
Brian mengerjapkan mata begitu ia terbangun di pagi hari. Ia lantas beranjak bangun dengan penuh semangat menyambut hari. Penolakan demi penolakan yang ia terima dari Lena benar-benar tak menyurutkan semangatnya. Justru ia semakin terpacu untuk lebih giat lagi dalam usaha pendekatannya. Bahkan beberapa hari belakangan ini ia bahkan berani menelpon dan mengirimkan buket bunga ke alamat rumah Lena.
Entah berapa lama ia menghabiskan waktu di kamar mandi, namun saat ia kembali ke kamar, Billy sudah tampak berada di sana.
Dengan pakaian rapi seperti biasa, lelaki itu sudah tampak segar dengan parfum beraroma oriental yang menguar yang membuat jiwa petualang lelaki itu semakin kentara. Entah sejak kapan ia mulai menyukai aroma parfum yang awalnya hanya di sukai oleh Brian.
"Pagi bener lo datang?" Brian bertanya dengan menatap heran pada lelaki yang tengah berdiri siaga di samping pintu.
"Hari ini ada meeting pagi, aku khawatir kau melupakannya." Billy berucap dengan nada datar.
"Memang sejak kapan aku pernah melupakan hal penting dalam pekerjaan hah?!" Melirik tajam, Brian seolah tak terima dengan ucapan Billy. "Kau pikir dengan kesibukan ku mendekati Lena aku akan melupakan tanggung jawab ku?!"
"Bagus lah kalau kau ingat." ucap Billy dengan enteng.
Suasana kamar kembali hening untuk sesaat. Billy hanya diam dengan mata mengamati Brian yang hanya mengenakan handuk piyama itu tengah memainkan ponselnya.
"Mau ku siapkan pakaian mu?" tanya Billy menawarkan.
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri." Brian menjawab tanpa menoleh pada Billy. Namun hingga beberapa menit kemudian ia masih saja asik dengan ponselnya.
Mendesah pelan, Billy memberanikan diri untuk bertanya. "Kau begitu tergila-gila dengan Lena hingga kau menggunakan segala cara untuk mendekatinya. Apa kau yakin Lena adalah gadis yang kau tolong waktu itu?"
"Yakin." Jawab Brian singkat.
"Apa wajahnya memang sama?"
"Ya."
"Padahal sudah sekian tahun sejak saat itu, kau yakin masih mengingatnya dengan sangat jelas?!" dengan penuh rasa ingin tahu, Billy bertanya setengah menyelidik. Ada seberkas keraguan nampak dari wajahnya.
"Kau meragukan ku?" Brian menaruh ponselnya setengah melempar ke atas ranjang. Lantas dengan tangan yang berkacak pinggang, ia menatap Billy dengan pandangan menyelidik.
"Tidak, aku hanya ingin meyakinkan saja. Ku harap kau tidak mencintai orang yang salah."
"Terserah kau mau bilang apa. Tapi insting ku mengatakan kalau gadis kecil itu benar-benar Lena." Brian menjatuhkan tubuhnya terduduk di tepi ranjang. "Untuk wajah, kau tau sendiri kan, kadang proses pendewasaan seseorang sedikit merubah karakter wajah. Apa lagi Lena kecil dulu masih polos sedangkan Lena yang sekarang sudah bisa memoles wajahnya dengan make-up. Tapi aku yakin gadis kecil itu adalah Lena." papar Brian dengan penuh keyakinan.
Billy menghela nafas dalam sebelum berbicara. "Terserah kau saja lah, yang penting aku sudah memperingatkan mu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu saja dan tidak bermaksud mencampuri urusan mu."
"Aku tau. Bukan kah lebih baik memikirkan dirimu sendiri dari pada memikirkan ku bukan? Kau juga butuh mengurus hidup mu sendiri, kau butuh pendamping untuk menemanimu."
__ADS_1
"Aku tidak pernah lupa mengurus diriku sendiri." jawab Billy dengan senyum yang tersungging.
* * *
Suasana sore yang panas membuat Lena yang sedang berkutat dengan laptopnya merasa kehausan. Padahal dia sudah menghabiskan satu botol air mineral dingin selama satu jam dirinya berada di situ.
Bersantai di taman belakang gadis itu menikmati sore sembari memeriksa memeriksa laporan bulanan yang Hans tugaskan secara khusus padanya sebagai langkah awal Lena merambah dunia bisnis untuk meneruskan perjuangan sang Ayah di perusahaannya.
Meski baru belajar, namun Lena tampak menikmati hal itu. Berbekal ilmu pengetahuan yang ia dapat saat kuliah di universitas terbaik di luar negeri, hal itu bukanlah kendala besar baginya.
Meninggalkan laptop nya, Lena beranjak dan melangkah dengan santai menuju dapur. Berhenti di depan kulkas, tangannya bergerak menarik pegangan pintu kulkas dan membukanya. Sebotol air mineral dingin kembali menjadi pilihannya.
Seolah tak mampu lagi menahan dahaga, Lena yang memang sedang kehausan meneguk air bening itu hingga merasakan sensasi segar yang luar biasa saat air dingin itu menyapa lembut di tenggorokannya yang kering.
Menyisakan setengahnya, Lena kembali meneguknya usai menutup pintu kulkas. Saat ia memutar tubuhnya dan berbalik, ia membelalakkan mata saat mendapati sesosok pria sedang berdiri tepat di belakangnya entah sedari kapan.
