
Selesai dengan urusan makan malam, semuanya melangkah kembali menuju ruang keluarga. Namun belum sampai mereka ke ruangan itu, Mayang yang saat itu bergandengan tangan dengan Brian pun mendadak menghentikan langkah kakinya. Hal itu tak ayal membuat Brian pun mau tak mau berhenti melangkah saat merasakan ada tarikan pada genggaman tangan mereka.
"Kenapa berhenti Sayang? Apa ada yang tertinggal?" Brian mengerutkan keningnya, menatap Mayang dengan pandangan penasaran.
Mayang tersenyum lembut menanggapi sikap penasaran Brian. "Aku hanya ingin ke kamar kecil sebentar, Sayang."
"Baiklah, ayo." Brian berbalik badan dan memutar haluan, berniat untuk mengantarkan sang istri ke sana, namun lagi-lagi langkahnya pun terhenti sebab Mayang pun lagi-lagi menahannya.
"Sayang, kau tak perlu mengantarku." Mayang diam sejenak, sementara pandangannya beralih kepada Milly yang tampak berdiri di sisi Billy, dan mendengarkan dirinya berbicara. Kembali melempar pandangan menatap sang suami, ia pun berucap dengan nada memohon. "Biarkan aku ke kamar kecil bersama Milly, ya." Mayang melebarkan senyum tanpa rasa berdosa, mengabaikan Milly yang membelalak tak menyangka.
Seolah tak membutuhkan jawaban dan tak ingin mendapat penolakan, Mayang segera meraih pergelangan tangan Milly, dengan sedikit tarikan ia memaksa gadis itu mengikutinya.
"Hati-hati saat berjalan Sayang, ada bayi kita yang bertumbu di rahimmu." tutur Brian dengan sikap penuh kekhawatiran saat Mayang melangkahkan kakinya dengan ringan.
Menghentikan langkah dan menoleh ke belakang menatap suaminya, Mayang mengulas senyum menangggapi kekhawatiran Brian. "Aku hanya berjalan pelan, Sayang. Aku tidak sedang lomba lari." tuturnya dengan sikap santai namun tetap menjunjung tinggi kepatuhannya pada suami. "Berhentilah berlebihan mengkhawatirkanku ya, karena itu tidak baik untuk otakmu," imbuhnya dengan nada menggoda, lantas tersenyum genit dan melangkah pergi meninggalkan Brian yang masih berdecak heran menatapnya.
Berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala, Brian masih mengawasi punggung istrinya yang semakin menjauhinya.
"Kau dengar apa yang dia katakan tadi?" Brian melirik Billy dengan seringai bangga di bibirnya.
"Dia takut kau gila." Jawab Billy dengan nada mencemooh sembari melangkah meninggalkan Brian.
Membelalakkan mata, Brian lantas melangkah menyusul saudara angkatnya. "Hey, bukan itu yang kumaksudkan! Sialan, beraninya kau mengataiku gila! Apa maksudmu?!" Brian menarik bahu Billy dan memaksanya untuk berhenti. Sementara bola matanya mendelik tajam menuntut penjelasan.
"Apa sih?!" Tanya Billy dengan nada memprotes sambil menggerakkan bahunya dan menepis tangan Brian yang masih mencengkeram kerah jasnya. "Siapa yang mengataimu gila! Aku hanya mengartikan perkataan istrimu saja." jelasnya dengan nada kesal.
Menarik tubuh Billy yang sudah akan beranjak meninggalkannya, lagi-lagi Brian menahannya dan memaksa Lelaki yang sebaya dengannya itu menatap dan mendengarkan ia bicara.
"Kau tidak mengerti ya, aku ini sedang mengajarimu bagaimana cara memperlakukan istri dengan baik dan benar. Asal kau tau itu." geram Brian dengan nada kemarahan.
Tergelak kencang, tawa Billy terdengar mencemooh terhadap Brian sebelum kemudian menghentikannya dan menatap Brian dengan nada tidak suka. "Aku bisa membahagiakan istriku dengan caraku sendiri. Jadi kau tak perlu repot-repot mengajariku karena aku tidak butuh pembelajaran apapun darimu." tuturnya penuh penekanan, sebelum kemudian melenggang pergi meninggalkan Brian.
__ADS_1
Berdecak heran saat mengawasi kepergian Billy, Brian lantas berucap dengan sikap masa bodoh. "Terserah." Membuat Billy yang masih bisa mendengarnya dengan jelas hanya tersenyum tanpa menoleh sambil mengacungkan dua jarinya. Menghela napas dalam setelah Billy tak nampak lagi, Brian melempar pandangannya ke arah pintu di mana sang istri tadi menghilang di sana sebelum akhirnya ia melangkah menyusul saudara angkat sekaligus sekretarisnya.
***
Milly yang tak tau apa-apa hanya bisa pasrah saat Mayang memintanya untuk menemani ke kamar kecil. Meski kepalanya dipenuhi tanda tanya besar, namun gadis yang mengikat rambutnya di samping itu hanya diam saat istri Brian itu menggandeng tangannya menuju tempat yang saat ini mereka tengah berada di sana.
