Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
103. Darwin


__ADS_3

Tok...tok...tok


Suara pintu diketuk.


"Assalamualaikum." Sapa Dini


Tok...tok...tok


Lama mengetuk dan menunggu, sama sekali tidak ada jawaban yang diberikan dalam rumah.


"Bapak dan ibu ke mana, Ya? Pintunya pun terkunci. Apa mereka pergi? Tapi, pergi ke mana? mungkinkah mereka ada di kebun? sebaiknya aku ke sana saja." Ujar Dini menyimpan bingkisan nya yang ditinggal di luar rumah


Tak butuh waktu lama menuju wilayah tempat dulu dia tinggal, dan terdapat kebun yang sekarang merupakan milik ayahnya. Dini telah sampai dengan diantar oleh ojek online yang berbeda.


Menyusuri jalan yang becek tanpa aspal khas perkebunan, Dini mengenang masa-masanya saat masih tinggal bersama orang tua, berjalan, berlari, dengan pakaian yang sudah kotor sehabis bekerja di kebun bahkan tanpa menggunakan sandal saat menginjaknya dengan penuh kesederhanaan dan kebahagiaan. Nyaris! Masa-masa indah itu tidak bisa lagi didapatkan untuk jangka waktu panjang. Kehidupannya kali ini sudah berubah drastis!


"Bapak?! Ibu?!" Teriak Dini memanggil dari jauh yang menangkap kedua orang tuanya benar ada di kebun saat ini, sedang mengepalai atau memandor para pekerja


Sontak Bu Lia dan Pak Malik melirik ke arah sumber suara yang memanggilnya.


"Dini, Pak!" Pungkas Bu Lia bergetar


"Di-Dini!" Ucap Pak Malik bergetar


Dini berlari sekuat tenaga untuk menghampiri orang tuanya.


Ketika sampai dan berhadapan langsung dengan orang tuanya, Dini memeluk mereka berdua dengan sangat erat.


"Din, Ini benar kau, Nak?" Tanya Pak Malik


"Iya, Pak. Ini Dini, putri Bapak! Dini datang!"


Pak Malik menjadi menangis sejadi-jadinya di pelukan putrinya. kenapa tidak, Dia harus bertemu kembali dengan Dini setelah acara pernikahan dan resepsi dilangsungkan. Dan setelah itu, dalam jangka waktu panjang mereka tidak pernah bertemu.


Pak Malik memegang kedua pipi putrinya, Ia menatap putrinya dengan berkaca-kaca.


"Lama tidak bertemu denganmu, Nak. Wajahmu semakin bercahaya saja setelah menikah." Ujar Pak Malik


Dini hanya mengangguk-angguk menanggapi dengan nanar perkataan ayahnya.


"Bagaimana keadaan, Bapak? Sehat?" Tanya Dini


"Bapak sehat, Nak. Apalagi ditambah dengan melihat putri bapak. Bapak sangat senang sekali." Jawab Pak Malik


"Ibu? Ibu semakin cantik saja." Ujar Dini


"Kau ini bisa saja, Nak. Ibu sudah tua, mana mungkin terlihat cantik. Yang ada ibu sudah terlihat keriput." Ujar Bu Lia


"Kau kesini? Bagaimana kau tahu jika kami ada di sini?" Tanya Pak Malik


"Pada awalnya aku sudah datang ke rumah kalian. Tapi setelah mengetuk pintu dan menyapa, sama sekali tidak ada yang menyahut. aku lihat rumah kalian di kunci, aku berpikir kalian sedang pergi keluar, dan menyangka jika kalian ada di kebun. Maka dari itu aku datang kesini." Ujar Dini


"Kenapa kau tidak menelpon kami dulu? Jika kau menelpon untuk memberitahu kau akan datang, mungkin kami akan ada di rumah dan tidak akan ke luar


"Awalnya aku ingin membuat kejutan pada kalian di rumah. Tapi, malah di kebun." Ujar Dini


"Lalu, kau ke mari bersama siapa? Di mana suamimu?" Tanya Bu Lia


"Dia sedang pergi ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya di sana. Besok baru pulang. Sehingga aku bisa menemui kalian atas seizin darinya." Jawab Dini


"Pastinya, Nak. Manfaatkan waktu bersama kami, kala suamimu sedang pergi. ketika dia kembali, pasti kau akan sibuk menghabiskan waktu dengannya." Ujar Pak Malik


"Wah...wah! Sudah lama tidak terlihat. Sekarang enak ya, sudah menjadi orang besar, memiliki rumah yang bagus, sampai terbeli tanah. Kiranya dari hasil apa, Ya?" Ujar seorang warga di sana yang merupakan tetangga mereka dulu yang saat ini sedang merusak kebersamaan mereka


