Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 91 - Gubuk Malapetaka


__ADS_3

Seharian penuh, Luna sebagai Dokter dimintakan menjadi seorang relawan kesehatan yang dapat membantu warga setempat di desa terpencil yang masyarakatnya tengah mengalami Malaria secara massal. Luna pun dimintakan datang sebagai Dokter yang dapat menangani kasus masalah kesehatan pada semua warga di sana.


Desa itu jauh dari kota. Tidak ada akses yang lengkap dan mudah layaknya kota. Satu Dokter pun tidak ada, hanya ada bidan desa yang sering dijadikan orang pelarian untuk menangani masalah kesehatan yang dialami minoritas warga di sana.


Sebuah desa yang jauh dari keramaian dengan jumlah penduduk yang hanya beberapa ratus kepala keluarga adalah tempat yang di tinggali.


Sebuah rumah kecil sederhana dengan sedikit pekarangan menghiasinya, mereka mampu dapat bertahan di tempat itu. Tak ada gedung besar, gedung menjulang tinggi, jalan raya beraspal, alat transportasi modern semacamnya. Hanya rumah kecil seperti gubuk yang berbahan kayu, jalan sempit berlumpur tanah yang tidak bisa dibayangkan bila mana terjadi hujan, warga pun hanya mengandalkan sepeda untuk transportasi mereka.


Warga yang tidak terserang penyakit termasuk Rukun Tetangga di sana menyambut Luna dengan sangat baik dan ramah. Warga di sana sangat senang ada seorang Dokter dari kota yang ingin membantu mereka, sebelumnya tidak pernah aspirasi yang diajukan untuk memanggil Dokter ke tempat mereka itu di dengar sampai ke telinga dan ditolak mentah-mentah. Tidak ada dokter yang enggan datang ke desa itu karena permasalahan akses dan juga lokasi.


Semua warga yang mengalami malaria dikumpulkan di posko kesehatan ala kadarnya. Rintihan demi rintihan gejala berupa menggigil, demam, dan berkeringat, mengungkung rasa tengah diderita terdengar di tenda posko itu.


Dengan protokol yang ketat, dan dibantu bidan desa. Luna sebagai tenaga medis profesional langsung terjun menangani masalah penyakit di desa itu yang tengah terjadi.


Satu persatu ranjang pasien ke pasien lainnya, Luna dengan telaten memeriksa dan memberikan pengobatan seharusnya.


Berangkat subuh, datang pagi, dan selesai siang pukul 14.00 Wib. Dari 100 warga yang menderita malaria telah Luna lakukan pemeriksaan, pengobatan, pencegahan, dan rehabilitasi.


Sebagai tenaga medis yang peka terhadap kesehatan, selesai tugasnya ia sedikit memberikan pengarahan pada warga agar senantiasa menjaga kesehatan dimulai dari lingkungan. Arahan dari Luna untuk mengedukasi didengar sangat baik oleh orang yang bertanggung jawab memimpin warganya yakni Rt dan juga Rw di sana. Luna berharap senantiasa pemimpin harus mengarahkan warganya agar menerapkan pola hidup sehat.


Luna sendiri sedikit berbincang di rumah Pak Rw beserta kabinetnya yang lain mendengarkan segala aspirasi yang dikeluhkan warga pada pemerintah. Luna pun sangat menyayangkan sikap pemerintah yang tuli seketika. Dulu, untuk meyakinkan hati rakyat mereka rela blusukan hingga ke kampung-kampung berteriak meminta menyuarakan mereka, mengambil alih mulut ke mulut dengan ucapan visi misi manis, janji buta mereka. "Pemerintah seperti keledai yang bersuara ketika lapar saja!" Ucap sarkas warga di sana yang berpendapat


Hingga pada akhirnya pukul 16.00 telah tiba, ia memutuskan untuk kembali ke kota agar ia pulang tidak larut kemalaman karena perjalanan sangat jauh yang menempuh waktu 4 jam menuju kota. Apalagi Luna datang ke desa ini sendiri, tak ada dokter lain yang ikut dengannya. mobilnya pun ditinggal di desa seberang karena menuju desa ini mobil tidak bisa diakses masuk. Luna sendiri berjanji, setelah ia kembali ke kota, ia akan mengirimkan relawan kesehatan yang lain untuk membantu warga yang belum sembuh beberapa hari.

__ADS_1


"Alhamdulillah... Akhirnya tugasku di desa ini selesai juga. Aku yakin akan pulang kemalaman, ini sudah pukul 4 sore lebih. Hanya berteman mobil di desa yang jauh keramaian, menyusuri pepohonan yang masih rindang." Kata Luna, Ia menghembuskan napas berat


Di tengah perjalanannya menuju desa sebrang, ia menampak seorang pria berjas di tengah hutan berjalan berlawanan dengannya.


