Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Sombong


__ADS_3

Pagi harinya, mengendarai dengan kecepatan sedang, Billy membawa mobilnya menyusuri gang kecil yang merupakan akses menuju ke arah kontrakan Milly.


Meski seseorang yang akan dia kunjungi itu notabene-nya adalah istrinya, namun wajah Billy terlihat tak berseri. Jika pada umumnya pasangan pengantin baru selalu diliputi perasaan bahagia dan berbunga-bunga, sepertinya hal itu tidak dialami oleh Billy dan Milly.


Perubahan status yang dialaminya secara mendadak masih menyisakan sedikit rasa terguncang di hati lelaki berperawakan tegap itu. Ia bahkan berharap pernikahannya itu hanyalah sebuah mimpi, dan berakhir saat dirinya bangun tidur di pagi hari.


Namun ternyata semua yang ia alami kenyataan adanya. Dan terpaksa ia harus menelan pil pahit menjalani pernikahan instan tanpa dilandasi rasa cinta.


Mencapai area kontrakan yang ditempati Milly, saat membawa mobilnya menuju pelatarannya Billy bisa melihat istri sirinya itu tengah berkumpul bersama teman-temannya di sebuah gazebo.


Entah sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan di hari sepagi ini, namun jelas terlihat oleh pandangan Billy mereka tampak begitu bahagia bercanda dan tertawa.


"Dasar perempuan. Pagi-pagi bukannya masak atau bersih-bersih kontrakan, eh dianya malah asik ghibah membicarakan orang." gumam Billy sambil menggelengkan kepala tak habis pikir.


Sementara itu para gadis yang tengah berada di gazebo, Milly dan teman-temannya yang semula sedang asik bercanda itu seketika terdiam dengan pandangan mata mengawasi mobil Billy yang sedang berjalan memasuki halaman kontrakan.


"Mill, itu kan mobil cogan yang kemarin! Mau apa dia kesini?" tanya Ina tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari pria yang sedang keluar dari mobilnya. Pria dengan stelan jas rapi dan kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung bangirnya.


"Yang pasti karena ada perlu lah, Na. Nggak mungkin kan dia datang ke sini buat minta sembako." jawab Milly dengan asal sambil melipat tangannya di dada. Bukannya segera pergi menghampiri si lelaki, ia malah sibuk mengawasi suami sirinya dari tempat dia berdiri.


"Terus ngapain Lo masih di sini?" tanya Ina yang berada tepat di samping Milly, sembari menyenggol bahu Milly menggunakan bahunya. Sementara pandangannya menatap Milly keheranan.


Milly yang hampir-hampir saja terungkal karena senggolan Ina yang lumayan kuat itu membuka lipatan tangannya selagi membetulkan posisi duduknya. "Lah emang gue mesti apa dong?" tanyanya sembari menatap Ina penuh tanda tanya.


Ina mendelik geram saat menatap Milly. "Ya ampun Mill, samperin ngapa. Didatangin cowok ganteng bukannya seneng malah dianggurin. Mending kalau anggur beneran, mah. Lah ini dibiarin!" Tutur Ina sambil menggemertakkan gigi saking gemasnya pada Milly.


"Ah iya, gue sampai lupa. Saking terpesonanya gue kali ya, sampai nggak sadar kalau cuma gue lihatin doang," balas Milly diiringi kekehan kecil saat mengucapkannya.


Memutar bola mata malas sambil mendesah kasar Ina lantas berucap, "Plis deh Mill. Apa perlu gue yang samperin dia dan menyambutnya dengan mesra?!" tanya Ina dengan nada ancaman.


Mendengar perkataan Ina barusan, wajah Milly yang semula masih menyunggingkan senyuman itu mendadak menyetel wajahnya dengan mode garang. Lantas dengan sorot mata tajam Milly menatap Ina penuh ancaman selagi membenturkan dahinya pada dahi Ina. "Lo mau gue cejek, hah?" tanyanya kemudian sambil menarik ujung kerah kemeja yang dikenakan Ina.


