Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
196. Mencari Perhatian


__ADS_3

Dini tertidur di ranjang yang empuk, sesekali ia terbangun, Dini benar-benar tidak bisa tidur, ia selalu terjaga, hamil besar membuat ia harus bulak balik ke toilet dengan ruangan di kamarnya yang ber-AC dingin yang membuatnya menjadi mual dan mudah buang air kecil.


"AC nya terlalu dingin, di luar pun udara masuk melalui celah ventilasi. aku tidak kuat jadi harus bolak-balik ke toilet." Keluhnya ingin buang air kecil


Dini duduk di ranjang, ia melihat Arya yang memang menjaga Dini di sofa dan ia sendiri sudah tertidur di sofa. Dini memegangi tenggorokan nya yang terasa kering, kebiasaan Dini setiap malam suka terbangun untuk minum segelas air putih, ia pun berjalan ke arah pintu.


"Kau ingin kemana?!" Tiba-tiba suara Arya sudah berada di belakangnya


"Ingin ambil minum." Jawab Dini


"Kau tidak perlu keluar kamar, biar aku saja yang ambilkan, aku tahu kau akan lelah bolak-balik ke sana ke mari." Ujar Arya


Dini menoleh pada Arya, lalu ia kembali berjalan duduk di atas ranjang karena Arya bersedia menggantikan keinginannya, Arya melangkahkan kakinya keluar kamar. di dapur Arya mengambil segelas air putih hangat dan membuka kulkas, dengan inisiatifnya ia mengambil buah pir, apel, mangga dan pepaya, mengupas buah-buah itu dan memotong nya, lalu di simpan di atas piring.


Hampir setengah jam Dini menunggu, kemana perginya dia yang hanya mengambil air putih saja memakan waktu banyak. akhirnya Arya kembali dengan membawa segelas air putih dan potongan buah, ia memberikan gelas itu pada Dini dan menaruh piring yang berisi buah di samping Dini duduk.


"Makan lah buah itu untuk menambah stamina mu. kandungan buah baik untuk ibu hamil. mungkin kau lapar? aku bisa buatkan makanan untuk mu." Ujar Arya


"Tidak Perlu, Terima kasih." Jawab Dini walaupun ia berpikir sejenak, apakah bisa Arya memasak untuknya?


"Jika kau perlu sesuatu bangunkan saja aku. Aku akan berjaga di kamar mu ini." Kata Arya


Arya berjalan kembali ke sofa dan ia mengecilkan AC di kamar Dini, membaringkan tubuhnya dan tertidur.


Dini sebenarnya enggan memakan buah di sampingnya, tapi nalurinya ingin memakan buah itu, ia menelan saliva nya berkali-kali, dengan perasaan tidak enak hati akhirnya Dini memakan potongan buah itu dengan lahap, sesekali matanya menoleh pada Arya, mengamati apakah dia sudah tidur atau belum? Dini bersendawa setelah menghabiskan potongan buah di atas piring.


"Alhamdulillah kenyang juga." gumam nya, ia mengambil gelas di atas nakas dan menghabiskan isi dalam gelas itu, Dini membaringkan tubuhnya setelah ia menguap berulang kali


Arya yang hanya tidur buta, tersenyum melihat istrinya yang bersendawa.

__ADS_1


Melihat Dini sudah tertidur pulas, Arya bangun dari sofa ia berjalan ke ranjang menutup tubuh Dini dengan selimut, Arya memandangi wajah cantik istrinya, hatinya begitu hangat, dengan perlahan dan penuh hati-hati Arya mengelus lembut rambut Dini, ingin rasanya ia tidur disampingnya dan mengelus lembut perut istrinya. ia tersenyum puas saat melihat piring kosong di atas nakas, setelah puas memandangi wajah Dini, Arya berjalan kembali ke sofa dan membaringkan tubuhnya lalu tertidur pulas.


