Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Kemarilah Nyonya Brian


__ADS_3

Dalam waktu sekejap, kamar tidur yang semula tertata indah itu berubah seperti kapal pecah. Bantal-bantal serta selimut yang tadinya tertata dengan rapi di atas ranjang kini semuanya berpindah ke bawah lantai. Peralatan make up, buku-buku serta benda-benda lain juga tampak melayang di udara sebelum kemudian mendarat di lantai marmer itu.


Mayang melemparkan apapun yang berada di sampingnya ke arah Alex yang tak henti berupaya mendapatkan tubuhnya. Ia pun melompat dan berlari ke sana kemari demi menghindari lelaki itu.


"Mau kemana, Sayang? Rupanya kau suka berlari-lari sebelum memadu cinta denganku nanti, heum?" tanya Alex dengan nada menggoda. Ia masih melangkah mengikuti Mayang sambil tangannya bergerak menangkis apapun yang melayang ke arahnya karena lemparan istri Brian itu. Matanya menatap Mayang dengan sorot memangsa, seperti hewan buas yang begitu lapar dan tak tahan ingin menyantap kelinci kecil di depannya.


Mayang menyandarkan tubuhnya pada tembok di sudut ruangan dengan napas terengah-engah. Wajahnya terlihat lelah, ditambah rasa ketakutan luar biasa yang masih setia melingkupi pikirannya.


Sementara Alex tampak tersenyum puas penuh kemenangan. Ia berhenti seketika saat melihat wajah Mayang yang tampak begitu tertekan. Memberi waktu pada wanitanya untuk beristirahat sejenak sepertinya perlu juga ia lakukan. Toh percintaan yang dilakukan saat kelelahan itu akan mengurangi kadar kenikmatan mereka nanti. Untuk apa juga terlalu tergesa-gesa, toh sekarang Mayang berada dalam cengkeramannya juga, dan tak ada celah bagi wanita itu untuk pergi melarikan diri.


"Jangan mendekat. Ku mohon jangan mendekat!" teriak Mayang seraya meluruskan kedua tangan ke depan dengan telapak yang terbuka lebar sebagai isyarat agar Alex menghentikan langkah. Ia kembali panik saat Alex mulai menunjukkan pergerakan seolah-olah akan mendekatinya. Hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai pertahanan terakhir untuk melindungi diri tanpa menunjukkan kekuatan, serta demi melindungi janin di dalam perutnya.


"Tenang, Sayang, kumohon tenangkan dirimu. Aku tidak semenakutkan itu. Oke, oke, aku tidak akan mengejarmu lagi, aku janji," Alex berucap hati-hati seraya mengangkat tangannya seolah-olah ingin menenangkan. "Tapi berhentilah ketakutan seperti itu saat melihatku. Aku bukan monster, Sayang, aku janji tidak akan menyakitimu," ucapnya seperti sebuah janji.


Mayang telah berjuang sekuat tenaga untuk menghindari serangan pria itu, namun usahanya harus berhenti karena telah kehabisan tenaga. Namun ia tak ingin menyerah begitu saja. Ia telah mempelajari teknik memanipulasi ekspresi wajah demi untuk menarik simpati lawan dan menyentuh hatinya, supaya mendapatkan rasa iba serta belas kasih.


Sayangnya sejauh ini Mayang belum bisa menerapkan ilmu yang telah diserapnya. Rasa takut dirinya akan ternodai yang sudah lebih dulu merasuk di pikiran benar-benar membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih. Alhasil, semua yang telah ia pelajari hilang begitu saja dari kepala.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu. Aku bukan sayangmu, aku bukan wanitaku!" Mayang berteriak frustasi. Tangannya bergerak memeluk tubuh sendiri, menjadikannya perisai sebagai bentuk perlindungan diri sekaligus menutupi bagian tubuh yang terekspos sebab pakaiannya yang transparan.


