Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 70 - Apa ini akhir cerita kita?


__ADS_3

"Tinggal di sini bagaikan neraka, Bukan? Kau tenang saja, Kita akan pergi dan kita akan menikah." Kata Darwin sambil memegang kedua bahu Dini yang tengah terduduk di lantai


"Kau masih ingat apa alasan kita datang ke negara ini setelah kita sendiri bahagia di negara Swiss? Kita datang karena sebuah pekerjaan ku, Kemarin pekerjaan ku di sini sudah selesai, Aku telah menyelesaikan dinas ku lebih awal. Sesuai rencana kita, kita akan pulang ke negara itu setelah kita menikah di sini." Ujar Darwin


"Iya. Aku akan ikut denganmu. Asalkan kau tidak bertindak sesuatu pada suamiku." Balas Dini


"TIDAK! Kenapa kau masih memperdulikan dia. Sudah ku katakan kita akan menikah dan dia bukan suamimu lagi. Kau tidak mendengar itu?" Kecam Darwin menekan rahang Dini


"Iya, Iya aku mendengarnya. Aku mendengar semua yang kau katakan. Aku hanya memberikan syarat padamu." Ujar Dini terisak


"Baiklah... Hahaha..." Darwin tertawa senang


Kali ini ia berjalan menghampiri Arya sembari menggenggam sesuatu ditangannya.


Arya pun mengikuti arah pandang Darwin yang menghampirinya.


"Sekarang adalah urusan ku denganmu. Ini adalah surat perceraian kalian berdua. Cepat tanda tangani sekarang! Agar aku bisa segera membawanya dari sini." Ujar Darwin


Arya melihat surat itu tidak berkedip dengan mata berkaca-kaca.


Ada berbagai hal yang menjadi pemicu keretakan dalam sebuah hubungan pernikahan, yang berujung pada perceraian. Ketika suami istri sudah tak sejalan dalam hal pandangan hidup, sudah tak lagi saling menghargai, dan yang paling sering kita dengar mungkin adalah muncul ketidakcocokan dalam berumah tangga.


Namun, terkadang perceraian dianggap merupakan solusi terbaik dari runtuhnya sebuah rumah tangga. Perceraian dinilai sebagai opsi paling tepat ketimbang dua insan saling melukai. Apalagi jika telah hadir anak di antara mereka.


Namun, Berbeda dengan sepasang suami istri ini, salah satu diantara mereka sudah berusaha menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mereka sudah saling memaafkan satu sama lain dan menjalani biduk rumah tangga dengan adanya rasa dicintai dan mencintai. Ia ingin memulai semua dari awal dan menjalani hidup menatap masa depan tanpa mengingat masa lalu.


Tak ada yang bisa dipertahankan dari Pernikahannya dengan Dini selama ini. Takdir seolah ingin terus memisahkan mereka berdua dari dulu. Darwin memang terobsesi sejak dulu untuk memiliki Dini seutuhnya, dia juga banyak membantu Dini selagi Arya tidak memperdulikannya. Namun, bukan hal ini yang Dini inginkan saat ia mencintai suaminya.


Tak ada jalan lain untuk mengelak dan bersikeras mempertahankan Dini menjadi miliknya, mungkin sudah habis kesempatan bersama Dini dan anak-anak. Waktu tidak mentakdirkan mereka bersama untuk selamanya, dan kali ini waktu memberikan kesempatan bagi Darwin untuk mengabulkan apa yang sempat menjadi permohonan yang tertunda.


Janji yang sempat mereka ikrarkan untuk saling setia dan bersama hidup sampai mati, berubah untuk berkomitmen menjaga hubungan satu sama lain sebagai status orang asing!


Dengan gemetar Arya meraih surat perceraiannya dan pulpen itu. Terpampang nyata tanda tangan miliknya sudah tercetak tebal dengan tinta hitam. Tanda tangannya tampak ikut bersedih tidak seperti saat ia tercetak dalam balutan kertas putih menyetujui kontrak kerjasama ataupun kemenangan tender yang menguntungkan.


Untuk kedua kalinya, tanda tangan miliknya kali ini dan kertas putih memberikan luka bagi Arya mengakhiri sebuah cerita dengan namanya perceraian bersama wanita yang sangat ia cintai!


Kali ini tinggal Dini yang harus melakukan hal yang sama. Sama halnya bergemetar sambil terisak, akhirnya tanda tangan miliknya dan Arya saling berdampingan. Namun, berbeda dengan orang-orang nya untuk seterusnya mereka tidak akan berdampingan satu sama lain lagi!

__ADS_1


Dini berkata.


"Maaf aku harus mengatakan ini, tapi aku mempertimbangkan untuk memberinya satu kesempatan lagi."


"Di-ni..." lirih Arya


"Dia juga berusaha sebaik mungkin, selama ini ia menjadi penolong saat aku dan Ansel kesusahan. Kami sepakat untuk berusaha lebih keras. Jadi mari kita akhiri hubungan kita."


"Aku tidak percaya itu. Jujurlah. Terjadi sesuatu pada hatimu, bukan? Ada apa?" Sulit rasanya bagi Arya melepaskan istrinya walaupun ia sendiri lebih dulu menyetujui surat perceraian itu.


"Kuharap kita tidak pernah bertemu lagi." Dini pamit pada Arya dan pergi.


Darwin menarik tangan Dini dan juga Ansel keluar dari rumah itu.


Tak ada penolakan, ataupun ada salah satu diantara mereka yang mencoba mempertahankan. Keduanya sudah sepakat untuk memberikan hak diri pada hak orang lain. Ini adalah saatnya, Arya sebagai kakak harus mengalah memberikan apa yang menjadi miliknya pada adiknya sendiri!