"Bu Ani! Lama tidak berjumpa, Bu!" Ujar Ramah Bu Lia


"Tidak perlu sok ramah terhadap saya. saya tidak bisa dibohongi oleh wajah lugu seperti kalian. Saya lihat dari kejauhan kalian menangis, dan saling memeluk, seperti orang yang sudah lama tidak bertemu. memangnya Dini pergi ke mana selama ini, sampai kalian sedih seperti ini. Toh setiap hari kalian melihat wajahnya di rumah besar kalian, bukan?" Ujar warga Bu Ani itu yang terkenal nyinyir


"Emm,,,iya, Bu." Jawab singkat Bu Lia


"Iya, Bu. Apa? Jawab yang jelas!" Sentak Bu Ani


"Maksud kami, iya. Dini setiap hari ada di rumah." Jawab Pak Malik


"Hebat ya kalian! tiba-tiba saja terdengar gosip pindah rumah ke rumah yang lebih besar di perumahan dan lumayan jauh dari tempat ini. Lalu, ditambah Pak Malik yang sudah bisa membeli kebun sendiri. bahkan pekerjanya sampai banyak yang bekerja ditempat Pak Malik. Saya salut dengan putri kalian yang menjual diri!" Ujar Bu Ani yang diakhir kalimat tidak di saring


"Maksud Bu Ani apa, Ya? Putri saya bukan seorang pelacur! itu berita lama dan jangan dibahas di masa sekarang." Marah Pak Malik tidak terima putrinya dihina


"Loh, memang benar beritanya seperti itu, kan? Apa salah saya?"


"Sudah jelas ibu bersalah. seharusnya ibu tidak bisa memfitnah anak saya seperti ini." Nada tinggi Pak Malik


"Pak. sudah, Pak! Biarkan saja! sampai kapanpun kita tidak akan bisa menjelaskan pada orang yang akan sulit untuk mengerti." Ujar Dini


"Iya, Pak. Sebaiknya kita pulang saja! Dini benar. lebah akan sulit untuk menjelaskan pada lalat jika madu lebih enak dibandingkan sampah." Bisik Bu Lia takut terdengar oleh Bu Ani


"Dasar keluarga Hina!" Ujar Bu Ani kesal dengan sinis dan menghentakkan kaki pergi dari sana


...***...


"Kenapa harus repot-repot, Bu? Padahal aku sudah membawa bingkisan untuk kalian." Ujar Dini berbincang dalam taksi


"Itu kau bawa untuk kami. Kami juga ingin memberikan sesuatu untuk mu. Jika kau memberitahu lebih dulu, ibu akan menyiapkan ini dari awal. ibu akan banyak masak makanan kesukaan mu. Tapi, kali ini ibu kehabisan bahan-bahan dan belum sempat berbelanja. Jadi, harus pergi ke pasar lebih dulu untuk membeli bahan yang bisa dimasak. Dan kebetulan ada pengantin baru, ibu mengajaknya untuk menemani pergi ke pasar." Ujar Bu Lia yang masih hidup sederhana

__ADS_1


"Ibu, ini ada-ada saja! usia pernikahan ku sudah hampir menginjak 6 bulan.mana bisa disebut pengantin baru." Ujar Dini tertawa kecil


Pasar Tradisional~


"Yok...dibeli, dibeli, dibeli...! Daging ayam 1 ekor 1 kg 40.000 !" Ujar pedagang yang ramai suasana pasar tradisional yang khas menawarkan dagangan mereka


"Cabai nya silahkan 1 kg 80.000, Bu." Tawar pedagang


"Minyak...minyak...minyak. 1 liter 10.000! ini dijual oleh pemilik pabrik minyak dan penghasil kelapa sawit. harganya otomatis murah berbanding 4 ribu, Lumayan 4 ribu saja bisa dapat gorengan tahu tempe 6 biji, yang sekarang langka juga. Haduhh...!! Saya tidak ingin ambil harga banyak, Bu. Saya hanya ingin minyak saya cepat habis! Saya lelah teriak minyak, minyak terus. Yok...dibeli...dibeli!" Pedagang yang menarik dan meyakinkan pembeli, dan dikerumuni oleh banyak pembeli yang rela demi minyak Rp.10.000


"Bu, ibu tidak ingin membeli minyak? secara kan saat ini minyak sedang naik harganya dan langka juga. Jika pun ada, malah mahal. kebetulan ada yang murah karena katanya di jual oleh pedagang yang pemilik sekaligus penghasil kelapa sawitnya langsung, kita beli saja." Ujar Dini sedikit menahan tawa


"Iya. Ya, Din. bapak itu aneh-aneh saja teknik untuk meyakinkannya. kita beli saja mungkin 4 karton." Ujar Bu Lia


"4 Karton? Ibu ingin menimbun minyak? di luaran sana masih banyak yang mengantri, Bu. Demi mendapatkan 2 liter minyak."