Pagi itu seperti biasa Arya bangun dan masuk ke dalam kamar mandi, setelah ia selesai bersih-bersih, memakai baju setelan santai bukan setelan jas karena dia sendiri tidak akan pergi ke perusahaan dengan memilih untuk menjaga Dini. Arya menoleh pada ranjang, ia melihat Dini masih tertidur lelap, ia tahu semalam pukul dua dini hari Dini baru tertidur. Tidak ingin membangun kan Dini ia pergi menuruni anak tangga.


"Awasi rumah ini jangan sampai Darwin atau orang lain masuk begitu saja!" Kata Arya yang berada di luar pada petugas keamanan di rumahnya


"Baik, Tuan." Jawabnya


Setelah dari luar, Arya masuk dan melihat Dini sudah bangun dan baru saja selesai menuruni anak tangga.


Melihat Arya yang melenggang masuk dari arah luar membuatnya tercekat. Niat hati senang tidak ada Arya, dia datang di mana-mana.


"Aku kira dia sudah pergi ke perusahaan. Tapi sepertinya dia tidak akan pergi ke sana." Gumam Dini


"Kau sudah bangun rupanya." Kata Arya berjalan menghampiri Dini


"Aku tidak mungkin tidur seharian. Ataupun menutup mataku untuk selamanya." Ketus Dini karena malas


"Kau ingin makan?" Tanya Arya


"Iya, tapi aku akan mengambilnya sendiri." Kata Dini


"Aku saja yang akan mengambilnya untukmu. ke dapur saja kau bisa lelah. kau tunggu di sofa." Ujar Arya


"Tidak perlu repot-repot, aku hamil bukan lumpuh!" Jawab Dini


Mendengar Dini yang selalu menjawab dengan kesal. Arya tidak mempermasalahkannya, ia lebih dulu pergi ke dapur tanpa mendengar perkataan Dini.


"Tck,,, Dia menyebalkan sekali." Ujar Dini

__ADS_1


"Ada apa Tuan? Tuan membutuhkan sesuatu?" Tanya Bu Shani yang melihat Arya celingukan di dapur


"Bu Shani sudah memasak?" Kata Arya


"Sudah Tuan. Tuan ingin sarapan? Makanan sudah tersedia di atas meja makan." Kata Bu Shani


"Oh baiklah, Buatkan Susu hangat dan antarkan pada ku." Ujar Arya


"Baik Tuan, akan saya buatkan." Jawab Bu Shani langsung menyiapkannya


Arya pun pergi ke ruang makan dan segera mengambil makanan itu untuk Dini.


Untung saja hari ini Bu Shani memasak bermenukan sayuran hijau.


Setelah mendapatkan susu hangat dari Bu Shani. Sambil membawa makanannya, ia kembali menuju ruang keluarga di mana Dini berada.


"Ini. Aku sudah membawakannya untuk mu." Ujar Arya meletakkan di meja dan duduk di samping Dini


"Terima kasih. Padahal tidak perlu repot-repot." Ujar Dini


Ia hendak mengambil piring itu dari nampan. Namun, Arya terburu mengambilnya lebih cepat.


"Biar aku saja yang menyuapi mu. mengangkat sendok saja dan memasukkannya ke dalam mulut akan membuatmu lelah." Ujar Arya


"Aku tidak sedang beraktivitas secara fisik seperti menyapu ataupun mengangkat beban berat. Hal itu masih mudah bisa aku lakukan tanpa merasa kelelahan."


"Tapi aku tetap akan menyuapi mu. Kau tidak perlu khawatir jika akan merepotkan ku. lagipula tidak ada pekerjaan yang bisa ku lakukan di rumah saat ini." Ujar Arya keras kepala


Tanpa ingin berdebat lagi, Dini menuruti ke keras kepalaan Arya. dalam hatinya mendumal dia bukanlah seorang bayi, orang sakit, ataupun orang yang kehilangan tangannya dan tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Dengan telaten Arya menyuapi Dini yang masih terlihat kesal padanya. Arya tahu jika Dini sedang kesal pada dia, namun keinginannya tidak bisa berubah dan selalu bulat jika menginginkan sesuatu.


__ADS_2