"Baik, baik, aku akan menuruti keinginanmu meski aku merasa kecewa." Alex memasang mimik sedih, seolah-seolah menunjukkan jika ia benar-benar kecewa. Tapi tentu saja hal itu hanya kepura-puraan saja, sebab ia tak akan mungkin semudah itu melakukannya. "Tapi, bisakah kita bicara dengan baik-baik tanpa perlu ada ketakutan lagi. Sungguh aku tak bermaksud sedikitpun untuk menyakitimu. Aku melihat Magdalena ada di dalam dirimu hingga berharap dapat memilikimu tanpa peduli jika kau ada yang memiliki. Apa menurutmu aku memiliki gangguan jiwa hingga aku bersikap seperti ini? Bisakah aku mencurahkan sedikit perasaan sedih yang selama ini kupendam agar hatiku sedikit merasakan lega?"


Mayang tertegun mendengar pertanyaan Alex baru saja. Lelaki itu berucap dengan suara melemah dan sorot mata sendu, hingga Mayang bisa merasakan luka yang tersembunyi di balik wajah garang itu. Sedikit banyak ia sudah tahu silsilah cinta segitiga di antara Brian, Lena dan Alex di masa lalu hingga memicu permusuhan dua lelaki ini hingga kini.

__ADS_1


Alex tetap menuduh Brian merebut kekasihnya, sedangkan Brian sendiri tak tahu menahu ikatan cinta antara Alex dan Lena waktu itu. Hingga pada akhirnya Brian memantapkan hati untuk menikahi Lena yang begitu ia cintai.


Padahal jika ditilik kembali ke belakang, Lena lah yang bersalah sebab telah menduakan cintanya kepada Brian dan Alex. Lena yang silau akan apa yang dimiliki Brian pun membuatnya nekad, hingga berani bermain di belakang dan menjalin kebersamaan diam-diam.


Namun sikap Lena yang berubah drastis pada Alex rupanya memicu lelaki itu melakukan tindak kekerasan terhadapnya. Hingga pada akhirnya Lena benar-benar memutuskan Alex dan memilih menikah bersama Brian yang memang sudah tergila-gila kepadanya.


Alex yang tak terima atas semua ini rupanya menaruh dendam dan secara diam-diam ia menyusun sebuah rencana untuk merusak kebahagiaan Brian dan Lena. Kecelakaan yang merenggut nyawa Lena itu dicurigai terjadi akibat ulah Alex.


Namun minimnya bukti yang dimiliki, pada akhirnya membuat Brian harus menelan kenyataan pahit dengan membiarkan orang jahat itu tetap berkeliaran dengan bebas di luar sana, bahkan tetap berupaya menghancurkan kebahagiaannya.


Puncak kepahitan Brian adalah saat ini, di mana ia harus melepaskan istrinya yang mengandung untuk berhadapan langsung dengan musuh yang begitu ia benci. Mayang sendiri tak bisa bayangkan seperti apa reaksi Brian di sana jika mengetahui ini semua, di mana istrinya berada satu kamar hanya berdua dengan musuh bebuyutannya.


Mayang memiliki tekad kuat untuk berusaha sekuat tenaga menghindari sentuhan lelaki itu meski hanya seujung rambut demi menjaga hati suaminya. Maka dari itu ia berusaha keras melindungi diri dengan segenap sisa tenaganya, meski harus sudah payah tanpa menggunakan ilmu bela diri yang dimilikinya.


Mayang menatap Alex dengan mata menyipit seolah tengah menyelidik. Wajah lelaki itu tampak sedih sedih dan frustasi. Mungkinkah nuraninya telah terketuk dan mengesampingkan nafsu yang tadi sempat menguasai? Jika benar wajahku ini membuatnya teringat akan Lena dan bisa menyentuh hatinya, sepertinya tak ada salahnya jika aku bersikap baik dan mendengarkan ia bercerita," pikirnya.


Alex melebarkan matanya seolah tak percaya mendengar perkataan Mayang yang secara langsung memberikan persetujuan padanya untuk mereka saling berbicara. Ia tersenyum senang karenanya.


"Bisakah kita lebih dekat satu sama lain? Jarak kita maksudnya," Alex buru-buru meralat ucapannya saat melihat Mayang membelalakkan matanya dengan ekspresi penuh keterkejutan. "Kuharap kau jangan salah faham dengan ucapanku tadi," lanjutnya dengan senyum yang tulus.


"Jangan coba-coba mengelabuiku dengan cara licik seperti ini, Alex," desis Mayang penuh penekanan. Sementara pandangannya terarah pada Alex penuh peringatan.