"Tidakk... Aku tidak ingin ikut dengan paman! Aku ingin tetap berada di sini bersama Ayahku!" Teriak Ansel memberontak


"Aku adalah ayahmu, karena ibumu akan menikah denganku!" Jawab Darwin


"Aku juga adalah Ayahmu sama seperti saat kau memanggilku Ayah. Kau adalah putra kecilku, sejak kecil aku memberikan kasih sayang seorang ayah yang tidak pernah kau dapatkan."


Hiks...hiks...


Ansel menggigit tangan Darwin yang membuatnya kesakitan dan melepaskan genggaman tangan Ansel.


Ansel pun berkesempatan untuk berlari.


"AYAHHH..."


Ansel berbalik menghampiri Arya, Dia menerjang Arya dengan sebuah pelukan erat yang terasa air bening menjadi basah.


Pelukan mereka bertanda tidak ingin saling dipisahkan.


"Kenapa kau berbalik, Hem? Ayah ibumu dan Ansel akan pulang ke rumah kalian lagi setelah berlama-lama tinggal di rumah ini. Maafkan paman tampan karena sudah membuat kalian berdua tinggal di sini, Ya." Ujar Arya terdengar sengau menahan cairan hidung yang merasakan kesedihannya juga


"Kenapa seperti itu? Ayah jahat! Kenapa malah memanggil paman tampan? Ayah adalah ayahku, dan ini adalah rumahku, Aku tidak akan pergi kemanapun karena ayah ada di sini." Ujar Ansel sambil menangis

__ADS_1


Kelopak mata Arya tampak memerah akibat terus saja menahan tangisnya. Ia sama sekali tidak mengeluarkan air matanya sejak tadi. Tapi anggota tubuhnya yang berperan saat ingin menangis, itu terguncang.


Dengan lembut Arya menghapus air mata Ansel.


"Jangan menangis! Ansel adalah anak yang kuat dari sejak kecil. Tapi kenapa saat bertemu dengan Ayah, Ansel jadi mudah menangis seperti ini. Mereka sudah menunggumu, kau harus ikut dengan mereka, Ayah tidak akan bisa menjamin kebahagiaan mu di sini."


Ansel menggelengkan kepalanya terus menerus.


"Tidakk,,, Aku tidak ingin pergi dari ayah lagi." Ucap Ansel kembali memeluk Arya


Semua orang yang melihat Ansel yang tidak ingin pisah dengan Arya pun turut bersedih. Dihadapan mereka tampak nyata fenomena kasih sayang seorang ayah pada anak dan sebaliknya. Arya sendiri tidak ingin ditinggal pergi oleh putra kesayangannya yang baru beberapa minggu menjalin kedekatan sebagai anak dan ayah.


"Ayah tidak akan kemana-mana. Ayah akan ada di sini bersama Ansel. Atau mungkin Ansel ingin ayah antarkan kesana. Ayo, Akan ayah antarkan Ansel ke rumah dengan mobil Ayah, Ya." Ujar Arya


Namun, hanya ada satu orang yang tidak setuju akan keinginan Arya. Darwin menghampiri mereka dan menarik Ansel pergi.


Pelukan Ansel semakin terlepas jauh dari tubuh Arya di saat Ansel sendiri tidak ingin melepaskan pelukannya. Darwin begitu tega merenggut kebahagiaan anak kecil yang tidak berdosa itu. Dia menjauh anak dari ayah kandungnya!


Ansel terus terseret di lantai dan meraung tidak ingin pergi yang hanya ingin menghampiri Arya yang terlihat diam saja tanpa bertindak.


Arya sendiri tak bisa mencegahnya. Ia hanya bisa mengiringi kepergian Ansel yang semakin jauh dari pandangannya dan wanita yang beberapa minggu ke depan resmi bukan menjadi istrinya lagi!


"Ibu akan pergi. Paman akan membawanya jauh dari kami. Ibuuu,,, Jangan tinggalkan kami lagi!" Bicara Arsen dalam hati yang sedari tadi menjadi anak korban keegoisan orang dewasa


Jika Arsen hanya diam dan berbicara dalam hati, bagaimana orang lain bisa mendengarkan suara hatinya? Sekali saja ungkapkan perasaan dihadapan ibumu Arsen!


"Akhirnya kau benar-benar harus pergi dariku lagi, Din. Akhirnya juga aku menandatangani surat perceraian yang dulu sempat ku sobek, dan ku pikir tanda tanganku itu tidak akan pernah ada dalam selembaran kertas putih itu."


"Kita saling mencintai dan sudah berikrar janji satu sama lain akan bersama hingga mati. Tapi kenapa perceraian menjadi tempat akhir cerita kita."


"Jika tidak ada masalah, kenapa harus bercerai? Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa mengalah? Aku tidak seperti Arya dulu yang tidak akan memberikan apa yang menjadi milikku pada orang lain."


Suara hati Arya yang meraung ingin menghentikan langkah kepergian orang tersayangnya. Namun, raga dan jiwa tetap terdiam tidak bisa mencegah kemana mereka akan pergi.


"Saya tidak melihat perceraian sebagai suatu kegagalan. Saya melihatnya sebagai akhir dari sebuah cerita. Dalam sebuah cerita, semuanya memiliki akhir dan permulaan." - Arya


Seorang kakak pertama akan mengalah pada adik yang lain, dan akan melindunginya. Memberikan segalanya untuk adikmu hanya untuk melihat mereka bahagia adalah hal yang indah. Rasa hormat akan kamu peroleh.

__ADS_1


__ADS_2