Hal itu tentu saja membuat Ina membeliak ngeri. Menarik diri menjaga jarak dari Milly ia pun berucap, "Lo apaan sih Mill, bar-bar amat! Kira-kira dong kalau mau ngancam orang. Lagak lo udah kaya bininya si Babang tampan aja." protesnya dengan nada tidak suka.


"Ye ... emang gua bini dia!" balas Milly sambil menyebik membanggakan dirinya.


"Hah!" Ina terperangah hingga membuka mulutnya lebar-lebar seolah tak percaya. "Ini udah siang Mill. Woyy bangun!" Ina mengguncang tubuh Milly seolah sedang menyadarkan. "Kalau mimpi jangan kebablasan ngapa?!"

__ADS_1


"Ish, terserah kalian ya. Yang penting gue udah nikah." tutur Milly sambil mengibaskan rambutnya dengan bangga. "Gue permisi mau nyambut suami gue dulu. Di sini gue mendadak gerah deh, hareudang gitu. Ada bau-bau pelakor kayaknya." Ucap gadis yang mengenakan blus merah muda itu dengan nada sindiran sambil mengibaskan jemarinya seolah sedang kepanasan. "Dah ya, babai." Ucapnya bangga sambil pergi begitu saja, di ikuti tatapan bingung teman-temannya.


"Si Milly kenapa mendadak aneh ya, dia nggak salah minum obat kan?" tanya Ina pada teman-temannya yang kemudian hanya di jawab gelengan kepala sambil terbengong menatap punggung Milly. "Wah bahaya ni kalau mimpinya udah nyampe ke nikah segala. Halunya udah kebablasan itu mah. Perlu kita ruqyah dia."


"Hah?!" Teriak yang lain bersamaan.


Dengan tergopoh, Milly lantas menghampiri pria yang sedang berdiri di sisi mobilnya itu dengan penuh semangat. Rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai itu berayun bebas ketika dirinya berlari kecil. Pakaian rumahan yang ia kenakan sangat pas menempel di badan mungilnya, hingga gadis berponi itu masih tampak imut walau usianya sudah lebih dari dua puluh tiga tahun.


Berhenti dua langkah tepat dihadapan Billy, gadis berkulit putih itu setengah membungkuk saat mengatur napasnya yang terengah. Berlari sejauh dua puluh meter saja sudah membuatnya merasa kelelahan.


"Bapak datang kesini?" tanya Milly dengan sopan setelah napasnya sudah normal, sementara tangannya bergerak mengusap embun keringat yang terasa membasahi pelipisnya.


Bukannya menjawab, Billy justru memutar bola mata malas.


Melihat reaksi Billy, Milly pun menyadari pertanyaan retoris yang ia layangkan dan segera meralat ucapannya. "Haha iya, sudah tau Bapak datang, saya masih nanya juga." Tertawa kikuk, tanpa sengaja tangan Milly pun bergerak menepuk lengan kiri Billy.


Bergeming, Billy seketika menatap lengannya tepat di tempat dimana Milly mendaratkan tepukan, sebelum akhirnya melempar pandangan tajam ke arah istrinya.


"Eh maaf Pak, saya nggak sengaja." merasa bersalah, Milly segera mengusap lembut lengan Billy yang ia pukul tadi dengan wajah merona malu. Namun melihat Billy yang seolah tak suka ia menyentuhnya, ia pun segera menarik tangannya, dan menyembunyikan debelakang badan.


Masih membisu tanpa suara, Billy lantas melepas kaca matanya. Menyandarkan tubuh dengan santai pada body mobil di belakangnya dengan kaki yang menyilang. Mengalihkan pandangan, ia tampak enggan menatap gadis yang tengah berdiri dihadapannya dengan wajah tertunduk kaku.


