. Hari yang semakin larut dan telah melewati tengah malam, namun mata Mayang masih enggan tuk terpejam.
Suara ketukan di jendela kamarnya pun membuyarkan lamunannya. Mayang bangkit dan duduk sementara matanya melirik tajam pada jendela yang tertutup rapat dengan kain gorden setengah menyelidik.
Mayang hampir saja mengabaikannya, dan memilih untuk berbaring lagi. Namun suara ketukan yang terdengar lebih keras lagi pun memaksanya untuk bangkit dan berjalan kearahnya.
Rasa was - was yang melingkupi hati Mayang tak sebesar rasa penasarannya. Gadis itu pun menggerakkan tangannya perlahan untuk menyingkap gorden yang menutupinya.
Alangkah terkejutnya ia setelah melihat sosok yang di kenali nya tengah berdiri menunggu di luar jendela. Dengan jaket hoodie yang tampak menutupi kepalanya pun tak membuat Mayang tak mengenali lelaki itu.
Dengan tergesa Mayang pun membuka jendela kamar itu. Lantas tubuhnya pun berhambur memeluk lelaki itu setelah mereka sama - sama berada di dalam.
Beberapa saat kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap lelaki itu lekat. Tampak rasa bahagia yang berbinar dari matanya. Namun juga ada rasa cemas yang mengganjal di hatinya.
"Sayang kenapa kau datang kemari? Bagaimana kalau ketahuan nanti? Apa kau ingin menculikku lagi?" Mayang memberondong Brian dengan pertanyan.
Namun bukannya menjawab, lelaki itu malah membenamkan bibirnya pada bibir sang istri yang sudah akan kembali menyerangnya dengan pertanyaan.
Kini tubuh itu menyerah pasrah saat Brian menggendongnya dan membawanya menuju ranjang. Brian dengan sangat hati - hati membaringkan tubuh istrinya pada ranjang empuk dengan posisi yang nyaman.
Aroma maskulin tubuh Brian benar - benar terasa menenangkan di hati Mayang. Dan dengan kelembutan sikap sang suami yang benar - benar memberikan rasa nyaman baginya.
Sehingga membuatnya tak mampu berpisah dari sang suami walau hanya sebentar saja. Apalagi dengan situasi yang tak mengenakkan seperti akhir - akhir ini.
"Aku datang karena aku merindukan mu sayang," ucap Brian yang dengan posisi menindih sang istri dengan menggunakan lutut sebagi penopang tubuhnya sembari membelai lembut wajah sang istri.
Belaian yang ringan dan sensual yang seketika membuat Mayang merasakan senyar berbeda. Membuat tubuh pasrah itu seketika menegang seolah menuntut lebih dari hanya sekedar belaian.
Kecupan lembut dari bibir Brian yang bergerilya menjelajahi permukaan kulit lembutnya pun kian membangkitkan gairah nya untuk bercinta.
Tangan Brian berhasil menelusup masuk dan meraba lembut area sensitif Mayang. Membuat desahan kenikmatan lolos dari bibir mungil gadis itu tanpa sanggup lagi menahannya. Desahan sang istri itu kian membuat hasrat Brian yang sempat tertahan semakin bergolak tanpa terkendali.
__ADS_1
Tangannya yang tak sabaran saat berusaha membuka pakaian sang istri pun merobek kain yang membungkus tubuh istrinya hanya dengan satu tarikan. Sehingga menyisakan kain mungil berenda sebagai pelindung satu - satunya yang menutupi area sensitif Mayang.
"Apa kau siap menerima nafkah batin mu?" Bisik Brian dengan suara parau tepat di telinga sang istri.
Mayang mengangguk berulang - ulang sebagai jawaban. Sembari membelai lembut Wajah sang suami seolah menunjukkan kerelaan dirinya tanpa rasa keberatan sedikitpun.
"Terimakasih sayang," ucap Brian sembari meraih jemari sang istri dan menghadiahi kecupan lembut disana.
"Aku ini istrimu. Aku seutuhnya milik mu. Kau bebas melakukan apapun padaku." Suara Mayang lirih namun terdengar jelas di telinga Mayang yang seolah menunjukkan kepatuhannya dan mempertegas kepemilikan suami atas dirinya.
Dan malam panjang penuh kenikmatan dengan suasana yang mengharu biru pun di mulai. Dua tubuh manusia dengan dua genre yang berbeda pun saling menyatu. Keringat yang membasahi tubuh serta deru nafas yang memacu seolah melebur kerinduan yang menggebu.
Desahan dan erangan kenikmatan pun memenuhi ruangan kedap suara itu hingga menjelang pagi. Hingga tubuh Mayang terkulai tak berdaya setelah permainan terakhir mereka. Ia langsung tertidur pulas dengan wajah yang terbenam pada hangatnya permukaan kulit dada Bidang Brian.
Tangan Brian masih merengkuh tubuh sang istri dalam hangat dekapan nya. Melindungi sang istri dari hawa dingin yang semakin menusuk oleh karena suhu AC ruangan itu.
Brian dengan sangat hati - hati pun merebahkan tubuh sang istri dengan pisisi yang nyaman agar tak mengusik tidur nya. Ia dadar tak bisa berlama - lama di tempat ini. Ia harus segera keluar sebelum seluruh penghuni rumah ini terbangun dan menyadari keberadaannya di sini.
Sebelum ia pergi, sembari tersenyum Brian pun menyemat kan sesuatu di jari manis sang istri yang masih tampak kosong. Sementara jari manis satunya telah terisi oleh cincin pernikahan mereka.
Di kecupnya kening sang istri yang terbungkus rapat dengan selimut yang hangat itu agak lama sebelum akhirnya ia keluar dari rumah itu dengan mengendap - endap seperti pencuri. Turun dan melompat dari lantai dua dan mengendap lagi menuju pintu rahasia hingga keluar mencapai motornya yang telah menunggu disana.
Kini ia bernafas lega, dan bersiap menjalani harinya dengan semangat penuh, dan mengabaikan rasa lelahnya akibat bergerak semalaman tadi.
Bersambung
__________________________
Hai readers tercinta, kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Amara
Dan berikan dukungan kalian untuk author ya
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