Dan karena keterkejutannya itu, tanpa sadar ia menyemburkan air minum di mulutnya yang belum sempat ia telan hingga seluruh isinya berpindah membasahi pakaian lelaki yang adalah Brian itu.
Lena yang gelagapan berusaha menelan slavinanya dengan susah payah sambil menatap Brian dengan pakaiannya yang basah oleh ulahnya. Tertunduk malu, Lena mengusap bibirnya yang masih basah oleh air.
Ia terlihat gusar saat Brian mengamatinya. Lena hanya bisa pasrah jika memang Brian akan memakinya dengan penuh kemarahan. Atau bahkan memerasnya untuk memenuhi permintaan lelaki yang selama ini pura-pura ia abaikan itu.
Bukannya tanpa sebab, Brian memang sengaja melakukannya untuk menarik simpati gadis itu agar timbul di hatinya rasa bersalah dan mau membuka hatinya untuk Brian.
Namun bukan rasa bersalah lah yang Lena tunjukkan, gadis itu malah menunjukkan kekesalannya.
"Kau! Sejak kapan kau di sini?!"
"Sejak tadi." Jawab Brian dengan senyum percaya diri. "Sejak tadi aku mengawasi mu."
"Apa?!" Mendengus kesal, Lena mendorong tubuh Brian agar menjauh darinya. "Pergi kau! Pulang sana! Aku tidak suka ada orang lain mengganggu kenyamananku!"
"Kenapa kau tega sekali? Kau mengusirku setelah menyiram tubuhku dan membuat ku kedinginan. Asal kau tau ya, aku kemari bukan karena kemauan ku sendiri! Ibu yang menyuruh ku datang kemari dan menitipkan ini pada ibumu. Ambil ini! Lalu aku akan pergi." dengan mimik wajah kesal, Brian menyodorkan dua paperbag dari tangannya.
Lena yang awalnya ragu, pada akhirnya menerima paperbag itu dan membuka sedikit untuk mengintip isinya. Satu paperbag berisi kue sedang yang lainnya berisi beberapa buku baru kesukaannya.
Ia hampir saja melunak dan berucap terimakasih, namun pada saat ia mendongak menatap Brian, lelaki itu sudah melangkah meninggalkannya dengan ekspresi kesal. Usai menaruh paperbag itu di meja, dengan tergopoh ia bergegas menyusul Brian.
"Hey tunggu! Jangan ngambek begitu." Terengah-engah Lena sembari menarik lengan Brian.
__ADS_1
Yes berhasil. Gumam Brian dalam hati merasa bahagia.
"Ada apa lagi? Kau minta aku untuk cepat pulang bukan? Oke aku akan pulang." terang Brian dengan mimik wajah sedih.
"A-aku, aku cuma mau minta maaf." ucap Lena dengan terbata. Gadis itu tertunduk dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Nggak salah ini, kamu beneran minta maaf?" tanya Brian ragu.
"Mau maafin nggak ni? Sebelum aku berubah pikiran." menatap Brian kesal, Lena tak mampu menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Iya, iya, aku maafin kok. Tapi ada syaratnya."
"Tuh kan, pakai syarat. Mau memeras ku ya?"
"Siapa juga yang ingin memeras mu? Aku hanya ingin melihat senyuman manis semanis gula, indah secerah mentari yang tersembunyi di balik wajah kesal mu itu." goda Brian dengan senyuman nakal yang spontan membuat pipi Lena merona malu.
Memalingkan wajahnya, gadis itu mencoba menyembunyikan rona hahagia di balik senyum yang berusaha ia tahan.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Kalau begitu aku permisi pulang."
"Tunggu!" Cegah Lena saat Brian akan melangkah. Lelaki itu spontan menoleh pada Lena. "Baju mu basah. Kau bisa masuk angin karena itu. Aku bisa meminjamkan kemeja Ayah ku untuk kau pakai."
"Aku mau asal kau tidak keberatan."
"Aku yang menawarimu, mana mungkin aku keberatan."
"Baiklah karena kau memaksa, dengan berat hati aku menerimanya."
"Hah! Dasar ya? Dengan berat hati kau bilang? Bukankah itu yang kau harapkan?" teriak Lena kesal dengan tangan yang meraih lengan Brian dan mencubit nya gemas. Bukannya meminta maaf Brian justru mencubit pipi gadis itu pula. Hingga keduanya tertawa bersama saat merasa hal yang mereka lalui itu lucu. Dan dari situ lah kedekatan mereka pun bermula.
Entah dari mana rasa itu bermula, Lena benar-benar merasa nyaman berada disisi Brian. Meski mendapat berkali-kali penolakan lelaki itu tak pernah putus asa atau pun merasa lelah dan menyerah.
Entahlah Brian, aku senang kita bisa melewati waktu bersama. Namun aku juga memiliki kekasih yang begitu mencintai ku. Aku hanya ingin hubungan kita mengalir bagai air namun aku tak tau air itu akan sampai kemana membawa hubungan kita.
Bersambung
______________________________________
Hai readers tercinta, jangan lupa kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Terjerat cinta sang Perawat
__ADS_1
Dan berikan juga dukungan kalian buat author ya. Terima kasih 🙏🙏🙏