Menghentikan kegiatannya, Milly membelalak sembari menggigit bibir bawahnya tatkala menyadari pria tampan dihadapannya itu memperhatikannya tanpa berkedip. Kikuk ia jadinya, dengan wajah merona malu ia pun tersenyum kecut.


"Saya aneh ya Pak?" tanyanya sembari menunduk memperhatikan penampilannya. Lantas mengangkat pandangannya saat merasa dirinya baik-baik saja. "Tapi perasaan saya normal aja tuh Pak. Malahan Ibu saya bilang kalau saya ini anak paling baik dan nggak neko-neko." Dengan wajah polos tanpa dosa, Milly berucap bangga.


"Ya iyalah, orang ibu kamu yang ngomong." Tukas Billy sambil memalingkan wajah dengan seringai meremehkan tersungging dari bibirnya.


"Tapi kan saya memang anak baik. Bapak saja yang tidak tahu. Kenapa sepertinya Bapak tidak suka gitu? Jangan-jangan Bapak tidak pernah di sanjung dengan kalimat-kalimat indah seperti itu oleh Ibunya Bapak?" tanya Milly setengah menyelidik.


Tanpa Milly sangka, pertanyaan main-main yang ia ajukan membuat Billy seketika menoleh dan menatapnya tidak suka.


Sadar telah menyinggung perasaan lelaki yang telah menjadi suaminya walaupun secara siri itu, timbul rasa sesal di hati Milly dan membuatnya tak enak hati. Tak ingin lelaki dihadapannya itu semakin marah, ia pun segera meralat ucapannya.


"Tentu saja Ibunya Bapak selalu menyanjung Bapak ya, karena putranya menjadi orang yang sukses dan berhasil. Selain itu Bapak juga ramah dan juga baik hati. Walaupun demi melihat putranya senang, nggak jarang orang tua yang melakukan kebohongan loh."


"Maksud kamu?!" Billy menautkan alisnya.

__ADS_1


"Nggak mungkin kan, kalau Ibu anda mengatakan putranya kaku dan galak. Nggak mau senyum, mungkin karena takut wajahnya keriput. Terus mukanya datar kaya kalsibut."


"Hey!" Sentakan Billy berhasil menghentikan Milly yang masih ingin nyerocos mengolok-olok tanpa mempedulikan perasaannya. "Ini kamu nggak ada otak apa ya?! Apa udah ilang? Atau ketinggalan di gazebo itu atau mungkin jatuh pas kamu lari kesini tadi? Ghibahin orang di depan orangnya sendiri."


"Bukannya lebih baik gitu kan Pak, ghibahinnya di depan orangnya sendiri. Dari pada Bapak saya ghibahin di belakang. Selain Bapak nggak tau, saya juga kena dosanya."


Berdecak heran, Billy menggelengkan kepala melihat wanita unik dihadapannya ini. Berkacak pinggang sambil menunduk menatap si wanita, Billy lantas bertanya, "Apa yang kau bicarakan bersama mereka?" ekor mata Billy melirik pada para gadis di gazebo yang tengah memperhatikan mereka.


Menoleh ke arah yang di lirik Billy, senyuman Milly seketika mengembang, lantas pandangannya kembali pada lelaki di hadapannya sebelum kemudian berucap, "Namanya juga perempuan Pak, palingan juga bahas harga bawang yang lagi naik. Kadang juga ngomongin harga baju." Milly menjawab asal. Iya kali, masa iya mau ngaku kalau tadi ngomongin kamu. Batinnya.


Untuk beberapa saat Billy pun terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu. Lelaki beriris coklat itu lantas mengambil dompet dari saku celana bahannya sebelum kemudian mengeluarkan sesuatu dari dompet itu.


"Apa kau bisa membantuku?" Sambil mencodongkan tubuhnya ke arah Milly, Billy berucap dengan nada memohon.


Terdiam, Milly tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menatap wajah Billy dengan sangat dekat. Bahkan hangat embusan napasnya terasa menyapu wajahnya. Aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya benar-benar terasa menenangkan.