"Tidak apalah. toh mungkin ibu tidak akan membeli minyak selama 4 bulan."


"Terserah ibu saja jika begitu." Ujar Dini sudah pasrah tidak bisa meyakinkan seorang ibu


Setelah membeli minyak, berlanjut pada pedagang lain.


"Pak, daging ayamnya 5 kg, Ya!" Ujar Bu Lia


"Baik. siap, Bu." Senang pedagang


"Harganya berapa 1 Kg?" Tanya Bu Lia


"1 kg harganya Rp. 40.000 ." Jawabnya


"40.000? Saya tawar 20.000 saja, Ya."


"Bu? ibu tidak salah menawar harga setengahnya? Pedagangnya akan rugi jika ibu tawar seperti ini."


"Kemarin ibu beli harganya 25.000 1 kg. sekarang malah naik lagi. Tempatnya sama di sini."


"Aduhh, Bu. harga segitu saya tidak ambil." Ujar Pak pedagang


"Tapi, kan ayamnya kecil-kecil, sepertinya juga sudah tidak segar lagi. Jika 20.000 saya ambil 5 kg." Ujar Bu Lia menawar


"Baiklah, Bu. Saya ambil harga 20.000.untuk ibu." Pasrah Pedagang itu yang tidak sanggup berdebat dengan pembeli ibu-ibu


"Ibu ini sudah beli, tapi malah menghina dagangan bapak ini. Jelas-jelas ayamnya masih terlihat segar." Cetus Dini


Setelah itu, Bu Lia yang ditemani oleh Dini membeli bahan-bahan untuk memasak dan keperluan dapur, dalam jangka waktu 1 bulan.


Setelah berkeliling selama kurang lebih 30 menit di pasar, ada panggilan alam untuk menyegerakan Dini pergi ke toilet. Dengan bergegas dan meninggalkan ibunya untuk menunggu, Dini mencari toilet yang ada di sana.


Namun, Di antara barisan bangunan yang terdapat di pasar, salah satu papan toko menarik perhatian Dini. Papan itu menggantung dengan kawat berkarat.


"Bahaya sekali. Sepertinya aku harus memberi tahu pemilik tokonya."


Belum saja masuk, Seorang nenek berdiri di bawah papan yang hampir jatuh itu.


Dia terlihat kebingungan. Seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang.


"Aduh kenapa nenek itu berdiri tepat sekali di bawah papan berkarat yang hampir jatuh itu?" Cetus Dini


Baru saja terbesit di pikiran, hal yang tak diinginkan pun akhirnya terjadi.


Kawat terakhir yang menopang papan tersebut akhirnya putus!


Badan Dini langsung bergerak berlari dengan sendirinya untuk menolong nenek itu.


Krakk..!


Suara papan terlepas dari tiangnya.


"AWAS NEK!" Teriak Dini


Bersamaan dengan Dini, seorang pria lain ikut berteriak dan menarik nenek itu.


Brugg...!


Papan tersebut jatuh tepat di depan mereka sebelum mengenai nenek itu atau orang lain.


Dini yang terduduk karena terjatuh juga, tidak ingin membayangkan apa yang bisa terjadi jika dia atau seseorang terlambat sedikit saja menyelamatkan nenek itu.


Pria berambut hitam pekat tadi membantu nenek berdiri.


"Nenek, Tidak apa-apa?" Tanyanya


"Hohoho...Terima kasih, Anak muda!" Ujar nenek itu


Kini tangannya diulurkan pada Dini.


"Kau juga. Baik-baik saja kan?" Tanya pria itu


Dini menerima uluran tangannya yang membantu dia berdiri.


"Iya, Aku baik-baik saja. Terima Kasih!" Ujar Dini menunduk


Seorang pria paruh baya keluar dari toko dengan panik.

__ADS_1


"Maaf! Apa ada yang terluka?" Tanya pria pemilik toko


"Untung saja tidak ada yang terluka!" Jawab Khas nenek-nenek itu


"Syukurlah!" Bapak itu langsung menghela napas lega


"Nenek, sedang mencari tahu atau seseorang? Nenek terlihat kebingungan tadi." Ujar Dini


"Iya. Nenek sedang mencari uang koin nenek yang jatuh. entah di mana benda itu?"


"Mungkinkah ini milik, Nenek?" Ujar Pria yang sudah memegang sebuah uang koin ditangannya


"Iya. itu milik, Nenek!" Jawab nenek itu dengan senang


Pria itu memberikan nya pada nenek.