Alex tertawa geli mendengar perkataan Mayang yang terdengar meragukannya. "Kau tidak percaya padaku? tanyanya kemudian, setelah itu ia tampak mengangguk tipis berulang-ulang saat terlihat tengah memikirkan sesuatu. "Ah ya, benar juga. Manusia buruk seperti aku memang mustahil untuk dipercayai," ucapnya dengan nada merendahkan diri.

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan begitu!" Mayang menyangkal cepat demi menghindari lelaki itu naik pitam.


"Tunggu sebentar," ucap Alex seolah tengah meminta waktu. Ia melangkah menghampiri jasnya yang teronggok di lantai sebelum kemudian mengambilnya. Lelaki itu tersenyum saat mendapatkan sesuatu yang ia cari, lantas kembali melangkah mendekati Mayang.


Mayang seketika membelalakkan mata, menatap Alex dengan sikap waspada. Pasalnya lelaki itu kembali dengan membawa senjata di tangannya. Alex sendiri tersenyum geli melihat ekspresi ketakutan yang Mayang tunjukkan.


"Kenapa kau setakut itu kepadaku, heum?" tanyanya dengan seringai menggoda. Pandangannya turun ke arah sesuatu di tangannya, lantas memainkan benda itu dengan lihainya seolah-olah benda itu tidak berbahaya sebelum kemudian kembali menatap Mayang dengan senyuman ramah agar gadis itu tidak takut terhadapnya. "Aku bahkan ingin menyerahkan benda ini kepadamu sebagai jaminan atas diriku. Kau bisa menembakku saat merasa aku ini tidak aman untuk dirimu," ucapnya dengan nada santai.


Alex tersenyum menatap wajah Mayang yang masih terlihat meragukannya. "Lihat ini," ucapnya sambil membuka pistol itu, dan menunjukkan jika di dalamnya benar-benar terisi peluru. "Aku tidak menipumu. Pistol ini terisi penuh dengan peluru dan tidak kosong. Kau bisa melenyapkan nyawaku hanya dengan satu tarikan saja," lagi-lagi Alex berusaha meyakinkan Mayang.


Alex diam sejenak, seolah memberi waktu kepada gadis itu untuk berpikir. Ia menatap Mayang dengan hati-hati dan tak ingin mendesak dan membuat gadis itu ketakutan lagi. Sebab ia tahu, tak mudah untuk membujuk gadis keras kepala di depannya ini.


Namun melihat Mayang yang mengangguk samar seolah menyetujui membuat Alex tersenyum senang bukan kepalang. "Terima ini," ucapnya santai lantas melemparkan senjata api itu kearah Mayang dengan ekspresi tenang.


Mayang sendiri terlihat gelagapan menerima lemparan tiba-tiba itu. Namun ia berhasil menangkapnya dengan sigap, sebelum kemudian menggenggamnya dengan erat.


Alex sendiri yang langsung melenggang mendekat tanpa beban ke arah Mayang itu mengulumkan senyumnya, melihat tangan Mayang yang gemetaran memegangi pistolnya. Pria itu lantas dengan santainya mendekati Mayang dan duduk di lantai tepat di depan istri Brian itu dengan posisi bersila.


"Kenapa masih berdiri?" tanya Alex dengan kepala mendongak, menatap Mayang yang tertunduk menatapnya dengan ekspresi keheranan. "Ayo cepat duduk dan aku akan memulai ceritaku," desaknya seraya menarik tangan Mayang.


"Sudah kubilang jangan dekat-dekat!" bengak Mayang dengan ekspresi ketakutan.


"Hey, kenapa masih takut begitu? Kau sudah memegang pistol sekarang, dan itu berarti nyawaku ada di tanganmu. Kenapa kau masih setakut itu terhadapku? Kemarilah Nyonya Brian," panggilnya dengan tekanan pada sebutan Nyonya Brian. Seolah-olah ia ingin menunjukkan jika ia mengakui Mayang adalah istri Brian dan ia sama sekali tak ingin menyentuhnya.

__ADS_1


Dan usaha Alex itu sepertinya berhasil, sebab wajah Mayang tampak bersemu merah dengan senyum bahagia menghiasi bibirnya.


Bersambung


__ADS_2