Sungguh lelaki ini memiliki paras yang rupawan. Begitu sempurna sehingga Milly sama sekali tak menemukan kecacatan pada fisik pria dihadapannya ini. Entah dia harus merasa sedih atau bahagia, saat takdir yang tanpa diduga datang dan mengatakannya menjadi istri lelaki dingin ini.


Mengepalkan jemarinya begitu kuat, Milly benar-benar bersusah payah menahan hasrat untuk berusaha menyentuh wajah Billy. Ia sangat suka. Menatap wajahnya membuat segala sedih dan duka luruh begitu saja. Billy memang telah mengalihkan dunianya


"Aku ingin kau terlihat pantas dari segi penampilanmu, sebab malam ini aku ingin mengenalkanmu pada seseorang."


Mendengar perkataan Billy yang bernada serius itu, Milly justru menautkan alisnya bingung. Terlebih ketika suaminya itu menyodorkan sebuah kartu.


"Gunakan ini untuk memenuhi semua kebutuhanmu." ucapnya dengan nada perintah, merujuk pada kartu ATM ditangannya.


"Maksud Bapak?" Milly masih tak mengerti. Menatap Billy dan kartu itu bergantian, ada sejejak keraguan terbesit di hatinya.


"Aku ingin kau berpenampilan sebaik mungkin malam ini. Saat aku datang menjemput, kau sudah harus siap. Ambil ini dan gunakan dengan baik." Dengan nada mendesak, Billy meraih pergelangan tangan Milly. Membuka genggamanya perlahan dan kemudian memaksa gadis itu menerima kartu pemberiannya.


"Jadi maksud Bapak penampilan saya selama ini tidak pantas?" Bertanya dengan nada keras, ada sejejak kemarahan dalam perkataan Milly. Entah mengapa Milly menilai buruk niat baik Billy tersebut. "Maaf, saya memang miskin. Tapi saya tidak bisa menerima pemberian Bapak ini." Milly mengembalikan kartu itu persis seperti seperti pada saat Billy memberikan pada Milly.


Menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, Billy menunjukkan seringai meremehkan pada istrinya. "Kau benar-benar sombong." Desisnya dengan nada tak terima sembari menggenggam kartu itu kuat-kuat. Sorot matanya pun begitu tajam menusuk.


"Maafkan saya Pak, tapi saya bukanlah gadis materialistis seperti yang Bapak pikirkan." Milly tertunduk penuh penyesalan. Namun perjuangan berat hidup sendirian di kota besar mengantarkannya untuk tidak bergantung pada orang lain.


Billy menggemertakkan giginya jengkel. "Siapa yang mengatakanmu ini matre, hah?!" Billy menggeleng tak habis pikir. "Apa kau ingat kalau kita sudah menikah? Apa mungkin kau lupa kalau kita ini suami istri?! Lalu salahnya dimana kalau aku memberikanmu sesuatu yang memang semestinya kau dapatkan?!"

__ADS_1


"Bukan begitu Pak." Milly kesulitan mengungkapkan isi pikirannya. Dia ingin menjelaskan, namun melihat kondisi Billy yang tampaknya di kuasai oleh amarah, ia pun memutar otak untuk mencari alasan lain yang lebih tepat. Yang sekiranya tak semakin memicu kemarahan suaminya. "Saya tipe wanita yang tidak suka berpenampilan berlebihan. Saya akan mempersiapkan diri saya dengan baik, namun dengan penampilan apa adanya yang saya miliki. Saya pastikan saya sudah siap saat Bapak datang." ucapnya penuh keyakinan.


"Baik, saya tidak akan mempermasalahkan penampilanmu nanti seperti apa. Yang jelas, saya ingin kamu siap dan tahu bagaimana harus bersikap." Tandas Billy sebelum kemudian memasuki mobil dan meninggalkan Milly sendian di tempatnya.


__ADS_2