"Walaupun hanya uang koin, bagi nenek uang ini sangat berharga. Nenek bisa membeli 2 buah tahu untuk makan. Jika begitu nenek pergi dulu. Terima kasih atas bantuan kalian, Anak muda." Ujar nenek itu yang pergi dan membuat orang mendengar perkataannya tersentuh


"Sepertinya orang seperti mereka lebih tahu bagaimana cara bersyukur. berbeda dengan kita yang sering mengeluh." Ucap Dini


"Apa yang membuatmu tidak bersyukur?" Tanya pria itu yang mendengar perkataan Dini


"Ah, Tidak ada, Tuan." Jawab Dini melirik dan menengadah menatap pria itu


"Kau? Kau wanita itu, bukan?" Ucap pria itu mengenali Dini


Dini terlihat mengernyitkan dahinya, ia sedikit mencoba untuk mengingat.


"Anda mengenali saya? Tapi, Anda siapa?"


"Ini, Aku! Aku yang dulu sempat tidak sengaja menabrak mu yang sedang mengendarai motor dengan mengangkut pupuk organik." Ujar pria itu antusias mengingat pertemuan pertama


"Ah, iya. itu ternyata anda, Tuan. Saya baru mengingatnya.maafkan saya yang sempat lupa." Ujar Dini


"Tidak apa. Mengetahui bahwa kau sudah ingat saja, itu sudah membuatku senang."


"Tidak di sangka kita bertemu kembali setelah sekian lama Tuan dan saya mengalami kejadian itu."


"Itu karena kebetulan pada saat itu saya baru pulang dari Amerika. Dan sekarang saya pulang setelah kembali dari negara itu."


"Oh, seperti itu. Ternyata Tuan ini tinggal di luar negeri." Sangka Dini


"Bukan! Bukan seperti itu! saya baru menyelesaikan pendidikan magister di sana."


"Oh, Saya pikir Anda tinggal di sana dan kembali mengunjungi keluarga di sini. Lalu, pergi kembali ke Amerika. maaf, Tuan. Saya sudah salah mengira." Ujar Dini jadi tidak enak hati


"Tidak, Apa-apa. Wajar saja karena kau tidak tahu." Jawab nya


"Oh, iya. Perkenalkan namaku Darwin!" Ujar Darwin mengulurkan tangan untuk berkenalan


Ya, Pria yang ada di saat menolong nenek itu adalah Darwin. Entah apa yang membuat Darwin ada di pasar tradisional.


"Nama saya Dini, Tuan!" Jawab Dini memperkenalkan diri juga


"Akhirnya aku bertemu dengan wanita ini kembali. Dan mengetahui namanya." Gumam Darwin senang


"Darwin?? Namanya begitu samar terdengar. Aku seperti pernah mendengar nama ini. Tapi, di mana dan siapa?" Gumam Dini merasa tidak asing mendengar nama Darwin


"Namamu indah sekali. Sederhana dan bermakna!" Ujar Darwin melepas jabatan tangan perkenalannya dan tersenyum


"Terima Kasih, Tuan." Jawab Dini


"Jika begitu saya pamit untuk pergi. Ibu saya mungkin sudah menunggu lama.permisi, Tuan."


"Tunggu! kau kemari bersama ibumu?" Tanya Darwin


"Iya. kami akan pulang."


"Naik apa kalian untuk bisa pulang? Apa kau membawa motormu?"


"Tidak, Tuan. mungkin kami akan menaiki taksi atau angkot." Jawab Dini


"Jika seperti itu. Bolehkah aku menawarkan bantuan pada kalian. Ikut saja dengan ku naik mobil, aku akan mengantarkan kalian sampai rumah."


"Tidak perlu, Tuan. saya merepotkan tuan saja." Jawab Dini


"Tidak apa. sepanjang hari aku tidak bisa melupakan peristiwa dulu yang tidak sengaja menabrak mu. Anggap saja ini sebagai balas Budi untuk menebus kesalahanku."


"Tidak perlu, Tuan. lagipula kita baru saja mengenal."


"Jadi, kau tidak bisa menerima ketulusan orang yang ingin membantu mu?"


"Bukan seperti itu! Jangan salah sangka, Tuan. Saya hanya tidak enak hati saja karena pasti merepotkan Anda." Jawab Dini


"Sudah ku katakan tidak apa. jika bersedia aku akan menjadi supir mu dalam sehari untuk menebus kesalahanku."


"Baiklah, Tuan. Jika saya menolak juga, Saya masih tetap tidak enak hati karena menolak tawaran anda."


"Yes, Akhirnya!" Senang Darwin dalam hati


Dini menerima tawaran bantuan Darwin yang akan mengantarkan ia dan ibunya pulang. Dengan penuh harap dan siasat, Darwin merancang rencana agar bisa dekat dengan Dini. Sekaligus mengetahui di mana rumahnya, agar mungkin setiap hari dapat berkunjung.


Dia tidak tahu bahwa wanita yang ia kagumi itu, Adalah kakak ipar yang selalu ia ingin tahu bagaimana rupanya.

__ADS_1


__ADS_2