"Apa mataku tidak salah lihat? Pria berjas ada di tengah desa! orang desa mana mungkin ada yang memakai jas. Dia ingin berburu atau memang bujang desa yang tinggal di kota dan ingin menemui keluarganya di sini?" Heran Luna sampai menghentikan langkahnya


Pria itu berjalan semakin dekat menghampiri Luna. Terlihat ia berjalan sangat kesusahan karena kerap kali ranting dan tanaman rambat melilit kaki dan sepatu pantofel hitamnya itu.


Mata Luna pun membidik dengan jelas pria itu. Ia mengenalinya!


"Tuan Zayn?" Pekik Luna terkejut


"Hhh... Dokter Luna, untung saja aku bertemu denganmu di sini. Jika tidak entah berapa banyak tanaman rambat ini melilit kaki ku." Ucap Zayn yang masih berupaya melepaskan lilitan segala ranting dan tanaman liar yang ada di kakinya


Luna sendiri masih menatap Zayn tidak percaya.


"Kenapa bisa ada di sini?" Lirih Luna bertanya


"Kenapa tidak? Kau sendiri wanita pemberani yang berjalan sendirian di tengah pepohonan rindang seperti ini. Apa kau tidak takut? Bagaimana jika ada ular atau binatang buas yang menerkam mu?" Kata Zayn


"Ya, Ini adalah jalan yang dibuat warga untuk sampai ke desa sebrang, memangnya aku harus berjalan kemana lagi." Balas Luna


"Sekiranya kau datang bersama orang yang menemani mu. Dokter lain mengatakan kau nekat datang sendiri ke desa ini, dan aku memutuskan untuk menyusul mu." Ungkap Zayn

__ADS_1


"Tidak ada dokter lain yang ingin ikut denganku membantu warga di sini. Bukannya aku nekat pergi sendiri, tapi warga desa ini sangat membutuhkan tenaga medis." Keluh Luna


Saat perbincangan langit yang sudah sore dan memiliki 1 jam untuk gelap, seketika saat itu juga langit gelap, awan mendung, gundur menggelegar, dan perlahan turun hujan.


"Hujan??" Pekik Luna menatap langit dengan butiran air yang mulai turun


Zayn dan Luna pun memutuskan berlari secepat mungkin menuju desa sebrang dan mencari tempat meneduh sebelum hujan semakin turun lebat.


Namun, Sayangnya hujan turun lebat lebih cepat. Air turun sangat besar, Membuat pakaian mereka sudah basah dan kedinginan.


Akhirnya mereka sampai di sebuah gubuk yang tidak berpenghuni meneduh di sana, menunggu hujan turun reda.


Luna terlihat kedinginan dan memeluk dirinya sendiri. Ia menggigil dan sesekali menggesekkan kedua tangan agar menimbulkan hangat ditangannya.


Zayn melihat Luna sangat kasihan. Ia mengerti jika Luna kedinginan, begitupun dengan dirinya.


Tatapan Zayn pun salah fokus pada pakaian kemeja putih dipakai Luna yang kebasahan dan menyebabkan menerawang hingga terlihat **********. Zayn menelan ludah kasar-kasar, ia segera mengalihkan pandangannya pada arah lain. Pria normal mana yang tidak berhawa nafsu melihat wanita pakaiannya seperti itu.


Zayn berinisiatif melepas jas yang dikenakan dan memeras untuk mengurangi kadar air yang membuat jas itu basah. Setelah dikira kadar air sudah berkurang, Zayn menyampihkan jas itu pada Luna.


Luna sendiri tertegun. Ia malu dan menganggap Zayn sendiri kedinginan juga. Tapi Zayn memaksa Luna untuk memakaikannya. Luna menerima dengan gugup dan memakai jas itu hingga rasa dingin sedikit berkurang.


"Di luar sangat dingin sekali. Sepertinya rumah ini tidak berpenghuni juga. Bagaimana jika kita meneduhnya di dalam." Ajak Zayn mengusulkan

__ADS_1


Luna menyetujuinya. Mereka masuk di gubuk yang didalamnya tidak ada siapapun hanya ada kursi yang rapuh dan barang-barang terbuat dari kayu penuh debu. Sepertinya rumah itu ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.


Menunggu hujan reda, Zayn dan Luna hanya berdiri menatap hujan yang tidak henti, tidak ada sumber suara yang timbul, dan mereka sendiri tidak saling berbincang. Luna masih agak canggung dengan keadaan sekitarnya, tapi segera di tepisnya rasa itu.


__ADS_2