Berdiri terpaku, namun mata Milly mengedar memperhatikan kamar kecil namun berukuran luas dan mewah itu. Meski wajahnya juga nampak khawatir saat menatap Mayang yang langsung melangkah menuju wastafel karena ia pikir wanita hamil itu merasa mual dan ingin muntah di sana.
"Milly," panggil Mayang yang sedang mencuci tangan sambil menatap gadis di belakangnya itu melalui pantulan kaca.
"Ya," menjawab cepat, Milly pun melangkah mendekat.
"Kenapa diam saja?" Berbalik badan, Mayang menatap Milly dengan senyuman yang mengembang.
Tersenyum rikuh, gadis mungil itu kemudian menjawab. "Tidak apa-apa kak."
"Jangan panggil aku kakak lah, biar lebih akrab. Kulihat sepertinya kita seumuran." Terang Mayang setengah menebak, yang di kemudian dibalas anggukan sepakat oleh Milly.
Setelah memperhatikan Mayang yang nampaknya baik-baik saja, pafa akhirnya membuat Milly tergelitik untuk bertanya. "Apa kau baik-baik saja?"
Mengerutkan kening hingga membentuk beberapa lapisan, Mayang pun menatap Milly tak mengerti. "Memang aku kenapa?"
"Kupikir kau mual dan ingin muntah, makanya kau mengajakku kemari untuk menemanimu."
"Oh itu," Mayang tertawa geli menanggapi pertanyaan Milly. "Aku hanya mencari cara untuk bisa mengobrol berdua denganmu saja. Aku membuatmu khawatir rupanya." imbuhnya dengan rasa bersalah.
"Ah tidak apa. Justru aku senang kau baik-baik saja."
"Aku merasa beruntung karena aku tak pernah merasakan mual dikehamilanku ini."
"Benarkah?" Milly terperangah.
__ADS_1
"Yup." Mayang mengangguk cepat. "Tapi suamiku yang merasakannya." sambungnya dengan nada melembut saat menyebut sang suami, sementara bibirnya menyunggingkan senyum penuh rasa bahagia.
"Benarkah itu?!" Lagi-lagi Milly dibuat terperangah. "Jadi rujak buah itu benar-benar untuk suamimu?" Milly bertanya dengan wajah keheranan.
"Iya benar." Mayang mengangguk pelan. Wanita cantik bersurai panjang itu lantas melangkah mendekat dan menatap Milly dengan senyuman ketulusan. "Milly, terima kasih telah membuatkan rujak yang enak untuk suamiku, ya." ucapnya berterima kasih yang benar-benar tulus dari hati.
Milly tergelak. "Apa sih, sampai segitunya berterima kasih. Rujakku biasa saja, seperti rujak-rujak yang lainnya. Aku saja heran kenapa suamimu menyukainya."
Tentu saja karena ada maksud terselubung di hatinya. batin Mayang dalam hatinya. Wanita yang tengah hamil muda itu hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya. "Entah. Yang pasti karena rujak buatanmu enak." ucapnya kemudian dengan nada ringan sambil membalik badan melangkah mendekati wastafel.
Meraih tas yang tergeletak di sisinya, jemari lentik Mayang bergerak membuka tas tangan mungil dan mahal miliknya itu. "Milly, kau tak ingin bercermin sebentar?" tanyanya kemudian dengan pandangan yang masih fokus pada isi tas tangannya.
Ah iya, benar juga. Apa kabar bibirku ya? batin Milly setelah teringat akan lipstik yang tertinggal di gelas minumnya. "Ah iya." Jawabnya pelan, lalu melangkah perlahan mendekati Mayang dan berbagi cermin dengan wanita pemilik tubuh proporsional itu.
"Astaga wajahku." gumam Milly setelah melihat tampilan wajahnya dari pantulan cermin, sembari menggelengkan kepala tak percaya.
"Kenapa?" Mayang menanggapi perkataan gadis di sampingnya itu, lalu menundukkan kepala memperhatikan wajah Milly. "Baik-baik saja kok aku lihat, kamu juga cantik ..." sangkalnya dengan nasa sopan.
"Kau tidak lihat bibirku ini ... lipstikku luntur tahu ...! Benar-benar memalukan ...." Keluh Milly dengan wajah yang langsung merona.
"Hahaha iya aku tahu. Tapi jika kukatakan langsung, aku takut akan menyinggung perasaanmu." Balas Mayang jujur. "Tak perlu malu, tinggal tancap aja lagi ...."
"Harusnya begitu, tapi aku tidak punya lipstiknya." keluh Milly memasang mimik wajah sedih.
"Aku ada kok." Sela Mayang cepat. Lantas segera mengambil benda mungil berukuran sejari dari tas tangannya. "Ini, kau pakai saja." Mayang memberikan benda mungil itu kepada Milly yang kemudian langsung diterima oleh gadis mungil itu. "Karena jenis kulit waja kita sama, mudah-mudahan cocok untukmu juga." Harapnya dengan tulus.
Memperhatikan lipstik yang ia pegang itu, Milly lantas mendongak menatap Mayang dengan senyum penuh haru. "Terimakasih ya, kau sangat baik kepadaku. Padahal kau baru mengenalku."
"Bagaimanapun juga kita adalah saudara. Jadi, sesama saudara kita harus bersikap baik, bukan?" Tutur Mayang menjelaskan, yang membuat Milly kian terharu.
Bersambung
__ADS_1